Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 75


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar suaminya. Aya menghembuskan napasnya kasar. 'Mas, kamu sudah berubah. Aku seperti tidak mengenalimu yang dulu.' batin Aya.


Lidya tersenyum kecut saat mengintip dari balik pintu kamarnya. Dengan perasaan ragu, Lidya membuka pintu kamarnya dan menyapa wanita yang dibawanya ke rumah.


"Bagaimana, Kak? Maksudku, bagaimana keadaan Kak Rian? Kakak berhasil mengobati Kak Rian, kan?" tanya Lidya memastikan.


"Kakak sudah obati Mas Rian. Dan Kakak sudah membereskan kamarnya juga. Jadi, kamu tidak perlu khawatir, Mas Rian bisa istirahat dengan tenang. Oh, iya. Ini Kakak kembalikan kotak P3K nya. Terimakasih, Lidya!" ucap Aya sambil menyodorkan kotak P3K milik wanita yang sudah dianggapnya sebagai adik.


"Sama-sama, Kak! Sekarang, Kakak percaya dengan semua ucapanku, kan? Kalau Kak Rian benar-benar terpuruk."


"Biarkan saja. Mungkin, Mas Rian membutuhkan waktu untuk menerima semuanya. Jika terjadi sesuatu dengan Mas Rian lagi, kamu bisa hubungi istri barunya Mas Rian."


"Tapi aku tidak tahu nomer telfonnya. Dan kakak tahu sendiri kan? Kalau istri baru nya Kak Rian menganggapku sebagai pelakor. Aku tidak mau menimbulkan masalah baru, kalau mengundang dia ke sini. Lebih baik, aku meminta Kakak datang ke sini, karena aku sudah kenal lama dengan Kakak!" jawab Lidya. "Aku takut di tuduh pelakor di rumahku sendiri, Kak! Apa kata bibi dan tukang kebun di sini? Bisa-bisa mereka menggosipkanku pelakor!"


"Kamu tidak perlu takut, intinya ... kamu tidak mempunyai hubungan apapun dengan Mas Rian, kan?" tanya Aya terkekeh.


"Tidak ada, Kak! Aku juga milih-milih kalau cari calon suami. Masa iya, aku mau sama Kak Rian yang mempunyai dua istri. Percuma aku merawat diriku sendiri kalau ujung-ujungnya aku menikah dengan Kak Rian!" gerutu Lidya.


"Pintar. Jangan jadi pelakor di rumah tangga Mas Rian dengan istri barunya, ya! Biarkan keluarga mereka bahagia bersama anak-anaknya kelak!" titah Aya.


"Jadi, keputusan kakak untuk bercerai, itu sudah finish, kak?" tanya Lidya tak percaya, "Kakak tidak mau memberikan kesempatan lagi untuk Kak Rian? Kasihan Kak Rian! Dia sudah mengakui semua kesalahannya. Dan aku pun berharap, kalau kakak bisa kembali lagi ke pelukan Kak Rian." gumam Lidya dengan menampilkan raut wajah kecewanya.


"Sudahlah. Kamu ini terlalu banyak nonton sinetron. Semua itu urusan Kakak. Tugasmu hanya belajar dan belajar. Ya, sudah. Kakak harus pergi ke butik. Kamu di rumah jaga mas Rian, ya!" titah Aya yang mendapat anggukan kecil dari Lidya.

__ADS_1


"Iya, Kak! Tanpa kakak suruh, aku akan jaga Kak Rian!" jawab Lidya.


"Oh, iya. Di sini ada tukang kebun kan? Kalau Mas Rian marah-marah atau lepas kendali, kamu bisa panggil tukang kebun dan suruh dia tenangkan Mas Rian. Jika tidak ada yang berani, lebih baik kamu kunci rapat kamarmu." saran Aya.


"Iya, Kakakku yang cantik. Aku akan mengingat saran kakak!"


"Okeh, adikku yang paling cantik. Nanti siang ada paket datang. Sesuai dengan ucapan Kakak. Kakak akan memberikan gaun gratis untukmu sesuai janji kakak di butik tadi!"


"Wah, terimakasih, Kak! Aku senang mempunyai Kakak seperti Kak Aya. Dan aku akan merindukan moment ini setelah kakak pergi nanti. Kalau kakak pergi, Kakak jangan lupa denganku, ya!"


