
Perlahan kakinya melangkah menuju ruang tunggu. "Mas?" panggil Aya saat tak melihat siapa pun di ruang tunggu.
"Ibu!" panggil Rere mengejutkan Aya.
"Rere! Kamu bisa sopan sedikit tidak! Aku terkejut! Aku pikir, kamu hantu!" ucap Aya sambil mengusap daada nya berulang kali.
"Hehe ... maaf, Bu! Tapi ibu cari apa di sini? Biar aku bantu cari!" tanya Rere.
"Oh, kamu lihat Mas Rian, tidak? Terakhir aku meninggalkannya di sini!" tanya Aya.
"Oh, Pak Rian! Dia sudah pulang beberapa menit yang lalu. Mungkin Pak Rian sedang terburu-buru, deh! Soalnya, aku lihat ... Pak Rian berlari keluar butik!" jawab Rere jujur.
"Berlari? Mas Rian berlari keluar butik?" tanya Aya memastikan lagi.
"Iya, Bu! Sepertinya, Pak Rian sedang terburu-buru."
"Ya, sudah. Kamu bisa kembali bekerja. Oh, iya. Satu hal lagi, aku titip butik dulu, ya! Kebetulan, aku ada urusan mendadak!" ujar Aya.
"Iya, Bu! Ibu tenang saja. Butik ini aman di tangan saya!" jawab Rere dengan nada bangganya.
"Okeh, aku percayakan padamu. Kalian mau cemilan apa? Biar aku belikan sekalian." tanya Aya.
"Wah, ibu serius? Ibu mau belikan aku camilan?" tanya Rere antusias.
"Bukan kamu saja! Tapi yang lainnya. Kamu bisa hubungi aku, Re! Tapi ingat, hubungi aku ke nomer butik! Ponselku hilang!"
"Ponsel ibu hilang? Hilang di mana, Bu? Perlu aku bantu cari tidak? Kebetulan aku sedang tidak ada pekerjaan!" ujar Rere.
"Tidak perlu. Kamu bantu teman-teman yang lain aja. Aku sekalian mau beli ponsel baru!"
"Iya, sudah, Bu! Biar aku tanyakan ke lainnya dulu. Kalau kita sudah selesai berdiskusi baru aku hubungi ibu!" jawab Rere.
Aya mengangguk. Dia berjalan keluar butik dan masuk ke dalam mobilnya.
"Aku punya karyawan yang sangat baik. Kelakuan dan tingkah mereka membuatku betah di sini berlama-lama." gumam Aya sambil menyalakan mesin mobil dan mobil pun mulai berjalan keluar butik.
__ADS_1
Setelah sampai di kediaman rumahnya. Rian langsung berlari ke kamarnya bersama Vina yang berada di lantai dua.
Iris yang melihat kelakuan anak pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Vin! Vina!" teriak Rian membuka pintu kamar istri sirih nya.
"Mas, jangan berteriak-teriak! Cukup sekali memanggil ku!" ketus Vina mendudukkan pantatnya di tepi ranjang.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Rian.
Vina menunjuk koper di dekat sofa. "Semua barang-barangku sudah ada di koper itu. Lalu, kita mau pergi kemana, Mas? Kamu ikut aku kan?" tanya Vina memastikan.
"Tidak! Untuk sementara waktu, kita pisah rumah sampai keadaan stabil!" jawab Rian. "Ayo, kita sudah tidak ada waktu lagi!" titahnya lagi.
"Aku tidak mau pergi, Mas! Kamu ini pria jahat, ya! Kamu mengusirku! Mengusir istrimu sendiri loh! Ingat, aku sedang hamil, Mas! Kamu tega mengusir wanita hamil?"
"Vin, ini hanya sementara waktu! Kalau urusanku sudah beres. Kamu boleh tinggal di sini!"
"Memangnya, apa urusanmu, Mas? Sampai-sampai kamu mengusirku, ha! Jangan bilang, ini semua bersangkut paut dengan Aya? Jika iya, kamu ini benar-benar jahat, Mas!" pekik Vina.
"Aku jahat? Aku sama sekali tidak jahat, Vin! Aku hanya ingi mempertahankan rumah tanggaku dengan Aya. Sudah itu saja! Dan aku mau ... kamu tutup mulut tentang pernikahan kita kepada siapa pun! Kita rahasiakan pernikahan kita ini!"
