
Lula menyibak tirai jendela saat mendengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumah. Mata bulatnya terus menyorot datangnya mobil Limousine tersebut hingga berhenti tepat didepan pintu utama rumah yang ia singgahi.
Dari dalam mobil terlihat Handoko keluar bersama Luna dengan senyum riang jelas menghiasi wajah sang kembaran. Memicingkan mata menatap sebuah benda mengkilap berwarna emas yang ditenteng sang Ayah, menduga jika sang kembaran pasti telah berhasil memenangkan lomba yang ia ikuti.
"Lula!" sebuah teriakan dari sang Ayah terdengar mendengung ditelinga Lula. Membuat gadis itu mau tak mau langsung bergegas menghampiri Handoko yang masih setia merangkul Luna dengan senyum mengembang.
"Lihatlah! Saudaramu berhasil memenangkan lomba bergengsi ini!" cerita Handoko memperlihatkan sebuah piala emas yang sangat tinggi tersebut. Senyumnya masih tak luntur barang sedetik pun.
"Lula ikut senang." ucap sang gadis dengan senyum gamang tercetak diwajahnya. Ia begitu iri ketika Luna berhasil memberikan sebuah prestasi kepada Handoko yang terlihat sangat jelas bahwa pria paruh baya itu sangat bangga kepada anak gadisnya.
"Lo kenapa nggak datang tadi?" tanya Luna menatap sang kembaran dengan datar. Matanya memicing sedikit melihat wajah Lula yang terlihat sangat pucat.
"Nggak enak badan."
"Ayah, Lula ke kamar lagi ya." pungkas sang gadis kemudian beranjak begitu saja tanpa mendengar persetujuan sang Ayah. Tak mau mendengar lebih banyak kata-kata yang dikeluarkan Handoko saat memuji Luna dihadapannya. Atau justru ia akan diceramahi panjang lebar tentang pentingnya sebuah prestasi disekolah.
Selepas kepergian Lula, Handoko kembali menatap Luna kemudian memberikan piala tersebut kepada sang anak. "Terimakasih ya, sudah membuktikan kepada Ayah kalau kamu anak yang hebat! Ibu pasti bangga sama kamu." ucap sang Ayah dengan senyum bangga.
Luna mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Semoga, Ayah bisa lebih sayang lagi ya sama Luna." pungkas sang gadis memeluk sang Ayah dengan erat.
"Semoga kedepannya kamu bisa memberikan prestasi yang lebih banyak lagi kepada Ayah. Ya?"
"Ya Ayah! Luna janji akan memberikan prestasi yang lebih banyak lagi kepada Ayah!"
Handoko mengangguk kemudian mengecup puncak kepala anak gadisnya dengan rasa sayang. Pria paruh baya itu memang sangat menyayangi anak-anaknya. Hanya saja, mungkin ia tidak sadar jika sudah berbuat tidak adil kepada salah satu anaknya akibat ucapan-ucapan jahat yang merasuk kedalam telinganya.
"Kamu istirahat ya. Besok harus sekolah lagi."
"Ya Ayah. Selamat malam."
***
Pagi ini rumah kediaman Handoko dihebohkan dengan sikap Lula yang tidak seperti biasanya. Sejak bangun tidur, gadis itu langsung muntah hingga tak memiliki tenaga apapun untuk melangkah menuju kamar, keluar dari kamar mandi.
"Kamu kenapa Nak? Sakit? Kenapa tidak bilang sama Ayah. Kita ke Dokter ya?" ucap Handoko dengan rasa khawatir. Namun, gadis kecil itu masih menggeleng terus menerus ketika Handoko memintanya untuk memeriksakan diri ke Dokter.
Bagaimana bisa gadis itu menyetujui permintaan sang Ayah, jika penyebab mualnya tubuh hingga muntah-muntah tanpa jeda tersebut adalah karena ia tengah mengandung seorang bayi?
"Jangan sekolah dulu. Nanti biar Luna yang bilang sama wali kelas kamu." pungkas Handoko membantu Lula berbaring diatas tempat tidurnya.
__ADS_1
"Kamu terlihat semakin gemuk Lula. Kenapa tidak diet? Mungkin kamu sakit karena semua makanan kamu makan?"
Lula hanya menggeleng saja tanpa mengeluarkan suara apapun. Sungguh dirasa sangat lemas hingga bersuara saja rasanya tidak kuat.
"Ya sudah, kamu istirahat saja ya. Ayah akan bilang sama Luna." setelah berucap, Handoko kemudian menyelimuti sang anak dengan telaten.
Setelahnya, ia keluar kamar untuk beranjak menuju meja makan yang sudah dihuni oleh Luna.
