Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 62


__ADS_3

"Vina!" teriak Rian lagi.


"Iy-iya Mas!" jawab Vina berjalan menuju ruang tamu. "Akhirnya, kamu datang juga Mas! Aku sudah lama menunggumu! Mana makanan pesananku? Kamu belikan aku makanan kan? Dan kamu juga memberiku asisten rumah tangga? Aku tidak mau hidup sendiri di kontrakan kecil seperti ini. Aku takut terjadi sesuatu padaku, Mas! Apa kamu mau, terjadi sesuatu dengan calon anak ini? Lalu, ibumu akan marah besar, karena hal buruk menimpa calon cucunya?"


"Jangan banyak bicara. Aku tidak suka, kamu mengancamku! Kamu siapa ha! kamu siapa? Berani kamu mengancamku! Apa kamu tidak takut aku ceraikan, ha?" ketus Rian menjatuhkan pilihan di sofa ruang tamu. "Tunggu saja! Sebentar lagi makananmu akan datang. Aku sudah meminta tukang ojek online untuk pesan semua makanan!" sambungnya lagi.


Vina berjalan dan mendudukkan pantatnya di samping suaminya. "Aku hanya ingin keadilan, Mas! Apa kamu tidak tahu, apa arti keadilan! Kamu tidak bisa memberikan semua hartamu pada Aya, sedangkan kamu memberiku rumah kecil seperti ini dengan status menyewa. Padahal, sekarang ... aku sedang hamil! Apa salahnya, aku meminta perhatian padamu? Aku meminta kamu bersikap adil?"


"Tapi caramu salah. Kamu selalu mengancamku. Memangnya, aku tidak bisa mengancammu, ha! Sekali lagi, aku dengar kamu mengancamku, akan ku pastikan kita berpisah!" ancam


"Silahkan saja, kalau kamu berani mengucapkan kata-kata itu lagi. Maka dengan sangat terpaksa, aku akan datang ke Aya dan aku bersedia menjadi saksi di persidangan kalian! Semua itu sudah beres, kan!" tantang Vina.


"Berani kau menantangku?"


"Berani! Aku tidak takut, Mas! Aku ingin yang terbaik untuk diriku sendiri." ucap Vina beranjak berdiri dan berjalan menuju dapur menghabiskan sisa mie instan buatannya sendiri.


Rian menatap sekilas arah Vina. Lalu tak lama kemudian, Rian beranjak berdiri. "Aku mau pulang! Aku tidak bisa di sini terlalu lama!"


Mendengar ucapan suaminya, Vina menggelengkan kepalanya kecil. Dia menatap suaminya dengan tatapan memohon.


"Mas, kamu baru saja sampai, dan kamu mau pulang? Bahkan, makanan yang aku minta, pun belum datang. Kamu ingin, semuanya berakhir Mas!" ancam Vina.


"Silahkan! Lakukan sesuai dengan apa yang ada di pikiranmu. Tapi ingat, jika aku dan Aya resmi berpisah. Maka, aku juga pastikan kita akan berpisah. Dan di saat itu juga, aku tidak perduli dengan semuanya. Aku tidak perduli dengan calon anakmu, aku tidak peduli akan kemarahan ibuku! Kau paham, itu!"


"Mas, kamu tidak bisa menceraikanku di saat aku sedang mengandung!' pekik Vina.


"Itu bukan urusanku, Vin! Jika aku dan Aya resmi berpisah, maka rumah tangga kita akan mengalami nasib yang sama!" ketus Rian lalu mendengar suara ketukan pintu dari luar rumah. "Itu pasti makanan yang aku pesankan untukmu. Silahkan ambil dan aku harus pulang!" titah Rian pada Vina.


Vina berdecak sebal. Dia berjalan menuju pintu utama di ikuti oleh Rian yang berjalan tak jauh darinya. Rian bersembunyi di balik tembok dan menguping semua pembicaraan antara istri siri nya dengan kurir ojek online yang mengantarkan pesanan suaminya.


"Ini makanan siap saji dan ini ada beberapa sayuran makanan sesuai dengan belanjaan ibu nya. Ibu bisa mengeceknya terlebih dahulu!" titah petugas kurir.

__ADS_1


Vina mengambil dan melihat dua paper bag besar yang berisi makanan dan bahan sayurannya.


