
"Seharusnya, kau introspeksi diri! Kesalahanmu sangat fatal. Kau sudah membuat hati wanita yang kau cintai hancur berkeping-keping karena sikapmu!" timpal Pras sambil menyilangkan ke dua kakinya yang di naikan ke atas meja.
Rian berjalan dan mendudukkan pantatnya di samping sahabatnya. Di letakkan botol minuman dan gelas kecil yang sudah terisi minuman.
"Aku melakukan semua ini demi Aya juga, Pras! Suami mana yang tega, jika istrinya mendapatkan hinaan terus dari ibu mertuanya. Aku juga tidak tega mendengar keluh kesah Aya setiap malam. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya."
"Aku tahu niatmu baik, tapi caramu salah, Rian! Di mana-mana perselingkuhan itu tidak pernah bisa di maafkan. Apalagi ini selingkuh sama sahabat istrimu sendiri. Wanita yang menurutku tidak sebanding dan se level dengan Aya. Aku ingatkan lagi, Rian! Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Seharusnya, kalau kamu mencari selingkuhan, setidaknya lebih unggul sedikit dari istri Sah mu, bukan seperti Vina. Di lihat dari fisiknya, Aya masih unggul. Dia mempunyai wajah dan senyum yang manis. Sedangkan Vina? Wajahnya yang badmood membuat orang yang menatapnya langsung malas! Semoga saja, setelah anak yang di kandung Vina lahir--"
"Jangan bawa-bawa anak, Pras! Aku sedang pusing dan tak mau membahas masalah itu lagi. Kepalaku serasa mau pecah, Pras!"
"Aku punya saran, Ri! Dari pada kepalamu pusing memikirkan hal yang menurutku membuang-buang waktumu saja. Lebih baik, kamu terima keadaanmu saja. Kamu terima posisimu yang seperti ini. Lepaskan Aya, mungkin dia akan bahagia bersama temannya, fajar atau pria lain? Kasihan Aya, Ri! Dia merasa tertekan, dan aku tahu itu!" ujar Pras.
Rian meneguk satu gelas kecil minuman itu ke dalam mulutnya. "Hahaha ... pertanyaan macam apa itu! Aku tidak mungkin membiarkan Aya lepas dari tanganku. Dan aku juga lihat, Aya sama sekali tidak tertekan akan kehadiran aku di sisinya."
"Itu dulu, Rian! Sekarang, lebih baik kamu perlahan berusaha ikhlas melepaskan Aya. Ingat, biar wanitamu bahagia walaupun tanpa ada kamu di sisinya. Bukan aku membela Aya, tapi semua ini ... aku katakan demi kebaikan kalian. Aku ingin yang terbaik untukmu dan Aya." jawab Pras dengan menatap wajah Rian yang tengah tersenyum getir.
Rian meneguk satu gelas lagi. "Lalu, bagaimana nasibku? Aku tidak bisa tanpa Aya!"
"Kau bisa, aku yakin ... kau bisa! Biarkan dia bahagia. Sudah waktunya, kamu memikirkan Vina. Dia lebih membutuhkanmu!"
__ADS_1
"Hahaha ... kau pandai sekali dalam bicara, Pras! Kau belum pernah merasakan apa yang aku rasakan." ucap Rian dengan tawa renyahnya.
Sedangkan di satu sisi. Setelah membersihkan tubuhnya. Kini Aya sudah berada di meja makan di temani oleh sahabat prianya.
"Mas, tumben sekali kamu membawakan makan malam seperti ini?" tanya Aya sambil mengambil makanannya di piring.
"Aku sengaja melakukan ini karena aku ingin menebus semua kesalahanku, Ay! Aku tahu, kalau aku salah. Aku sudah berbuat kasar pada dua temanmu tadi. Dan untuk menebusnya, aku menyiapkan semua ini." jawab fajar dengan senyum manisnya.
