Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 59


__ADS_3

"Aku heran sama kamu, mas! Kamu tinggal lepaskan Aya, dan meresmikan pernikahan kita. Semua itu sangat mudah. Tapi kamu malah mempersulit dan menambah masalah terus. Apa kamu tidak berpikir, kalau kamu memberikan semua hartamu ke Aya, kamu akan hidup menggunakan apa, Mas? Semua orang butuh uang untuk membeli kebutuhannya. Termasuk aku! Aku juga butuh uang untuk membeli keperluanku juga calon anak ini!"


"Jangan membahas masalah harta lagi, telingaku terasa sakit!" ketus Rian.


"Lalu, aku bahas masalah apa, kalau bukan harta, Mas! Kamu tinggal bilang ke Aya, kalau kamu mau mengambil semua hartamu. Atau jangan-jangan, kamu bukan memberi semua hartamu ke Aya melainkan ke selingkuhanmu itu? Apa dua istri tidak cukup bagimu, Mas? Sampai-sampai kamu mencari kesenangan di luar sana! Mencari kesenangan dengan wanita muda yang mungkin kamu akan di manfaatkan oleh wanita itu!" kesal Vina beranjak berdiri. "Sekarang, aku mau ke kamar! Beritahu aku kamarnya di mana!" titahnya lagi.


"Cari kamar yang kamu inginkan. Kamu bebas mencarinya. Rumah ini hanya di tempati olehmu, saja!"


"Mas, kamu harus menyewa asisten rumah tangga untuk membantu semua keperluanku. Aku tidak bisa melakukan hal-hal yang membuatku kecapean. Ingat, aku sedang hamil!"


"Aku tanya padamu, kau yakin hamil anakku?" ujar Rian dengan tatapan serius.


"Ya-yakin! Kenapa aku tidak yakin. Aku melakukannya denganmu!" jawab Vina terbata.


"Jawab jujur, Vin! Kamu pernah melakukannya dengan mantanmu itu di belakangku, kan!" pekik Rian.


"Tidak pernah, Mas! Aku tidak pernah melakukan semua itu."


"Aku masih belum percaya. Salah satu orang kantor pernah melihatmu masuk ke dalam hotel dan itu terbukti jelas. Bukan orang kantor saja, tapi aku juga pernah melihatmu sewaktu aku ada meeting di hotel yang tak jauh dari kantor. Perlu kau ingat, aku tidak akan percaya tentang anak itu. Selama ini aku diam, karena aku masih mempunyai Aya, aku tidak memikirkan aktivitasmu yang bejat di luar sana! Tapi jika memang terbukti anak ini bukan anakku, awas saja kamu! Aku tidak akan tinggal diam!" ancam Rian beranjak berdiri.


"Mau kemana kamu, Mas! Kamu tidak bisa membiarkanku sendiri di sini. Temani aku dulu, sampai aku selesai membereskan semua barang-barang bawaanku!" ujar Vina.


"Bereskan semuanya sendiri. Aku harus pergi. Aku takut, Aya ke rumah dan aku tidak ada!" jawab Rian berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam taksi.

__ADS_1


"Mas, kamu jahat! Kamu tega, Mas!" pekik Vina saat melihat kepergian suaminya.


Setelah berada di mobil. Aya terus terngiang-ngiang setiap ucapan ibu mertuanya.


"Kenapa ibu bisa bicara seperti itu? Bukankah selam ini, ibu selalu mendukung Mas Rian dengan Vina? Dan kemana perginya Vina? Bukannya, dia sedang hamil anak Mas Rian?" gumam Aya dengan tatapan lurus ke depan.


Rian menghembuskan napasnya lega setelah taksi yang dikendarai pergi dari rumah kecil yang baru saja Rian beli.


