Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 38


__ADS_3

"Wajar dari mana, Bu! Maksud ibu, ibu tidak rela, jika Mas Rian bercerai dengan Aya? Iya?" tanya Vina tak menyangka.


"Bukan tidak rela. Tapi, mau bagaimana pun, semua orang atau rekan kerja Rian tahu ... kalau Aya istri Rian. Apalagi, Aya cantik. Walaupun dia tidak bisa punya anak, tapi lumayan ... Rian tidak akan di pandang rendah karena istrinya pandai berbisnis. Sekarang, butik Aya sudah buka cabang. Dan lihat dirimu sendiri ... kau punya usaha apa, yang bisa di banggakan di depan rekan kerja Rian?"


"Aku memang tidak pandai berbisnis, tapi aku bisa mengandung anaknya Mas Rian." ketus Vina.


"Anak saja tidak cukup untuk mengangkat derajat Rian, Vin! Bayangkan saja, semua orang akan berpikir buruk tentang Rian, semua orang akan berpikir, kalau Rian pria bodoh, yang melepas istri secantik dan se pintar Aya, hanya untuk menikahi wanita sepertimu?"


"Tapi, bukankah ibu tidak suka dengan Aya? Tapi, kenapa sekarang ... ibu seperti mendukung Aya dan Mas Rian? Ada apa dengan ibu?" tanya Vina berjalan menuju ranjang. "Apa Aya yang menghasut ibu untuk tidak bercerai?" sambungnya lagi.


"Ya, ibu khilaf waktu itu telah mengusir Aya dari rumah ini dan membiarkanmu tinggal di sini!"


"Apa! Khilaf!" pekik Vina tak percaya.


"Tidak perlu teriak-teriak, telinga ibu masih normal!" kesal Iris.


"Jadi, ibu khilaf memintaku tinggal di sini?" ujar Vina. "Aku menantu ibu, loh! Dan dengan enaknya, ibu bilang ... kalau ibu khilaf?"


"Sudahlah. Tidak perlu terbawa suasana. Ibu mengatakan seperti ini, itu karena rata-rata, semua menantu teman-teman ibu pandai berbisnis dan tidak merepotkan suaminya. Jadi, ibu berpikir lagi. Memang, ibu meminta cucu, tapi ibu tidak mau menantu ibu menikmati semua harta dari anak ibu. Kasihan Rian, dia banting tulang dari pagi sampai malam, tapi uangnya habis untuk kesenanganmu."


"Sudah kewajiban seorang suami menafkahi istrinya, Bu!"


"Tapi kamu istri siri Rian."


"Apa bedanya, Bu? Intinya, aku tetap istri Mas Rian! Ibu boleh pergi dari kamarku. Aku mau istirahat. Ini sudah malam, dan aku sedang menunggu kepulangan Mas Rian!" ketus Vina, 'Asal ibu tahu, sekarang ... perusahaan anak ibu sedang kacau. Dan kita semua ... akan menjadi miskin.' batin Vina lagi.

__ADS_1


"Tunggu, sebelum ibu pergi. Ada yang ingin ibu tanyakan padamu." ujar Iris.


"Apa, dan cepat katakan!"


"Di mana mobilmu. Kenapa mobil Rian dan kamu tidak ada?" tanya Iris lagi.


"Tanyakan saja ke Mas Rian, di mana mobil kita. Aku juga tidak tahu, kemana mobil kita!" ketus Vina.


"Kamu tidak menjualnya, kan? Ingat, semua yang di berikan kamu dari Rian, itu tidak gratis. Kamu harus menebusnya dengan cucu yang lucu!" ujar Iris lalu melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Tunggu, Bu! Apa maksud ibu? Kenapa tiba-tiba sikap ibu berubah? Ibu bukan seperti ibu yang aku kenal. Ibunya Mas Rian bukankah selalu mendukungku dengan Mas Rian, tapi kenapa sekarang ... seolah-olah ibu mendukung Aya?" teriak Vina membuat Iris menghentikan langkahnya.


"Sudah ibu bilang ... ibu tidak mau punya menantu yang hobinya diam diri di rumah lalu menghabiskan uang suaminya. Ibu ingin punya menantu yang mandiri juga pintar mengolah keuangan. Kamu itu tidak bisa di banggakan. Dan menurut ibu, hanya Aya lah yang bisa di banggakan oleh Rian."