Mendengar jawaban dari sahabat, Aya terkekeh. "Kamu ini sangat lucu, Mas! Kamu sedang melakukan kesalahan pada siapa? Kenapa kamu malah meminta maaf padaku dengan cara menyiapkan makan malam? Seharusnya, kamu minta maaf pada ke dua temanku tadi. Dia yang kamu usir bukan aku," jawab Aya memasukkan makanannya ke dalam mulut. "Tapi enak juga makanannya. Kamu beli di mana?" sambungnya lagi.
"Iya, aku tahu ... semua ini memang salah. Tapi aku malas jika berurusan dengan mereka lagi, Ay! Lebih baik, aku meminta maaf padamu. Karena mau bagaimana pun, aku juga sudah meninggalkanmu tadi di restoran."
"Tidak apa-apa, Mas! Tidak perlu meminta maaf padaku. Aku juga salah, aku tidak izin padamu ... kalau aku pulang dengan Mas Rian." jawab Aya.
"Siapa yang tidak nap su makan, Mas?" tanya Aya sambil menggelengkan kepalanya lirih, "Aku cuma mau minum. Dan untuk urusan perceraian, kemarin aku sudah bertemu dengan pengacaraku. Dia bilang, dia akan membantu aku sampai aku dan Mas Rian bercerai. Tapi ada satu hal yang kurang ..." keluh Aya lalu meminum air putihnya.
"Apa? Kamu kurang apa? Biar aku bantu!" tanya fajar penasaran.
"Aku kurang bukti yang kuat, Mas. Kamu tahu sendiri, kan! Ponselku di ambil Mas Rian. Dan aku menggunakan ponsel kerjaku. Sedangkan di ponsel pribadiku terdapat beberapa barang bukti seperti foto Mas Rian dan Vina yang aku ambil diam-diam."
__ADS_1
"Kamu bisa datang ke rumah mereka, Ay! Dan suruh sahabatmu berbicara yang sebenarnya. Atau, kamu diam-diam memantau suamimu untuk mendapatkan bukti kemesraan mereka lagi?" saran fajar yang mendapat gelengan kecil dari wanita di hadapannya.
"Tidak semudah itu, Mas! Aku sudah melakukan cara seperti itu. Aku sudah ke rumah Mas Rian, tapi apa yang aku dapatkan, Mas? Ibu mertuaku malah berbicara aneh." jawab Aya.
"Aneh seperti apa, Ay?"
"Kamu tahu, Mas? Kedatanganku ke sana, hanya ingin bertemu Vina. Tapi apa yang aku dengar, katanya Vina sudah tidak tinggal di sana lagi, dan sewaktu aku mencari informasi untuk aku rekam, ibu mertuaku malah bilang ... kalau Mas Rian dan Vina bukan sepasang suami istri. Dan lebih parahnya lagi, dia mengumpat juga mencaci maki ku. Dia bilang, aku yang berselingkuh denganmu. Padahal, kita sama sekali tidak berselingkuh. Kita sebatas sahabat." curhat Aya.
"Dia bilang seperti itu, Ay?" tanya fajar memastikan.
"Iya. Aku juga heran, tapi semua itu tidak penting bagiku. Sekarang, aku harus mencari keberadaan Vina. Pasti Mas Rian sudah membawa Vina ke tempat yang kita tidak ketahui."
"Menurutmu tempat yang mana? Kamu sudah cek di rumah Vina yang dulu?" tanya fajar.
"Tidak mungkin Mas Rian membawa Vina ke rumah lama Vina. Dia sedang--" ucapan Aya terhenti saat melihat wajah fajar yang semakin penasaran.
"Sedang apa, Ay?" tanya fajar yang tengah menyimak.
'Apa aku bilang saja tentang rencana masa Rian yang sedang mengerjai Vina? Tapi ini juga privasi Mas Rian. Mau bagaimana pun, Mas Rian masih suami aku.' batin Aya.
__ADS_1
"Ay, sedang apa? Jawab pertanyaanku. Apa Rian mengancammu?" ujar fajar membuat Aya tersadar dari lamunannya.
"Tidak. Mas Rian sama sekali tidak mengancamku. Aku sudah melihat rumah Vina yang dulu, tapi memang rumah itu terlihat sepi seperti tidak ada penghuninya. Apa mungkin Vina ada di sana?"