Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 56


__ADS_3

Aya berjalan keluar ruang tunggu dan menuju ruang bekerjanya.


Tanpa sepengetahuan Aya, diam-diam Rian mengikuti setiap langkah kaki Aya dengan selalu bersembunyi saat Aya menyadari pergerakannya.


Setelah sampai di ruangannya. Aya dapat melihat sosok pria paruh baya yang sedang menunggunya.


"Selamat siang Pak Irfan!" sapa Aya sambil menjabat tangan pria yang akan mengurus perceraiannya.


"Selamat siang Ibu Cahaya!" jawab Pak Ifan.


"Silahkan duduk, Pak!" titah Aya yang dapat di dengar Rian dari balik tembok.


'Kira-kira, Aya sedang bicara dengan siapa?' batin Rian menajamkan pendengarannya.


"Bisa kita diskusikan sekarang, Pak Ifan?"


"Silahkan Bu Aya. Saya akan menjadi pendengar dulu!"


"Jadi begini, Pak! Saya meminta Bapak untuk datang ke butik, karena saya ingin mengurus perceraian saya dengan suami saya! Sempat beberapa hari yang lalu saya menggugat cerai suami saya. Tapi, suami saya menolak untuk menceraikan saya! Jadi, saya mau ... Bapak membantu saya sampai saya resmi bercerai?" ujar Aya sambil menampilkan senyum manisnya yang palsu.


'Perceraian? Jangan bilang, yang sedang bersama Aya adalah seorang pengacara?' batin Rian.


"Mohon maaf jika pertanyaan saya lancang. Tapi, apa boleh saya tahu, kenapa ibu cahaya ingin sekali bercerai dengan suami ibu? Apa karena ibu mendapatkan perlakuan kekerasan rumah tangga atau karena faktor ekonomi dan lainnya?" tanya Pak Irfan.


"Suami saya selingkuh dengan sahabat saya. Dan suami saya sudah diam-diam menikahi sahabat saya sampai hamil. Saya sebagai perempuan, saya menolak di madu. Lebih baik, saya mundur dan menggugat cerai suami saya!" jawab Aya.


"Jadi, keputusan ibu sudah bulat untuk menggugat cerai suaminya?" Jika sudah bulat, saya akan bantu sampai ibu resmi bercerai. Sebelumnya, ibu mempunyai bukti perselingkuhan suami ibu?" tanya pak Irfan lagi.

__ADS_1


"Saya tidak mempunyai bukti, tapi mereka sudah tinggal satu atap. Dan mereka sudah menikah. Apa perlu, saya mencari bukti lainnya?"


"Sebaiknya, ibu mencari bukti seperti foto pernikahan suami ibu dan selingkuhannya. Saya takut, gugatan ibu di tolak oleh pengadilan agama." jawab Pak Irfan. "Memangnya, berapa lama suami ibu selingkuh?"


"Saya tidak tahu, tapi usia kandungan selingkuhan suami saya sudah lebih dari 4 bulan. Dan saya sudah pisah rumah."


"Ibu yang sabar, tapi saya akan dukung ibu! Ibu persiapkan saja semua berkas-berkas yang di perlukan." titah Pak Irfan.


"Semuanya sudah siap, Pak! Dari buku nikah dan kartu keluarga. Saya sudah mengambilnya sebelum saya pergi dari kediaman suami saya!" ujar Aya beranjak dan mencari map putih yang di simpan di dalam laci.


"Semuanya sudah ada di dalam sini. Saya mohon ... semoga proses ini bisa berjalan dengan lancar, Pak! Jujur saya sudah capek dengan semua ini!" ucap Aya memberikan map berisi dokumen pribadinya.


"Baik, saya akan kirimkan berkas ini ke pengadilan. Setelah semuanya selesai, saya akan beritahu ibu cahaya. Tapi ibu jangan lupa mencari bukti untuk di persidangan nanti! Kalau begitu saya permisi!" titah Pak Ifan.


"Terimakasih, saya akan cari bukti tentang perselingkuhan suami saya, lalu saya akan berikan bukti itu kepada bapak!" titah Aya. 'Aku harus mengambil ponselku. Di situ, ada bukti tentang perselingkuhan Mas Rian dan Vina!' batin Aya.


