
Masih dengan mendung yang selalu menaungi wajah seorang gadis manis yang kini tengah berada didalam kamarnya. Berdiam diri memandangi wajahnya didepan cermin. Betapa mata yang terlihat sangat sembap akibat menangis semalaman penuh sejak kemarin sore hingga siang ini.
Sungguh, gadis itu merasa betapa kebahagiaan begitu sulit ia raih walau sejengkal saja rasanya. Entah mengapa ia selalu merasa bahwa hidup memang sedemikian kejam untuknya. Mungkin jika bisa dikatakan beruntung, itu hanya ekonominya saja sebab Handok adalah pemilik perusahaan ternama di Negeri tersebut. Bahkan Ayah dua anak tersebut sudah mendirikan beberapa cabang perusahaan, salah satunya adalah perusahaan yang akan dikelola oleh Firman, Ayah dari pemuda yang ia ketahui kini sudah melupakan dirinya.
Gadis itu tersenyum masam ketika melihat foto profil di aplikasi hijau dalam ponselnya milik sang pemuda sudah tidak ada lagi. Tidak akan ada lagi wajah yang akan ia pandangi setiap malam. Setiap pagi. Siang. Sore. Bahkan setiap waktu, hanya setiap waktu saat gadis itu merasakan rindu yang luar biasa hebatnya.
"Gue nggak tahu lagi harus gimana." lirih sang gadis sembari menopang dagunya dengan tangan. Sorot mata gadis itu begitu kosong dengan helaan nafas berkali-kali. Ingin menangis rasanya, tetapi air mata dirasa sudah tidak sanggup untuk keluar lagi.
"Luna!" hentak Handoko membuka pintu kamar sang gadis dengan tiba-tiba. Membuat gadis pemilik kamar itu melonjak kaget dari tempat duduknya.
"Ayah? Bikin kaget aja! Kenapa?"
Handoko melangkah menuju kursi disebelah sang gadis. Tempat ternyaman gadis itu adalah balkon kamar. Bukan lagi pelukan seorang Ibu yang sudah tiada dan tidak bisa lagi ia rasakan.
"Libur sekolah kamu mau kemana? Ayah akan ambil cuti buat temani kamu kemanapun kamu mau." ucap Handoko dengan yakin. Tentu saja hal ini membuat Luna tersenyum senang. Seumur hidup ia bersama Handoko, sama sekali tidak bisa menentukan tempat mana yang ingin ia kunjungi. Hanya bisa angkat ikut atas apa keputusan Lula, saudara kembarnya.
"Ayah, benar Ayah akan mengabulkan keinginan Luna kemanapun itu?" tatap sang gadis dengan sorot mata penuh harap. Namun...
"Kecuali bertemu Bara!" putus Handoko membuat helaan nafas kecewa langsung terdengar dari bibir Luna.
"Kalau gitu Luna dirumah aja." pungkas sang gadis kembali menangkup wajahnya dengan kedua tangannya kembali.
Mendengar penuturan anak gadisnya membuat Handoko merasa bingung. Selama ini tidak pernah menanyakan ingin kemanakah anak gadisnya ini ketika libur sekolah telah tiba. Tapi sekalinya ia bertanya, mengapa membingungkan?
"Luna, Bara itu kondisinya masih belum sadar. Dia koma Nak." ucap Handoko mencoba menjelaskan mengapa ia menolak untuk mempertemukan Bara dan Luna.
"Kalau Bara koma, kenapa Ayah bisa tahu Bara lupa ingatan?"
Menghela nafas sejenak, Handoko kemudian menceritakan bagaimana saat Firman menghubunginya lalu bercerita tentang kondisi Bara yang sempat sadar namun tidak bisa mengenali siapa nama dan siapa Ayahnya.
__ADS_1
Dari cerita tersebut, otak Luna segera berputar dengan cepat. "Barangkali Bara kalau lihat Luna langsung ingat?" harap sang gadis menatap sang Ayah dengan binar-binar pengharapan. Membuat Handoko terkekeh sejenak.
"Tidak ada yang tidak mungkin sebenarnya. Tapi, kalau dipikir-pikir, saat ini Bara masih koma. Kalau kita kesana, percuma juga Luna."
"Mending kita berdoa aja buat semua proses yang dilalui Bara. Dan juga, sebenarnya Ayah belum tahu dimana Bara berada." pungkas sang Ayah sembari menghela nafas panjang.
"Ayah hanya berpesan kepada Firman untuk memberikan yang terbaik kepada Bara apapun itu."
"Kenapa Ayah sedemikian perhatian kepada Bara dan Om Firman?"
"Karena sebab Ayahlah mereka kecelakaan Luna. Karena Ayah yang menyuruh Firman untuk mengajak Bara pergi dari Negeri ini. Dari Kota ini."
Luna mengangguk resah. Paham dengan apa yang dikatakan oleh sang Ayah dihadapan.
