
Setelah melihat karyawannya pulang dari balkon ruangannya. Aya menghembuskan napasnya lagi. Dia mencari tempat yang cukup strategis untuk membuka butiknya nanti. Scroll sosial media. Matanya fokus dengan berbagai pilihan lokasi yang sangat strategis.
"Aku putuskan untuk buka butikku di Bandung. Kota itu tidak jauh dari kota Jakarta. Dan aku bisa sesekali datang memantau butikku yang di sini. Tapi, sebaiknya, aku persiapkan dulu semua perlengkapan yang aku butuhkan dari supplier sampai karyawan yang akan membantuku mengembangkan butik." gumam Aya mengetuk sesuatu di layar ponsel khusus pekerjaannya.
Lagi dan lagi Aya menghembuskan napasnya kasar saat mengingat ponsel lamanya yang di ambil oleh suaminya, Rian.
"Aku masih membutuhkan ponselku yang di pegang Mas Rian. Ada beberapa bukti foto Mas Rian dan Vina. Juga ada beberapa nomer supplier butik ini yang lupa aku pindahkan ke ponsel ini. Aku juga harus mencari supplier lainnya untuk produk pakaian bayi. Sepertinya, jika aku membuka butik di lengkapi pakaian bayi, banyak orang yang akan datang. Bukankah, sekarang ... banyak orang yang menikah. Pasti lambat laun, mereka membutuhkan perlengkapan bayi! Tapi, bagaimana caranya mengambil ponselku yang di Mas Rian?" gumamnya lagi, lalu melihat satu mobil pickup yang berhenti di halaman butiknya. Segera Aya keluar dari ruangannya dan turun menuju lantai dasar.
Beberapa lampu sudah di padamkan oleh Rere dan semua itu atas izin dari Aya karena jujur Aya sedikit takut jika dirinya sendirian di butik dalam keadaan sepi.
"Pak, semua barang bisa langsung di masukkan ke dalam!" titah Aya pada beberapa pria yang sedang menurunkan beberapa karung pakaian.
"Baik, Bu!" jawab salah satu pria yang tengah menurunkan pakaiannya.
Dari kejauhan, ekor mata Rian tak sengaja menatap mobil pickup yang berada di depan butik istrinya. Sekali lagi, dia menatap jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 sore.
"Weekend seperti ini, seharusnya butik milik Aya sudah tutup. Tapi kenapa Aya masih ada di situ?" gumam Rian. "Pak, berhenti di butik itu!" titah Rian pada pak supir taksi.
"Baik, Pak!" jawab Pak supir taksi membelokkan taksinya ke halaman butik milik Aya.
Di satu sisi, Aya menautkan ke dua alisnya saat melihat taksi yang terparkir di halaman butiknya. "Siapa yang sore-sore ke butik?" gumam Aya lalu melihat pria yang tidak asing turun dari taksi.
Rian tersenyum saat melihat Aya yang sedang menatapnya. Dengan langkah tegap dan lebar, Rian berjalan menuju istrinya yang sedang berdiri di depan pintu butik.
"Pak, masukkan semuanya aja, ya!" titah Aya mengalihkan pandangannya.
"Baik, Bu!" jawabnya lagi.
__ADS_1
"Ay, butikmu belum tutup? Bukankah weekend, butik tutup sore?" tanya Rian setelah berada di hadapan istrinya.
"Butik sudah tutup. Mas Rian kalau mau berbelanja besok aja." jawab Aya dengan nada dinginnya.
"Lalu, kenapa kamu masih ada di sini? Dan semua karyawanmu, di mana?" tanya Rian lagi.
"Kalau Mas Rian tidak ada kepentingan di sini. Lebih baik, Mas Rian pergi saja! Karena aku sedang sibuk. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang tidak penting darimu!" jawab Aya kemudian masuk ke dalam butik bersama beberapa orang yang tengah merapikan karung berisi pakaian pesanannya. "Terimakasih, Pak! Ini untuk ongkos makan Bapak dan teman Bapak!" titah Aya mengeluarkan uang pecahan seratus ribu senilai dua lembar.
