Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 69


__ADS_3

"Hahaha ... Kakak tidak ada kerjaan di rumah. Jadinya, Kakak berangkat lebih pagi. Kamu kuliah, kan? Kenapa belum berangkat?" tanya Aya membawakan secangkir teh hangat untuk Lidya. "Minumlah," ujarnya lagi.


"Terimakasih, Kak!" ucap Lidya menyeruput teh hangat buatan Aya, lalu meletakkannya di atas meja.


"Ada apa, kamu ke sini pagi-pagi. Apa ada sesuatu yang terjadi denganmu?" tanya Aya memastikan.


"Tidak, Kak! Kedatanganku ke sini untuk ..." ucapan Lidya terhenti. Tiba-tiba dirinya ragu untuk menceritakan keadaan Rian yang frustrasi. 'Jika aku bicara, sama saja ... aku ikut mencampuri urusan rumah tangga kak Aya, dong? Tapi jika aku diam saja dan berpura-pura seperti tidak tahu, aku tidak tega juga ke Kak Rian!' batin Lidya bingung.


"Lidya, ada apa? Katakan saja. Ada apa denganmu?" tanya Aya saat melihat raut wajah wanita di hadapannya yang gelisah.


"Kak, aku minta maaf, ya!" lirih Lidya.


"Minta maaf untuk apa? Memangnya, kamu melakukan kesalahan apa, Li?" tanya Aya semakin penasaran.


"Jadi begini, aku bukan bermaksud untuk ikut campur urusan rumah tangga Kak Rian dan Kak Aya. Tapi, aku mohon kak, aku mohon ... beri kesempatan untuk kak Rian berubah. Dia sudah menyesali semua perbuatannya. Aku mohon ... kak!" rayu Lidya sambil meraih dan menggenggam tangan Aya, "Kasihan kak Rian!" sambungnya lagi.


Aya tersenyum saat mendengar ucapan dari wanita di hadapannya. "Kamu ini masih kecil, Lidya! Kamu tidak pantas memikirkan masalah orang dewasa. Ini bukan masalahmu. Ini masalah Kakak dan Kak Rian. Kamu tidak perlu memikirkan masalah lainnya selain kuliah." jawab Aya mengusap punggung tangan Lidya.

__ADS_1


"Tapi, Kak! Apa Kakak tidak kasihan pada kak Rian. Aku kasihan melihat Kak Rian seperti hilang arah. Kak, maafkan Kak Rian. Aku tahu, aku tidak pantas ikut campur ke dalam urusan Kakak! Tapi, aku juga kasihan saat melihat Kak Rian yang hancur. Ayo, Kak, maafkan kak Rian. Please!" pinta Lidya memohon.


"Pasti Mas Rian yang memintamu seperti ini, ya?" tanya Aya menampilkan raut wajah kecewanya. "Seharusnya, Mas Rian tidak boleh memasukkan orang lain ke dalam masalahnya. Kamu tenang saja Lidya. Biar Kakak yang bicara nanti di pengadilan." jawab Aya yang mendapat gelengan kecil dari Lidya.


"Kak, Kak Rian sama sekali tidak menyuruhku. Kedatanganku ke sini, murni untuk membantu hubungan rumah tangga Kak Rian dengan Kak Aya. Aku tidak mau kalian bercerai. Seharusnya, Kakak bertahan. Seharusnya, pelakor itu yang pergi bukan Kakak! Kakak ini istri Sah Kak Rian. Banyak yang mendukung Kakak dengan Kak Rian. Ayolah, Kak! Aku yang akan menjamin sendiri, kalau Kak Rian tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk ke dua kalinya. Please, Kak!"


"Lidya, kamu tidak tahu, masalah apa yang sedang dihadapi oleh kakak dan Kak Rian. Tugasmu hanya belajar yang pintar. Kasihan kakakmu sudah membiayai mahal kuliahmu. Kamu tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, pergilah ke kampus! Kamu tidak boleh bolos!" titah Aya berusaha mengalihkan pembicaraan Lidya.


