
Mendekatkan wajahnya kearah wajah Bayu, Lula berniat menyatukan bibir mereka berdua seperti yang sering ia lakukan bersama sang pemuda.
Namun, bukan sebuah sambutan yang baik dari Bayu. Melainkan sebuah tolakan halus. "Kita di Sekolah." Ucap sang pemuda membuat gadis polos itu mengangguk.
"Gue kangen sama Lo. Akhir-akhir ini, Lo terlalu fokus sama Luna sampai ngelupain Gue." Keluh Lula dengan bibir yang maju beberapa senti. Membuat Bayu terkekeh ringan. Ternyata, Lula dan Luna benar-benar sama ketika merajuk.
"Iya, maafin Gue ya. Nanti kita jalan."
"Janji ya?" Sahut Lula dengan riang. Ia acungkan jari kelingkingnya dihadapan sang pemuda.
"Iya janji." Pungkas Bayu menautkan kelingkingnya dengan sang gadis.
***
Luna memundurkan langkahnya beberapa langkah ketika mendengar pengakuan mengejutkan dari Bara. Pemuda yang ia anggap sebagai sahabatnya. Sahabat yang terbentuk dari ketidaksengajaan hingga berakhir dengan sebuah rasa yang ia yakini tidak ada untuk sang pemuda dihadapan.
"Bara.. Gue.. " Gagu sang gadis tak mampu menatap sorot mata Bara.
"Luna, Gue nggak minta Lo buat membalas rasa yang Gue punya. Gue cuma minta, jangan Lo jauhi Gue demi Bayu. Kita tetap sahabat kan?"
"Gue nggak tahu! Gue bingung!" Pekik Luna kemudian terduduk begitu saja dilantai rooftop yang terkesan sangat kotor tersebut.
"Luna!" Pekik Bara merasa panik ketika Luna langsung terduduk begitu saja.
"Lo kenapa?" Ucap sang pemuda kemudian membantu sang gadis untuk terduduk di bangku yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Luna, jangan dipikir lagi apa yang Gue katakan tadi. Lo nggak perlu mikirin Gue. Pikirin kebahagiaan Lo sendiri. Oke?" Pungkas Bara menenangkan Luna agar tak terserang panik attack begitu lama. Gadis itu seperti orang ketakutan dengan tubuhnya yang bergetar.
"Gue tahu ini yang pertama kalinya buat Lo."
Sedang Luna hanya terdiam didalam dekapan Bara yang terus meraung menenangkannya. Berpikir kebelakang, flashback dengan hal-hal yang terjadi dalam hidupnya beberapa tahun terakhir.
Bagaimana saat ia masih Luna si Preman Sekolah yang selalu dibenci oleh Lula. Begitu damai harinya tanpa ada teman atau sahabat yang banyak drama. Apalagi tanpa laki-laki yang memperebutkannya. Jauh berbeda dengan saat ini.
__ADS_1
Saat dimana semua siswi ingin selalu dekat dengannya, meski ia hanya menerima Laras sebagai sahabatnya. Saat dimana para siswa dari kalangan bawah hingga atas terus berlomba-lomba mencari perhatiannya, meski hanya Bara yang ia persilahkan untuk dekat dengannya.
Saat ini pula, saat dimana ini adalah hari-hari yang akan membuatnya tegang setiap waktu. Ia yakin itu. Hari yang akan mempertemukannya setiap hari dengan dua pemuda yang ia cintai, dan juga pemuda yang mencintainya.
Merasa sangat bingung karena dua pemuda terpopuler dengan jabatan tertinggi Sekolah sebagai siswa teladan tengah berlomba mendapatkannya. Dalam satu sisi, ia mencintai Bayu. Ingin selalu bersama sang pemuda. Di satu sisi yang lain, ia tentu tidak ingin menyakiti sahabatnya yang sudah lebih dulu dekat dengannya ketimbang Bayu.
"Luna, Gue udah bilang jangan dipikirin! Gue nggak penting. Lo harus tahu itu."
Luna mendongak, menatap Bara dengan kilatan sendu. "Gue mohon, jangan bikin hubungan persahabatan kita semakin renggang." Pintanya pada sang pemuda, membuat Bara langsung menganggukkan kepalanya.
"Gue tahu itu. Kita akan tetap jadi sahabat."
***
Hari ini, tepat dimana Lula sudah kembali bertemu dengan sebuah lingkaran merah di kalender lagi untuk yang kedua kalinya. Itu artinya, sudah 3 bulan ini Lula belum kunjung haid seperti bulan-bulan sebelumnya.