"Terimakasih, kalau begitu ... saya pamit!" jawab pria itu setelah menerima uang dari Aya.
Melihat beberapa orang pergi menggunakan pickup. Rian mencoba masuk ke dalam butik menghampiri istrinya.
"Kamu sendirian, Ay?" tanya Rian saat tak melihat tidak ada siapapun selain dirinya dan istrinya.
"Sudah aku bilang. Aku sibuk, Mas! Kalau kedatanganmu ke sini untuk menggangguku. Lebih baik, kamu pergi saja! Aku tidak ada waktu untuk meladeni ucapanmu yang tidak penting!" ketus Aya menjatuhkan pantatnya di lantai butik. Perlahan tangannya membuka karung berisi pakaian pesanannya.
"Di sini ada CCTV. Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Pulang saja, Mas!" titah Aya.
"Walaupun ada CCTV. Tapi kalau kamu di celakai bagaimana, Ay? Kamu mau minta tolong ke siapa? Sudahlah. Aku temani kamu di sini. Aku bantu mengeluarkan barang-barang ini, ya!" titah Rian membuka karung lainnya.
"Terserahmu, Mas!" jawab Aya dingin sambil memisahkan pakaiannya berdasarkan ukurannya.
"Ay, ini di pisahin menurut apa? Warna baju atau model baju atau ukuran baju?" tanya Rian menatap wajah istrinya yang sedang fokus memisahkan pakaiannya.
"Ukuran baju, Mas! Tapi tidak perlu melakukan semuanya. Jangan di pisahkan semuanya. Aku akan menyimpan beberapa pakaian itu ke dalam gudang." ujar Aya.
"Lalu, aku harus mengambil berapa banyak, Ay? Aku tidak tahu dan aku tidak mengerti masalah ini?" tanya Rian.
__ADS_1
"Ya, sudah, Mas! Sedari awal, aku tidak minta kamu untuk membantuku. Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Lebih baik kamu pulang, dan temui istri baru mu. Kasihan dia sedang hamil!"
"Vina bukan istriku, Ay!" jawab Rian.
"Jangan mengelak, Mas! Tadi, ibumu yang mengelak. Sekarang, kamu yang mengelak. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kamu dan ibu, Mas! Padahal, Vina sedang mengandung anakmu, loh!"
"Belum tentu, dia anakku, Ay! Kamu tahu kelakuan Vina kan?" tanya Rian yang diabaikan Aya.
Aya berdiri. Dia meletakkan pakaian yang sudah di pisahkan ke dalam keranjang.
"Pulanglah. Aku tidak fokus jika kamu ada di sini. Aku takut, ada orang yang melihatmu di sini. Dan masalah harta atau rencanamu itu, aku mohon ... akhiri semuanya, Mas! Aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri." ketus Aya memasukkan keranjang ke dalam gudang.
Rian mengambil keranjang yang di tarik Aya. Dia mengangkatnya dan memasukkan ke dalam gudang.
"Kamu ini wanita, Ay! Dan wanita tidak boleh mengangkat barang-barang terlalu berat! Jadi, biar aku saja!" titah Rian.
Aya menatap suaminya. Lalu berjalan menuju karung pakaian lainnya. Dia mendorong dan meletakkannya di ujung ruangan.
Melihat istrinya kesusahan, Rian segera berlari. "Biar aku saja, Ay!" titah Rian.
"Tidak perlu, Mas! Kamu tidak perlu menolongku. Aku bisa melakukannya sendiri!"
"Tidak bisa. Aku tidak mau kamu kelelahan, Ay! Biar aku saja!"
"Terserahmu, Mas! Aku mau pulang!" ketus Aya meletakkan karung pakaian dan berjalan menaiki tangga.
Rian menata beberapa karung yang berisi pakaian. Lalu dia mendudukan pantatnya di sofa yang berada di butik.
__ADS_1
Sambil menunggu istrinya turun, Rian memainkan ponselnya sendiri. Dan melihat beberapa pesan masuk dari istri sirih nya, Vina.