Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 52


__ADS_3

"Ay, tunggu dulu!" cegah Rian berlari menghadang istrinya.


"Apalagi, Mas! Kamu mau ponselku kan? Ambil saja! Aku tidak butuh ponsel lagi!" ketus Aya.


"Aku mau mengantarmu pulang! Aku mau memastikan keadaanmu baik-baik saja!" jawab Rian.


"Aku bisa pulang sendiri, Mas! Lebih baik, kamu pulang sendiri. Aku yakin, Lidya dan lainnya masih menungguku di depan restoran!"


"Kamu jangan bandel, Ay! Aku mau yang terbaik untukmu!" ketus Rian. "Lama kelamaan darahku naik menghadapi sikapmu yang dingin dan dingin padaku!" kesal Rian.


"Aku tidak pernah memintamu untuk bersikap lembut padaku. Lebih baik, kamu pulang dan jangan temui aku lagi! Temui aku sewaktu sidang nanti!" ketus Aya.


"Kamu tidak bisa menceraikanku, Ay! Aku akan bilang kalau--"


"Kalau apa, Mas? Kalau aku yang berselingkuh, iya?" kesal Aya.


"Bukan begitu, Ay! Aku mau mempertahankan hubungan rumah tangga kita. Apa aku salah, Ay!"


"Salah besar! Salah, Mas! Kamu ini sudah ada Vina! Untuk apa kamu masih mengharapkanku! Untuk apa, ha!" bentak Aya frustrasi. "Aku capek, Mas! Aku malu! Apa kamu tidak capek dengan semuanya, Mas! Pagi tadi, Vina marah-marah tidak jelas! Aku malu, Mas! Aku malu dengan karyawanku! Sekarang, kamu! Kamu menghalangiku pulang! Kamu mengambil ponselku! Intinya, aku capek, Mas! Mau kamu melepaskan aku atau tidak! Aku akan tetap bercerai darimu! Kita bertemu di pengadilan!" ketus Aya keluar dari ruangan VIP dan berjalan keluar restoran.


Setelah berada di luar restoran, Aya dapat melihat mobil fajar yang masih terparkir di halaman restoran. Segera, Aya berjalan menuju mobil tersebut, tapi lagi dan lagi, langkahnya di halangi oleh Rian.


"Mau kemana, hem?" cegah Rian, membuat Aya menghentikan langkahnya.


"Mas, mau apalagi! Aku mau pulang! Mobil Mas fajar masih ada di depan! Pasti mereka sudah menungguku! Lepas, Mas!" pekik Aya.


"Aku yang akan mengantarmu pulang!" titah Rian.


"Tidak mau, aku tidak mau ikut denganmu. Aku mau ikut mereka! Aku tidak mau, istri barumu marah!" ketus Aya.


Sedangkan di dalam mobil. Lidya dan lainnya dapat melihat pertengkaran antara Aya dan suaminya.


"Kak, Kak Aya sedang bertengkar! Kita harus melerainya!" titah Lidya yang mendapat gelengan kecil dari Pras.


"Biarkan saja! Dia sedang menyelesaikan masalahnya sendiri!" ketus Pras.

__ADS_1


"Tapi Kak! Aku kasihan melihat Kak Aya di tarik-tarik!"


"Biar aku turun dan hajar pria itu!" lirih fajar membuka pintu mobilnya.


"Jangan! Dia suami Aya, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya!" cegah Pras.


"Tapi Aya sedang dalam masalah! Aku tidak bisa membiarkan Aya kesakitan seperti itu!" ketus fajar.


"Kita pulang saja!" titah Pras.


"Aku tidak akan pulang, jika Aya masih bersama pria brengseek sepertinya!" ketus fajar.


"Ekhem! Jangan bilang, kau menyukai Aya, ya?" tebak Pras membuat fajar terdiam.


"Itu bukan urusanmu!" ketus Fajar.


"Jelas itu urusanku, karena Aya teman dekatku! Aku tidak suka, Aya di dekati pria mana pun selain dirimu! Aya masih mempunyai suami. Dan dia tidak boleh sembarang dekat dengan pria asing!" jawab Pras


"Diamlah! Aku akan pastikan Aya berpisah dengan suaminya. Dan aku akan menggantikan posisi suaminya!" ketus fajar.


