
Terus menatap senyum teduh yang membuat hatinya berbunga-bunga, Luna sampai tidak sadar jika sedari tadi Bara juga menatapnya dengan bingung. Ketika sorot keduanya bertemu, membuat Luna merasa salah tingkah kemudian mengalihkan pandangannya dari sorot mata Bara.
"Lo lihatin Gue kayak gitu kenapa?" Ucap Bara tersenyum menggoda.
"Enggak kok," Masih terus mengalihkan pandangnya, sesekali menekan tuts-tuts piano untuk mengalihkan pandangannya agar tak bertemu dengan tatap pemuda yang berhasil menghangatkan hatinya.
"Luna, menurut Lo kenapa Om Handoko nggak suka kita berteman? Kan kita cuma berteman, bukan pacaran." Celetuk Bara dengan pandangan keatas, menerawang. Kali ini, Luna beralih menatap Bara dengan serius. Tak lagi menuruti salah tingkahnya yang tak berujung.
"Mungkin karena Ayah sayang anaknya. Dia nggak mau anaknya salah pergaulan." Senyum gamang terlukis dibibir Luna. Bibirnya berkata, namun hatinya meragukan. Apakah iya Ayahnya menyayanginya?
"Tapi, Lula kan sering pergi sama Bayu. Emangnya Om Handoko setuju?"
Luna tersentak, dalam senyum gamangnya ia menatap Bara dengan mata tak berkedip. "Lula sering pergi sama Bayu? Darimana Lo tahu?"
"Setiap Lo ikut ekskul sekolah, Bayu sama Lula jalan berdua. Keluar dari Sekolah naik motor Bayu. Gue sering lihat kok,"
"Tapi Lula bilang, dia ke pantai. Kangen sama Ibu. Kenapa Lula bohong?"
"Mungkin karena dia takut sama Om Handoko, makanya bohong."
"Bara! Lo dicari Bu Siwi!" Seruan seorang pemuda diambang pintu membuat Bara dan juga Luna terhentak kaget. Keduanya menoleh kearah sumber suara, dan menemukan Bayu tengah bersedekap dada. Menatap keduanya dengan raut wajah yang datar.
"Gue aja? Lo enggak?" Sahut Bara menatap tak suka. Curiga pada mantan sahabatnya itu jika ini hanya akal-akalan Bayu saja.
"Lo doang. Tadi Gue udah dari sana."
Bara mengangguk, kemudian menatap Luna. "Gue duluan ya,"
Setelah melihat kepala Luna yang mengangguk, Bara kemudian beralih menatap Bayu untuk sesaat. Lalu, ia beranjak meninggalkan ruangan musik. Meninggalkan Bayu dan Luna berdua didalamnya.
"Lo udah belajar piano ya?" Ucap Bayu mendekati Luna yang masih terduduk dikursi piano.
__ADS_1
"Iya, tadi Bara ngajarin Gue."
"Kan Gue yang mau ngajarin Lo main piano, kenapa pilih Bara?"
Bayu duduk disamping Luna, tempat yang sama dengan tempat yang dipakai oleh Bara. "Tadi Gue nyari Lo, tapi nggak ketemu. Malah ketemu sama Bara."
"Sorry ya, tadi Gue sibuk." Senyum manis terukir dibibir Bayu, membuat Luna menatapnya dengan senyum tipis.
Hatinya berdebar ketika Bayu menatapnya terlalu dalam, terlalu lama, hingga ia merasa terbuai. Tatapan itu, tatapan yang sama dengan yang ia dapatkan dari Bara.
Hangat, tulus, dan membuat terpaku. Tak sedetikpun Luna mengalihkan pandangannya dari Bayu. Meski hatinya berdetak dengan kencang, berdebar lebih keras daripada saat ia bersama Bara, namun tak berani ia melewatkan satu detik pun pandangan itu terlewat.
Pandangan yang baru kali ini ia dapatkan dari Bayu, semuanya serba tulus. Membuat perutnya terasa dipenuhi dengan seribu kupu-kupu hingga membuatnya ingin berteriak kencang.
"Kak, Lo kenapa natap Gue kayak gitu?" Ucap Luna dengan lirih. Tenggorokannya terasa kering ketika dengan perlahan Bayu mulai mendekatkan wajahnya kearah sang gadis.
"Luna, Gue....Gue...."
"Apa?"
"Gue cinta sama Lo."