"Luna, nanti kamu bilang sama wali kelasmu kalau Lula sakit. Ya?" ucap Handoko sembari duduk kemudian menyantap sarapan paginya.
"Emang Lula kenapa Yah?" tanya Luna yang memang tidak pernah mau tahu tentang apapun yang terjadi pada saudaranya tersebut.
"Tadi muntah-muntah, Bibi Inem tadi bilang sama Ayah kalau Lula tergeletak dikamar mandi karena nggak ada tenaga buat balik ke kamar. Nggak tahu kenapa."
"Belum makan?"
"Nggak mau makan, katanya hambar setiap makanan yang masuk ke mulutnya."
"Nggak periksa ke Dokter emangnya?"
"Nggak mau juga."
"Ayah, Luna berangkat dulu ya." pamit sang gadis kemudian mencium punggung tangan sang Ayah.
"Hati-hati, jangan lupa bilang ke wali kelas kalau Lula sakit."
"Oke Ayah!"
***
Memasuki kelas dengan senyum yang sangat riang, Laras kemudian meletakkan tasnya diatas meja kemudian mendudukkan bokong sintalnya diatas kursi. Matanya melebar sempurna ketika mendapati sebuah cake strawberry tergeletak didalam loker mejanya.
"Woi! Apaan nih!" pekiknya dengan kencang kemudian mengambil cake tersebut dari dalam loker.
"Itu tadi dari Kak Leo Ras!" teriak Hena, salah satu teman kelas yang tak jauh dari tempatnya mendudukkan diri.
"Lo kok tahu?"
"Gue yang dititipin tadi. Katanya suruh kasih ke Elo. Karena Lo belum datang, ya Gue kasih loker Lo." ucap Hena menjelaskan dengan detail.
__ADS_1
Laras terdiam mengamati sebuah cake kecil mungil dihadapan. Ia buka tutup cake tersebut dengan hati-hati karena cream yang ada diatas cake tersebut begitu banyak. Takut belepotan hingga terkena seragamnya jika tidak hati-hati membukanya.
"Ada-ada aja si Leo nih!" kesal Laras kemudian mencolek krim diatas cake lalu menjilatnya.
"Dia nggak tahu apa ya kalau Gue sukanya tuh rasa Nanas! Kenapa malah dikasih Strawberry?" gumamnya masih terus mencolek-colek krim yang ada dihadapan.
"Wih! Ada yang ulang tahun!" pekik Luna ketika memasuki kelas langsung melihat Laras yang sibuk mencicipi kue diatas meja.
"Dari Leo. Dan! Gue nggak ulang tahun!" ucap Laras dengan tegas ketika Luna sudah duduk disebelahnya.
"Kemana kembaran Lo?" cetus Laras terheran-heran karena Luna hanya datang seorang diri.
"Sakit. Kata Ayah muntah-muntah gitu tadi pagi." jelas Luna, gadis itu ikut mencolek krim diatas cake.
"Enak juga."
"Muntah-muntah kok pagi-pagi. Udah kayak orang hamil aja." celetuk Laras menghentikan langkah kaki seorang lelaki yang ingin memasuki kelas mereka.
"Kak Bayu!" pekik salah seorang teman kelas Luna yang melihat pangeran tampan datang menginjakkan kakinya dikelas mereka. Teriakan tersebut tentu membuat atensi Luna dan Laras teralihkan. Keduanya sama-sama menatap Bayu yang masih mematung diambang pintu.
"Kak Bayu?" gumam Luna kemudian beranjak mengikuti Bayu yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan kelas.
"Kak Bayu!" Teriak Luna memanggil sang pemuda agar berhenti melangkah. Namun sayangnya, pemuda yang sempat menyatakan perasaan kepadanya tersebut justru seperti tidak mendengar teriakannya hingga sama sekali tak menghentikan langkah kakinya.
"Luna, Lo dicari Bara." ucap seorang siswa yang langsung menghadang langkah kaki sang gadis. Membuat Luna langsung menghentikan niatnya untuk mengikuti langkah kaki Bayu.
"Dimana Bara?"
"Katanya suruh ke tempat biasanya gitu."
"Terimakasih ya!"
Meninggalkan koridor sekolah untuk menemui seorang ketua osis diatas rooftop sekolah. Luna sudah berada disana, memandang lurus kearah depan dengan seluruh bayangan-bayangan masa depan terpeta dibenaknya.
Disebelah sang gadis, sudah ada seorang pemuda yang juga tengah memandang jauh ke depan dengan hembusan nafas panjang.
"Gue cuma mau bilang satu hal. Selesai SMA nanti, Gue bakal pindah ke Amerika."
BERSAMBUNG...
__ADS_1