
"Adikku terpaksa!" kesal Pras.
"Sudah, Kak! Kalian tidak boleh bertengkar. Dan Kak Pras! Aku hanya membantu sebisaku. Jika Kak Aya tidak mau kembali dengan Kak Rian, ya, sudah. Aku tidak mau memaksa!"
"Iya, benar. Apa yang dikatakan Lidya. Jika Aya tidak mau mendengar ucapan Lidya, aku akan mengakhiri drama ini. Kau tenang saja, Pras! titah Rian yang masih memperlihatkan senyum manisnya.
"Terserah kalian! Sebaiknya, kamu pergi dari sini, Lidya! Karena mulai malam ini, Rian akan tinggal di sini. Kakak tidak mau, kamu tinggal di sini bersama kita! Karena kakak tidak tahu, apa yang akan di lakukan Rian padamu!" usir Pras.
"Okeh." jawab Lidya.
Rian menyilangkan kedua kakinya di atas meja. Tapi, sepertinya ... Lidya tidak boleh keluar malam-malam begini. Karena, di luar sedang hujan. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Lidya!" titah Rian membuat Pras menajamkan pendengarannya.
Mendengar suara tetesan air yang deras, membuat Pras menghembuskan napasnya kasar.
"Kenapa, hari ini nasibku tidak beruntung!" gumam Pras berjalan menuju kamarnya.
Melihat kakaknya pergi, Lidya seketika menatap wajah Rian, "Apa Kak Pras mempunyai masalah?" tanya Lidya yang mendapat kedikan bahu dari Rian.
"Aku tidak tahu. Mulai besok, kita ke rumah! Aku akan memperkenalkan kamu dengan istriku yang ke dua. Tapi bisa kamu jangan panggil aku dengan sebutan 'Kak'." ucap Rian.
"Itu masalah kecil. Memangnya, apa yang harus aku lakukan? Coba katakan, Kak? Biar aku bisa belajar di dalam kamar, nanti!" tanya Lidya.
Rian menarik dan menurunkan kakinya ke lantai. Perlahan kakinya berjalan mendekati Lidya, wanita yang sudah di anggap sebagai adiknya.
Rian membisikkan sesuatu, membuat Lidya yang mendengarnya menganggukkan kepalanya.
"Okeh, jadi kakak mau ... kalau aku jadi wanita simpanan Kakak, nih? Untuk mengecek, apakah istri ke dua Kakak mencintai kakak atau tidak? Di saat Kakak sudah tidak mempunyai apa-apa. Dan kakak malah membawa wanita lain?" tanya Lidya.
"Iya. Kakak janji, setelah selesai nanti, Kakak akan memberikan apa yang kamu mau. Besok, weekend dan kebetulan kamu tidak masuk kampus, kan?" tanya Rian.
__ADS_1
"Iya, benar. Tapi aku mempunyai beberapa tugas."
"Malam ini, kakak bantu menyelesaikan tugasmu. Besok, kita ke Mall dan beli apa saja yang kamu mau!" titah Rian membuat Lidya kegirangan.
"Wah ... kakak memang baik! Aku akan bawa tumpukan tugasku. Sebentar, aku ambil di kamar. Kebetulan, semua tugasku tertinggal di meja belajar!" titah Lidya berjalan menuju kamarnya.
Melihat kepergian Lidya, Rian tersenyum tipis. 'Tak apalah, aku harus membuat Vina tidak nyaman denganku dan meminta cerai dariku. Setelah itu, aku akan mempertahankan Aya!' batin Rian menjatuhkan pantatnya lagi di sofa.
Sedangkan di satu sisi. Aya baru saja menutup butiknya di bantu oleh beberapa karyawan dan Fajar.
"Aku akan antar kamu pulang, Mas!" titah Aya setelah keluar dari butiknya.
"Tidak perlu. Sekarang, kita pulang ke rumahmu. Melihatmu masuk ke dalam rumah dengan selamat. Sudah membuatku lega."
"Tapi, bagaimana denganmu, Mas? Aku tidak bisa mengizinkanmu menginap di rumahku terus. Aku tidak mau, ada orang yang menuduh kita berbuat meesuum!"
