
"Kak, Aku sama sekali tidak keberatan. Kakak mau pasang fotoku di mana saja, itu terserah kakak! Tapi, kakak ikut aku, ya!" pinta Lidya memohon.
"Tebak dulu, Lidya." jawab Aya.
"Okeh. Aku tebak sekarang ... Pasti Kakak bukak cabang di daerah Bogor?" jawab Lidya yang mendapat gelengan dari Aya.
"Salah!" jawab Aya terkekeh.
"Em ... tunggu dulu, biar aku berpikir lagi!" ujar Lidya berpikir sejenak.
"Kakak kasih kesempatan sampai tiga kali. Jika tiga kali kamu gagal, maka semua yang Kakak janjikan juga gagal! Bagaimana?" tawar Aya.
"Tapi, kalau aku berhasil. Kakak mau menuruti semua permintaanku." jawab Lidya sambil menaik turunkan alisnya. "Bagaimana, Kak?" sambungnya lagi.
"Lidya, sudah berapa kali Kakak bilang ... kalau kakak sibuk. Kakak tidak bisa!" tolak Aya halus.
"Sebentar saja!" pinta Lidya membuat Aya menghembuskan napasnya kasar. "Kakak mau, ya!" ucapnya lagi.
"Okeh. Tapi kesempatanmu tinggal dua kali." jawab Aya.
"Wah, terimakasih, Kak! Aku sayang Kak Aya!" ucap Lidya antusias. "Aku mau pikir dulu!" titah Lidya berpikir. 'Aku harus menjawab dengan benar. Ini demi Kak Rian!' batin Lidya lagi.
"Em ... mana ya, Kak! Aku takut jawab, karena kesempatanku tinggal dua!" jawab Lidya lalu tak sengaja menatap satu kardus yang bertuliskan 'bandung'.
"Kamu pikirkan saja, kira-kira kota apa yang--"
"Aku tahu, Kak! Tapi, janji kak! Jika jawabanku benar, maka sekarang juga ... kita pergi ke rumahku. Dan aku mau ... kakak menenangkan Kak Rian!" potong Lidya yang diabaikan Aya.
Merasa di abaikan, Lidya berjalan beberapa langkah menuju Aya, "Kak, kakak tidak lupa dengan janji Kakak, kan?" tanya Lidya lagi.
"Kakak tidak lupa. Jawab saja, jika jawaban kamu benar, Kakak akan turuti permintaanmu!" jawab Aya dengan senyum manisnya yang palsu.
__ADS_1
"Em ... bagaimana kalau aku jawab ... Kakak akan pindah ke kota Bandung?" ujar Lidya membuat Aya terdiam. Dia menutup satu buku sampelnya yang tebal.
"Kak, kenapa Kakak diam, apa jawabanku benar?" tanya Lidya memastikan.
"Hem, jawabanmu--"
"Aku tahu, pasti jawabanku benar, kan? Kaka mau buka cabang di Bandung, kan? Yeay, aku benar! Berarti Kak Aya ikut aku pulang ke rumah!" ucap Lidya antusias.
Aya tersenyum kecut. Dia menatap wajah bahagia wanita di sampingnya. ''Tidak tega juga, melihat Lidya bersedih. Toh, jawaban Lidya memang benar. Sebaiknya, aku turuti saja permintaan Lidya.' batin Aya.
"Kak, jawabanku benar, kan? Jangan diam saja! Kakak ini membuatku kesal!"
"Iya, iya. Jawabanmu benar. Tapi, kamu janji, jangan bicara dengan siapapun tentang rencana kakak ini, ya!" jawab Aya.
"Hore, akhirnya jawabanku benar. Sekarang, Kak Aya ikut aku! Kita pergi ke rumahku. Aku mau menunjukkan seberapa frustrasinya Kak Rian karena Kakak!" titah Lidya menarik tangan Aya.
"Tunggu sebentar, Lidya. Kakak tidak bisa pergi dari butik. Tunggu karyawan Kakak datang!" titah Aya.
"Lidya. Kamu tidak boleh seperti ini, tolong mengerti keadaan Kakak! Tunggu karyawan Kaka datang!" titah Aya dengan tegas.
"Sampai kapan kita menunggu, kak? Kakak bisa hubungi karyawan Kakak agar datang lebih awal. Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu. Dan apa Kakak tidak takut, kak Rian akan melakukan hal nekat jika di biarkan terlalu lama di dalam kamar?" ujar Lidya mulai menakut-nakuti wanita di hadapannya.
