
Setelah berganti pakaian dan memoles wajahnya dengan sedikit make up. Kini Aya dan Lidya telah siap untuk melakukan sesi pemotretan.
"Di mana Kak Pras, kenapa dia lama sekali, kak? Padahal, aku tidak sabar ingin cepat-cepat berpose di depan kamera!" keluh Lidya saat melihat Aya yang telah berubah cantik.
"Sebentar lagi, mungkin kakakmu sedang di dalam perjalanan. Kita tunggu, ya!" ujar Aya kemudian melihat pintu ruang pemotretan terbuka.
"Kak Pras! Sumpah ya, aku sudah lama sekali menunggu kedatangan kakak! Lain kali, Kakak bisa ngebut atau apalah! Make up ku hampir saja luntur karena ulah kakak!" kesal Lidya saat melihat kakaknya datang sambil membawa kamera.
"Kalian sudah siap?" tanya Pras mendudukkan pantatnya di kursi yang sudah di sediakan.
"Kakak, kakak ini kalau di tanya itu jawab, bukan mengalihkan pembicaraan!" geram Lidya.
"Di jalan macet! Dan Kakak tidak suka mengebut di jalanan, terlalu bahaya jika Kaka mengebut, Lidya!"
"Ah, Kakak gak seru!" ucap Lidya.
"Sudahlah. Kalian ini, sedari tadi bertengkar terus! Memangnya, kalian tidak capek, Hem? Aku saja yang mendengarnya capek, loh!" ucap Aya menjadi penengah antara Lidya dan Pras.
"Kakak jangan dengarkan pertengkaran kita. Maka, kakak tidak akan capek!" jawab Lidya ringan.
"Ay, sebenarnya aku tidak mau mempunyai adik seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Tuhan menitipkan adik yang nakalnya sampai membuat kepalaku pusing! Tapi aku lihat kamu yang sekarang ... sangat cantik. Rian menyesal telah menyia-nyiakanmu!" ucap Pras menatap Aya dari atas sampai bawah.
"Mas Pras bisa aja! Bisa kita mulai sekarang? Sepertinya, Lidya sudah tidak sabar untuk menjalani sesi pemotretan!" titah Aya.
"Anak itu memang tidak pernah sabar, Ay! Seharusnya, biarkan saja! Jangan pernah di manja!" ujar Pras beranjak berdiri. "Okeh, kita mulai! Kita mulai dengan sesi satu. Yaitu, berpose sendiri-sendiri, ya!" titah Pras berjalan menuju tempat pemotretan yang tak jauh darinya.
"Aku dulu, apa Kak Aya dulu?" tanya Lidya.
"Siapa saja boleh!" jawab Pras santai.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu saja dulu, Li. Kamu yang tidak sabar, kan? Kakak tunggu di sini sambil melihat kamu melakukan pemotretan!" titah Aya menjatuhkan pantatnya di kursi dekat dengan pemotretan.
"Okeh, kak!" jawab Lidya berjalan menuju kakaknya.
Setelah melihat Lidya berpose dan kamera pun mulai menyala. Aya mengambil ponselnya dan dia memotret Lidya dan juga Pras yang sedang bertengkar karena perbedaan pendapat tentang gaya masing-masing.
Aya menjadikan salah satu foto hasil jepretannya secara diam-diam menjadi story di aplikasi hijau di dalam Ponselnya.
Di satu sisi. Rian yang baru saja menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang. Langsung membuka ponselnya. Dia melihat postingan terbaru dari istrinya.
"Apa-apaan ini!" gumam Rian setelah melihat postingan istrinya, Aya. "Jadi, Pras juga ada di sana. Sahabat macam apa dia!" gumamnya lagi.
"Mas, aku tidak suka di rendahkan seperti tadi oleh ibumu. Aku juga punya hati, Mas! Perasaanku sakit!" pekik Vina setelah masuk ke dalam kamar suaminya.
"Mas!" pekiknya lagi, "Mas Rian! Intinya aku tidak mau di madu. Kamu ceraikan saja Aya tapi jangan cari pengganti Aya! Kamu ini sudah jatuh miskin dan kamu masih mencari kesenangan di luar sana. Apa kurangnya aku, Mas! Apa!" pekik Vina membuat Rian yang sedang menahan emosinya mengamuk.
