
"Kaca! Rupanya kau perlu bercermin. Aku perjelas lagi. Di sini siapa yang matre! Kau atau aku!" kesal Aya yang dapat di dengar oleh Rian.
"Aku tidak bisa melihat Aya di hina!" lirih Rian yang hendak berjalan masuk.
"Kak!" cegah Lidya. "Jangan masuk dulu. Biarkan mereka berbicara. Jika salah satu dari mereka sudah kelewat batas, maka kakak boleh masuk dan melerainya." ujarnya lagi.
"Vina sudah kelewat batas, dia mengatakan jika Aya matre, Li! Aku tidak bisa tinggal diam melihat istriku di caci maki seperti itu!" geram Rian.
"Itu wajar, kak! Karena setahu dia, Kakak sudah memberikan semua hartanya pada Kak Aya. Biarkan saja mereka bertengkar. Kita tunggu waktu yang pas untuk masuk!" titah Lidya membuat Rian mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan.
"Kembalikan harta suamiku. Maka aku, akan pergi!" titah Vina.
"Aku tidak bisa memberikan apa yang tidak aku dapatkan. Sekarang, kau pergi dan temui suamimu itu. Kau tenang saja, aku tidak pernah menyembunyikan suamimu itu. Dan kau juga tenang saja. Setelah jam makan siang, aku akan mendaftarkan gugatan cerai lagi untuk Mas Rian. Ambilah Mas Rian. Aku tidak butuh suami sepertinya!"
"Hahaha ... setelah kau mendapatkan semua harta Mas Rian, kau--"
"Hentikan!" suara Rian membuat Aya dan Vina menatapnya.
Lidya yang melihat Rian masuk pun menghembuskan napasnya kasar, "Sudah aku bilang, tunggu saja dulu. Tapi kenapa malah masuk!" lirih Lidya.
"Mas! Mas kamu kemana aja, ha! Kenapa semalam tidak pulang. Aku sangat mencemaskanmu!" ujar Vina berjalan beberapa langkah menghampiri suaminya.
"Jangan dekat-dekat denganku!" ketus Rian, lalu menatap wajah Aya. "Aku tidak suka dengan keputusanmu ini, Ay! Bukankah kita sudah sepakat untuk menundanya!"
"Aku capek, dan aku tidak bisa menundanya terlalu lama, Mas!"
"Tapi aku tidak suka dengan keputusanmu!" geram Rian.
"Mau suka atau tidak, itu bukan urusanku. Sekarang, kalian bisa pergi dari ruanganku!" ketus Aya.
"Semalam kamu nginap di mana, Mas? Kenapa telfonku tidak di angkat, Hem?" tanya Vina dengan perhatian. "Aku mencemaskanmu. Aku takut kamu--"
"Tidak perlu tahu, aku menginap di mana. Sekarang, ikut aku pulang! Kau sudah membuatku malu di depan istriku sendiri!" titah Rian menarik paksa tangan Vina.
"Aku juga istrimu, Mas! Dan aku belum selesai bicara dengan Aya. Dia harus mengembalikan semua harta yang di berikan kamu. Aku tidak sudii hartamu jatuh ke orang yang tidak tepat!"
"Diamlah! Kita pulang, atau aku ceraikan kamu!" ketus Rian berjalan keluar ruangan.
Setelah sampai di depan ruangan. Rian menatap Lidya sekilas.
__ADS_1
"Hati-hati sayang!" titah Lidya yang terasa kaku.
Mendengar kata sayang, Vina menatap tajam suaminya.
"Mas, katakan, siapa dia? Kenapa dia memanggilmu dengan sebutan sayang? Apa jangan-jangan semalam kamu menginap dengannya?" tanya Vina sambil menuruni tangga.
"Mas, aku sedang bicara denganmu. Tolong di jawab!" titah Vina.
"Diam!" ketus Vina.
Rere dan beberapa karyawan yang melihat kemarahan suami bos nya sambil menarik tangan sahabat bos nya pun kebingungan. Mereka terdiam dengan beberapa pertanyaan di dalam otaknya.
"Mas! Kamu jawab pertanyaanku. Siapa wanita tadi! Atau jangan-jangan kamu punya istri lain di belakangku dan Aya, iya! Apa dua istri kurang bagimu, Mas!" pekik Vina yang dapat di dengar beberapa karyawan Aya.