"Terimakasih. Semuanya sudah lengkap!" titah Vina lagi.


Sedangkan di satu sisi. Aya terbangun dari tidurnya. Dia mengucek ke dua matanya saat menyadari bahwa dirinya tertidur cukup lama.


Suara ketukan dari luar ruangan mampu membuat Aya menatap jam yang terdapat di atas meja kerjanya.


"Astaga, aku ketiduran!" gumam Aya.


Tok ...


Tok .....


"Bu Aya!" panggil Rere.


"Tok ...


Tok ....


"Tunggu sebentar, Re!" ujar Rere berjalan menuju pintu ruangannya.


Krek!


Pintu ruangan Aya terbuka. "Re, ada apa?" tanya Aya mempersilahkan karyawannya masuk ke dalam ruangannya.


"Ibu. Saya hanya ingin memastikan kondisi ibu saja. Saya takut terjadi sesuatu pada ibu!" jawab Rere.


"Aku baik-baik saja, Re! Menurutmu, aku kenapa, Hem? Aku pikir, ada masalah di butik!" ujar Aya.


"Tidak ada, Bu. Oh, iya, Bu. Nanti ada supplier pakaian yang beberapa Minggu lalu, ibu pesan. Jika ibu membutuhkan bantuan kita-kita. Saya akan bicarakan ke karyawan lain, kalau kita semua akan pulang lebih--"

__ADS_1


"Tidak perlu, Re! Kalian pulang saja. Biar aku yang mengurus barang-barang baru datang itu. Besok pagi, kalian bisa pajang barang-barang yang baru di depan dekat pintu butik!" potong Aya..


"Tapi, Bu. Kasihan ibu jika ibu lembur di sini sendirian! Biar saya temani!" titah Rere yang mendapat gelengan kepala dari Aya.


"Sudah berulang kali aku bilang, Re! Biar aku saja! Kalian pasti capek! Kalian pulang saja dan terimakasih sudah mau menjaga toko ku ini!"


"Ibu. Ibu tidak perlu berterimakasih. Kita semua sudah di bayar oleh ibu untuk menjaga toko butik ini. Dan kami sangat senang bisa bekerjasama dengan ibu!" titah Rere.


"Hahaha ... Re, aku akan buka butik di kota lain. Kamu bisa bantu aku, kan? untuk mengurus butik yang ini. Aku sangat mempercayai kamu!" ujar Aya membuat Rere terkejut


"Maksud ibu apa? Ibu ingin saya mengurus butik yang besar ini tanpa pengawasan dari Bu Aya?" tanya Rere tak percaya.


"Iya. Karena aku, akan memfokuskan dan mengembangkan cabang baru butik ini. Sekalian, aku ingin menenangkan diriku dari beberapa masalah yang datang!" jawab Aya.


"Tapi, Bu! Kelihatannya, saya tidak bisa. Saya tidak pantas mendapat amanah yang sangat--"


"Pikirkan tawaranku dulu, Re! Aku tidak mau mendengar jawabanmu yang gegabah ini."


"Baiklah. Saya akan diskusikan dengan otak saya dulu. Terimakasih atas kepercayaan Bu Aya yang memilih saya untuk mengurus butik sebesar ini! Kalau begitu, saya dan lainnya akan pulang. Karena jam pulang sudah tiba."


"Silahkan pulang. Dan kalian semua hati-hati." jawab Aya setelah menatap jam di atas meja.


"Iya, Bu! Ibu kalau berubah keputusan. Saya bisa menemani ibu di sini!" titah Rere.


"Tidak akan, Re! Kamu pulang saja!" titah Aya.


Rere mengangguk. Dia berjalan keluar ruangan bos nya.


'Aku sudah mengambil keputusan ini. Membuka butik dan mengembangkan butik itu sampai bisa menjadi butik besar seperti ini!' batin Aya.


Di rumah sederhana. Vina berdecak sebal. Tak henti-hentinya mulutnya mengeluarkan umpatan kasar saat melihat suaminya pergi dari rumahnya.

__ADS_1


"Kamu jahat, Mas!" pekik Vina melempar satu persatu sayuran ke sembarang arah. "Awas saja, aku tidak akan takut dengan ancamanmu. Justru, aku merasa tertantang!" gumam Vina sambil mengepalkan tangannya erat.


__ADS_2