Beberapa benda yang berada di atas meja samping tempat tidur jatuh berserakan di lantai. "Apa di sini yang mempunyai telinga itu, hanya kamu, Vin!" teriak Rian.
"Kamu sama sekali tidak mendengarkan ucapanku! Apa salahnya aku berteriak, Mas!" ketus Vina.
"Sekarang, kau mulai berani melawanku!"
"Aku berani, karena kamu salah, Mas! Ingat, kamu ini sudah mau bangkrut, jangan menambah beban masalah lagi!" kesal Vina.
"Cukup, Vina! Siapa yang menambah beban masalah, ha! Apa aku pernah merepotkanmu? Tidak, kan!" ujar Rian emosi.
"Kamu memang tidak pernah merepotkanku, tapi sikapmu yang membuatku tidak tahan, Mas! Kamu berselingkuh di belakangku. Dan aku tidak terima! Di mana rumah wanita itu! Apa kamu bangkrut karena memanjakan wanita itu, Mas! Sama seperti dulu, kamu memanjakanku! Kamu belikan wanita itu rumah mewah, dan mobil mewah! Iya, kan, Mas!" tuduh Vina.
"Itu bukan urusanmu! Urusanmu sekarang adalah melahirkan anakku!"
__ADS_1
"Kamu tega, Mas!" ucap Vina kecewa.
"Sudahlah. Dunia ini keras, Vin! Jika saja, kamu tidak ceroboh dan membongkar pernikahan kita, maka aku akan bersikap baik padamu!"
"Siapa yang membongkar, Mas? Siapa? Aya tahu sendiri tentang pernikahan kita. Jangan salahkan aku!" ketus Vina.
"Iya, Aya memang tahu pernikahan kita. Tapi, jika kamu tidak menampilkan gerak gerik atau berbicara yang mencurigakan, Aya tidak akan tahu! Dan sekarang ... pernikahanku dengan Aya terancam hancur! Dan jika semua itu terjadi. Setelah anak itu lahir ... pernikahan kita juga akan berakhir! Kau ingat itu!" ancam Rian.
"Aku tidak mau pernikahan kita berakhir, Mas!" ucap Vina.
"Aku sudah menjadi miskin dan untuk apa kamu bertahan denganku, Vin? Aku bukan Rian yang dulu, Rian yang mempunyai uang banyak, Rian yang bisa membelanjakan wanita-wanitanya sesuka hati!" ujar Rian membuat Vina terdiam.
'Aku tahu, kamu sedang di bawah, Mas! Tapi, belum sepenuhnya kamu di bawah. Kamu masih bisa memutar roda jika semua aset yang pernah kamu berikan pada Aya, kamu rebut kembali!' batin Vina. 'Dan sebelum aku mendapatkan semua aset itu, aku tidak akan pergi darimu!' sambungnya lagi.
"Kenapa diam, Hem? Baru sadar, kalau semua ucapanku benar?" ujar Rian.
"Tidak. Aku tulus mencintaimu, Mas! Aku tidak akan pergi darimu. Kita bisa sama-sama ambil aset yang kamu berikan pada Aya. Lalu, kamu bisa memutar roda itu lagi, Mas. Agar kamu jaya dan jadi orang kaya lagi!" titah Vina.
"Itu tidak mungkin terjadi. Dan aku tidak akan meminta kembali aset yang telah aku berikan untuk Aya. Karena apa! Karena aku tidak mau melihat hidup Aya menderita!" jawab Rian tegas.
"Lalu, kamu mau melihat anak kita hidup menderita, Mas? Kamu mau melihat anak kita hidup miskin? Aku tidak mau, Mas!" ketus Vina.
"Apa anak itu anakku?" ujar Rian.
"Kamu apa-apaan, Mas! Tentu anak ini anak kandungmu. Memangnya, anak ini anak siapa!" kesal Vina.
"Bisa saja, anak itu hasil hubungan gelapmu dengan mantanmu! Ingat, kalian masih sering bertemu di belakangku. Bahkan, kalian pernah menginap di salah satu hotel berbintang!" jawab Rian yang lagi dan lagi membuat Vina terdiam.
'Kenapa Mas Rian bisa tahu?' batin Vina, "Jangan bicara aneh-aneh. Aku tidak pernah melakukan hal itu dengan pria mana pun selain kamu, Mas!"
__ADS_1