"Aku akan berikan alasan yang jelas tapi bukan sekarang. Taksi di depan sudah menunggu kita! ayo, kita pergi sekarang juga!" titah Rian.
"Kalau aku pergi, apa Aya yang akan tinggal di sini menggantikanku lagi, Mas?" tanya Vina membuat Rian terbakar emosi.
"Vin! Sekarang pilih satu satu, kau mau kita cerai atau tidak! Kalau kau tidak mau cerai dariku ... maka turuti semua permintaanku!" ancam Rian.
"Aku tidak mau cerai darimu, tapi aku juga tidak mau pergi dari rumah ini, Mas! Aku tahu, rencanamu selanjutnya,"
"Satu!" hitung Rian. "Jika dalam hitungan ke tiga, kamu tetap diam dan duduk, aku akan mengucapkan kata yang selama ini aku tahan padamu, Vin!" ancam Rian.
"Dua!"
"Ti--"
__ADS_1
"Okeh, aku mau pergi, tapi kamu ikut, Mas! Kalau aku sakit, siapa yang akan mengurusku? Di rumah kontrakan itu tidak akan ada pelayan atau asisten rumah tangga. Iya, kan, Mas?" gumam Vina.
"Sudahlah. Semua masalah itu bisa di atur. Sekarang, kita pergi!" titah Rian membawa koper milik Vina dan meninggalkan Vina di dalam kamar.
"Mas, tunggu aku! Jangan tinggalin aku!" pekik Vina berjalan menyusul suaminya keluar kamar.
Di satu sisi. Mata iris membulat sempurna saat melihat putranya membawa sebuah koper besar.
"Rian, kamu mau kemana?" tanya Iris.
"Ibu, jika Aya datang dan meminta ibu atau bertanya tentang pernikahanku dengan Vina. Aku mau, ibu tutup mulut. Karena Aya sudah menyewa pengacara. Dan Aya sedang mencari bukti perselingkuhanku dengan Vina. Maka dari itu, aku mau bawa Vina pergi dari rumah ini. Aku tidak mau, Aya memotret Vina yang tengah mengandung." jawab Rian yang dapat di dengar Vina.
'Jadi, Mas Rian melakukan semua ini karena Aya? Mas Rian bodooh atau apa sih! Kenapa Mas Rian masih mengharapkan Aya! Sudah jelas-jelas, aku ini lebih segalanya dari Aya. Buktinya aku bisa hamil!' batin Vina.
"Kamu tidak boleh bercerai dengan Aya, Rian! Ibu menginginkan Aya untuk tetap menjadi menantu ibu. Mendengar ocehannya Vina, membuat telinga ibu sakit! Dia jauh lebih buruk dari Aya." ujar Iris.
'Apa-apaan ini! Kenapa wanita tua itu menjelek-jelekkan aku di depan suamiku sendiri.' batin Vina.
"Aku pergi dulu, Bu!" pamit Rian, "Ayo, Vin!" titah Rian berjalan keluar rumah.
Sebelum Vina melanjutkan langkahnya, dia sempat menatap tajam ibu mertuanya. 'Awas saja wanita tua! Aku tidak terima di bicarakan buruk! Aku akan membalas semua ini! Ingat itu!' geram Vina dalam hati.
'Akhirnya Vina pergi juga dari rumah ini. Setelah anak itu lahir, aku pastikan ... putraku langsung menceraikanmu.' batin Iris.
Vina melanjutkan langkahnya menyusul suami keluar rumah.
"Ayo, Vin! Cepat sedikit!" pekik Rian.
"Iya, sabar, Mas! Namanya juga orang hamil. Kalau jalan harus hati-hati!" jawab Vina.
"Masuk dan duduk!" titah Rian.
Vera mendengus kesal, dia menjatuhkan pantatnya di kursi taksi bagian belakang di ikuti oleh Rian di sampingnya.
"Jalan, Pak!" titah Rian.
__ADS_1
Taksi mulai berjalan keluar dari kediaman rumah Rian.
Sedangkan di satu sisi. Aya memarkirkan mobilnya di kediaman Rian. Sekali lagi, dia mengatur napas dan emosinya karena menginjakkan kakinya lagi di rumah yang penuh dengan suka dan duka.