
"Kamu memang pintar, tapi kepintaranmu membuat semua orang malas berbicara denganmu!" ucap Pras.
Setelah bercerita dan menunggu waktu istirahat datang. Kini tepat di jam 12 siang, Fajar sudah datang di butik Aya.
"Tidak apa-apa, kan? Kalau mereka berdua ikut? Kebetulan aku dan Lidya habis melakukan pemotretan dan, aku ingin mengajak mereka untuk makan siang bersama kita!" ujar Aya setelah berganti pakaian.
"Tidak apa-apa. Itu hak mu. Aku tidak akan memaksa!" jawab fajar sambil memaksakan senyumnya.
"Ya, sudah! Kita sudah di perbolehkan ikut! Sekarang, kita pergi! Aku sudah lapar, tapi aku mau satu mobil dengan Kakak, ya! Eh, jangan ... kita berempat naik mobilnya Kak Pras saja!" ujar Lidya.
'Siapa wanita ini? Aku tidak suka saat melihat tingkahnya yang menyebalkan. Meminta Aya dan aku satu mobil bersama pria yang tak di kenal!' batin fajar.
"Kamu bagaimana, Mas?" tanya Aya pada sahabatnya.
"Aku terserah kamu saja, Ay! Yang terpenting ... aku melihatmu makan!" jawab fajar. "Tapi apa harus kita satu mobil? Kenapa tidak sendiri-sendiri saja? Aku bersama Aya, dan wanita ini bersama pria itu?" tanyanya lagi.
"Tidak bisa. Lebih efektif jika kita satu mobil. Kalau kita pakai dua mobil, pasti repot! Kita tidak tahu, mau kemana dan arah tujuan kita kemana! Sedangkan, kalau kita satu mobil ... kita bisa berdiskusi di dalam mobil!" ujar Pras, "Oh, iya. Perkenalkan namaku Pras! Kebetulan aku teman dekat Aya!" titah Pras mengulurkan tangannya.
'Teman dekat? Aya tidak pernah cerita, jika dia mempunyai teman dekat seorang pria selain aku?' batin fajar menerima uluran tangan Pras dengan kaku. "Aku fajar, sahabat Aya!" jawab fajar.
"Ya, sudah. Sebaiknya kita berangkat sekarang. Kasihan sahabatmu, Ay! Takutnya dia terburu-buru karena pekerjaannya!" titah Pras beranjak berdiri.
"Mas fajar pria yang pekerja keras! Padahal weekend, tapi tetap bekerja!" puji Aya membuat fajar tersenyum tipis.
Pras menggandeng tangan Aya dan Lidya di ikuti oleh fajar di belakangnya yang keluar dari ruangan pemotretan.
'Apa aku tidak salah lihat, mereka bertiga terlihat begitu akrab. Aku harus berbicara dengan Aya. Tapi kira-kira siapa wanita itu?' batin Fajar.
"Kita naik mobil Kak Pras saja! Kunci mobilku di bawa seseorang!" titah Lidya.
"Naik mobilku saja! Kebetulan aku bawa mobil!" titah fajar.
"Baiklah. Naik mobil temanmu saja, Ay!" ucap Pras pasrah.
Sedangkan di satu sisi. Dari sedikit kejauhan. Melihat istrinya tersenyum dengan pria lain, entah mengapa hati Rian terasa sakit.
"Pak, ikuti mobil mereka!" titah Rian pada supir taksi.
__ADS_1
"Baik!" jawab supir taksi kemudian mengikuti mobil fajar yang melaju pergi.
Tangan Rian dengan lincah menari di layar ponselnya, 'Jangan pernah menjadi pengkhianat!' tulis Rian yang langsung di kirimkan ke sahabatnya, Pras.
Ting!
Bunyi ponsel Pras membuat pria tersebut langsung merogoh dan mengambil ponselnya. Terlihat satu pesan masuk dari sahabatnya.
Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas mengukir senyum yang indah.
"Kenapa, Mas?" tanya Aya saat melihat punggung Pras bergerak.
Pras menatap spion belakang, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, biasa ... orang salah kirim!" jawab Pras terkekeh.
"Orang salah kirim, kak? Tumben sekali? Pasti minta uang, ya?" tebak Lidya sambil menggenggam tangan wanita di sampingnya.
