
Di saat Aya dan fajar sedang menikmati makan pagi yang di rangkap menjadi makan siang, tiba-tiba Aya melihat ponsel kerjanya menyala.
"Di mana ponselmu yang dulu? Kenapa menggunakan ponsel kerja? Pantas aku menghubungimu tidak pernah diangkat!" ujar fajar.
"Sudah aku bilang ponselku di tangan Mas Rian." jawab Aya santai.
"Dia belum mengembalikan ponselmu, Ay? Seharusnya, dia tidak boleh seperti ini! Seharusnya, dia mengembalikan ponselmu. Mau bagaimana pun, ponsel itu bersifat pribadi. Tidak boleh di pegang oleh siapapun tanpa izin dari pemiliknya.
"Biarkan saja, Mas! Dari pada aku berdebat dengan Mas Rian. Lebih baik, aku yang mengalah. Jika ada waktu luang, aku akan beli ponsel baru untukku." jawab Aya memperlihatkan senyum manisnya. 'Bicara tentang Mas Rian. Sekarang, bagaimana keadaan Mas Rian, ya? Terakhir aku meninggalkannya, dia masih pucat dan marah! Dan siapa yang mengirimku pesan. Aku belum membukanya!' batin Aya meraih dan melihat notifikasi pesan yang baru saja masuk.
'Lidya kirim pesan?' batinnya lagi sambil meletakkan bubur itu di atas meja lalu membaca pesan yang baru saja masuk.
'Kak, Kakak bisa ke sini lagi. Kak Rian tidak mau makan. Dan dia kesusahan untuk mandi. Tidak mungkin aku membantunya mandi. Tolong aku, kak!' gumam Aya saat membaca pesan dari Lidya.
"Ada apa, Ay?" tanya fajar saat melihat wanita di sampingnya terlalu fokus bermain ponsel.
Aya menggelengkan kepalanya lirih. "Tidak ada apa-apa, mas!" jawab Aya kemudian membalas pesan dari Lidya. 'Maaf Lidya, bukan Kakak tidak mau! Tapi Kaka tidak bisa membantu Mas Rian lagi. Lebih baik, kamu suruh tukang kebun atau pelayan laki-laki untuk membantunya!' send Lidya.
Sedangkan di satu sisi. Lidya yang sedang menunggu balasan dari Aya pun menghembuskan napasnya kasar saat melihat balasan yang tidak sesuai dengan bayangannya.
"Huh! Kak Aya ternyata tidak mau datang ke sini untuk membantu Kak Rian." gumam Lidya lirih, lalu mengambil wadah yang berisi air untuk menyeka tubuh Rian. Lidya membawanya keluar dari kamar mandi.
"Kak, ini airnya!" titah Lidya meletakkan air tersebut di tepi kasur. "Aku tinggal, ya! Atau begini saja, aku panggilkan tukang kebun untuk membersihkan tubuh kakak!" tawar Lidya yang mendapat gelengan dari pria yang sedang memainkan ponselnya.
"Tidak perlu. Kakak bisa melakukan ini sendiri." jawab Rian. "Oh, iya. Kakak butuh pakaian ganti. Kira-kira pakaian Pras ada yang muat dengan tubuh Kakak?" tanya Rian lagi.
"Banyak, Kak! Tubuh Kakak dan Kak Rian sangat sepadan. Biar aku carikan pakaian untuk Kak Rian. Kakak tunggu sebentar, jangan buka baju atau lainnya dulu sebelum aku datang membawa baju Kak Pras untuk Kak Rian!" ucap Lidya lalu berjalan keluar kamar Rian.
Setelah keluar kamar Rian. Lidya menyempatkan untuk membalas pesan dari wanita yang sudah dianggapnya sebagai Kakak, 'Ya, sudah. Kalau kakak tidak bisa. Aku tidak akan memaksa. Lagi pula, Kakak pasti sedang sibuk mengurusi pembukaan cabang butik baru!' send Aya.
__ADS_1
"Huh, benar-benar melelahkan. Seharusnya, aku masuk kampus saja, tadi. Walaupun dosen dan mata kuliahnya tidak menyenangkan, setidaknya aku bisa menggosip dengan teman-temanku!" keluh Lidya berjalan menuju kamar Kakaknya, Pras.