'Dua istri?' batin Rere. 'Jadi, ini alasan Bu Aya meminta cerai dari Pak Rian. Jadi, pak Rian sudah mengkhianati Bu Aya,' batinnya lagi.
"Diam!" ketus Rian mendorong pintu dan keluar dari butik.
Di hentikannya taksi yang tengah melintas. "Masuk!" titah Rian.
"Aku tidak mau masuk. Sebelum kamu jelaskan siapa perempuan itu, Mas! Aku tidak suka kamu berkhianat di belakangku, Mas!" ketus Vina.
"Mas, kamu jelaskan dulu, siapa wanita itu! Kenapa dia memanggilmu dengan sebutan sayang!" ujar Vina setelah taksi itu berjalan meninggalkan butik.
"Kau tidak perlu tahu, siapa wanita itu!"
"Aku ini istrimu dan aku berhak tahu, Mas!"
"Kau ini istri sirih ku. Sadar posisimu, Vin!" pekik Rian membuat Vina terdiam
Sedangkan di satu sisi. Lidya mengetuk pintu ruangan Aya.
Tok ...
Tok ....
"Kak Aya!" panggil Lidya.
Aya menoleh, dia tersenyum saat melihat adik dari sahabat suaminya tengah berdiri di depan pintu ruangannya.
__ADS_1
"Boleh aku masuk, Kak!" tanya Lidya lagi.
"Boleh. Masuk saja, Li!" titah Aya.
"Kak, maaf. Aku sempat mendengar keributan Kakak dengan--"
"Duduklah. Seharusnya yang meminta maaf itu, Kakak! Oh, iya ada apa kamu ke sini, Li?" tanya Aya.
Lidya dan Aya menjatuhkan pantatnya di sofa. "Kakak yang kuat, ya!" titah Lidya sambil menggenggam tangan Aya.
"Santai, Kakak sudah bisa menghadapi semuanya sendirian. Mau minum apa? Biar kakak buatkan!"
"Tidak usah, Kak! Kedatanganku ke sini, karena aku merindukan Kakak. Kita sudah lama tidak bertemu."
"Iya, kita sudah lama tidak bertemu. Dan Kakak senang melihatmu semakin cantik. Bagaimana kuliah kamu, Li? Sudah lulus atau belum?" tanya Aya.
"Belum, Kak! Satu semester lagi. Aku lihat baju di butik Kak Aya bagus-bagus. Aku kepengin deh, kalau wisuda nanti, Kak Aya buatkan satu set kebaya wisuda untukku."
"Boleh. Kamu bisa datang satu bulan sebelum wisuda. Kakak akan ukur tubuhmu. Dan kakak akan berikan ini gratis!"
"Wah, serius, kak? Aku tidak menyangka, bakal di beri gratis."
"Kamu ini sudah kakak anggap seperti adik Kakak! Dan kakak sangat senang bisa membantumu."
"Aku juga sudah menganggap Kakak sebagai kakak terbaikku! Tapi bicara perceraian. Apa kakak mau bercerai dengan Kak Rian? Maaf, tadi aku sempat mendengarnya sedikit!"
"Iya, Kakak akan bercerai dengan Kak Rian." jawab Aya dengan senyum palsunya.
"Apa Kakak yakin? perceraian itu tidak di sukai Tuhan, loh, kak!"
"Tapi rumah tangga kita sudah hancur dan tidak bisa di perbaiki. Biarkan Kak Rian membina rumah tangga baru nya dengan Vina yang sedang mengandung anaknya."
"Oh gitu. Tapi apa kakak masih mencintai Kak Rian? Mau bagaimana pun, kalian sudah kenal sangat lama. Dan pernikahan kalian juga sudah berlangsung cukup lama. Apa kakak tidak akan menyesal jika berpisah dengan Kak Rian?" tanya Lidya lagi.
"Kakak yakin seratus persen. Masalah cinta atau tidak. Itu tidak penting."
"Jadi, pernikahan kakak memang tidak bisa di perbaiki lagi, nih? Berarti aku akan kehilangan pasangan romantis di dunia ini, dong! Padahal, aku selalu menginginkan pernikahan seperti pernikahan kakak. Yang harmonis, saling mencintai dan saling menutupi kekurangan masing-masing."
"Sudahlah, jangan membahas pernikahan. Kamu ini masih kuliah. Dan kakakmu belum menikah!" ucap Aya mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1