DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 35


__ADS_3

Menatap Bara dengan mata yang membulat sempurna. Bahkan gadis itu membuka mulutnya sedikit demi sedikit. Masih tanpa bersuara, gadis itu tiba-tiba mengeluarkan air matanya dengan lugas. "Lo mau pindah?" pungkasnya begitu tak percaya dengan penuturan sang pemuda.


"Jangan nangis." ucap Bara sembari menghapus air mata yang turun membasahi pipi gembul sang gadis.


Merasakan tangan kekar Bara hinggap di pipinya, tak memungkiri ada desiran hebat yang melanda hatinya saat itu terjadi. "Lo pindah karena menghindari Gue ya?" tanya Luna masih dengan isak yang sesekali terdengar. Rasa bersalah diam-diam menelisik hatinya hingga tak mampu membendung air matanya lebih lama lagi.


Bara menggeleng. "Enggak. Ini bukan karena Lo atau siapapun. Papa diminta Om Handoko buat mengurus perusahaan cabang di Amerika. Dan Gue rasa, nggak ada yang bikin Gue bisa bertahan disini. Jadi, buat apa?"


Semua ucapan Bara sungguh menghujam hatinya. Membuat sesak dihati semakin terasa menyakitkan keduanya. "Gue nggak tahu apa yang harus Gue lakuin." ucap Luna dengan suara yang hampir tersengal.


"Apa Gue harus minta Ayah buat merubah keputusannya? Gue tahu Ayah pasti sengaja kasih tugas Papa Lo ke Amerika."


Bara menggeleng lagi. "Enggak Luna. Lo nggak bakal bisa merubah keputusan Ayah Lo. Andai pun Ayah Lo mau merubah keputusannya, apa yang harus Gue lakuin disini? Tanpa Lo?"


"Tanpa Gue?" memandang nanar kepada pemuda dihadapan yang kini sudah menggenggam jemarinya.


"Lo satu-satunya orang yang bisa masuk ke hati Gue Lun. Lo satu-satunya orang yang bisa merubah Gue tanpa bersusah payah. Lo satu-satunya orang yang..yang..yang bisa bikin Gue bahagia tanpa syarat." pungkas Bara memandang sendu pada gadis dihadapan yang semakin terisak mendengar penuturannya.


"Setiap kali Gue lihat senyum Lo, bisa bikin hati Gue hangat Lun. Hati Gue nyaman sama Lo, aman sama Lo, Gue ngerasa bahagia setiap dengar tawa Lo."


"Bara! Stop!" ucap Luna dengan gelengan kepalanya.


"Gue mohon Lo jangan pergi. Kalau pun Gue bahagia Lo, kita bisa bahagia bersama."


"Bersama?" Bara terkekeh dengan ringan. "Gimana bisa kita bahagia kalau hati Lo bukan buat Gue?"


"Kita bisa jadi sahabat Ra!"


"Kita akan tetap jadi sahabat meski nanti Gue pergi ke Amerika. Lo akan bahagia disini bersama pilihan Lo."


Luna diam, isakan kecilnya hanya sesekali terdengar saat ini. Hati gadis itu semakin sakit ketika mendengar jawaban-jawaban sang pemuda.

__ADS_1


"Maaf." hanya itu yang bisa ia katakan untuk saat ini. Merengkuh erat tubuh sang pemuda dihadapan. Ini adalah kali pertamanya ia memeluk seorang pria. Hingga tidak tahu lagi perasaan apa yang sebenarnya merajai hatinya saat ini.


Bara memejamkan matanya sejenak ketika dipeluk sedemikian erat oleh gadis pujaannya. Gadis yang dengan jelas menolak dirinya demi cintanya pada sahabatnya sendiri. Bayu telah memenangkan segalanya. Taruhan yang sudah ia akhiri, juga hati sang gadis yang ia yakini adalah cinta pertamanya sendiri.


"Gue akan selalu cinta sama Lo." pungkas Bara untuk yang kesekian kalinya. Hingga Luna sendiri pun sampai hafal apa yang Bara katakan ketika bersamanya.


"Gue tahu itu."


Usai berucap, Luna melepaskan pelukan hangat yang ia rasakan untuk pertama kalinya. Rasanya, ingin merengkuh lagi dan lagi tubuh kekar dihadapan. Namun, ia tahan sebisa mungkin agar tidak semakin menyakiti hati sang pemuda.


"Luna, Gue boleh minta satu permintaan?"


"Apa?"


Dua netra beradu tatap. Saling memberi kekuatan pada masing-masing diri agar tak terlena terlalu jauh. Namun, pemuda yang sungguh menginginkan wanita dihadapannya ini terus meringsek mendekati wajah manis sang gadis yang masih terdiam tanpa melakukan penolakan apapun.


