
Sesaat setelah kepergian Luna yang dibawa oleh Bara, kantin tersebut kembali dihebohkan dengan kepergian Lula dan juga sang wakil ketua osis. Banyak desas desus tak mengenakan yang membawa nama duo kembar merebak di seluruh antero sekolah.
Yang satu bisa menjerat seorang ketua osis, yang satunya lagi bisa menjerat wakil ketua osis. Dua pemuda yang digadang-gadang sangat berprestasi, juga paling banyak dicari bahkan dari kalangan wanita tersebut kini telah luluh kepada dua gadis kembar yang bahkan baru beberapa bulan memasuki sekolah terfavorit tersebut.
Kini, hanya ada Leo dan juga Laras dimeja bundar tersebut. Didalam riuhnya suasana kantin yang sangat ramai, ingin sekali ia meninggalkan meja kantin dan pergi ke kelasnya jika saja makanan yang ia pesan belum datang sama sekali.
Sayangnya, kini bukan hanya makanan yang ia pesan saja yang datang. Juga makanan Luna dan Bayu yang entah dimana kedua manusia tersebut pergi hingga beberapa lamanya belum ada juga yang kembali.
Leo memanfaatkan momen kebersamaannya untuk kembali meringsek, mendekati Laras yang masih termangu menatap makanannya dalam diam.
"Lo sakit ya?" Ucap Leo mendekatkan tangannya pada dahi putih nan mulus milik Laras. Hingga sang pemilik dahi memundurkan kepalanya dengan tiba-tiba. Perasaan kaget dan juga berdebar ketika telapak tangan Leo mendarat dikeningnya.
"Gue masih waras!" Kesal Laras menampik tangan Leo. Yang ditampik justru malah terkekeh ringan.
"Gue nggak nanya Lo gila apa enggak. Gue nanya apa Lo sakit?"
"Nggak!" Jawab Laras masih dengan intonasi yang menghentak dan ketus. Setiap dekat dengan kapten basket tersebut, setiap itu juga ia merasa darahnya naik ke ubun-ubun.
"Oh iya Ras, beberapa minggu lagi Gue ada lomba basket. Lo mau datang lihat Gue nggak?"
"Bareng sama lombanya Luna?"
"Iya, kan lomba dalam 1 minggu ada beberapa dari Sekolah kita. Termasuk musik dan basket."
"Gue nggak bisa dan Gue nggak mau."
Leo menghela nafas panjang. Sudah bisa menebak apa yang akan gadis itu katakan jika ia meminta untuk menjadi penyemangatnya kala lomba. "Kenapa nggak bisa?" Ucap Leo dengan lembut. Mencoba untuk bernegosiasi lebih dulu. Barangkali gadis itu mau luluh dengannya bukan?
"Gue mau lihat lomba Luna."
__ADS_1
"Kan beda hari sama lombanya Luna. Nggak barengan."
Laras mendelik terkejut. "Kata Lo tadi barengan? Gimana sih banteng?!" Ketusnya dengan kesal. Meski kesal begitu, ia tetap memasukkan satu buah bakso kecil kedalam mulutnya.
"Beda hari sayang." Laras tersedak, terasa bakso kecil yang belum ia kunyah tiba-tiba langsung masuk kedalam tenggorokannya dan berhenti tepat di kerongkongan. Membuatnya sulit bernafas hingga ia terpaksa memasukkan jemarinya kedalam mulut agar bakso yang menyangkut tersebut bisa keluar.
Tak sia-sia ketika Leo juga berusaha menepuk-nepuk punggungnya agar gadis pujaannya segera terbebas dari malapetaka. Bakso yang menyangkut bisa keluar hingga menggelinding kearah yang tak tertuju.
Laras langsung menghela nafas ketika dirasa sudah bisa bernafas dengan bebas. Menyeruput minuman dengan buas agar segera lancar peredaran darahnya yang seperti tersumbat.
"Pelan-pelan dong sayang, nanti tersedak lagi." Ucap Leo masih dengan menyebut kata sayang yang sebenarnya membuat Laras seperti diambang kematian beberapa saat yang lalu.
"Jangan panggil Gue kayak gitu! Menghambat jalan Gue buat punya pacar!" Ucap Laras masih terus menghentak.
