
Pulang sekolah, Lula justru sibuk mencari Bayu kesana kemari. Menemui dikelasnya, namun tidak ada. Mencari diruang osis, juga tidak ada. Saking kesalnya Lula, ia sampai menghentakkan kakinya dengan kencang dan terjadi berulang-ulang. Namun sesaat kemudian, ia merasakan keram yang sangat luar biasa sakitnya hingga membuatnya sedikit sulit untuk bernafas.
"Aduh!" pekiknya dengan kencang sembari memegang perutnya yang masih rata tersebut. Ia sampai lemas dan hampir saja ambruk jika seseorang tidak cepat datang menolongnya. "Lo kenapa?'' pekik sang pemuda.
"Kak Bara?" ucapnya menatap seseorang yang kini mendekapnya agar tidak terjatuh. Belum sempat Bara mengeluarkan suara kembali, gadis di dekapannya itu terlanjur pingsan. Hal itu tentu membuat Bara panik setengah mati. Bingung harus melakukan apa. Ingin membawa Lula langsung pulang kerumahnya, namun takut jika Handoko berpikir yang tidak-tidak.
"Lo apakan Lula?" bentak Bayu yang tiba-tiba datang menyela. Ia singkirkan tubuh Bara dari sisi Lula, kemudian menggendong gadis cantik tersebut lalu membawanya menuju ruang UKS tanpa mendengar apa penjelasan dari sahabatnya tersebut.
Bara hanya terdiam menatap itu semua. Bagaimana khawatirnya Bayu ketika Lula jatuh pingsan di dekapannya. Teringat pada nasib hati seorang gadis yang sejak awal mengenalnya sudah sangat ia jaga. Pasti akan hancur berkeping-keping ketika melihat betapa Bayu sangat mencintai Lula. Ataukah, itu hanya pandangan Bara seorang?
Suara sayup-sayup terdengar dibelakangnya, memanggil dengan pelan. "Bara!"
Ketika menoleh, ia mendapati gadis yang ia pikirkan beberapa saat yang lalu tengah berjalan ke arahnya. "Luna? Ada apa?"
"Lo lihat Bayu?" tanya sang gadis langsung pada inti tujuannya.
"Mau apa cari Bayu?" Ketua Osis tampan itu justru balik bertanya dengan suara yang lembut. Menatap dengan lirih.
"Mau ngobrol sebentar sama dia. Kebetulan Lula juga belum kelihatan."
Menghela nafas berat untuk sesaat. Bara kemudian berucap, "Bayu di UKS sama Lula. Tadi kembaran-mu itu pingsan."
Luna membulatkan matanya dengan syok ketika mendengar pernyataan sang pemuda. "Pingsan!? Kenapa?" pekiknya dengan tertahan. Bayangan-bayangan tentang murkanya seorang Ayah langsung melintas di angannya ketika anak kesayangannya jatuh pingsan tanpa ia tahu.
"Gue nggak tahu, tadi Lula pegang-pegang perut. Mungkin sakit karena belum makan." pungkas Bara memberikan opininya. Melihat Luna yang hendak pergi, Bara segera menahan lengan sang gadis. Memberhentikan langkahnya untuk sejenak.
"Luna, Lo harus selalu ingat apa kata Gue."
"Iya, Gue akan selalu ingat. Lo akan selalu cinta sama Gue kan? Terimakasih ya." ucap Luna dengan cepat dan senyum merebak diwajahnya. Setiap mendengar itu, hati Luna terasa sedih sekali.
__ADS_1
"Suatu saat nanti, kalau Lo tahu sesuatu yang menyakitkan, Lo harus maafin Gue." ucap Bara dengan sebuah paksaan.
Luna diam, menimbang dengan bimbang apa maksud ucapan sang pemuda. "Kenapa bukan Lo yang kasih tahu Gue? Kenapa harus nunggu orang lain yang kasih tahu Gue?"
"Gue nggak bisa. Maafin Gue. Jaga diri Lo baik-baik ya." mengusap pelan puncak kepala sang gadis. Kemudian, pemuda itu beranjak pergi meninggalkan sang gadis seorang diri. Beberapa hari ke depan ia tidak akan menemui sang gadis. Karena ia yakin, pasti setelah ini Luna akan tahu dari Bayu, atau bahkan Leo, jika sejak awal bertemunya mereka adalah karena taruhan semata. Namun demikian, cinta yang Bara miliki tulus melebihi cinta pemuda itu pada dirinya sendiri. Meski pula pada akhirnya ia harus meninggalkan sang gadis pergi jauh, membiarkan gadis itu mengejar cintanya sendiri.
Sedang Luna, menatap kepergian Bara dengan nanar. Masih memikirkan apa maksud sang pemuda tersebut. Hingga ia berpikir, jalan satu-satunya yang harus ia tempuh adalah menemui Bayu kemudian bertanya kepada pemuda tersebut.
Melenggang, memaksa kaki untuk terus berjalan menuju sebuah ruang UKS yang berada tak jauh dari tempatnya berbincang dengan Bara beberapa saat yang lalu. Saat ia hendak memutar handle pintu berwarna putih tersebut, niatnya harus terhenti ketika mendengar sebuah suara dari dua sosok manusia yang berada didalam ruangan tersebut. Seperti tengah berbicara dari hati ke hati.
