DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 10


__ADS_3

Luna tertegun untuk sesaat. Bahkan, ia merasa tubuhnya tidak dapat digerakkan sama sekali. Bentakan Handoko yang mencaci makinya dengan membabi buta sudah pasti dapat didengar oleh teman-teman Sekolahnya. Maka, masih dengan mata yang berkaca-kaca ia tatap Bara dan Laras dengan pandangan yang kosong tanpa berucap apapun..


"Om Handoko?" ucap Bara menatap lekat pada pria paruh baya dihadapan. Yang disebut namanya memperhatikan Bara dengan seksama. Mencoba mengingat siapakah gerangan pemuda dihadapannya ini, yang ia ketahui adalah kekasih anak sulungnya.


"Bara? Kamu anaknya Firman kan?"


"Iya Om, saya anaknya Papa Firman."


Tak menggubris sang Ayah yang ternyata mengenali Bara, Luna langsung beranjak memasuki mobil Handoko dengan menyeka air matanya yang terlanjur luruh akibat kabar duka yang dibawa sang Ayah. Meski tidak tahu bagaimana keadaan sang Ibu di Rumah Sakit sana, ia tetap menangis dengan dada yang kembang kempis dan sesekali tersengal.


Handoko yang melihat Luna sudah memasuki mobilnya pun hendak beranjak, namun cekalan tangan Bara kembali menghentikan langkahnya. "Om, saya ikut ke rumah sakit boleh ya? Saya mau lihat Tante Amara."


Tanpa berpikir panjang lagi, Handoko langsung menganggukkan kepalanya. Bara langsung berlari menuju tempat disamping Luna, meninggalkan Laras yang rupanya ikut khawatir akan keadaan sahabat dan Ibunya tersebut. Meski belum mengenal dengan baik siapa keluarga Luna, namun ia tahu bagaimana peranan seorang Ibu dalam hidup anaknya.


"Semoga Ibu Lo baik-baik saja ya Luna." lirihnya menatap kepergian mobil Handoko yang semakin menjauh dari gerbang utama sekolah.


***


Sesampainya di Rumah Sakit ternama, terlihat Lula tengah terduduk disebuah kursi didepan ruangan sembari menangis tersedu-sedu. Handoko yang melihat anak bungsunya menangis hingga sesenggukan langsung menghampirinya dan memeluk sang gadis kecil. Begitu pula Luna dan Bara, mereka pun langsung berlari menghampiri Lula.


''Ada apa? Gimana keadaan Ibumu?'' tanya Handoko dengan halus, ia mengelus lembut rambut Lula dengan belaian sayang. Membuat Luna menyunggingkan senyum kecutnya sembari mengalihkan pandang. Merasa tak pernah diperlakukan sedemikian rupa oleh Ayahnya sendiri.


''Ayah tadi belum sempat kesini ya?''


''Belum Nak,''


''Ibu lagi ditangani Dokter, kata Dokter Ibu keadaannya parah.'' Handoko menghela nafas sejenak, kembali memeluk Lula yang menangis tersedu-sedu. Gadis didalam dekapan sang Ayah tersebut melirik kearah pemuda tampan yang berdiri disebelah saudara kembarnya.


''Hai,'' sapanya tanpa bersuara, ia lambaikan tangannya agar terlihat oleh Bara. Sedang pemuda yang disapa tersebut hanya tersenyum kecil. Ia kemudian mendampingi Luna agar duduk dikursi tunggu pasien sembari menunggu keluarnya sang Dokter.


Sesaat, Bara menghela nafas panjang. Menatap Luna dengan perasaan iba dan juga bersalah. Sesekali ia tatap Handoko yang terlihat sangat lelah, 'Betapa jahatnya Gue udah jadiin Luna taruhan. Ternyata dia anaknya Om Handoko.' batin Bara menjerit kalut.

__ADS_1


Pemuda tampan tersebut menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, benar-benar tak menyangka bahwa target untuk meluluhkan hati seorang gadis adalah anak dari orang yang ia kenal bahkan orang yang sudah berjasa dalam hidupnya.


Luna yang melihat Bara terlihat resah hanya berani menatap, tak berani untuk menegur karena ada sang Ayah disana. Takut akan menjadi perdebatan panjang jika ia terlihat dekat dengan pria tersebut. Gadis itupun belum mengetahui mengapa Bara bisa mengenal keluarganya.


***


Beberapa jam sudah terlewati, keempat manusia berbeda generasi tersebut pun masih setia pada posisi awal mereka datang ke rumah sakit tersebut. Tak beranjak sedikitpun, barang sedetik saja. Hingga akhirnya, seorang Dokter yang sedari tadi menangani Amara pun keluar dari ruangan yang sedari tadi tertutup.


''Dokter! Bagaimana keadaan istri saya?'' Handoko dan ketiga anak muda tersebut langsung menghadang sang Dokter dengan cepat.


''Maaf Pak, benturan keras di kepala istri Anda sangat fatal akibatnya. Saya dan tim sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi pembuluh darah di kepala istri Anda pecah total. Tidak bisa diselamatkan.''


Luna, Lula, dan juga Handoko langsung luruh diatas lantai. Sama-sama bersimpuh tak berdaya menopang kaki mereka untuk pertama kalinya dalam seumur hidup. Kehilangan sosok yang benar-benar berarti dalam satu hentakan benar-benar membuat jiwa siapapun terguncang hebat.