"Tidak mungkin. Memangnya, di rumahmu tidak ada orang? Di rumahmu saja banyak orang."
"Siapa bilang banyak orang, Kak! Tadi, aku dengar ... Kak Pras ada meeting penting di pagi hari, aku datang ke sini. Paling cuma ada bibi dan tukang kebun. Sedangkan mereka semua sibuk dengan tugasnya masing-masing. Sekarang, saja kak!" rengek Lidya mengedipkan ke dua matanya berulang kali. "Kakak, aku mohon ... aku sudah bersusah payah menjawab pertanyaan kakak. Dan jawabanku benar. Jadi, Kakak harus menuruti semua permintaanku!" titah Lidya.
"Tunggu sebentar. Kakak akan tutup butik ini lagi. Kamu bantu kakak! Tapi kakak tidak bisa berlama-lama di rumahmu. Kakak harus mengurus perpindahan Kakak di Bandung!" ujar Aya yang mendapat anggukan kecil dari wanita yang sudah dianggapnya sebagai adik.
"Iya, aku janji, Kak! Tidak akan lama-lama. Asalkan, Kakak sudah melihat keadaan Kak Rian dan kak Rian sudah bertemu kakak. Setelah itu, terserah Kakak! Kakak mau langsung pulang juga tidak apa-apa, atau Kakak mau menginap di rumahku juga tidak apa-apa."
"Hem, bisa saja jawabanmu." jawab Aya mengambil tas dan mematikan lampu butiknya.
__ADS_1
Aya berjalan keluar butik di ikuti oleh Lidya.
"Naik mobilku saja, Kak!" ajak Lidya setelah melihat Aya mengunci pintu butiknya.
"Kakak bawa mobil sendiri saja, Li." tolak Aya secara halus.
"Tidak apa-apa. Kita satu mobil saja, Kak! Biar mobil Kakak di parkirkan di sini." ajak Lidya lagi.
"Lidya, Kakak mau bawa mobil sendiri. Jangan paksa Kakak, okeh?" ujar Aya membuat Lidya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Kak! Kakak pergi dulu, biar mobilku di belakang mobil Kakak!" titah Lidya.
"Kamu dulu. Kakak lupa rumahmu di mana. Sudah lama sekali, kakak tidak berkunjung ke rumahmu."
"Tapi, Kak! Aku--"
"Lidya, percaya dengan Kakak! Kakak tidak mungkin mengingkari janji Kakak! Kamu pergi dulu. Mobil Kakak berada di belakang mobilmu." titah Aya membuat Lidya pasrah.
"Iya, sudah, Kak! Mobilku keluar dulu. Setelah itu, baru mobil kakak!" jawab Lidya berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Melihat Lidya masuk ke dalam mobil, lagi dan lagi Aya menghembuskan napasnya kasar. Dia melangkahkan kakinya dengan berat sampai di depan mobil. 'Sebenarnya, aku malas bertemu dengan Mas Rian. Tapi semua ini demi lidya.' batin Aya membuka dan masuk ke dalam mobilnya.
Di satu sisi. Dari kejauhan, tak sengaja fajar melihat mobil Aya keluar dari halaman butik.
"Aya mau pergi? Tapi pergi kemana? Dan bukankah ... mobil di depan itu, mobil wanita yang kemarin. Apa jangan-jangan Aya mau bertemu dengan pria yang bernama Pras? Maka dari itu, dia berangkat lebih awal ke butik. Aku harus mengikutinya!' batin fajar menancapkan gas mobil dan mobil pun mulai berjalan mengikuti mobil Aya.
"Aku harus telfon Kak Rian, dulu!" gumam Lidya mencari ponselnya.
Tut ... Tut ..
Di satu sisi, Rian tak mendengar bunyi telfon dari ponselnya. Dia lebih memilih menutup wajahnya dengan bantal tidurnya.
__ADS_1
"Aya, aku harus bagaimana lagi untuk menyakinkanmu!" pekik Rian melempar bantalnya ke sembarang arah. "Aku harus bagaimana lagi, Ay! Aku tidak habis pikir denganmu. Di saat rumah tangga kita sedang hancur, kamu justru memilih tinggal satu atap dengan pria yang bernama Fajar, Argkh!" pekiknya lagi.