Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 55


__ADS_3

"Kakak baik-baik saja. Memangnya, Kakak kenapa?" tanya Aya kebingungan.


"Aku takut kalau Kakak mendapatkan perlakuan kasar dari pria ini." jawab Lidya yang lagi dan lagi membuat Fajar kesal.


"Kamu tidak boleh seperti itu, Lidya. Mau bagaimana pun, Mas fajar tidak sengaja melakukan semua itu. Dia khilaf! Iya kan, Mas fajar? Tadi, kamu khilaf?" tanya Aya yang mendapat anggukan kecil dari sahabat prianya.


"Hem. Aku khilaf!" jawab fajar dengan singkat.


"Ish! Ketus sekali!" ujar Lidya dengan tatapan tidak suka.


"Ya sudah, kalau begitu ... aku pergi dulu, Ay! Besok, aku datang lagi ke butikmu!" ujar fajar sambil memperlihatkan senyum manisnya.


"Okeh, kamu hati-hati, Mas! Semoga perjalananmu menyenangkan!" jawab Aya melambaikan tangannya.


fajar berjalan melewati ke dua pria yang tengah menatapnya dengan tatapan sinis.


"Kalian tidak akan bisa menang dariku!" bisik fajar di saat melewati Pras dan Rian.


Mendengar ucapan fajar, seketika emosi Rian kembali muncul.


Melihat emosi Rian yang kembali muncul. Pras langsung mencegahnya.


"Jangan membuat keributan di butik Aya, atau Aya akan semakin benci padamu! Biarkan dia tertawa!" bisik Pras membuat Rian berpikir sejenak.


'Benar apa yang dikatakan Pras. Kalau aku terbawa emosi, pasti Aya akan semakin marah. Dan aku tidak bisa membujuk Aya untuk kembali padaku!' batin Rian.


fajar tersenyum mengejek lalu berjalan keluar butik.


Setelah melihat kepergian Fajar, Pras melepaskan cengkraman tangannya lalu berjalan menuju ke dua wanita yang tengah berbincang.


"Aya, apa yang kamu bicarakan denga pria itu?" tanya Pras penasaran.


"Mas, kita bisa duduk di dalam. Kita harus bicara!" titah Aya.

__ADS_1


"Aku ikut atau tidak, kak?" tanya Lidya polos.


"Ikut saja!" jawab Aya.


"Aku juga ikut kalian! Aku ingin dengar apa yang kalian ucapkan. Ini menyangkut aku juga!" ketus Rian.


"Kamu tidak perlu ikut, Mas! lebih baik, kamu pulanglah!" titah Aya.


"Biarkan saja dia ikut kita ke dalam ruangan, Ay! Mau bagaimana pun, dia masih suamimu. Kamu tidak boleh mencegahnya." ujar Pras sambil menganggukkan kepalanya lirih.


"Benar yang dikatakan Pras. Aku masih suamimu! Jadi, aku mau ikut ke dalam!" titah Rian berjalan masuk ke dalam ruang tunggu di ikuti oleh Lidya dan Pras di belakangnya.


Aya menghembuskan napasnya kasar. Sebelum menyusul beberapa temannya, Aya berusaha menampilkan senyum terbaiknya.


"Kak Ay! Ayo masuk! Jangan diam saja di depan!" teriak Lidya membuat Aya tersadar dan berjalan masuk.


Pras dan lainnya menjatuhkan pantatnya satu sofa yang sama.


"Kamu duduk di sini, ay!" titah Rian menepuk samping tempat duduknya yang kosong.


"Apa yang mau kamu bicarakan, Ay! Katakan!" titah Pras membuka pembicaraan yang serius.


"Huh! Ini masalah pertengkaran kalian." jawab Aya lalu menatap suaminya. "Kamu bisa minta maaf, Mas!" titahnya lagi.


"Aku minta maaf? Aku minta maaf ke siapa, Ay?" tanya Rian kebingungan. "Jangan bilang, kamu suruh aku minta maaf ke mereka?" tanyanya lagi tak percaya.


"Iya, Mas! Memangnya, kamu harus minta maaf ke siapa selain mereka! Kamu penyebab mereka bertengkar! Jadi, aku mau ... kamu minta maaf ke mereka dulu. Jika ada waktu, aku akan mempertemukanmu dengan Mas Fajar!" jawab Aya yang mendapat gelengan kepala dari Rian.


