Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 41


__ADS_3

Setelah mobil yang dikendarai Rian keluar dari pekarangan rumah Pras, Rian melihat Lidya yang fokus memainkan ponselnya.


"Sudah lama kita tidak bertemu, dan sekarang kakak rasa kamu semakin cantik." ujar Rian membuat Lidya menatap Rian sekilas lalu terkekeh.


"Tidak ada wanita tampan, Kak! Semua wanita cantik!"


"Hahaha ... kamu pintar sekali menjawab ucapan Kakak!"


"Harus, untuk apa aku kuliah, kalau aku tidak ingin pintar. Oh, iya. Kita mau kemana, kak? Jangan bilang, kita mau pergi ke rumah Kakak?" tanya Lidya memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Kita ke butik Kak Aya. Dan kamu bisa merayu Kak Aya supaya tidak menceraikan Kakak! Sekalian, kamu beli beberapa pakaian yang kamu suka!" titah Rian.


"Serius, kak? Kalau aku suka semuanya, bagaimana?" tantang Lidya.


"Kamu bisa ambil semuanya!" ujar Rian sambil menatap lurus ke depan.


"Ide yang bagus. Kelihatannya, aku harus menghabiskan uang kakak. Karena kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali."


"Iya, kau benar, Lidya. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Jadi, ambilah barang yang kau mau. Aku juga senang, melihat toko istriku berkembang dengan pesat!" jawab Rian yang di setujui oleh Lidya.


Sedangkan di satu sisi. Setelah menunggu suaminya yang tak pulang-pulang. Kini, akhirnya Vina memutuskan untuk menemui sahabatnya yang berstatus menjadi madu nya.


"Ini kesempatan bagiku. Aku harus bicara dengan Aya. Aku tidak mau jatuh miskin karena harta Mas Rian di ambil alih oleh Aya. Enak saja, yang seharusnya mendapatkan semua kekayaan Mas Rian itu aku, bukan Aya!" lirih Vina turun dari taksi dan berjalan masuk ke dalam butik.


Setelah masuk ke dalam butik. Vina di sambut oleh hangat oleh Rere.


"Mbak Vina, ada yang bisa saya bantu?" tanya Rere dengan nada lembutnya.


"Aku mau bertemu Aya. Dia ada di butik, kan!" tanya Vina memastikan.


"Bu Aya?" gumam Rere yang tak sengaja menatap perut Vina sedikit buncit. "Iy-iya, Bu Aya ada di ruangannya. Biar saya panggilkan dulu. Mbak Vina bisa duduk di ruang tunggu!" titah Rere.


"Tidak perlu, biar aku sendiri yang menemuinya. Ini urusanku dengannya!" ucap Vina mulai melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga di butik Aya.


"Tapi, mbak! Bu Aya sedang--"


"Diamlah! Lebih baik, kau pergi dan layani semua pembeli di sini!" ketus Vina.


Setelah sampai di lantai dua, Vina segera masuk ke dalam ruangan Aya tanpa mengetuk pintu dahulu, membuat Aya yang sedang fokus dengan pekerjaannya tak menyadari jika dirinya kedatangan tamu yang sudah menghancurkan pernikahannya.

__ADS_1


"Aya!" panggil Vina dengan nada ketusnya.


Aya yang merasa di panggil pun mendongakkan wajahnya. Dia melihat sosok wanita yang di bencinya.


"Untuk apa kau kemari!" jawab Aya tak kalah ketus.


"Di mana Mas Rian!" pekik Vina membuat Aya menghembuskan napasnya kasar.


"Maaf, Bu Aya. Saya--"


"Rere, keluarlah. Ini urusanku dengan Vina. Dan pasang musik keras-keras di lantai bawah. Aku tidak mau semua pembeli atau karyawan mendengar suaranya yang merusak dunia!" titah Aya.


"Baik, Bu!" jawab Rere lalu berjalan keluar ruangan Aya.


Melihat karyawannya pergi. Aya beranjak berdiri dari kursi kerjanya. Dia menatap wajah Vina yang tengah emosi.


"Apa aku tidak salah dengar? Kau bertanya Mas Rian padaku? Bukankah, kau yang tinggal satu atap?" sindir Aya dengan senyum sinisnya.