"Aku sengaja bilang, kalau rumah itu rumah kontrakan agar mulut Vina diam. Coba saja, kalau aku bilang rumah itu, rumah yang aku beli untuk tempat tinggalnya, selama beberapa bulan ke depan. Sudah di pastikan ... dia akan marah dan bisa-bisa dia menemui Aya, lalu membicarakan semua tentang pernikahanku dengannya. Semua itu tidak boleh terjadi. Aku tidak mau, Aya mendapatkan bukti. Tapi seharusnya, Aya sudah mendapatkan bukti? Bukankah, dulu Aya pernah menggugat ceraiku? Apa bukti itu ada di dalam ponselnya?" gumam Rian mengambil ponsel milik istrinya, Cahaya. Dengan jelas, Rian dapat melihat beberapa foto dirinya yang keluar dari mobil tepat di kediaman Vina yang dulu.


"Oh, pantas Aya meminta ponsel ini di kembalikan. Ternyata, ada beberapa bukti yang tersimpan di dalam ponsel ini. Maafkan aku, Aya. Aku harus menghapus semua foto dan video ini!" gumamnya lagi. Tangannya dengan lincah menghapus setiap foto dan video rekaman di mana dirinya sedang memeluk Vina.


Setelah menghapus video dan beberapa foto. Rian memastikan lagi. Berulang kali, Rian mengecek satu persatu seisi ponsel Aya. Ke dua matanya terfokuskan pada riwayat chat istrinya dengan fajar.


Sedangkan di satu sisi. Setelah mobilnya membelah jalanan ibu kota. Kini mobil Aya telah sampai di depan halaman butiknya.


Ke dua sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat butiknya di penuhi dengan pelanggannya.


"Syukurlah, butikku ramai. Sudah saatnya aku buka cabang di kota lain. Mungkin, setelah perpisahan itu terjadi. Aku bisa mengurus butikku yang ada di kota lain. Sebaiknya, dari sekarang ... aku persiapkan semuanya terlebih dahulu!" gumam Aya berjalan masuk ke dalam butik.


"Bu, Aya!" panggil Rere.


Aya menepuk jidatnya, lupa. "Aduh, aku lupa, Re! Aku akan pesankan makanan di ojek online aja. Kalian bisa menunggu terlalu lama, kan?" ujar Aya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu! Ibu kenapa? Saya lihat, raut wajah ibu seperti--"


"Aku tidak apa-apa. Aku mau istirahat di ruanganku. Dan ingat, jangan beri izin siapapun masuk ke dalam ruanganku termasuk suamiku sendiri."


"Kalau Pak fajar bagaimana, Bu?" tanya Rere memastikan.


"Tidak ada yang boleh masuk, Re! Berarti Mas fajar tidak di perbolehkan masuk! Aku ingin menenangkan diriku dulu!" jawab Aya.


"Baik, Bu! saya hanya memastikan saja!"


"Hem, nanti, kalau ada ojek online makanan yang di pesan. Kalian langsung saja makan. Jangan menungguku!" titah Aya berjalan menaiki setiap anak tangga.


"Terimakasih, Bu!" ucap Rere.


Aya masuk ke dalam ruangannya. Dia menutup rapat pintu ruangannya.


"Huh! Rasanya, hari ini kepalaku seperti mau pecah! Aku tidak menyangka dengan ucapan ibu! Kenapa sikap ibu berubah! Dan di mana Vina!" gumam Aya frustrasi. Dia mengambil ponselnya dan mencari nomer sahabatnya yang sekaligus menjadi madu nya.


"Vina memblokir nomer aku? Apa dia di ancam Mas Rian? Tumben sekali. Padahal, semalam masih ada status Vina yang muncul di ponselku. Semua ini benar-benar mencurigakan!" lirih Aya meletakkan ponselnya di atas meja.


Di satu sisi. Setelah sampai di kediaman rumahnya. Rian langsung saja masuk. Dia melihat ibu kandungnya sedang menonton acara televisi.


"Bu!" panggil Rian membuat Iris menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Rian, kamu sudah pulang! Bagaimana, semuanya aman, kan?" tanya Iris penasaran.


__ADS_2