DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 20


__ADS_3

"Bara! Bayu!" Teriak Leo ketika mendapati dua sahabatnya tengah baku hantam diatas rooftop tempat basecamp mereka biasa menghabiskan waktu.


"Astag, berhenti!" Ucap Leo sembari terus meringsek kearah Bayu dan Bara. Berdiri ditengah kedua sahabatnya, kemudian melerai sekuat tenaga agar kedua pemuda tampan itu terpisah. Darah sudah mengalir dari pelipis Bayu, dan juga mengalir dari sudut bibir Bara.


Leo menghela nafas ketika kedua sahabatnya sudah berhenti saling memukul, sama-sama terengah hebat akibat pergulatan yang terjadi.


"Kalian gila ya berantem diarea Sekolah? Kalian punya jabatan apa sih di Sekolah sampai berani berantem kayak gini?" Cecar Leo dengan dada yang masih kembang kempis.


"Kalian berantem karena apa sih? Karena Luna? Cewek itu? Parah banget!"


"Semenjak kenal Luna, kalian jadi berubah kayak gini! Nyesel Gue pernah ngadain taruhan sampah kayak gini!"


Baik Bayu maupun Bara tak mengeluarkan suara sama sekali, sebelum akhirnya mereka sama-sama pergi meninggalkan Leo sendirian.


Yang ditinggal hanya menatap kepergian sahabatnya dengan raut wajah yang dongkol. Merasa tak berguna ia datang untuk melerai, jika tahu begitu bukankah lebih baik ia tinggalkan saja kedua pemuda yang tengah bergulat beberapa waktu yang lalu?


***


"Luna! Lo cari siapa?" Ucapan Laras yang langsung menepuk pundak Luna membuat sang gadis terlonjak kaget.


"Gue nyari Bara. Mau minta ajarin piano lagi. Dia udah janji mau ajarin Gue sampai bisa dan luwes."


"Bukannya Lo tadi dibawa Bara pergi?" Heran Laras dengan kening bertautan.


"Iya, tapi tadi dia sama Bayu. Gue tinggal gitu aja." Setiap mendengar atau mengucap nama Bayu, hati Luna berdesir hebat. Bayangan kala bibirnya dicumbu begitu mesra langsung terlintas begitu saja.


"Hai!" Pekik seorang pemuda disebelah Luna.


Kedua gadis itu langsung membulatkan matanya dengan sempurna. "Astaga! Bayu! Lo memar?" Pekik Luna dan Laras secara bersamaan.


"Iya, tadi ada kesalahpahaman kecil aja kok."


"Lo berantem sama Bara ya?" Tanya Laras, membuat Luna kembali menatap Bayu dengan seksama. Menanti jawaban sang pemuda tampan.


"Iya, nggak apa kok, nanti juga sembuh."


"Kenapa Lo berantem sama Bara?" Kali ini, Luna membuka suaranya.

__ADS_1


Bayu terdiam sembari terus menatap Luna. Merasa bingung, akankah ia jujur pada Luna jika ia sudah memberitahu Bara tentang hal yang membuatnya diberi bogeman mentah oleh sang sahabat?


"Lo kok diam aja sih! Jawab dong!" Kesal Laras karena Bayu terus menatap Luna tak berkedip.


"Lo mau main piano kan? Ayo, Gue yang ajari Lo kali ini." Ucap Bayu mengalihkan topik pembicaraannya agar tak dicecar berbagai pertanyaan.


"Tapi luka Lo harus diobati dulu."


"Lo yang obati ya," Menggandeng tangan Luna sembari tersenyum manis, Bayu kemudian membawa sang gadis menuju ruang UKS untuk membersihkan lukanya agar tak infeksi dan menyebabkan lebam lebih lama.


Laras yang melihat bagaimana Bayu berinteraksi dengan Luna benar-benar muak. Merasa, apa yang Bayu lakukan terlalu manis kepada Luna. Namun, bukankah saat seseorang jatuh cinta sikapnya memang begitu membuai?


Sama seperti yang dilakukan seorang pemuda kepadanya.... "Laras! Nanti malam dinner ya!" Ucap Leo yang sudah berada disebelah sang gadis, entah sejak kapan.


"Gue nggak mau!" Ucap Laras dengan kesal kemudian beranjak menuju kelasnya.


***


Setelah membersihkan luka di wajah Bayu, kedua insan tersebut bercengkrama ringan diruang UKS. Sesekali tawa terdengar dari luar ruangan. Membuat seorang pemuda yang hendak memasuki ruangan tersebut mengurungkan niatnya.