"Kak, Kakak tidak boleh egois. Setelah Kak Aya bercerai, Kak Pras yang akan menikahi Kak Aya! Jadi, jangan pernah berpikiran kalau Kak Aya mau dengan Kakak!" timpal lidya membuat Pras menatap adiknya seketika.


"Itu bukan urusanmu. Mau, aku menyukai Aya atau tidak, sekali lagi ... itu bukan urusanmu!" ketus Pras.


"Kalau kau menyukai Aya, berarti kau sainganku! Aku tidak bisa satu mobil dengan musuhku! Turunlah! Dan cari taksi untuk mengantarmu pulang!" titah fajar membuat Lidya mengepalkan tangannya erat.


'Dia berani mengusir kakakku! Aku tidak terima dengan perlakuan kasarnya!' batin Lidya menarik paksa jas yang melekat di tubuh Fajar.


"Hei, kau mau apakan aku!" teriak fajar saat mendapatkan serangan dadakan.


"Aku mau mencakar tubuhmu! Kau sudah lancang berbicara kasar pada Kak Pras!" ketus Lidya menarik rambut pendek fajar.


"Lidya! Jaga sikapmu! Aku tidak suka melihatmu yang kasar!" ucap Pras berusaha melepaskan tarikan tangan adiknya.


"Biar saja! Aku tidak suka dengan orang semacamnya! Dia pantas mendapatkan semua ini, Kak! Baru mempunyai mobil jelek seperti ini sudah sombongnya minta ampun!" ketus Lidya.

__ADS_1


Mendengar mobilnya di hina, Fajar menatap tajam Lidya. Dia mendorong tubuh Lidya yang berada bangku belakang.


Lidya terbentur kursi, dia mengeluh kesakitan di bagian kepalanya. "Aw ... sakit!"


Melihat adiknya merintih kesakitan, Pras tak terima. "Apa maksudmu?" ketus Pras emosi, "Apa!" pekiknya lagi.


"Aku hanya membela diriku sendiri! Wanita ini, hampir mencelakaiku!"


"Tapi kau tidak bisa berbuat kasar padanya. Dia seorang wanita!" ketus Pras.


"Kau kenal dengan bocah sepertinya?" tanya fajar.


"Kak, sudahlah. Aku tidak apa-apa. Jangan kotori tangan Kakak! Tangan Kakak terlalu suci untuk menghajar pria tidak tahu diri sepertinya. Dan aku jamin, Kak Aya akan tahu sikap dan perbuatan Kak fajar padaku!" ancam Lidya turun dari mobil fajar.


Baru saja Lidya turun dari mobil, Dia tidak melihat lagi Aya dan juga Rian.


"Di mana Kak Aya dan kak Rian?" gumam Lidya lalu melihat taksi yang baru saja berjalan menjauhi restoran.


Pras turun, dia menatap adiknya, "Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Pras menatap adiknya.


"Aku tidak apa-apa, Kak! Tapi Kak Aya sudah pergi, mereka tidak ada di depan restoran! Sebaiknya, kita juga pergi! Kita ke butik Kak Aya! Aku harus mengadukan semua perbuatan pria itu ke Kak Aya!" ucap Lidya berjalan beberapa langkah menghadang taksi.


Setelah taksi berhenti, Lidya masuk di ikuti oleh Pras yang duduk di sampingnya. Dan semua itu tak lepas dari pandangan fajar yang sedang menunggu di dalam mobil.


'Apa hubungan mereka? Apa jangan-jangan mereka Kakak beradik?' batin fajar menyalakan dan menancapkan gas mobilnya.


Keadaan di dalam taksi yang hening, membuat Aya lebih senang menatap pepohonan di pinggir jalan.


"Aku tahu, aku salah ... tapi aku mau, kamu beri aku kesempatan ke dua, Ay!" pinta Rian memecahkan keheningan di dalam taksi.


Aya menatap sekilas suaminya lalu menatap pepohonan di pinggir jalan tanpa mengucapkan sepatah kata.


Tak mendapat respon dari istrinya, Rian berusaha meraih dan menggenggam tangan sang istrinya.


Aya menepis tangan suaminya. Dia menyembunyikan tangannya di samping tubuhnya yang berhimpitan dengan badan taksi.

__ADS_1


"Ay, kamu mau kan ... memberikanku kesempatan ke dua?" bujuk Rian.


"Sudah aku bilang, aku tidak tertarik memberimu kesempatan ke dua! Kita tetap berpisah." ketus Aya.


__ADS_2