
'Tapi jika aku ceritakan, pasti Bu Aya tidak akan percaya Lebih baik, aku pura-pura tidak tahu. Lagi pula, ini urusan pribadi mereka. Seharusnya, aku tidak boleh ikut campur!' batin Rere melanjutkan langkahnya menuju rekan kerjanya yang lain.
Fajar tersenyum sinis saat melihat kepergian Rian. Dia kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Aya.
'Kali ini, aku yang akan menang. Aku akan mendapatkan Aya sepenuhnya. Dan Rian, dia akan menderita seumur hidupnya, karena sudah berani menyia-nyiakan wanita cantik dan baik hati seperti Aya.' batin Fajar, yang samar-samar mendengar suara isak tangis dari dalam ruangan Aya.
Hiks ...
Hiks ....
"Ay, kamu kenapa? Apa yang Rian lakukan padamu? Sampai-sampai kamu menangis, Hem? Katakan, Ay! Biar aku hajar Rian sampai maati!" ujar fajar berlari menghampiri Aya.
Aya menoleh, dia menghapus air matanya. "Aku tidak apa-apa, Mas! Aku butuh waktu sendiri. Tolong tinggalkan aku sendiri di ruanganku!" titah Aya.
"Tapi kamu yakin, Ay! Katakan saja, jika suamimu membuat ulah. Aku akan hajar dia! Bila perlu, aku akan membunuhnya!"
"Tidak, Mas! Aku tidak apa-apa. Aku butuh waktu sendiri. Kamu pergi dulu!" titah Aya di selingi isak tangisnya.
"Ya sudah. Aku pergi, tapi ini ...." Rian memberikan paper bag yang berisi makanan untuk Aya. "Kamu makan ini. Ingat! Kamu tidak boleh telat makan. Aku tahu, kamu belum makan, kan? Kamu makan, ya!" titah fajar.
"Terimakasih, tapi kamu tidak perlu repot-repot membawakanku makanan, Mas! Aku bisa beli makanan sendiri!" ujar Aya.
"Tidak! Kamu tidak merepotkanku. Sekarang, kamu makan! Aku akan pergi. Jangan menangis lagi, kamu kuat, Ay!" ucap fajar kemudian berjalan pergi keluar ruangan Aya.
Setelah berada di luar ruangan Aya, fajar mengepalkan tangannya erat. 'Siaalan, sebenarnya apa yang dilakukan Rian sampai-sampai Aya menangis seperti itu. Aku harus memastikannya sendiri. Jika benar, Rian menyakiti hati Aya, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan balas semua perbuatannya yang telah menyakiti hati Aya!' batin Fajar berlari menuruni satu persatu anak tangga.
Sedangkan di satu sisi. Rian berjalan keluar butik dengan raut wajah yang lesu. Dia melihat mobil sahabatnya sudah terparkir di depan butik Aya. Segera, Rian berjalan dan masuk ke dalam mobil tersebut.
"Jalan!" titah Rian dengan nada dinginnya.
"Ada apa denganmu, kawan! Kenapa wajahmu di tekuk, Hem? Apa Aya tetap mau menggugat ceraimu?" tanya Pras menancap gas mobilnya.
"Hem. Dia tetap ingin bercerai. Aku sudah kehilangan akal. Aku tidak tahu, harus melakukan cara apalagi untuk meluluhkan hati Aya." jawab Rian frustrasi.
__ADS_1
"Sudahlah. Lepaskan saja! Kau yang membuat semuanya menjadi begini. Sekarang, fokuskan hidupmu untuk istri baru mu itu. Dia sedang mengandung anakmu, Rian!"
"Mau dia mengandung anakku atau tidak, itu bukan urusanku. Aku tidak mencintainya. Aku hanya berpura-pura agar aku bisa menyumpal mulut ibuku itu. Aku kasihan ke Aya. Dia terus di hina ibuku yang tidak bisa mempunyai anak dan lainnya."
"Kasihan, memang Aya kasihan. Tapi caramu juga salah. Sekarang, cobalah berpikir. Jika kamu berada di posisi Aya, mungkin ... kamu sudah menceraikan istrimu sedari dulu. Tapi Aya? Dia mau bertahan. Dengan janji yang kamu ucapkan itu? Janji kebohongan yang kau berikan maksudku!"
"Brengseek! Sudahlah. Bicara denganmu sama saja seperti bicara dengan tembok!" ketus Rian memejamkan matanya.