"Itu suara Luna kan? Sama siapa dia?" Gumam Bara berhenti disisi pintu ruangan agar tak terlihat dari dalam.


"Bara?"


Yang dipanggil langsung mendongakkan kepalanya begitu suara sang gadis terdengar.


"Luna?"


"Lo ngapain diluar? Ayo, Gue bersihkan sekalian luka Lo." Ucap Luna dengan polosnya. Bara menatap wajah Luna, kemudian beralih menatap bibir kemerahan yang baginya sangat mungil tersebut.


Merasa kalah start dengan Bayu, hingga bibir yang selalu ingin ia kecup itu didahului oleh pemuda lain. 'Sialan!' Maki Bara pada dirinya sendiri.


"Gue bisa sendiri." Ucap Bara kemudian beranjak memasuki ruangan ketika terlihat Bayu sudah keluar dan berdiri disebelah sang gadis yang membuatnya sangat kecewa.


Ucapan Bayu yang memberitahunya bahwa Luna hanya diam saja saat dikecup oleh Bayu membuatnya kembali merasa kecewa. "Kenapa semudah itu?" Gumamnya dengan pandangan yang kosong menatap sebuah kapas dihadapan.


"Lo kenapa bisa berantem sama Bayu?" Ucapan Luna kembali terdengar ditelinganya. Ia menoleh, mendapati sang gadis sudah berada dihadapannya. Mengambil kapas kemudian memberikannya tetesan betadine.

__ADS_1


Ingin menyentuhkan kapas berlumur betadine tersebut kearah luka Bara, namun langsung ditepis oleh sang pemuda. "Gue bisa sendiri."


Mengambil kapas dari tangan Luna kemudian berkaca untuk membersihkan luka diwajahnya, membuat gadis dihadapan menghela nafas panjang.


"Lo kenapa berantem sama Bayu?" Ucap Luna kembali mengulang pertanyaannya untuk yang kedua kalinya. Menatap Bara dengan sendu dan khawatir.


"Peduli apa sih Lo?" Ketus Bara tak menatap pada Luna.


"Ya Gue peduli, Lo bilang kita sahabat."


Bara terkekeh sembari membuang kapas yang baru saja ia gunakan untuk membersihkan wajahnya. "Ya! Kita sahabat!" Ucapnya dengan tegas kemudian beranjak meninggalkan Luna di ruangan serba putih tersebut.


"Kenapa sih dia?" Gumam sang gadis menatap kepergian Bara dengan bingung.


Sedang pemuda yang baru saja keluar dari ruangan tersebut kembali menghentikan langkahnya ketika mendapati Bayu berdiri dihadapannya. "Kenapa? Nggak terima ya?" Ucap Bayu dengan raut wajah mengejek.


"Bukan urusan Gue!" Ketus Bara kemudian meninggalkan sang sahabat dengan dada yang kembali kembang kempis.


***


Leo datang kerumah Laras dengan percaya dirinya hingga berani menemui kedua orangtua sang gadis. Memberi salam, kemudian berbincang ringan, hingga akhirnya meminta ijin untuk membawa Laras berjalan-jalan mengelilingi jalanan yang luas dimalam hari.


"Silahkan Nak, kamu boleh bawa Laras jalan-jalan. Tapi, ingat waktu ya!" Ucap pria paruh baya itu yang memang terkenal sangat ramah pada siapapun


"Pasti Om, Leo akan selalu jaga Laras. Terimakasih Om."


Laras yang melihat interaksi antara Leo dan kedua orangtua nya hanya berpura-pura ikut tersenyum ketika obrolan mereka mengundang tawa renyah sang pemuda dengan orangtua nya.


Merasa jengah dengan kepura-puraan tersebut, Laras akhirnya membawa Leo keluar dari rumahnya dengan beralasan agar tak terlalu malam saat pulang nanti.


"Berani banget Lo kerumah Gue? Gue kan udah bilang sama Lo, Gue nggak mau dinner sama Lo!" Ucap Laras begitu ia dan Leo sudah sampai didepan mobil sang pemuda.


"Kenapa sih? Semua wanita di Sekolah aja menginginkan Gue. Clara bahkan. Kenapa Lo malah nggak mau sama Gue? Hm?"


"Karena Gue bukan Clara ataupun satu dari semua wanita yang Lo sebut tergila-gila sama Lo!"


Leo terkekeh kecil mendengar kekesalan sang gadis. Ia kemudian mencubit kecil hidung mancung Laras sembari berucap, "Gue udah bilang, sampai kapanpun Gue akan tetap kejar Lo sampai Lo mau sama Gue."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2