"Aku tidak mau! Semua ini bukan murni kesalahanku. Jadi, untuk apa aku minta maaf! Seperti tidak ada kerjaan saja!" ketus Rian menyilangkan ke dua tangannya di dada.


"Iya, Kak! Apa yang dikatakan Kak Rian benar. Untuk apa Kak Rian minta maaf? Dia tidak bersalah! Yang bersalah itu, teman Kakak! Teman Kakak juga tidak mau minta maaf ke aku dan Kak Pras! Jadi, Kak Rian tidak perlu minta maaf!" timpal Lidya.


"Tuh, dengar sendiri ucapan Lidya. Dia saja melarangku untuk mengatakan maaf karena aku memang tidak bersalah. Yang bersalah itu pebinor yang bernama fajar!" jawab Rian.

__ADS_1


Pras hanya menyimak, dia tidak tahu apa yang harus dia ucapkan.


Melihat Kakaknya diam seperti patung, Lidya menyenggol lengan Pras keras, membuat pria itu terdorong ke arah Rian yang tengah menyenderkan tubuhnya di punggung kursi.


"Hei!" pekik Pras saat kepalanya jatuh ke dalam pangkuan Rian. Begitu juga dengan Rian. Pria itu justru terkejut dengan tingkah adik sahabatnya.


"Hei, Pras! Kau gila, ya!" ketus Rian mengangkat kepala sahabatnya, "Aku masih normal dan di hadapan kita ada istriku. Jadi, jangan bersikap ceroboh seperti ini!" kesalnya lagi.


"Marahi saja Lidya. Karena Lidya, tubuhku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke pangkuanmu!" jawab Pras tak kalah ketus. Dia membenarkan posisi tubuhnya seperti semula. "Lidya!" geram Pras saat menatap tajam adiknya.


"Maaf, Kak! Aku tidak sengaja! Aku pikir, Kakak--"


"Maaf, maaf! Kau tahu, akibat ulahmu, Kakak di marahi oleh pria frustrasi sepertinya!" potong Pras lagi.


Aya tersenyum tipis saat melihat interaksi ketiga orang tersebut. Lalu tak sengaja dia mendengar suara telfon yang berada di ruang tunggu berbunyi, membuat ke tiga orang yang tengah berdebat terdiam.


"Hallo, Re! Ada apa?" tanya Aya setelah mengangkat telfon genggamnya.


"Maaf sudah mengganggu waktu ibu. Tapi bu, di butik ada pengacara yang ingin bertemu dengan ibu. Apa saya tunjukkan ke ruangan ibu atau ke ruang tunggu, tepat di mana ibu berada?" jawab Rere.


'Jadi, pengacaraku yang mengurus perpisahanku sudah datang! Syukurlah untung, aku sempat mengirim pesan ke pengacaraku tadi, untuk datang ke butik sebelum ponselku di sita Mas Rian!' batin Aya.


"Antarkan dia ke ruanganku, Re! Suruh dia tunggu sebentar. Aku masih ada urusan!" ujar Aya lagi.


"Baik, Bu!" jawab Rere lalu menutup panggilannya.


Aya meletakkan telfon genggamnya ke tempat semula. Dia beranjak berdiri. "Maaf, aku tidak bisa berlama-lama lagi. Ada tamu yang harus aku temui. Untuk masalah tadi, kita cukup bahas sampai di sini saja. Dan aku mohon ... kejadian ini tidak terulang lagi." ujar Aya.


"Ya sudah, aku dan Lidya juga mau pulang! Maaf sudah mengganggu waktumu, Ay!" titah Pras.


"Terimakasih juga sudah mau di repotkan aku, Mas! Oh, iya masalah bayaran, kamu bisa diskusikan lagi ke Rere, Mas! Aku tidak mau punya hutang budi padamu!" ucap Aya. "Dan untuk bayaranmu, Lidya. Setelah ini, kamu temui Rere. Bilang, minta titipan dari Kakak, ya! Kakak tidak ada waktu lagi! Bye! Sampai bertemu di lain hari!"


"Bye, Kakak! Terimakasih banyak! Aku senang bekerja dengan Kakak!" jawab Lidya.

__ADS_1


'Kira-kira Aya mau menemui siapa, ya? Aku harus ikuti dia. Aku tidak mau, Aya merencanakan sesuatu yang membuatku jauh darinya!' batin Rian.


__ADS_2