DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 26


__ADS_3

Niat hati yang masih terpuruk ingin meninggalkan kantin ketika melihat seorang gadis yang membuat hatinya terpuruk memasuk kantin dengan sang sahabat. Namun, Bara mengurungkan niatnya tersebut karena melihat wajah sembab sang gadis pujaan.


"Luna, Lo kenapa? Nangis?" Tanyanya begitu ia sudah berlari dan tiba dihadapan sang gadis yang terduduk dipojok kantin. Sedang yang ditanya hanya diam saja tak menjawab, kemudian Bara beralih menatap Laras yang hanya mengangkat bahunya pertanda ia tidak tahu apa-apa.


Kemudian, sorot matanya melihat Lula bersama dua sahabatnya tengah tertawa dengan lebar menuju arah kantin. "Lo disakiti Lula?"


Luna menatap Bara yang juga tengah menatapnya. Kemudian, ia berucap... "Ayah nggak kasih ijin aku buat ikut lomba." Ucapnya dengan lirih.


Teringat bagaimana saat sarapan beberapa saat yang lalu sudah selesai, saat ia belum berangkat menuju Sekolah. Saat dimana Handoko tiba-tiba mengatakan bahwa pria paruh baya berubah pikiran dan tidak menyetujui Luna untuk mengikuti lomba apapun.


Tentu Luna dengan sangat syok hanya bisa menuruti permintaan Handoko yang sama sekali tak pernah bisa ia bantah.


"Gimana bisa? Lomba itu yang bakal mengharumkan nama Sekolah. Ayahmu harusnya bangga dong Lun." Ucap Laras membuka suara, masih terus mengelus punggung tegap sang sahabat.


"Gue juga nggak tahu." Geleng Luna menundukkan pandangannya.


"Lo bisa bantu Gue?" Tatap Luna mengharap pada Bara. Gadis itu memegang tangan kekar sang pemuda dengan penuh harap.


"Bantuin Gue Bara, Lo kan kenal sama Ayah."


Bara menghela nafas panjang, menatap sorot mata Luna yang penuh harap kepadanya sungguh membuat Bara tak kuasa untuk menolak.


"Iya, Gue bantuin Lo buat bilang sama Om Handoko."


"Terimakasih ya Bara." Senyum kini terlukis di wajah manis Luna. Membuat Bara juga ikut melukiskan senyum hangat di wajah tampan.


***


Sesuai janji yang sudah disepakati oleh Luna dan Bara. Hari ini sang pemuda akan mengantar pulang sang gadis untuk membujuk Ayah dari sang gadis agar berubah pikiran kembali.


Lula yang melihat Luna pulang bersama Bara mengernyitkan keningnya bingung. Bagaimana bisa gadis itu dengan beraninya pulang bersama seorang pemuda?


Tak mau ambil pusing, Lula segera menyuruh sang sopir untuk pulang mengikuti jejak Luna dan Bara yang sudah terlebih dulu membelah jalanan ramai disekitar.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama bagi Luna dan Bara untuk berada di jalanan. Meskipun macet melanda, namun bagi Bara yang membawa sebuah sepeda motor bukanlah hal yang bisa menghambat perjalanannya. Sedang Lula yang berada didalam mobil justru terjebak diantara kerumunan macet yang tiada habisnya.


"Luna!" Hentak Handoko berlari menghampiri anak gadisnya dengan raut wajah yang marah.


"Ayah?"


"Kamu kenapa pulang sama Bara? Hah! Dimana Lula?" Ucapnya terus dengan hentakan yang sama. Penuh emosi membara. Merasa, anak gadisnya itu sudah melanggar larangannya selama ini.


"Om, saya kesini mau meminta Om untuk merubah pikiran Om tentang lomba yang akan diikuti oleh Luna Om. Itu lomba bersejarah nantinya Om, akan membanggakan Sekolah juga nama Luna sendiri. Bisa jadi nanti Luna bisa ikut lomba di kancah internasional kan Om?" Ucap Bara menengahi kemarahan Handoko yang bertubi-tubi menyerang Luna.


"Tidak! Kalau saya membiarkan Luna mengikuti lomba itu, sama saja saya membiarkan Luna jatuh ke pelukan kamu atau temanmu yang bernama Bayu itu."


Bara mengernyit tak mengerti. "Maksud Om?"


"Kamu dan temanmu itu bergilir mengajari Luna bermain musik kan? Pasti kalian ada maksud tertentu. Iyakan?"


"Lula bilang sesuatu?" Sela Luna menatap Ayahnya dengan nanar.


