Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 74


__ADS_3

"Kamu punya obat merah atau P3K?" tanya Aya yang mendapat anggukan kecil dari wanita di hadapannya.


"Ada, kak! Tunggu sebentar, kakak masuk saja ke kamarku." pinta Lidya mempersilahkan Aya masuk ke dalam kamarnya.


"Memangnya, siapa yang sakit?" tanya Lidya membuka laci meja dan memberikan kotak P3K untuk Aya.


"Kakak pinjam sebentar."


"Siapa yang sakit, kak?" tanya Lidya penasaran.


"Mas Rian. Kakinya berdarah. Kakak harus mengobati lukanya. Dan di sini ada sapu kan? Kakak butuh sapu untuk membersihkan kekacauan kamar Mas Rian." ujar Aya.


"Tidak perlu, Kak! Biar aku suruh Bibi saja. Yang penting, Kakak obati Kak Rian dulu. Kasihan kak Rian, pasti sedang kesakitan." jawab Lidya.


"Bawakan Kakak sapu dan alat lainnya. Kakak sendiri yang akan membersihkan kamar Mas Rian. Dia masih suami kakak, dan kakak tidak bisa melihat orang lain lain kerepotan karena ulah suami Kakak! Bawakan sapu dan letakkan saja di depan pintu kamar!" titah Aya, lalu berjalan keluar kamar Lidya dan masuk ke dalam kamar suaminya.


Setelah masuk ke dalam kamar suaminya, Aya dapat melihat Rian yang terdiam seorang diri.


"Aku obati lukamu dulu, Mas!" titah Aya membuka kotak P3K dan meneteskan obat merah ke luka suaminya yang berada di kaki. "Kalau sakit, kamu bisa bilang ke aku, Mas!"


Rian memejamkan matanya, dia menahan sakit saat obat merah itu mengenai lukanya.


Melihat suaminya memejamkan mata, Aya menghentikan meneteskan obat merahnya. "Sudah, sepertinya kamu kesakitan!" ujar Aya melilitkan perban di kaki suaminya.

__ADS_1


"Aku tidak merasa sakit. Ay!" jawab Rian bohong.


Setelah melilitkan perban, kini Aya menutup kotak P3K itu dan meletakkannya di atas meja dekat tas.


"Kakimu naik ke atas kasur!" titah Aya membantu meluruskan kaki suaminya di atas kasur. "Kamu jangan turun dulu. Aku mau membereskan kekacauan di kamarmu." titahnya lagi.


"Tidak perlu, Ay!" cegah Rian, "Aku sendiri yang akan membereskan semuanya!" sambungnya lagi. "Sebaiknya, kamu duduk di sini. Kita bicarakan rumah tangga kita!"


"Semuanya sudah selesai, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku tidak bisa kembali bersamamu. Keputusanku sudah bulat!" jawab Aya tegas.


"Beri satu kesempatan lagi untukku, Ay! Aku janji, aku akan berubah, aku tidak akan berselingkuh lagi. Jika perlu, aku akan berpisah dengan Vina sekarang juga! Asalkan kamu mau kembali bersamaku!" pinta Rian memohon.


"Aku mau bereskan semua kekacauan ini. Setelah itu, aku harus pergi ke butik. Kasihan Rere dan karyawan lainnya yang sudah menungguku!" titah Aya berjalan membuka pintu kamar Rian dan mengambil sapu juga alat lainnya yang sudah di sediakan di luar kamar.


Tak ingin menjawab atau mendengar ucapan suaminya yang begitu menyakiti hatinya. Aya justru fokus membereskan semua kekacauan yang di sebabkan suaminya. Dari menyapu dan mengepel lantai.


'Benar kata Lidya, semalam Mas Rian mabuk. Dan aku rasa ... dia mabuk berat! Sudah terlihat dari pecahan botolnya yang banyak berserakan di lantai. Jika semua yang di lakukan Mas Rian karena memikirkanku, kenapa dulu ... sewaktu dia mau melakukan kesalahan, dia sama sekali tidak memikirkan resiko yang akan diterimanya. Dia tidak memikirkan perasaanku yang akan hancur? Bukankah, sebelum menikah ... aku sudah pernah bilang padanya, aku benci pengkhianat. Aku benci perselingkuhan. Tapi apa? Dia melakukan semua yang aku benci dengan sahabatku sendiri.' batin Aya.


