Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 54


__ADS_3

"Ucapanku yang mana, Ay! Aku tidak tahu, apa arti ucapanku! Dan urusan mereka bertengkar, itu bukan urusanku! Aku terus di sini bersamamu! Jangan fitnah aku!" ucap Rian.


"Memang semua ini karenamu, Mas! Aku saja capek! Apa kamu tidak capek, Mas! Apa kamu tidak merasakan lelah, ha! Aku saja lelah, loh!" pekik Aya.


"Tapi, aku bukan penyebab mereka bertengkar, Ay! Aku salah apa? Coba katakan kesalahanku! Aku juga capek di tuduh terus, Ay!" kesal Rian.


"Kamu mau tahu, kesalahanmu, Mas! Kamu bilang, kamu jangan ganggu waktu aku dan kamu di dalam restoran tadi! Dan semua itu memicu pertengkaran Mas Pras dan Mas fajar! Apa kamu masih bertanya-tanya lagi, apa kesalahanmu, Mas!" ketus Aya.


"Astaga, Aya! Cuma karena fajar dan Pras bertengkar, aku yang jadi kena getahnya. Semua itu bukan salahku, tapi salah mereka! Kenapa mereka tidak bisa mengontrol emosinya masing-masing. Aku tidak jadi kompor atau pun api. Aku diam di sini bersamamu. Dan aku hanya mengucapkan apa yang aku rasa benar. Itu waktu kita berdua, dan aku tidak mau ... ada yang mengganggu waktu kita berdua! Seharusnya, kamu sadar diri, Ay! Tidak ada gunanya kamu membela ke dua pria sepertinya!" kesal Rian frustrasi.


"Kamu bilang tidak ada gunanya, Mas! Ingat, mas Pras sahabatmu dan Mas fajar sahabatku. Mereka bertengkar karena ulahmu! Dan kini, kamu mau bilang ... kalau ini bukan salahmu!"


"Okeh! Aku salah! Aku sudah mengakui semua kesalahanku. Jadi, jangan bertengkar lagi! Aku capek bertengkar denganmu, Ay!"


"Tenang saja, kita tidak akan bertengkar atau bertegur sapa lagi setelah semuanya berakhir!" ketus Aya pasrah.


Setelah taksi yang di tumpangi Aya dan Rian berjalan membelah ibukota, kini taksi itu berhenti sempurna di depan butik cahaya.


Melihat mobil fajar sudah terparkir di depan butik. Langsung saja, Aya keluar dari taksi dan berjalan masuk menuju butik di ikuti oleh Rian di belakangnya.


'Aya, Aya, sikapmu benar-benar berubah. Kamu rela memarahi aku demi pria jahat seperti fajar!' batin Rian.


Langkah kaki Aya terhenti saat melihat fajar yang tengah duduk di ruang tunggu.

__ADS_1


"Mas fajar!" panggil Aya dengan berjalan beberapa langkah, "Kita perlu bicara!" sambungnya lagi.


"Aku tahu, kau ingin membahas masalah dua manusi itu, kan?" jawab fajar menepuk-nepuk kursi kosong sampingnya.


"Iya, sebelum Mas Pras dan Lidya datang. Aku mau bicara empat mata denganmu!" ucapnya lagi sambil menjatuhkan pantatnya di sofa.


Rian menatap sekilas istri dan sahabat pria istrinya.


"Ay!" panggil Rian, "Dia pria jahat! kamu tidak pantas bergaul dengan pria jahat sepertinya. Ingat ucapan Lidya dan Pras!" titah Rian lagi.


"Sudahlah, Mas! Mas tidak perlu marah-marah. Aku perlu bicara 4 mata dengan Mas Fajar! Kamu bisa pergi dari sini?"


"Kamu ngusir aku, Ay! Karena pria sepertinya, kamu mengusir aku?" ujar Rian tak percaya.


Setelah melihat kepergian suaminya, Aya menghembuskan napasnya kasar. Dia menatap pria yang tengah duduk di sampingnya.


"Apa yang kamu lakukan ke mereka, Mas? Tidak sepantasnya, kamu meminta mereka untuk angkat kaki dari mobilmu!" ucap Aya mulai membuka pembicaraan.