Malah, gadis itu memejamkan matanya ketika jarak mereka semakin terkikis dengan jelas. Bahkan, ketika sebuah ******* lembut hadir dibibir mungilnya, gadis itu benar-benar tidak menolak ataupun memberontak.


Biarlah gadis itu disebut wanita seperti apa yang sudah menerima dua bibir lelaki dalam waktu yang singkat. Ia hanya menuruti apa yang ada didalam hatinya, menuruti setiap ingin yang merajai jiwanya. Gadis itu, selalu menginginkan bara dalam setiap kesempatan. Selalu menginginkan hadirnya sang pemuda untuk terus menjaganya.


Namun mengapa justru hati wanita tersebut menyebut jika ia mencintai pemuda lain? Ataukah, hanya bibirnya saha yang berucap, namun hati berkata lain? Ataukah selama ini ia tidak pernah menuruti kata hatinya?


Sesaat berlalu, Luna kemudian melepaskan pagutan bibir mereka untuk mengambil oksigen. Nafas keduanya sama-sama memburu dengan deburan ombak yang ada dihati mereka. "Bara..Gue.." ucap Luna dengan terbata.


"Gue selalu suka cara Lo memandang." ucap Bara mendekatkan wajahnya kembali. Namun kali ini, ia tidak menginginkan bibir sang gadis. Ia kecup lembut kening sang gadis dengan hangat, sesaat terpejam menikmati harum aroma mint dari rambut hitam legam sang gadis.


"Terimakasih, untuk kenangannya. Gue minta maaf kalau seandainya nanti Lo tahu sesuatu yang menyakitkan. Tapi harus selalu ingat kalau Gue cinta Lo sampai nanti."


Bara meninggalkan Luna begitu saja tanpa penjelasan lebih dalam lagi. Membuat gadis itu memandang nanar kepergian sang pemuda dengan berbagai pertanyaan yang hadir dibenaknya.


"Kenapa Gue kayak gini." keluh sang gadis mendekap dadanya dengan kedua tangan. Tubuhnya begitu lemas dan bergetar dalam waktu yang bersamaan setelah kepergian sang pemuda dari hadapan.

__ADS_1


"Apa Gue jatuh cinta? Tapi....Bayu...?"


***


"Kenapa Lo jadi bingung sendiri sih? Jadi sebenarnya Lo itu suka nya sama siapa?" kesal Laras begitu mendengar cerita sang sahabat. Kedua gadis cantik itu kini tengah berada didalam kantin. Menikmati hangatnya 1 mangkok bakso dihadapan.


"Kalau Lo suka sama Bara, ya cegah dia pergi dong! Meski nantinya kalian udah nggak 1 sekolah lagi, kan tetap bisa ketemu setiap hari."


"Kalau Lo suka sama Bayu, ya suruh tuh cowok kasih kejelasan tentang hubungan kalian. Masa iya kalian saling cinta tapi tuh cowok masih nempel-nempel sama Lula?"


Luna terdiam menatap nanar pada Laras yang terus mengoceh ini dan itu kepadanya. Matanya terus menyorot sang gadis, namun pikirannya melayang entah kemana. Memikirkan dua pemuda yang sama-sama mencintainya. Dan ia yakin akan hal tersebut.


Namun sedetik kemudian, gadis itu mengubah ekspresi nanarnya menjadi ekspresi bingung. "Tadi Bara bilang, dia minta maaf kalau seandainya Gue tahu sesuatu yang nyakitin hati Gue. Apa ya?" ucapnya dengan tegas membuat Laras menghentikan ocehannya.


"Kenapa Lo nggak tanya Bara?"


"Gue takut mau nemuin Bara lagi." geleng sang gadis kemudian menculik bakso yang sedari tadi diam di kuah berwarna merah. Memasukan kedalam mulutnya kemudian mengunyah dengan perlahan.


"Kenapa takut?"


"Gue tuh ngerasa bersalah Ras!" kesal Luna kemudian membanting garpunya begitu saja. Tak mengerti mengapa sahabatnya itu terlalu lemot hari ini.


"Kayaknya Lo jadi lemot karena kebanyakan makan kue dari Leo ya?" ucap sang gadis membuat Laras terkekeh kecil.


"Gue nggak habis pikir sama Leo. Kenapa dia suka banget ngejar Gue. Padahal udah Gue tolak berkali-kali."


"Lo tahu nelayan?"


"Kenapa emang?"


"Nelayan tuh kalau mau nangkap ikan di laut, pasti pakai umpan yang banyak banget. Sampai disini harusnya Lo paham."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2