Hingga sesaat kemudian, keduanya terdiam. Saling sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kalau kita ketempat Lula, apa Ayah mau?'' tanya Luna dengan tiba-tiba. Membuat lamunan Handoko terbuyarkan.
Gadis dihadapan Handoko itu menggeleng lirih. "Luna pikir Ayah tahu dimana Lula."
"Ayah sudah akan melupakan dia. Ayah sudah menyerahkannya kepada Bayu. Pasti dia akan lebih bahagia bersama lelaki brengsek itu."
"Kalau Ayah aja bilang Bayu adalah lelaki brengsek, terus kenapa Ayah lepasin Lula bersama lelaki brengsek itu? Ayah rela kalau Lula kenapa-napa nantinya?" ucap Luna menaikkan satu oktaf suara bicaranya.
Handoko berdiri sembari menghela nafasnya dengan panjang. Sebelum berucap, pria paruh baya itu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya, menatap lurus kedepan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Saat pertama kali Bayu mengakui semua perbuatannya kepada Ayah, saat itu juga Ayah sadar besarnya tanggung jawab Bayu untuk semua kesalahan yang ia lakukan bersama Lula. Dan Ayah yakin dia juga akan bahagia bersama Bayu."
"Entah apapun yang akan terjadi nanti, semoga dia akan selalu bahagia dengan pemuda pilihannya. Dengan apa yang akan menjadi keputusannya."
__ADS_1
"Dan kamu Luna," menatap anak gadisnya yang masih duduk dikursi balkon, menatapnya dan mendengarkan dengan seksama.
"Suatu saat nanti, kalau kamu sudah lulus dari SMA Labschool, kamu bisa melanjutkan kuliahmu dimanapun kamu mau. Atau, kamu bisa pergi ke Rusia."
"Rusia? Untuk apa kesana Yah?"
"Disana ada cabang perusahaan Ayah. Kamu bisa kuliah disana sambil sesekali mengurus perusahaan Ayah."
Gadis itu mengangguk lesu. "Mungkin nanti libur sekolah selanjutnya Luna akan coba kesana. Kalau untuk saat ini, Luna belum ada keinginan untuk kemana-mana." pungkas sang gadis.
"Baiklah, Ayah mengerti. Maafkan Ayah belum bisa mengabulkan keinginan kamu ya." tanggap Handoko sembari tersenyum kecil, mengelus puncak kepala sang anak kemudian beranjak pergi dari kamar anak gadisnya dengan helaan nafas panjang.
"Tuhan, bantu aku untuk melupakan semuanya." lirih Luna dalam tangisnya yang tak terbendung lagi. Sungguh, untuk saat ini ia hanya ingin melupakan semuanya. Semuanya. Sekaliclagi, semuanya. Sebab, tidak ada lagi harapan apapun yang ia harapkan dari siapapun. Ia jatuh, lalu harus berdiri kembali dengan semangatnya sendiri, dengan upayanya sendiri. Tidak akan ada seorang pun yang mampu membantunya dalam melakukan apapun itu. Termasuk menyembuhkan lukanya sendiri.
***
Hari ini adalah hari dimana Lula akan bertemu dengan orang tua Bayu. Orang yang sebelumnya tidak pernah ia temui, bahkan berpikir akan menemui pun tidak sekalipun terlintas dalam benak sang gadis.
"Kita berangkat ya." ajak Bayu yang kini sudah bersiap dengan pakaiannya yang sudah rapi, melekat ditubuh gagahnya. Menggandeng tangan calon istrinya untuk menuruni anak tangga secara perlahan, kemudian sesekali ia mengajak Lula bercengkrama ringan.
"Kenapa diam saja?" tanya Bayu sembari menangkup wajah sang gadis dengan sebelah tangannya. Pipi gadis itu semakin chubby saja seiring dengan perkembangan janin didalam perutnya.
"Aku takut Kak." pungkas Lula semakin mengeratkan pegangan tangannya dilengan sang pemuda. Padahal, mereka baru hendak mau turun dari Apartemen menuju tempat dimana mobilnya berada.
"Jangan takut. Aku kan sudah bilang Ayah sama Ibu itu baik. Mereka pasti bisa menerima keadaan kita." ucap sang pemuda mencoba menenangkan gadis disebelahnya tersebut.
"Kalau Ayah sama Ibu tidak setuju sama hubungan kita gimana Kak?" terus merajuk dengan pikiran-pikiran yang begitu menyeramkan bagi sang gadis. Membuathelaan nafas kesal sedikit terlontar dari bibir sang pemuda.
"Lula, aku kan sudah bilang jangan mikir yang aneh-aneh! Yang penting kita kesana dulu, entah nanti endingnya bagaimana yang jelas, aku nggak bakal ninggalin kamu sendirian. Paham itu?" pungkas Bayu menatap tegas kearah sang gadis yang hanya bisa mengangguk pasrah.
__ADS_1
'Semoga ini yang terbaik Tuhan.'
BERSAMBUNG...