"Ay, kamu dengar aku, kan?" tanya Rian lagi.


"Aku dengar, Mas!" jawab Aya.


"Lalu, kamu mau kembali bersamaku, kan? Aku akan menceraikan Vina sekarang juga!" titah Rian antusias. "Ibu sudah menerimamu, Ay!"

__ADS_1


"Terimakasih, ibumu sudah mau menerimaku kembali. Tapi, aku benar-benar tidak bisa kembali bersamamu. Menurutku, kembali bersamamu sama saja membuka luka yang selama ini aku sedang sembuhkan." jawab Aya memasukkan semua pecahan kaca ke dalam kantong plastik. "Semuanya sudah beres. Aku sudah menyapu dan mengepel lantai kamarmu. Ingat, Mas! Kamu sedang di rumah orang. Kamu tidak bisa melakukan hal memalukan seperti ini. Kasihan tuan rumahnya. Dia pasti terganggu dengan kegaduhan yang disebabkan olehmu!" ujar Aya.


"Aku tidak perduli." jawab Rian dengan nada dinginnya. 'Kamu benar-benar akan pergi dariku, Ay? Aku tidak percaya itu. Aku tidak mau kamu pergi dariku, tapi bagaimana caranya?' batin Rian.


"Aku pamit, Mas! Jika kamu membutuhkan sesuatu, lebih baik kamu hubungi saja istri barumu. Dia akan merawatmu. Jangan kamu sembunyikan dia terus." sindir Aya mengambil tas dan kotak P3K yang berada di atas meja.


Rian mencengkram erat lengan Aya. "Ay, aku salah. Tapi aku mohon ... jangan tinggalkan aku sendiri di sini. Aku masih butuh kamu!" pinta Rian memohon. "Setidaknya, temani aku di sini sampai kakiku membaik."


"Aku harus pergi. Kebetulan akhir-akhir ini butik sedang ramai. Dan aku tidak bisa membiarkan karyawanku kewalahan. Istrimu bukan aku saja, Mas! Tapi ada Vina juga. Kamu minta tolong ke Vina. Atau, biar aku yang hubungi Vina menggunakan ponselmu?" tawar Aya.


"Kamu tidak akan bisa menemukan keberadaan Vina, Ay!"


"Aku tahu, Mas! Kamu orang yang sangat pandai dan licik. Jadi, kamu menyembunyikan istri barumu itu di tempat yang kita semua tidak tahu. Tapi kamu harus ingat, Mas! Ada Tuhan yang selalu membantu hambanya yang tidak bersalah. Aku yakin, Tuhan akan membantuku. Kita akan bertemu lagi di sidang pengadilan nanti."


"Tidak ada perceraian, Ay! Kamu tidak punya barang bukti." ejek Rian.


'Aku memang belum mempunyai barang bukti. Dan aku ceroboh. Seandainya, sebelum aku masuk ke dalam kamar Mas Rian. Aku bisa mengaktifkan rekam suara itu, pasti sekarang ... aku sudah mendapatkan bukti yang kuat. Lain kali, aku akan mencobanya.' batin Aya.


"Kita tidak akan bercerai. Aku bisa pastikan itu. Kita akan tetap terus bersama!" ucap Rian dengan rasa percaya dirinya.


"Kita lihat saja nanti! Sekarang, aku tidak punya waktu untuk meladeni semua ucapanmu. Aku harus pergi ke butik. Dan satu lagi, kedatanganku ke sini bukan karena aku ingin melihat keadaanmu. Bukan karena aku mengkhawatirkanmu, tapi aku melakukan semua ini demi Lidya. Dia memaksaku untuk melihat keadaanmu yang sedang kacau." ujar Aya berjalan dan membuka pintu kamar Rian.


"Ay! kita belum selesai bicara!" pekik Rian saat melihat istrinya hilang dari balik pintu kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2