"Tenang saja. Aku akan minta supir pribadiku untuk menjemputku di rumahmu. Sekarang, kita pulang! Aku tidak mau, melihatmu menyetir sendirian dalam kondisi yang--"
"Tidak apa-apa. Kita berteman. Gunanya seorang teman, itu saling membantu temannya yang sedang kesusahan. Jadi, aku ikhlas jika membantumu setiap hari. Asalkan kamu bahagia dan jangan menangis lagi!" jawab Pras meyakinkan wanita di hadapannya. "Sekarang, kita masuk ke mobil. Dan aku antar kamu pulang! Setelah itu, aku meminta supir untuk menjemputku!" titahnya lagi.
"Kenapa kamu baik sekali denganku, Mas? Padahal, berulang kali aku merepotkanmu. Aku sudah menjadi bebanmu!"
"Hust! Aku senang di repotkan olehmu! Sekarang, kita naik ke dalam mobil. Biar aku bukakan pintu mobilnya!" titah fajar berjalan beberapa langkah dan membukakan pintu mobil untuk teman wanitanya.
'Mas, kamu memang teman terbaik. Tidak ada yang bisa membuatku merasa nyaman selain kamu dan Mas Rian. Aku harus menggugat cerai Mas Rian. Sudah cukup, aku menunggu Mas Rian yang menggugatku!' batin Aya kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Ke esokkan hari.
Sesuai dengan rencana yang di bisikan Rian. Kini Lidya dan Rian sudah siap menggunakan pakaian rapih.
__ADS_1
"Kamu mau kemana, Hem?" tanya Pras saat melihat adiknya berpakaian rapih.
"Apa kau lupa dengan ucapanku semalam, Hem? Hari ini, kita akan melancarkan rencanaku!" ketus Rian sambil menyantap sarapan paginya.
"Duduklah. Aku tidak mau adikku yang cantik ini kelaparan!" titah Rian manis.
"Dia bukan adikmu, tapi adikku. Dan awas saja, kalau adikku mendapatkan masalah setelah dia membantumu!" jawab Pras tak kalah ketus.
"Kakak, kenapa kalian hobi sekali bertengkar. Ingat, Kak Pras! Kak Pras tidak boleh marah-marah terus! Kak Pras belum nikah loh! Mau, wajah Kakak menua sebelum usianya. Nanti, tidak ada yang mau nikah sama kakak! Dan Kakak jadi bujang lapuk!" ujar Lidya membuat Pras kesal tapi tidak dengan Rian. Dia. tertawa saat mendengar ucapan wanita di hadapannya.
"Hahaha ... yang di ucapkan adikmu ada benarnya, juga! Jangan suka marah-marah, ingat umur!" ejek Rian.
"Santai saja! Aku akan menikah. Setelah Rian bercerai dengan Aya. Dan aku akan menikahi Aya. Supaya kita bisa double date." sindir Pras meminum kopinya.
"Ssiaal! Aya milikku, sampai kapan pun, akan menjadi milikku. Berani menyentuhnya sedikit saja, aku akan membunuuhmu!" ketus Rian.
"Aku tidak takut di bunuuh olehmu. Kalau dia mau denganku, bukankah ini keajaiban Tuhan. Aya jatuh ke tangan yang tepat, yaitu aku. Dan aku akan menjaganya dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Satu lagi, aku tidak akan pernah menyakiti hatinya." sindir Pras membuat Rian beranjak dari tempat duduknya.
"Selesaikan sarapan pagimu. Dan kita akan pergi." ketus Rian.
"Gunakan mobil Lidya. Ingat dengan drama mu! Bukankah, aku baik? Aku mengingatkan mu!" ucap pras lagi.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang!" titah Lidya.
"Tapi, kamu belum sarapan pagi, Li? Kakak tidak mau, kamu sakit! Duduk dan lanjutkan makanmu. Jangan pernah dengar ucapan Rian!" titah Pras.
"Aku tidak apa-apa, Kak! Aku bisa beli roti atau camilan lain di toko. Kakak hati-hati di rumah. Atau, kakak mau ikut kita?" tawar Lidya.
"Aku tidak mengizinkan dia ikut! Dia akan merusak rencana kita, Lidya!" geram Rian.
__ADS_1
"Ya sudah. Aku pergi!" jawab Lidya berjalan menuju Rian.
Rian tersenyum lalu merangkul mesra pundak Lidya membuat Pras mengepalkan tangannya erat.