
"Sekarang, aku percaya padamu! Tapi, jika kau berani berbohong padaku, aku tidak akan segan-segan--"
"Sudahlah, jangan mengancamku terus! Aku tidak butuh ancamanmu. Sekarang, aku harus pergi menyusul mereka!" ketus Pras berjalan keluar restoran.
Sedangkan di satu sisi. Aya menautkan ke dua alisnya saat tak melihat keberadaan sahabat suaminya.
"Mas Pras mana?" tanya Aya membuat Lidya yang fokus dengan ponselnya tersadar.
"Tadi ada di belakangku, kak!" ujar Lidya kebingungan.
"Ada di belakangmu, gimana, Lidya? Buktinya Mas Pras tidak ada! Jangan-jangan Mas Pras masih ada di dalam restoran?" ujar Aya.
"Aku coba cari dulu, Kak!" titah Lidya.
"Jangan! Biar Kakak aja! Kamu tunggu di dalam mobil sama Mas fajar aja! Kakak tidak mau, kamu hilang di dalam restoran!" ujar Aya.
"Biarkan saja, Ay! Dia laki-laki dan dia tidak mungkin hilang! Kamu tidak perlu mencarinya! Kita tunggu saja di sini!" cegah fajar.
"Aku takut terjadi sesuatu padanya, Mas! Dan tidak ada salahnya, kalau aku masuk ke restoran lagi!" jawab Aya.
"Tapi, Ay! Aku temani, ya!" pinta fajar.
"Tidak perlu, Mas! Kalau aku di temani kamu, lalu siapa yang akan menjaga Lidya! Aku tidak mau Lidya sendiri di sini!" ujar Aya, "Kamu tunggu di sini. Aku cuma sebentar!" titah Aya.
"Kak Aya, hati-hati, ya!" titah Lidya.
Aya mengangguk, lalu berjalan masuk ke dalam restoran tadi.
Setelah masuk ke dalam restoran, ekor mata Aya tak sengaja menatap Pras sedang berjalan seorang diri. Belum sempat Aya menghampiri sahabat suaminya, tiba-tiba dia melihat sosok suaminya yang berjalan tak jauh dari Pras.
"Apa mereka bertemu?" gumam Aya menghembuskan napasnya kasar.
__ADS_1
Pras yang melihat Aya dari kejauhan pun tersenyum. "Ay!" panggil Pras membuat Rian menatap wanita yang di panggil oleh sahabatnya.
"Aya, pasti Aya melihatku di sini!" lirih Rian.
"Ada Mas Rian juga? Kalian membuat janji untuk bertemu di sini?" tanya Aya.
"Ay, di mana yang lain?" tanya Pras mengalihkan pembicaraan.
"Ada di mobil, Mas! Sebaiknya, kita pulang! Karena Mas fajar mempunyai jadwal meeting lagi. Kita tidak bisa membuat mas fajar menunggu terlalu lama!" jawab Aya.
"Rian, aku pergi dulu! Kita lanjutkan obrolan kita di rumah!" titah Pras.
"Ayo, Ay!" titah Pras lagi.
"Mas Pras duluan. Aku mau ke toilet!" titah Aya.
"Perlu aku temani?" tawar Pras yang mendapat tatapan tajam dari pria di belakangnya.
"Tidak perlu, Mas! Kamu tunggu di mobil aja! Kasihan Lidya, dia sangat mencemaskanmu!" tolak Aya.
"Anak itu mencemaskanku? Aku tidak percaya, anak itu mencemaskanku!" kekeh pras kemudian berjalan keluar restoran.
Setelah kepergian Pras. Kini hanya tersisa dua orang yang saling diam.
"Ay," panggil Rian.
"Aku boleh bicara sebentar?" tanya Rian.
"Bicara saja, Mas! Tapi hanya sebentar! Aku tidak mau Mas Fajar menungguku terlalu lama!" jawab Aya dengan senyum palsunya.
"Aku minta maaf, ya. Atas kelakuan Vina yang tidak sopan. Aku tidak tahu, kalau Vina nekat datang ke butik mu!" pinta Rian.
__ADS_1
"Lain kali, tolong jaga istrimu dengan baik. Aku tidak mau, semua karyawanku beranggapan buruk. Bila perlu, kamu tidak perlu menginap di tempat orang lain. Jaga istrimu itu," ketus Aya.