"Gue cinta sama Lo." Ulang Bayu setelah ia lepaskan pagutan bibirnya dibibir Luna. Hatinya pun ikut berdegup dengan kencang ketika mengucapkan kata tersebut, perasaan yang berbeda mengalir didalamnya.
Bagaimana saat ia menyentuh sang gadis dihadapan, merasakan bibirnya, begitu sangat berbeda ketika ia merasakan bibir Lula. Hatinya merasa menghangat dengan seketika, merasa ingin lebih, dan lebih.
"Tapi...Gue...Gue..."
"Lo nggak perlu jawab sekarang. Dan, maaf. Gue udah lancang cium bibir Lo." Potong Bayu menatap sayu pada Luna. Ia tangkup wajah bulat tersebut, kemudian tersenyum hangat.
"Jangan menjauh dari Gue ya," Pesannya kepada sang gadis. Luna hanya bisa mengangguk tanpa bersuara, masih tak percaya dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Gue cinta sama Lo."
***
"Lula! Lo mau kemana?" Seru Luna dari dalam mobil Limousine yang akan membawa mereka pulang kerumahnya.
"Gue mau ke pantai. Lo duluan pulang." Ucap Lula kemudian beranjak meninggalkan Luna, memasuki Sekolah kembali.
Setelah melihat kepergian Luna, gadis tengil itu kemudian menghampiri Bayu yang sudah menunggunya. "Ayo Kak!"
Mengangguk, meluncurlah sebuah motor sport keluaran terbaru tersebut membelah ramainya jalanan. Jika Lula sangat menikmati senangnya dibonceng oleh Bayu, maka Bayu kini tengah memikirkan hal yang terjadi padanya dan juga Luna. Merasa bingung, mengapa saat ia berdekatan dengan dua gadis kembar tersebut, rasanya sangat berbeda.
'Apa Gue juga udah jatuh cinta sama Luna? Tapi kenapa?' Serunya dalam batin. Bayangan bagaimana ia mencium bibir Luna terus terngiang di otaknya. Terus melintas dalam benaknya. Bagaimana rasa kenyal nan lembut itu terus terasa dibibirnya.
Maka, ketika ia dan Lula sudah sampai dikediamannya, dengan segera ia ajak sang gadis untuk meluncur menuju kamarnya.
Mendorong tubuh sintal sang gadis hingga terjerembab diatas tempat tidur, bayangan bibir Luna yang terasa hangat itu membuat nafsu birahinya bergejolak tak tertahan. Ia raup bibir mungil Lula yang tersenyum menantang, menindih tubuh molek sang gadis dengan ganas.
Nafasnya yang memburu, membuat Lula juga merasa terbang karena kenikmatan yang tiada duanya. Ia selalu suka saat bagaimana Bayu memporak porandakan tubuhnya dengan lihai. Saat dimana ia mulai digoyang dengan kencang oleh Bayu, saat dimana ia mulai mendesah kenikmatan. Semua itu, membuatnya tak ingin melepas sang pemuda. Sudah terlanjur sayang, terlanjur cinta, juga terlanjur memberikan tubuhnya pada sang pemuda. Tak akan pernah ia melepaskan Bayu walau sedetikpun.
"Lula, Lo harus buat Gue semakin dekat sama Luna. Dan taruhan akan segera berakhir." Ucap Bayu disela hembusan nafas yang memburu.
"Iya sayang,"
Maka, dengan hentakan keras, ******* kenikmatan itu kembali terdengar merintih ditelinga Bayu. "Ahhh, enak...terus sayang.." Desah Lula dengan dada yang membusung dan mata terpejam.
Dengan kedua tangannya, Bayu mulai meremat dua gundukan indah dihadapan yang terus bergoyang karena goyangan yang ia berikan. Pikirannya terus melayang kepada Luna yang jauh darinya, membayangkan jika tubuh yang ia garap saat ini adalah tubuh Luna.
Bukankah itu sangat membahagiakan?
"Ah, Bayu..Ah..." Racau Lula terus merasa kenikmatan. Tanpa tahu apa yang dipikirkan Bayu pasti akan menyakiti hatinya.
__ADS_1
'Luna, Gue pastikan sebentar lagi adalah tubuh Lo yang akan Gue goyang.' Batin Bayu merasa sangat puas. Ia tekan dengan sangat dalam dan ia keluarkan semua cairan putih itu didalam tubuh sang gadis.
BERSAMBUNG...