"Hahaha ... Rian ... Rian! Lepaskan Aya, dan tatap lah masa depanmu dengan istri barumu. Lupakan Aya. Atau begini saja, biar aku yang menjaga Aya. Aku janji, aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku tidak mungkin menyakitinya seperti kamu menyakitinya. Aku janji, Rian!" ujar Pras menatap lurus ke depan.
Mendengar semua ucapan sahabatnya, Rian menendang kaki Pras keras, membuat Pras mengadu kesakitan.
"Aw ... Hei! Sudah numpang di mobil orang, dan ini ... kau tendang kakiku. Memang, kakiku bola!" ketus Pras mengusap kakinya dengan salah satu tangannya.
"Aku menginap di rumahmu! Sekarang, antarkan aku ke rumahmu!"
"Apa! Rian, kau gila! Kau ini bukan pria single atau lajang yang bebas menginap sana sini. Kau ini sudah beristri. Ingat, istrimu dua! Eh, maksudku istrimu satu. Karena satunya lagi akan berubah status menjadi mantan istri!" sindir Pras.
"Tidak mau. Otakmu ini masih waras atau tidak, Rian! Aku akan antar kau pulang!" titah Pras.
"Cepatlah! Atau, saham yang aku tanam di perusahaanmu, akan ku cabut! Mau, perusahaanmu bangkrut karena semua saham atas namaku, aku ambil!" ancam Rian membuat Pras berpikir sejenak.
Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya mau tidak mau ... Pras menyetujui semua perintah sahabatnya demi kejayaan perusahaan yang dia rintis sendiri.
"Baiklah. Ini demi saham mu yang ada di perusahaanku!"
"Hem!" jawab Rian dengan nada dinginnya.
Sedangkan di satu sisi. Vina berjalan mondar-mandir di balkon kamarnya.
"Sudah jam segini, dan Mas Rian belum pulang juga! Padahal, aku menantikan kepulangannya. Atau jangan-jangan ... sekarang Mas Rian sedang di goda oleh Aya? Aya berusah dan mencoba merayu Mas Rian supaya Mas Rian tidak menceraikannya? Kalau hal ini sampai terjadi, maka aku tidak akan tinggal diam! Aku akan bicara empat mata dengan Aya. Aku harus tekan dia, agar tetap menceraikan Mas Rian. Karena Mas Rian hanya untukku! tidak ada yang boleh memiliki Mas Rian seutuhnya selain aku." gumam Vina melihat layar ponselnya.
Tok ...
__ADS_1
Tok ....
Suara ketukan pintu, membuat Vina tersadar, "Siapa?" gumam Vina melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya.
Tok ...
Tok ....
"Vin!" teriak Iris dari luar kamar Vina.
Krek!
"Ibu! Tumben sekali, ibu mengetuk pintu kamarku! Ada apa, Bu?" tanya Vina sambil mempersilahkan ibu mertuanya untuk masuk ke dalam kamarnya. "Kita bicara di dalam kamar saja, Bu! Silahkan, ibu masuk ke kamar!" titah Vina
Iris masuk ke dalam kamar menantunya. Dia menjatuhkan pantatnya di sofa dekat ranjang.
"Ibu, ada apa ke kamarku?" tanya Vina basa basi..
"Ibu cuma mau tanya, suamimu sudah pulang?" tanya Iris yang mendapat gelengan kecil dari menantunya.
"Belum Bu! Aku telfon juga tidak di angkat. Memangnya kenapa?" tanya Vina menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang.
"Em ... Vin, apa Aya dan Rian masih menjalin hubungan di belakang kita?" tanya Iis membuat Vina menghembuskan napasnya kasar.
"Ibu, menurut ibu, bagaimana?"
"Menurut ibu, mereka masih berhubungan secara diam-diam di belakang kita!" jawab Iris.
"Hem, mereka memang masih berhubungan, Bu. Bahkan, sekarang ... Mas Rian ada di butik Aya. Kalau tidak percaya, ibu bisa telfon Mas Rian sekarang juga! Atau, ibu bisa lihat titik keberadaan Mas Rian yang sekarang!"
"Menurut ibu, seorang pria mempunyai dua istri, itu bukankah hal yang wajar!" ucap Iris membuat Vina menggelengkan kepalanya.
"Tidak!" jawab Vina ketus.
__ADS_1