"Kak, Gue tahu Luna itu suka sama Lo." pungkas seorang gadis yang Luna yakini bahwa itu adalah suara saudaranya sendiri.
"Iya, Gue tahu."
"Kita harus segera bicara sama Ayah."
Jantung Luna berdegup dengan kencang. Seperti genderang mau perang. Ia sampai memegang dadanya untuk menetralkan detak jantungnya agar tidak berlebihan hingga membuatnya terbatuk. Takut jika Lula mendengarnya dan mengetahui jika dirinya sudah berada dibalik pintu UKS. Mendengar perbincangannya dengan Bayu.
Tak mau menunggu lama, Luna langsung menarik pintu tersebut hingga terbuka lebar lalu memanggil sosok pemuda yang memunggunginya. "Kak Bayu!"
Lula terhentak dengan sangat. Jantungnya ikut berdetak dengan kencang ketika mendengar suara siapa yang kini ada dihadapannya. Apakah Luna mendengar semuanya?
"Luna! Sejak kapan Lo disini?" hentak Lula menatap saudaranya dengan mata melebar.
"Baru saja."
Bayu menggelengkan kepalanya kearah Lula, memberi kode agar gadis itu tidak melanjutkan acara marah-marahnya. Kemudian, pemuda tampan yang sudah terjerat oleh kondisi Lula itu melangkah mendekati Luna. "Ada apa?" tanyanya dengan lembut.
"Gue mau bicara. Berdua." pinta Luna tak mau menatap saudara kembarnya yang jelas tengah melotot menatapnya.
__ADS_1
Bayu mengangguk, kemudian menggandeng tangan Luna untuk keluar dari ruangan bernuansa putih tersebut.
Lula hanya bisa memandang kepergian Bayu dan Luna dengan jengkel. Ia masih terduduk diatas ranjang UKS, tidak mau pula mengikuti langkah kaki sang saudara. Takut jika Luna curiga lalu mengadukan semuanya pada sang Ayah. Tidak, itu tidak sesuai dengan rencananya yang akan memberitahu Handoko usai Ujian Sekolah berlangsung. Dan itu masih membutuhkan waktu beberapa hari ke depan.
***
Bayu menatap Luna dihadapannya yang masih terdiam seribu bahasa. Dua manusia itu kini berada disebuah taman utama yang masih terlihat lengang oleh para siswa atau siswi meski bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa saat yang lalu.
"Mau ngomong apa?" tanya Bayu membuka topik obrolan mereka siang ini.
"Kak, Lo menghindar ya dari Gue? Kenapa?" ditanya seperti itu tentu Bayu hanya bisa menghela nafas panjang. Bukan keinginannya untuk menjauhi gadis cantik dihadapannya ini, hanya saja ia harus melakukan itu.
"Gue sibuk Luna. Ngurusin ini dan itu sama Bara." jelas Bayu dengan sabarnya.
"Bara mau pindah ke Amerika. Selain menyiapkan tentang Ujian Nasional, Gue juga menyiapkan dokumen-dokumen kepindahan Bara."
"Bara bilang, ada sesuatu yang dia sembunyikan dan Lo tahu itu Kak. Kasih tahu Gue sekarang!" pinta Luna dengan tegasnya. Tak mau menye-menye lagi dengan menanyakan mengapa Bayu menjauhinya.
"Beberapa hari lagi. Lo akan tahu semuanya. Tentang Bara, tentang Gue, dan tentang Leo. Gue nggak mau Ujian Lo terganggu."
Luna menghela nafas jengkel. Tidak Bara, tidak juga Bayu, semuanya menyembunyikan sesuatu darinya. Haruskah ia bertanya pada Leo?
"Luna!" teriak seorang gadis dari kejauhan. Melambai-lambaikan tangannya agar dapat dilihat oleh Luna dan Bayu.
Kemudian, gadis yang memanggil Luna tersebut berlari kecil menghampiri gadis cantik yang masih memakai aksen poni di dahinya tersebut yang masih terdiam bersama Bayu. "Lo dicari sama supir Lo. Tadi Gue nunggu jemputan, dia nanyain ke Gue." ucap Laras dengan nafas tersengal karena berlari jauh dari gerbang utama menuju tempat Luna saat ini.
"Iya, ini juga mau pulang." pungkas Luna. Kemudian gadis itu menatap Bayu tanpa berucap apapun, setelahnya Luna beranjak meninggalkan pemuda itu seorang diri.
Hati gadis itu masih bergemuruh hebat melihat kedekatan Bayu dan Lula didepan matanya. Apalagi, saat Lula mengatakan bahwa mereka akan menghadap Handoko berdua. Apa yang mau mereka lakukan? Bayangan-bayangan tak masuk akal terus menyelinap di angan-angan gadis tersebut.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan lupa baca Novel baru Author yang berjudul "MENGEJAR CINTA CEWEK GALAK!" tingkyu ❣