"Jadi, ibu akan meminta Mas Rian untuk tidak menceraikan Aya, iya?" tanya Vina tak percaya.


Mendengar serta melihat kepergian ibu mertuanya, seketika emosi Vina kembali muncul. Tangan mengepal dan di tariknya selimut kamarnya. "Argkh! Semua ini karena Aya. Kenapa dia lebih unggul dariku, ha! Aku tidak akan tinggal diam. Ibu tidak boleh menghalangi Mas Rian menceraikan Aya. Perceraian itu harus terjadi. Okeh, besok ... aku akan pergi ke butik Aya, dan meminta dia mempercepat perceraiannya dengan Mas Rian. Bicara tentang Mas Rian. Kemana perginya Mas Rian? Sudah malam begini, Mas Rian belum pulang. Apa dia lupa waktu karena berduaan dengan Aya. " gumam Vina frustrasi.


Sedangkan di satu sisi. Rian menyenderkan tubuhnya di sofa ruang tamu.


"Makan malam untukmu!" titah Pras meletakkan sepiring makan malam untuk sahabatnya.


"Aku tidak napsu makan. Aku harus memikirkan cara, bagaimana Aya luluh dan tidak akan menceraikanku!"


"Pikirkan itu, nanti. Setelah kau makan malam. Jangan terlalu di paksa!" ujar Pras menyalakan televisinya.

__ADS_1


"Semua mobilku aman, kan?" tanya Rian mengalihkan pembicaraannya.


"Ada di garasi. Termasuk mobil istri muda mu. Kau tenang saja, aku tidak akan menjualnya!"


"Bukan masalah menjualnya. Tapi, semua mobilku terisi kenangan bersama Aya." lirih Rian.


Melihat sahabatnya yang kacau, Pras menjadi tak tega. "Jika kau mau, aku akan bantu bujuk Aya, agar tidak menceraikanmu, bagaimana?" ucap Pras.


"Bantu saja! Aku akan beri bonus, jika kau berhasil membujuk Aya. Dan satu lagi, Aya sedang dekat dengan Fajar. Dan fajar mempunyai perasaan untuk Aya. Kini, saingan terberatku adalah Fajar."


"Wah, Aya memang hebat. Belum resmi bercerai, sudah ada pria yang mendekatinya. Pasti, setelah dia bercerai darimu, dan masa idah nya sudah selesai. Pria itu akan mempersunting Aya. Dan kau ... kau hanya bisa menangis dan menangis. Aku akan tertawa saat moment itu datang!" kekeh Pras meneguk secangkir kopinya.


"Dan jika kau berhasil tertawa di depan mataku saat melihat kehancuranku. Maka, aku pastikan ... di detik itu juga kau jatuh miskin. Dengan begitu, aku akan tertawa. Eh, bukan aku, melainkan kita akan tertawa dan menangis bersama. Itulah yang di namakan sahabat sejati. Suka dan duka harus bersama!" ejek Rian membuat Pras menelan saliva nya susah. Lalu menatap wajah Rian dengan senyuman yang sangat manis.


"Rian, kau pikir ... semua ucapanku tadi serius? Tidak! Aku bercanda, agar pikiranmu rileks. Jangan marah!" ucap Pras memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Senyumanmu pahit! Di mana kamarku! Aku mau tidur!" tanya Rian beranjak berdiri.


"Di dekat kamarku. Sebelah kamar adikku!" titah Pras.


"Adik? Kemana adikmu pergi? Kenapa sedari tadi, aku tidak melihatnya?" tanya Rian sambil mengedarkan pandangannya.


"Bodoh! Adikku itu cantik! Tidak mungkin, aku membiarkan adikku tinggal di rumah ini saat kau menginap di sini. Bisa-bisa kau jatuh hati, dan ingin mempersunting adikku untuk menjadi istri ke tiga nya. Ish, aku tidak sudi, mempunyai adik ipar sepertimu." jawab Pras bergidik ngeri.


"Memangnya, aku se kotor itu, ha! Tapi ini bisa aku manfaatkan untuk mengelabui Vina." ucap Rian dengan senyum sinisnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Pras penasaran.


__ADS_2