"Bukan, dia minta keadilan! Lucu sekali orang ini!" jawab Pras yang lagi dan lagi membuat Fajar melirik sekilas ke arah samping.
'Siapa yang berkhianat? Aku justru sedang menjaga calon mantan istrimu agar tidak di goda oleh pria yang bernama Fajar!' send Rian.
Ting!
"Ah sama saja! Tidak ada kata menjaga! Pasti mereka semua sedang mencari kesempatan dalam kesempitan! Belum cerai saja, Aya sudah di dekati banyak pria. Apalagi setelah cerai nanti! Apa aku sanggup melihat Aya tertawa lepas dengan sahabatku atau pria yang bernama fajar! Siaal! Semua ini tidak boleh terjadi! Aku harus meluluhkan hati Aya lagi. Tapi bagaimana caranya!" keluh Rian kebingungan.
Setelah beberapa menit mobil yang ditumpangi Aya dan lainnya membelah jalanan ibu kota. Kini mobil tersebut sudah terparkir sempurna di depan restoran yang mewah.
"Kita sudah sampai!" titah Fajar sebagai supir.
Lidya membuka pintu mobil dan turun, di ikuti oleh Aya dari pintu belakang.
Mereka berjalan masuk menuju restoran mewah tersebut.
"Selamat siang!" titah salah satu pelayan yang berdiri di depan pintu restoran.
"Berikan kita ruang VIP!" titah Pras membuat Fajar yang ingin berkata sama pun mengurungkan niatnya.
'Pria ini bukan pria sembarangan. Aku pikir, pria ini hanya bekerja sebagai fotografer, tapi ternyata bukan! Aku tidak boleh menyepelekan orang seperti ini!' batin Fajar.
__ADS_1
"Biar saya antar!" titah pelayan.
Lidya terus menggenggam tangan Aya. Dia tidak memperbolehkan sedikit pun Aya berbicara dengan fajar.
Setelah sampai di ruangan VIP, Lidya meminta duduk bersebelahan dengan fajar, dan Aya duduk bersebelahan dengan Pras.
'Kak Rian, kalau keputusan Aya sudah mantap mau bercerai dengan Kakak! Jadi, aku akan berusaha semaksimal mungkin ... menjodohkan Kak Pras dengan Kak aya.' batin Lidya.
'Kenapa aku yang duduk bersebelahan dengan wanita ini! Kenapa bukan pria yang bernama Pras? Walaupun, dia teman dekat Aya, tapi kan ... dia teman dekat wanita ini juga! Bukan ini yang aku inginkan!' batin Fajar.
'Mas fajar jadi diam seribu bahasa. Apa keputusanku salah? Aku malah membuat mas fajar tidak nyaman.' batin Aya merasa bersalah.
'Benar dugaanku, fajar ini menyukai Aya. Terlihat dari tatapan matanya saat menatap Aya!' batin Pras.
"Silahkan di pilih menu makanannya." titah pelayan meletakkan satu buku menu makanan.
Pras tersadar, dia memberikan buku menu makanan kepada wanita yang berada di sampingnya.
"Kamu mau makan apa, Ay?" tanya Pras.
Sekali lagi, Aya menatap Fajar sekilas, lalu menatap buku menu makanan yang di berikan Pras.
"Aku kenyang kalau makan nasi Mas! Mau kentang goreng sama jus stroberi aja!" titah Aya.
"Aku tidak mengizinkanmu pesan camilan saja, Ay!" ketus fajar, mengambil buku menu makanan tersebut, lalu memesan makanan kesukaan Aya dan dirinya.
Melihat sikap perhatian dari Fajar, Pras dan Lidya saling menatap.
"Mas Pras, kamu mau makan apa!" titah Aya.
"Aku samakan saja denganmu!" titah Pras.
"Dan kamu, Lidya! Kamu mau pesan makanan apa?" tanya Aya.
"Aku juga samakan seperti Kakak! Itu juga makanan kesukaanku!" jawab Lidya canggung.
"Baik! Tunggu sebentar, ya! Kami akan siapkan pesanan anda!" titah pelayan lalu pergi.
__ADS_1
Melihat kepergian pelayan, Lidya mencoba menetralkan kecanggungan yang melanda.
"Ekhem!" deheman Lidya membuat Aya menatapnya. "Aku boleh kenalan sama kakak ini?" tanya Lidya menatap Fajar