"Kakak tidak mungkin melupakan adik kakak yang paling cantik ini. Belajar kuliah yang pintar. Kakak tunggu wisadamu."


"Iya, Kak! Aku janji!" jawab Lidya, "Biar aku antar Kakak sampai depan rumah, ya!" titah Lidya lagi.


Setelah sampai di luar rumah. Lidya kembali menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Aya. "Kakak hati-hati. Aku sayang Kakak!" titah Lidya.


"Okeh. Kakak pulang. Kakak titip Mas Rian, ya!" titah Aya berjalan masuk ke dalam mobil.


'Titip Rian?' batin seseorang yang sedang mengintip di balik tembok pagar rumah Pras. 'Jadi, rumah ini rumah wanita itu dan di dalam rumah itu ada Rian? Apa artinya, Aya dan Rian sudah baikan?' batinnya lagi.


Melihat mobil Aya keluar dari halaman rumah Pras. Fajar yang tengah mengintip pun berusaha menyembunyikan dirinya di balik tembok. 'Setelah ini, Aya mau kemana lagi? Aku harus ikuti dia!' batin Fajar berlari masuk ke dalam mobilnya.


Setelah melihat mobil Aya pergi dari halaman rumahnya. Lidya masuk ke dalam rumah. Dia melihat pria yang sedang berdiri di anak tangga.

__ADS_1


"Kak Rian! Kata Kak Aya, kamu Kak Rian sakit? Kenapa Kak Rian keluar kamar? Kenapa Kak Rian tidak istirahat saja?" tanya Lidya berjalan menghampiri Rian.


"Apa arti ucapanmu tadi, Lidya? Kamu bilang ke Aya, kalau kamu bakal merindukannya setelah Aya pergi. Memangnya, Aya mau pergi kemana?" tanya Rian penasaran.


"Oh, apa ucapanku salah, kak? Sekarang, kak Aya pergi, kan? Dan aku sudah merindukan kak Aya." jawab Lidya santai. 'Semoga saja, alasanku bisa di terima Kak rian.' batin Lidya setelah berhadapan dengan Rian. "Aku bantu Kakak ke kamar, yuk! Pasti rasanya sakit sekali!"


"Lidya, kamu ini adikku. Aku tidak mau ada yang kamu sembunyikan dariku, apalagi menyangkut Aya, istri Kakak sendiri."


"Tapi aku tidak berbohong, Kak! Memangnya, Kak Aya pernah cerita ke Kak Rian, kalau Kak Aya mau pindah? Tidak, kan! Sekarang, aku bantu Kakak masuk ke dalam kamar. Aku tidak mau di marahi Kak Aya, karena tidak bisa mengurus Kak Rian dengan baik!" titah Lidya.


"Semoga saja, kamu tidak berbohong, Lidya. Tapi kenapa rasanya seperti ada yang kamu tutup-tutupi dariku?" ujar Rian merangkul pundak wanita yang sudah dianggapnya sebagai adik.


"Kakak saja yang cemas. Kalau ada apa-apa dengan Kak Aya, aku langsung lapor ke Kakak. Oh, iya. Bagaimana tadi? Kalian bicara panjang lebar, kan?" tanya Lidya membantu jalan Rian yang tertatih.


"Kau tahu sendiri jawabannya. Aya tetap ingin menceraikanku!" jawab Rian.


"Lalu, Kakak diam saja? Kakak pasrah? Jangan dong. Kak Rian tidak boleh pasrah. Aku selalu mendukung Kak Rian terus loh, tapi malah Kak Rian pasrah."


"Aku tidak akan diam saja. Dan aku tidak akan pasrah. Tapi aku kehabisan cara untuk meluluhkan hati Aya, Li. Apa kamu punya cara untuk meluluhkan hati Aya?" tanya Rian menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang.


"Aku juga kehabisan cara, Kak! Sebaiknya Kakak istirahat dulu. Mungkin saja, setelah kakak istirahat, kakak mendapatkan cara ampuh untuk meluluhkan hati Kak Aya." jawab Lidya. "Aku ambilkan Kak Rian sarapan pagi, ya! Kak Rian dari malam belum makan, loh! Dan hebatnya, Kak Rian minum minuman beralkohol sebanyak itu!"


"Aku tidak napsu makan!" jawab Rian datar.

__ADS_1


__ADS_2