"Pacar Lo kan Gue!" Ucap Leo sembari memainkan kedua alisnya, menggoda sang gadis.
"Terserah Lo!" Laras beranjak meninggalkan kantin, lebih tepatnya ingin meninggalkan Leo seorang diri. Mood makannya sudah terlanjur hilang akibat tersedak bakso yang dirasa sangat alot.
"Apa Gue pelet aja tuh cewek? Biar kapok! Biar tergila-gila sama Gue. Terus nanti kalau dia udah mengemis sama Gue, baru deh Gue buat mengandung anak Gue."
Leo terhentak diakhir kalimatnya sendiri. Kemudian pemuda tampan itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Dasar mesum!" Makinya pada dirinya sendiri.
***
Melihat diatas rooftop ada Luna dan Bara yang berbicara serius, Lula terpaksa mengajak Bayu menuju halaman sekolah yang terletak dibelakang. Sangat sepi karena sebenarnya halaman itu tak pernah terpakai sejak dimusnahkannya acara MOS dari segala penjuru sekolah manapun.
"Ada apa?" Tanya Bayu tanpa basa-basi. Ia takut, jika terlalu lama bersama Lula maka gadis itu akan terus memintanya mengakhiri akting yang ia gemari saat ini. Akting untuk mendekati Luna, justru malah membuatnya jatuh cinta terlalu dalam.
"Kak, Gue kok belum haid ya?" Keluh Lula menyenderkan kepalanya dipundak Bayu dengan lesuh. Gadis itu terlihat tak ada tenaga sama sekali.
__ADS_1
"Lula, Lo mikirin apa sih? Jangan banyak pikiran. Stres juga bisa membuat hormon orang terganggu." Ucap Bayu mengelus puncak kepala Lula. Gadis itu seperti butuh dukungan yang besar, terlihat dari matanya yang sayu dan itu membuat Bayu prihatin.
"Gue nggak mikirin apapun Kak! Gue juga biasanya nggak sampai telat haid. Apa Gue hamil ya?"
Ucapan Lula bagai petir disiang bolong yang menyambar tubuh kekar Bayu. Gadis itu hamil? Bagaimana jika benar adanya? Bukankah itu berarti, gadis itu mengandung anaknya?
"Lo jangan mikir yang enggak-enggak deh Lula. Nggak mungkin Lo hamil."
"Kenapa nggak mungkin?" Lula mendongakkan kepalanya menatap Bayu, ada sedikit ketakutan jika ia benar-benar hamil dan Bayu tidak mau bertanggung jawab menikahinya.
Bayu menggelengkan kepalanya dengan lirih. "Kita nggak boleh mikir yang aneh-aneh. Tunggu aja sampai bulan depan, barangkali cuma telat aja haidnya."
"Kata Ayah, dulu waktu Ibu hamil benar-benar nggak punya tenaga dan nggak bisa makan nasi. Semua yang dimakan pasti Ibu muntah." Cerita Lula kembali menyandarkan kepalanya dipundak sang pemuda.
"Terus, Lo kayak gitu nggak?"
"Enggak. Akhir-akhir ini Gue malah banyak makan. Berat badan Gue naik 5 kilo." Ucapnya terkekeh diakhir kalimat.
"Udah, jangan mikir yang aneh-aneh." Pungkas Bayu. Pemuda itu kemudian merogoh sesuatu dari dalam kantongnya, kemudian menyerahkannya kepada sang gadis.
"Ini buat Lo. Sesuai rencana kita."
Lula menolak sebuah benda berbentuk lonjong dengan bandul kunci kelinci tersebut. "Gue bingung cara bilang ke Ayah gimana kalau tahu Gue daoat mobil."
"Lagian, Gue mau bantuin Lo karena Gue cinta sama Lo. Jadi, kayaknya sekarang Gue nggak perlu mobil lagi. Lo simpan aja dulu." Lanjut sang gadis sembari tersenyum hangat. Bibirnya yang pucat sama sekali tidak tertutup meski telah dipoles dengan berbagai lipstik yang ia punya.
"Lo cinta sama Gue?" Debar Bayu menatap sorot mata Lula. Bingung dengan keadaannya sendiri, merasa terjebak dengan permainannya sendiri.
"Iya, Gue cinta sama Lo."
__ADS_1
BERSAMBUNG...