'Aku harus melakukan cara agar Aya tidak mendapatkan bukti. Aku harus mengusir dan menutup rapat mulut Vina!' batin. Rian berjalan menuruni tangga. Dia berlari keluar butik dan menghentikan Taksi..


Tak henti-hentinya Rian berusaha menghubungi istri siri nya yang berada di rumah.


Tut ...


Tut .....


"Angkat, Vin! Jangan membuatku marah!" kesal Rian saat telfonnya di abaikan.


Tut ...

__ADS_1


Tut .....


"Angkat! Angkat! Angkat!" geram Rian.


Tut ...


Tut ....


"Hallo, Mas! Maaf, aku sedang di kamar mandi. Mas Rian pasti mau minta maaf, ya!" ucap Vina setelah menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Untuk apa aku minta maaf padamu. Sekarang, kamu turuti semua permintaanku! Kamu angkat kaki dari rumahku dan tutup mulut tentang pernikahan kita! Kalau Aya bertanya atau orang lain bertanya tentang hubungan kita. Maka, kamu bilang ... kalau kita sudah tidak ada hubungan apapun. Cepat beresi barang-barangmu!" titah Rian frustrasi.


"Tapi kenapa Mas? Aku ini istrimu juga! Kamu tidak boleh mengusirku, Mas! Apa salahku! Dan bukankah Aya sudah tahu tentang pernikahan kita? Untuk apa, aku bicara berbohong?" tanya Vina sambil menahan rasa kecewanya.


"Turuti saja semua perintahku, Vin! Atau kita bercerai! Apa kamu mau, anak kita lahir tanpa seorang Ayah, ha! Kalau kamu mau kita bercerai, kamu bisa bersantai di rumah itu. Dan bilang ke semua orang kalau kita pasangan suami istri." ancam Rian.


"Aku tidak mau bercerai darimu, tapi aku juga mau mendapatkan pengakuan darimu, Mas? Sebenarnya, ada apa denganmu? Kenapa kamu mengusirku dari rumah? Apa salahku, Mas! Lalu, aku mau tinggal di mana, Mas? Rumahku saja sudah di jual olehmu. Kamu tega, aku menjadi gelandangan yang tidur di emperan toko, Mas? Kamu tega?" kesal Vina.


"Bagaimana aku tidak tega padamu, Vin! Aku akan menyewa kontrakan kecil untuk tempat tinggalmu sementara waktu! Sekarang, aku sudah di dalam perjalanan. Dan aku mau, setelah aku sampai, kamu sudah siap dengan kopermu. Ingat, sudah siap! Kalau belum siap! Atau aku masih melihatmu bersantai, aku tidak akan segan-segan untuk menceraikanmu sekarang juga! Ingat, itu!" ancam Rian kemudian memutuskan panggilan telfonnya.


"Tapi, Mas! Tut ... Tut ..."


"Hallo, Mas! Hallo! Kamu tidak boleh mematikan telfonnya sepihak seperti ini, Mas! Kamu harus memberikan-- Argkh! Kenapa jadi seperti ini! Hidupku bakal hancur! Lagian ada apa dengan Mas Rian! Kenapa dia memintaku untuk pergi dari rumahnya. Apa jangan-jangan, Aya mau kembali ke rumah ini dan aku akan di asingkan? Jika semua itu benar terjadi, aku tidak akan tinggal diam. Ya, walaupun Mas Rian akan jatuh miskin, tapi jika aku berhasil mengambil harta Mas Rian yang diberikan Aya, aku yakin ... kekayaan Mas Rian akan pulih. Dan aku bisa hidup bergelimang harta lagi!" gumam Vina berjalan dan membuka lemari. Perlahan tangannya mengambil pakaian yang akan di masukkan ke dalam koper.


Sedangkan di satu sisi. Setelah berpikir sejenak, Akhirnya Aya memutuskan untuk datang ke rumah suaminya yang pernah dia tinggali dulu.


"Jika aku tidak bisa mendapatkan ponselku kembali. Maka aku harus memotret perut Vina saat di rumah Mas Rian. Aku yakin, itu bisa menjadi bukti untuk nanti di pengadilan!" gumam Aya mengambil ponsel khusus untuk bekerja.

__ADS_1


Aya berjalan keluar ruangan dan menuruni satu persatu anak tangga. Ingatannya kembali saat melihat ruang tunggu yang terbuka lebar.


"Apa Mas masih ada di ruang tunggu?" gumam Aya.


__ADS_2