"Kak, kakak harus tahu, semalam Kak Rian mabuk berat. Bahkan sampai sekarang ... Kak Rian masih terbaring di kasur. Semua barang di kamar Kak Rian sudah hancur berantakan. Bahkan Kak Pras tidak memperbolehkan aku masuk ke dalam kamar Kak Rian. Dan Kakak tahu, aku sampai suruh tukang kebun untuk naik ke atas tangga samping rumah yang menghubungkan jendela kamar Kak Rian. Dan tukang kebun itu bilang ... kalau kamar Kak Rian sudah seperti kapal pecah. Apa kakak tidak kasihan, kak? Apa kakak tidak mau memberikan kesempatan ke dua? Kasihan Kak Rian, kak! Dia sudah mengakui kesalahannya. Maafkan Kak Rian, demi aku, Kak!" pinta Lidya memohon.


'Jadi, Mas Rian mabuk lagi? Padahal, sedari dulu ... aku melarangnya untuk mabuk. Apa kamu sudah berubah, Mas? Tapi maaf ... aku tidak bisa kembali padamu. Vina lebih membutuhkanmu dari pada aku!' batin Aya.


"Tidak perlu. Kakak percaya denganmu, Lidya. Dan kakak sudah memaafkan Mas Rian!" jawab Aya sambil memperlihatkan senyum manisnya.


"Berarti Kakak mau kembali ke pelukan Kak Rian?" tanya Lidya lagi.


"Lidya, memaafkan bukan berarti kita mau kembali kedalam pelukannya. Kakak memang sudah memaafkan Mas Rian. Tapi untuk kembali ke dalam pelukan Mas Rian, Kakak tidak bisa! Kakak tidak mau, jatuh ke lubang yang sama untuk ke dua kalinya. Lagi pula, istri baru Mas Rian sedang hamil. Mungkin sekarang ... Mas Rian belum bisa melupakanku, tapi kakak yakin ... seiring berjalannya waktu, Mas Rian pasti bisa melupakanku dan mencintai istri barunya." jawab Aya yang lagi dan lagi membuat tubuh Lidya seketika melemas.

__ADS_1


"Kak, tapi kasihan kak Rian. Lebih baik, kita temui Kak Rian. Biar kakak tahu sendiri, bagaimana kondisi terbaru Kak Rian. Pasti kakak tidak tega. Ayo, kak!" titah Lidya berdiri, lalu menarik tangan Aya keluar butik.


"Lidya," titah Aya, "Jangan seperti ini," sambungnya lagi.


"Jangan seperti apa, kak? Kasihan Kak Rian. Kakak harus tahu, kondisi Kak Rian! Please, ikut aku ke rumah!" rayu Lidya yang mendapat gelengan kepala dari Aya.


"Maaf, kakak tidak bisa. Kakak tidak mau ikut campur urusan Mas Rian. Kakak sudah memasukkan gugatan cerai. Biarkan Mas Rian melakukan apa saja. Kakak sudah membebaskannya! Lebih baik, kamu berangkat kuliah." titah Aya.


"Kak, tapi kakak harus tahu. Kakak ini kenapa sih? Kak Rian masih suami Kakak! Kenapa kakak seperti tidak memperdulikan Kak Rian? Ayolah, Kak! Sebentar saja!" pinta Lidya.


"Kakak tidak bisa. Kakak sudah berjanji dengan diri kakak sendiri, kalau Kakak tidak akan mencampuri urusan Mas Rian lagi. Sebaiknya, kamu temui saja istri baru Mas Rian. Biar dia yang memenangkan hati Mas Rian!" saran Aya.


"Apa kakak tahu, Kak Rian selalu memanggil nama Kakak? Apa kakak tahu, kak Rian meringkuk di pojok kamar sambil menangis? Dia mengakui semua kesalahannya. Dia khilaf Kak! Aku mohon ya ... aku mohon dengan sangat ... ikut aku," ucap Lidya sambil mengatupkan ke dua tangannya di dada.


"Kamu pergi kuliah saja! Kakak masih banyak urusan. Kakak harus menyiapkan beberapa produk untuk di bawa ke cabang butik Kakak!" titah Aya.


"Kakak buka cabang butik?" tanya Lidya tak percaya.

__ADS_1


Aya mengangguk lirih. "Iya, tapi kakak mohon ... kamu jangan bilang pada siapapun. Kakak akan pergi meninggalkan kota ini demi kebaikan kita masing-masing." jawab Aya lagi.


__ADS_2