Di satu sisi. Aya segera mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk dari Lidya.
'Syukurlah, Lidya bisa mengerti perasaanku.' batin Aya meletakkan ponselnya lagi lalu menyudahi makan bubur ayamnya.
"Kamu bisa bersantai di sini, Mas! Aku mau membantu Rere dan lainnya di lantai bawah!" titah Aya membuat fajar bangkit berdiri.
"Aku harus pergi. Kebetulan, aku ada urusan." jawab fajar.
"Oh, baiklah. Hati-hati dan terimakasih sudah mau mampir, Mas!" ujar Aya mempersilahkan fajar keluar ruangannya.
Fajar menganggukkan kepalanya, dia berjalan keluar ruangan lalu menuruni setiap anak tangga dengan di ikuti oleh Aya di belakangnya.
'Syukurlah, Mas fajar mau pulang. Aku harus ke Bandung. Aku mau mengecek tempat yang akan aku jadikan cabang butikku.' batin Aya.
"Iya, mas!" jawab Aya.
Sebelum pergi, Fajar memberikan senyum manisnya.
Aya yang melihat senyum dari sahabatnya pun segera membalasnya sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati, Mas!" titah Aya.
Fajar keluar butik dan masuk ke dalam mobilnya.
Melihat kepergian fajar. Aya segera mengambil tas nya yang berada di ruangannya. Lalu dia menuruni satu persatu anak tangga sambil menenteng tas nya.
"Re!" panggil Aya.
__ADS_1
"Iya, ada apa, Bu?" tanya Rere berlari menuju Aya.
"Aku ada urusan yang mungkin memakan waktu sedikit lama. Aku mau, kamu handle semua ini, ya! Jika jam pulang kalian sudah tiba dan aku belum datang, kamu bisa tutup butik. Oh, iya. kunci butik biar kamu yang pegang!" titah Aya.
"Baik, Bu!" jawab Rere.
Aya berjalan pergi keluar butik. Dia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya. 'Aku harus ke Bandung sekarang juga!' batin Aya menancapkan gas mobilnya..
Sedangkan di satu sisi. Mendapat kabar dari dosen adiknya, membuat Pras seketika emosi. Kini, dia sedang berada di kamar adiknya.
"Kamu bolos, Lidya?" tanya Pras yang mendapat gelengan kecil dari wanita yang sedang menunduk, takut.
"Ti-tidak, Kak! Mana mungkin aku bolos kampus!" jawab Lidya bohong.
"Sudah, katakan yang sejujurnya! Kamu bolos dari kampus, kan! Dosenmu menelfon Kakak! Ada apa denganmu, Lidya." kesal Pras.
"Ma-maafkan aku, Kak! Aku khilaf!" jawab Lidya.
"Khilaf? Alasan yang tidak masuk akal! Memangnya ada, bolos kuliah khilaf? Hei, kau sadar sewaktu bolos kuliah. Jadi, dari mana kata khilaf itu, ha!" pekik Pras.
"A-aku mempunyai alasan kenapa aku bolos kuliah, Kak! Tapi, Kakak jangan marah!" jawab Lidya terbata.
"Cepat katakan! Apa alasanmu, ha! Ingin bersantai di rumah, iya? Kamu mau jadi orang pemalas, ha! Kakak kecewa denganmu, Lidya. Kakak sudah bersusah payah untukmu, tapi apa hasilnya?"
"Aku minta maaf, dan aku janji, kak! Setelah ini, aku tidak akan bolos kuliah lagi. Aku tidak akan khilaf lagi. Aku hanya ingin membantu memperbaiki hubungan rumah tangga Kak Aya dengan Kak Rian. Aku tidak tega saat melihat Kak Rian marah. Jadi, aku berkunjung ke butik Kak Aya dan aku membujuk Kak Aya agar mau menemui Kak Rian!" jawab Lidya jujur.
"Tapi tidak seperti ini juga, Lidya! Urusan mereka bukan urusanmu. Kamu ini masih kecil! Tidak pantas, kamu ikut campur ke dalam urusan mereka!"
"Iya, Kak! Niatku baik, aku mau membantu Kak Rian saja. Dan kakak tahu, Kak Aya mau menemui Kak Rian!" jawab Lidya.
__ADS_1