"Aku minta maaf, aku juga tidak habis pikir dengan pemikiran Vina."
"Wajar sih, Mas! Namanya juga wanita bersuami. Suaminya tidak pulang ke rumah, tentu istrinya bakal panik semalaman. Istrinya takut, kalau suaminya sedang bermain gila dengan wanita lain di luar sana! Ya, apalagi semuanya sudah pernah terbukti. Jadi, aku tahu ... perasaan istrimu sendiri, bagaimana!"
"Oh iya, aku mohon .... jangan ceraikan aku, Ay!" pinta Rian.
"Aku tidak bisa, Mas! Setelah aku kembali ke butik. Aku mau menemui pengacaraku dan aku mau memberikan semua persyaratan perceraian kita. Aku mohon ... untuk kali ini, kamu bisa mengerti posisiku. Jangan halangi aku lagi seperti yang kemarin. Jujur aku juga sudah capek! Aku tidak mau, mendapat caci maki lagi dari istri baru mu. Sudah tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Aku mau ke toilet! Dan kamu, silahkan ... kamu pergi, Mas!" usir Aya kembali melanjutkan langkahnya menuju toilet umum yang berada di dalam restoran.
"Kalau aku tidak mau cerai denganmu, bagaimana, Ay? Apa yang harus aku lakukan, agar kita tidak bercerai?" pekik Rian sambil menyusul sang istri.
"Tidak ada yang perlu kamu lakukan. Karena, sampai kapan pun, aku tidak bisa kembali denganmu lagi, Mas!"
"Tapi, Ay! Aku mohon ... kita bisa cari jalan keluar dari masalah ini, dengan tidak melibatkan perceraian!" pinta Rian.
"Tidak ada jalan keluar dari masalah ini selain perceraian. Dan aku mohon ... jangan mengikutiku! Aku mau ke toilet, Mas!"
"Aku mohon, Ay!" pinta Rian meraih dan menggenggam tangan istrinya. "Aku mohon ... kalau kita cerai, bagaimana dengan nasibku? Aku tidak sanggup hidup tanpa kamu! Aku tidak sanggup melihatmu tertawa renyah bersama fajar dan aku tidak sanggup melihatmu menikah dengan pria lain! Kita saling mencintai, Ay! Kamu tahu ... aku sangat mencintaimu, Ay!" pinta Rian.
"Aku tidak mencintaimu lagi, Mas! Hidupku jauh lebih baik, saat kamu pergi dari hidupku! Tidak ada umpatan atau caci maki lagi yang aku dengar dari ibumu, tidak ada lagi drama yang kamu buat, Mas! Dan tidak ada air mata lagi yang menetes karena perbuatanmu yang menyakiti hatiku! Mungkin, kalau aku memilih bertahan ... akan ada air mata yang terus menetes, akan ada drama pertengkaran kita! Dan aku tidak mau, itu!" ketus Aya kemudian menepis tangan Rian. "Sekarang, semuanya sudah berubah dan semuanya juga sudah hancur! Aku cuma minta satu dari kamu, Mas! Selesaikan drama yang kamu buat untuk Vina. Aku malas berurusan dengan orang sepertinya!" sambungnya lagi lalu masuk ke dalam toilet.
"Ay, aku belum selesai bicara! Aku salah, dan aku minta maaf! Tapi, jangan ceraikan aku! Aku sudah menurunkan harga diriku di depanmu. Tapi, kenapa kamu tidak mau menurunkan ke egoisanmu!"
'Ini bukan tentang egois, tapi ini tentang nasib calon anakmu kelak! Aku tidak mau, ada anak yang kurang kasih sayang! Karena aku, sudah merasakannya!' batin Aya membasuh ke dua tangannya.
"Aya, aku akan menunggumu sampai kamu keluar toilet. Kita belum selesai bicara!" titah Rian dari luar toilet.
"Mau sampai kapan pun, keputusanku sudah bulat, Mas! Kita akan berpisah! Dan aku akan pergi dari kehidupanmu," lirih Aya sambil menatap dirinya di pantulan cermin.
"Aku tahu, aku salah! Tapi, seharusnya ... kamu beri aku kesempatan ke dua, Ay! Bukankah setiap manusia memiliki kesempatan ke dua?" pekik Rian.
__ADS_1