"Ya. Lula bilang kalau kamu dan kedua pria ini selalu dekat karena lomba itu dengan dalih berlatih alat musik."


"Om kenal Ayah saya. Om kenal keluarga saya. Apa pernah ada kabar buruk dari keluarga saya Om?" Ucap Bara mencoba menjelaskan maksud dan tujuannya.


"Saya ketua osis di Sekolah, dan Bayu adalah wakilnya. Memang bukan tugas ketua osis ataupun si wakil untuk membantu junior berlatih ini dan itu. Tapi ini tentang lomba Om, membawa nama Sekolah. Siapapun yang akan mengikuti lomba ini akan mendapat perhatian khusus agar bisa belajar dengan leluasa. Begitupun Luna. Baik saya maupun Bayu itu murni hanya untuk membantu Luna. Om bisa pegang janji saya. Saya pastikan tidak akan ada apapun dengan Luna. Baik dengan saya maupun dengan Bayu."


Handoko menatap Bara yang terus berkata panjang lebar dihadapannya. Dari sorot mata sang pemuda, tidak ada keraguan saat berucap, maupun kebohongan saat menatap. Pemuda itu jujur apa adanya.


"Kalau sampai kamu berbuat macam-macam dengan anak saya, saya pastikan keluarga kamu hancur ditangan saya. Begitu juga temanmu itu." Ucap Handoko dengan tajam, membuat Bara mengangguk yakin.


"Sudah, Luna akan mengikuti lomba sampai selesai." Lanjut Handoko dengan menghela nafas kesal, kemudian tanpa berucap apapun ia langsung menggandeng tangan sang anak untuk memasuki rumah besar miliknya.


Luna yang tidak berucap apapun hanya menolehkan kepalanya kearah Bara berada. Tersenyum senang sembari mengacungkan jempolnya dengan bahagia karena tidak sia-sia meminta bantuan pada Bara.


Mungkin besok saja saat di Sekolah, ia akan berbicara dan berterimakasih dengan sang pemuda.

__ADS_1


Bara ikut tersenyum menatap kepergian Luna bersama Handoko. Menganggukkan kepalanya ketika jari jempol Luna terlihat dipelupuk matanya. Ikut merasa senang karena akhirnya gadis pujaannya itu bisa mengikut lomba yang sangat didamba.


Tak apa jika pada akhirnya, gadis itu tidak jatuh hati kepadanya. Asal, dia bisa membuat sang gadis berbahagia dengan apa yang ia lakukan untuk sang gadis.


***


Lula menghentakkan kakinya dengan kesal ketika mendapati fakta bahwa Handoko sudah kembali merubah pikirannya untuk memberi ijin pada Luna mengikuti lomba.


Sia-sia sudah usahanya untuk menjauhkan Bayu dan Luna.


"Ayah? Kenapa percaya banget sama Bara?" Ucap Lula meletakkan bukunya diatas meja kemudian beringsut mendekati orangtua-nya.


Malam ini, usai menyelesaikan makan malamnya Lula kembali mendekati Handoko untuk menghasut sang Ayah agar berubah pikiran kembali.


"Ayah kenal sama keluarga Bara."


"Tapi Yah, kalau orang mau dekat-dekat kan emang semua cara harus dilakukan."


"Sudah Lula, kamu jangan khawatir. Nanti Ayah yang akan bertanggung jawab karena memang Ayah adalah orangtua kalian. Ayah mengenal keluarga Bara, pasti Ayah akan berbuat sesuatu jika Bara terbukti jahat kepada Luna. Tadi, Bara datang ke Ayah dan bilang ini dan itu. Ayah jadi berpikir, makanya Ayah kasih ijin Luna buat ikut lomba."


Lula mengangguk kecil sembari menghela nafas kesal.


"Apa kamu mau ikut lomba juga?" Lanjut Handoko. Pertanyaan yang justru membuat Lula langsung menggeleng dengan cepat.


"Aku nggak tertarik sama musik Yah."


"Mungkin di Sekolah ada lomba yang lain Nak? Kamu bisa ikut buat mengisi waktu kosong. Biar nggak kangen terus sama Ibu. Biar bisa buat bangga Ayah dan Ibu."


Sekali lagi, Lula hanya mengangguk kecil sembari tersenyum gamang. "Iya Yah, nanti Lula akan cari tahu info tentang lomba-lomba."


Handoko tersenyum hangat kemudian mengecup puncak kepala sang anak dengan rasa sayang. "Ya sudah, masuk ke kamar dan istirahat."


"Selamat malam Ayah."

__ADS_1


"Selamat malam Lula."


BERSAMBUNG...


__ADS_2