"Aku? Aku memang marah padanya! Kau tahu, mereka tidak mengizinkanku turun dari mobilku. Padahal, jelas-jelas mereka melihatmu bertengkar dengan suamimu. Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu, Ay! Kamu tahu kan, apa yang aku ucapkan! Asalkan dia satu pemikiran denganku, aku tidak akan mengusirnya. Lagi pula, aku heran dengan mereka. Sudah mengaku, kamu teman dekatnya. Tapi saat melihat kamu di perlakukan kasar seperti tadi, dia malah diam saja! Apa salahku coba?" kesal Fajar sambil menyenderkan tubuhnya di punggung kursi.


"Mereka punya alasan, Mas! Dan kalau kamu turun pun, tidak akan ada yang berubah. Malah, kamu akan menambah masalah lagi! Semua orang bisa tertuju ke pertengkaranku dengan Mas Rian. Lain kali, kamu tidak boleh bersikap seperti itu, ya, Mas! Di luar sempat hujan, loh! Bagaimana nasib mereka, jika mereka tidak bisa mendapatkan taksi. Mungkin mereka akan kehujanan." jawab Aya panjang lebar.


"Aku tidak perduli. Yang aku perdulikan hanya kamu, Ay! Aku takut terjadi sesuatu padamu. Aku takut suamimu bertindak gegabah!"

__ADS_1


"Kamu tenang saja, ya, Mas! Terimakasih sekali, kamu sangat perduli dan perhatian padaku, tapi aku masih yakin ... Mas Rian tidak akan tega melihatku kesakitan karena ulahnya." jawab Aya membuat fajar menggelengkan kepalanya lirih.


"Memangnya, pengkhianatan yang diberikan dia padamu, tidak membuatmu sakit hati, Ay?"


"Itu beda, Mas! Ya, sudah. Dari pada kita membahas masalah yang sudah berlalu, sebaiknya kamu lanjutkan pekerjaanmu. Katamu, setelah jam makan siang, kamu akan ada meeting dengan klienmu." ujar Aya sambil memperlihatkan senyum manisnya.


Sedangkan di satu sisi. Taksi yang ditumpangi Pras dan Lidya berhenti tepat di depan butik milik Cahaya. Mereka berdua turun dan masuk ke dalam butik tersebut.


"Kau, kau sendirian! Di mana Aya?" tanya Pras saat berhadapan dengan Rian seorang diri.


"Iya, Kak! Di mana Kak Aya, atau jangan-jangan Kak Aya sedang bersama pria jahat itu! Soalnya, aku sempat melihat mobilnya ada di depan halaman butik Kak Aya!" timpal Lidya.


"Mereka ada di dalam! Dan aku tidak bisa menghalanginya. Aya sudah mengusirku karena kecerobohan kalian! Sekarang, aku tanya ke kalian! Kenapa kalian bisa bertengkar dengan fajar! Apa kalian tidak bisa mengendalikan emosi kalian, ha! Dan Lidya, Kakak ini mau berbaikan dengan Kak Aya, bukan sebaliknya. Tapi kamu mengacaukan semuanya!" kesal Rian.


"Maafkan aku, Kak! Tapi aku sudah berusaha yang terbaik. Aku sudah bujuk Kak Aya untuk kembali ke pelukan Kakak. Tapi Kak Aya menolaknya mentah-mentah. Dia bilang, semuanya sudah berubah. Pernikahan Kakak tidak bisa di selamatkan lagi!" ucap Lidya dengan kepala tertunduk.


"Aku hanya membela kebenaran. Dia sudah salah! Dia sudah bersikap kasar pada perempuan. Apalagi, perempuan yang fajar kasari adalah adik kandungku sendiri. Aku tidak bisa tinggal diam! Salahkan Fajar bukan kita!" ketus Pras, lalu samar-samar mendengar suara wanita dan pria yang keluar dari ruang tunggu.


"Maafkan semua kesalahanku, Ay!" ucap Pras setelah keluar dari ruang tunggu.


"Aku juga minta maaf, Mas! Aku juga salah!" jawab Aya lalu melihat Lidya dan Pras yang tak jauh darinya. "Mas Pras dan Lidya sudah datang!"


"Kak Aya!" panggil Lidya, "Kakak tidak apa-apa, kan?" tanyanya lagi

__ADS_1


__ADS_2