Hari ini adalah hari minggu, semua siswa dan siswi di sekolah manapun sudah pasti akan diliburkan. Lula beranjak meninggalkan kamarnya setelah dirasa sudah cukup cantik untuk keluar rumah menuju sebuah tempat yang sangat ia takuti.
Tanpa berpamitan pada siapapun, Lula segera menyuruh sang sopir untuk melajukan mobilnya menuju tempat yang ingin ia singgahi untuk membeli sebuah alat berbentuk persegi panjang.
Setelah membayar test pack yang ia beli, segera Lula meluncur menuju mobil dan pulang kerumah. Membeli beberapa test pack agar akurat hasilnya, juga tak lupa membeli sebuah obat vitamin agar bisa berdalih ketika Handoko mempertanyakan kemana perginya sang gadis.
Namun nihil, sesampainya dirumah, Lula sama sekali tak menemukan Ayahnya yang biasa terduduk diruang tamu jika tengah cuti dari kantor.
"Ayah kemana?" Tanyanya kepada Luna yang asik menonton televisi tanpa melihatnya datang sama sekali.
"Diruang kerja." Ucap Luna ala kadarnya. Bahkan gadis itu sama sekali tak melihat lawan bicaranya.
Tak kembali menjawab, Lula langsung beranjak begitu saja dari hadapan Luna. Memberanikan diri memasuki toilet untuk mengecek ketakutan yang selalu melandanya setiap malam.
***
Bara turun menemui sang Ayah yang berada dilantai satu. "Mama dimana Pa?" Tanyanya begitu sampai dihadapan Firman.
__ADS_1
"Sudah ke Amerika. Mengurus semua yang ada disana."
"Mengurus apa? Memangnya Mama juga bekerja di perusahaan Om Handoko?" Kerut Bara tak mengerti.
"Bukan mengurus perusahaan Bara. Mama-mu mengurus hal-hal yang akan kita gunakan disana. Seperti menyewa rumah, kendaraan, dan lain-lain. Kita tidak mungkin kan membawa mobil kita kesana? Jika kita berlibur ke Kota ini lagi, mau naik apa nanti?" Jelas Firman membuat Bara mengangguk, mengerti.
"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu? Ikut sama Papa dan Mama?" Lanjut Firman menatap anak sulungnya.
Mengangguk mantap, Bara kemudian menatap sang Ayah dihadapan dengan helaan nafas panjang. "Apa lagi yang mau dipertahankan disini? Sahabat-sahabat aku nantinya juga akan pergi mengejar cita-cita mereka."
"Kamu tidak ada kekasih?" Melihat anak laki-lakinya tengah dilanda kesusahan, Firman yakin bukan hanya sekedar sahabat yang menjadikan pemuda itu seperti sulit meninggalkan Kota kelahirannya.
Bara terkekeh ringan dengan seulas senyuman dibibir manisnya. "Nggak ada." Ucapnya dengan singkat.
Firman mengangguk kemudian menepuk pundak Bara dengan pelan. "Semoga, ini awal yang baik buat keluarga kita ya." Ucapnya dengan senyum yakin bahwa semua akan baik-baik saja.
***
Lula menatap beberapa deret test pack yang langsung ia pakai secara bersamaan. Terhitung, ada 5 buah test pack yang ia letakkan diatas meja kecil didalam kamar mandi pribadinya.
Matanya berkaca-kaca, baru beberapa saat meluncurlah air mata sang gadis hingga nafas dirasa habis didalam tubuh yang bergetar. Pandangnya terus menatap sederet test pack dihadapan dengan mata yang teraliri air mata dengan deras.
Tubuh yang bergetar dirasa sangat lemas hingga untuk terus berdiri saja rasanya tidak sanggup. Tubuhnya terdorong kebelakang hingga terbentur tembok kamar mandi, kemudian merosot kebawah hingga terduduk dilantai berwarna abu-abu tersebut.
Tanpa berfikir panjang lagi, Lula langsung mengambil sebuah ponsel dari dalam saku celananya. Mencari sebuah nomor yang ia yakini adalah penyebab dirinya menjadi seperti ini.
"Bayu!" Pekik sang gadis ketika sebuah panggilan yang ia lakukan langsung diterima begitu saja oleh sang pemuda.
"Ada apa Lula?" Suara serak basah khas orang yang baru bangun tidur terdengar di gendang telinga sang gadis. Ditanya seperti itu, justru membuat Lula semakin terisak dengan cepat.
"Lula, ada apa?" Tanya Bayu yang sudah semakin sadar ketika mendengar gadis diseberang sambungan tengah menangis.
"Ba-Bayu..Gue..Gue...Gue hamil."
__ADS_1
BERSAMBUNG...