Lula langsung memeluk Handoko dan semakin pecahlah tangis sang gadis dipelukan sang Ayah. Sedang Luna, ia memeluk lututnya sendiri. Mencoba menguatkan hatinya untuk terus bertahan agar tidak berteriak sekencang yang ia bisa. Bara turut terduduk disebelah Luna, mengelus pelan puncak kepala sang gadis yang mulai tersengal. Ia beralih mengelus punggung meringkuk sang gadis dengan lembut.


''Kamu harus kuat.'' ucap Handoko kepada Lula. Ia lirik Luna dibelakangnya yang tengah ditenangkan oleh Bara. Untuk pertama kalinya, ia rentangkan tangan kepada sang gadis agar dipeluk. Maka, ketika Luna menggeser tubuhnya memeluk Handoko, semakin pecah pula tangisan sang gadis kecil yang baru berusia 16 Tahun tersebut.


***


''Gue mundur dari taruhan.'' ucapnya dengan tiba-tiba, membuat Leo dan Bayu menghentikan obrolan ringan mereka kemudian menatap Bara dengan dingin. Ada yang berbeda dari sahabatnya yang satu ini, setiap taruhan diadakan, maka Bara adalah orang pertama yang akan selalu memenangkan taruhan tersebut.


''Kenapa? Lo nggak mampu? Baru berapa hari sih kita taruhan?'' ucap Bayu menatap rendah pada Bara.


''Luna dan Lula anaknya Om Handoko. Kalian harus tahu, perusahaan yang dikelola sama Papa Gue itu dibawah naungan perusahaannya Om Handoko. Gue bisa digantung sama Papa kalau Om Handoko tahu.'' kesal Bara, ia dudukkan pantatnya dikursi khusus dirinya, Bayu dan Leo mencibir Bara terus menerus karena tak mau melanjutkan taruhan mereka.


Maka, dengan berat hati Leo memberikan sebuah kunci mobil kepada Bayu. Karena Bara mengundurkan diri, maka Bayu lah yang akan menerima imbalan tersebut. ''Gue dapat mobil.'' girang Bayu menjulurkan lidah kearah Bara.


''Nyokap mereka meninggal kemarin,''


Leo dan Bayu sontak menoleh ketika mendengar penuturan Bara dengan wajah yang serius. ''Lo nggak bohong kan?'' sela Bayu.

__ADS_1


''Ya ngapain Gue bohong? Gue tahu mereka anaknya Om Handoko juga karena kemarin Om Handoko jemput Luna buat dibawa ke rumah sakit. Dan Gue ikut sama mereka.''


''Sedekat itu Lo sama keluarga Luna? ucap Leo merasa curiga.


''Gue cuma kenal sama Om Handoko dan Tante Amara. Mereka sering ke kantor Papa.''


Leo, Bayu, dan Bara menghentikan perbincangan mereka. Saling berdiam diri dengan pikiran masing-masing yang tidak diketahui oleh siapapun, bahkan ketiganya itu sendiri.


'Gue janji bakal bikin Lo bahagia Luna'. batin Bara menatap kosong kearah langit-langit kantin sekolah.


''Kak! Gimana keadaan Nyokapnya Luna?''


Bara terkejut bukan main melihat Laras yang datang dengan tiba-tiba meneriaki namanya tepat ditelinganya. Ia sampai berjingkat saking kagetnya. ''Lo kayak setan aja nongol tiba-tiba!'' sentak Bara merasa kesal.


''Iya nih, Gue juga bingung kenapa kayak setan. Kenapa Luna nggak masuk Kak?''


''Nyokapnya meninggal,''


''APA!?'' pekik Laras dengan mata yang membelalak dengan lebar. Ia tangkup mulutnya yang ikut terbuka dengan satu tangannya. Mendengar itu, Laras langsung terdiam tak banyak bertanya apapun. Ia benar-benar masih tak percaya, begitu banyak beban yang Luna tanggung diusianya yang sangat muda. Ia dudukkan dirinya dikursi yang masih kosong disebelah Leo.


Dibenci saudaranya, dan juga Ayahnya. Dan kini, satu-satunya orang yang berani membelanya telah pergi dari Dunia. Bagaimana mungkin kewarasan gadis itu tetap akan terjaga jika tidak ada lagi yang membelanya?


''Lo kenapa diam?'' tanya Leo menatap Laras dengan memicing.


''Gue nggak nyangka aja. Kasihan Luna.'' jawab Laras masih dengan lemas, ia tundukkan kepalanya dengan lesu.


''Luna orang kaya, kenapa Lo kasihan sama dia? Harusnya yang perlu dikasihani itu Lo, karena tiap pagi selalu berangkat pake angkot.'' celetuk Leo menatap rendah kearah Laras, pemuda itu mulai mengeluarkan sifat congkaknya.


''Ya goblok! Orangtua Gue masih ada semua, nggak nyambung banget Lo.'' ketusnya menatap kesal pada Leo.


'Lo belum tahu Gue sih.' batin Laras ingin menjerit ditelinga Leo dengan kencang agar semua kotoran ditelinga pemuda congkak itu keluar beserta isinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2