"Mas Rian tidak pulang semalam. Aku yakin, dia bersamamu, kan! Sekarang, beritahu aku, di mana Mas Rian!"


"Aku tidak tahu! Mau dia tidak pulang atau pulang, itu bukan urusanku. Sekarang, pergilah! Jangan ganggu kesibukanku!" ketus Aya membuat Vina berjalan beberapa langkah.


"Harta?" lirih Aya, 'Apa ini yang di maksud Mas Rian kemarin? Dia benar-benar bersandiwara jatuh miskin di depan Vina?' batin Aya.


"Sudahlah, jangan berpura-pura boddoh! Aku tahu, semua harta Mas Rian di berikan padamu. Dan sekarang, Mas Rian ja--" ucapan Vina terhenti, 'Aku tidak bisa bicara yang sejujurnya tentang keadaan Mas Rian yang sekarang. Bisa-bisa Aya menertawakan nasibku yang sekarang. Dan besar kemungkinan, dia tidak mau mengembalikan hartanya lagi ke Mas Rian!' batin Vina.


"Pergilah! Aku malas berdebat denganmu. Kau sudah berhasil mengambil semuanya dariku. Jadi, untuk apa kau ke sini!" titah Aya.


"Aku tidak akan pergi, sebelum kamu mengembalikan semua harta Mas Rian yang pernah di berikan padamu."


"Aku tidak bisa!"


"Kenapa? Kau takut jatuh miskin, iya?" ejek Vina.


"Aku tidak takut hidup miskin. Tapi, aku memang tidak mengambil sepeserpun harta Mas Rian. Sekarang sebaiknya, kau pergi!" titah Aya.


Setelah mobilnya membelah jalanan ibu kota. Kini Rian telah memarkirkan mobilnya di halaman depan butik istrinya.


"Ayo turun!" titah Rian setelah melepas sabuk pengamannya.

__ADS_1


"Okeh, Kak!" jawab Lidya membuka pintu mobilnya dan turun dari mobilnya di ikuti oleh Rian di sampingnya.


Mereka berjalan masuk ke dalam butik.


Rere yang melihat suaminya bos nya datang pun kebingungan. Dia berlari menghampiri suami bos tempatnya bekerja.


"Pak Rian!" sapa Rere dengan wajah pucat pasi.


"Lidya, ambil semua barang yang menurutmu bagus." titah Rian. "Dan kamu, Rere! Istriku ada di ruangannya kan?" tanya Rian.


"I-iya, ada Pak!" jawab Rere terbata.


"Fajar ada di sini juga?" tanyanya lagi.


"Ti-tidak ada, Pak!"


"Bagus, sekarang ... temani Lidya mencari pakaian keluaran terbaru dari butik ini. Dan aku akan menemui istriku!" titah Rian.


"Jangan Pak!" jawab Rere membuat Rian menautkan ke dua alisnya bingung.


"Apa istriku sedang sibuk?" tanya Rian yang mendapat gelengan kecil dari Rere.


"Lalu apa? Kenapa aku tidak boleh menemui istriku sendiri!" kesal Rian.


"Karena Bu Aya sedang kedatangan tamu, Pak!" jawab Rere.


"Tamu? Tamu siapa?" tanya Rian penasaran.


"Em ... Sahabat Bu Aya, yaitu Mbak Vina. Dan saya lihat, Mbak Vina marah pada--" ucapan Rere terhenti saat melihat Rian yang berlari menaiki anak tangga di ikuti oleh Lidya di belakangnya.


"Pak! Pak Rian!" teriak Rere.


"Kak, kakak harus kontrol emosi Kakak!" ucap Lidya berlari menaiki tangga.


Setelah sampai di depan ruangan Aya. Samar-samar Rian mendengar suara keributan antara istri Sah nya dan istri sirih nya.


"Sudah aku bilang berulang kali, aku tidak meminta harta Mas Rian. Kau saja yang sudah di tipu!" ketus Aya.


"Dasar wanita matre! Terus saja berbohong. Tapi perlu kau ingat, aku akan terus menekanmu untuk mengambil semua harta yang di berikan Mas Rian untukmu!" ketus Vina.

__ADS_1


__ADS_2