
Handoko memijit pelipisnya dengan perasaan yang gundah. Sejak pagi tadi, sejak Firman mengkonfirmasi kepergiannya ke Amerika, Ayah dua anak tersebut seperti memiliki firasat yang buruk.
Hingga kini, pagi sudah berlalu dan siang sudah merajai muka bumi. Panas hamparan sinar matahari membuat Handoko merasa pening dikepalanya.
Menatap hamparan kota dari balik jendela besar yang berada diruangannya saat ini. Otaknya kembali berputar pada masa-masa dimana Bara yang selalu mendekati anak sulungnya. Lalu, masa-masa dimana Firman yang selalu cekatan membantunya dalam bekerja.
Sungguh, melepas Firman begitu sangat berat baginya. Namun, ia harus melakukan itu demi kebaikan keluarganya. Tak mau jika dua anaknya terjebak dalam cinta yang belum seharusnya mereka rasakan pada usia yang masih belia. Namun siapa sangka jika salah satu anak gadisnya justru sudah melanggar peraturan yang sudah ia tetapkan bertahun-tahun lamanya?
Ponsel diatas meja berdering, membuat atensi Handoko teralihkan. Meraihnya, kemudian menekan dial hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
"Hallo Firman, ada apa? Bukankah seharusnya kamu berada dipesawat siang ini?" tanya Handoko dengan cepat. Entah mengapa, hatinya begitu bergemuruh dengan hebat. Padahal, sebelumnya ia tidak pernah merasakan yang seperti ini selain saat kehilangan istri tercintanya.
"Firman!" bentak Handoko dengan kesal karena diseberang sana sama sekali tidak ada jawaban apapun.
"Pak Handoko...tolong saya."
Handoko terdiam. Sesuatu terasa menghentak hatinya mendengar suara lemah diseberang sana. Apalagi, isak pria paruh baya itu terdengar begitu memilukan bagi Handoko sendiri.
"Kamu dimana? Apa yang terjadi?"
"Rumah Sakit Mulia Pak, dekat dengan bandara. Kami--"
Memutuskan panggilan dengan cepat sebelum Firman menyelesaikan ucapannya. Handoko segera bergegas menuju mobilnya dan melesat kearah Rumah Sakit yang disebut oleh Firman beberapa saat yang lalu.
Merasa sangat bersalah jika sesuatu terjadi pada Firman dan keluarganya. Bukankah ia yang meminta Firman untuk pergi ke Amerika, mengurus perusahaannya yang berada disana? Memisahkan anak semata wayang Firman dengan anak sulungnya saja sudah membuat hatinya merasa tak enak, memisahkan dua insan yang ia yakini saling mencintai. Apalagi sampai terjadi sesuatu pada keluarga tersebut?
Tidak harus membutuhkan waktu yang lama bagi Handoko untuk datang cepat ke Rumah Sakit tersebut. Sudah hafal rute perjalanan hingga memudahkannya untuk bergegas lebih cepat sampai ditempat tujuan.
Terus mencari kesana kemari dimana keberadaan sang bawahan dikantornya tersebut, namun tak kunjung menemukan. Hingga pada akhirnya, pria paruh baya itu berlari menuju sebuah ruang receptionis untuk mencari data pasien yang ingin ia temui.
"Firman Wijaya." ucapnya ketika sang wanita muda tersebut mempertanyakan siapa nama pasien yang ingin ia temui.
Sesaat kemudian, wanita muda itu kembali berucap. Memberitahukan dimana keberadaan sang pria paruh baya yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Lalu, melesatlah Handoko menuju tempat Firman berada.
"Firman!" panggil Handoko ketika sudut matanya sudah menemukan Firman dikejauhan. Berlari kecil menghampiri pria paruh baya tersebut, kemudian memeluknya sebentar. Mengajak rekan bisnis itu untuk duduk dan menenangkan diri.
"Ada apa Firman? Katakan!"
"Kami kecelakaan Pak Handoko. Bara, Saya, dan sopir saya."
__ADS_1
"Astaga! Dimana?"
"Sudah mendekati bandara Pak. Tiba-tiba disebuah tikungan ada truk hox melintang jalan, sopir saya tidak tahu hingga akhirnya tidak bisa menghindar. Sopir saya meninggal ditempat Pak." isak Firman dengan tersedu-sedu. Merasa sangat terpukul dengan kejadian beberapa saat yang lalu.
Handoko termangu ditempatnya, usapan kecil dipunggung Firman terhenti untuk sesaat. "Lalu anakmu?" bertanya dengan hati berdebar.
"Bara? Dia didalam ruangan itu Pak." tunjuk Firman pada sebuah ruangan yang tertutup rapat.
"Sudah beberapa jam Dokter menangani Bara, tapi belum ada satupun yang keluar dari ruangan itu Pak." lanjut Firman dengan isakan yang semakin terdengar pilu. Membayangkan Bara terkulai lemas bersimbah darah didalam mobil membuatnya sangat terpukul. Ditambah dengan kepergian sang sopir yang terjadi detik itu pula.
"Lalu, bagaimana kondisimu?" tanya Handoko kembali mengusap punggung Firman. Mencoba menutupi perasaan kalut yang melanda hatinya.
"Saya baik-baik saja Pak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya sempat terlempar keluar mobil ketika sopir saya berusaha mengelak dari truk box yang melintang itu."
Tepat setelah Firman berucap, terbukalan pintu ruangan yang sejak beberapa jam lalu tertutup rapat tanpa ada yang keluar satupun. Handoko dengan sigap langsung membawa Firman yang tertatih menuju Dokter yang menangani Bara selama beberapa jam yang lalu.
"Helly! Bagaimana keadaan Bara?" tanya Handoko menyebut nama sang Dokter yang ternyata adalah sahabat karibnya sendiri. Kebetulan sekali, Helly adalah pemilik Rumah Sakit besar ternama tersebut.
"Handoko, kamu mengenal pemuda didalam?" tanya Helly sembari melepas kacamata dan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Ya, dia anaknya Firman. Teman anakku juga. Bagaimana keadaannya? Bara baik-baik saja kan?"
Firman semakin terisak ketika mendengar penuturan sang Dokter.
"Kepala Bara....benturan yang dialaminya sangat keras Handoko, bisa memungkinkan kepalanya gegar otak. Dan juga...tulang-tulang pemuda itu ada yang patah. Ini sudah sangat fatal. Saya sarankan agar Bara segera dibawa ke Luar Negeri. Saya akan mendampingi langsung. Sebaiknya dibawa ke Rumah Sakit Dokter Hartono. Saya tau dia spesialis yang sangat hebat."
Handoko dan Firman hanya mengangguk saja. Kemudian, saat Helly ingin beranjak pergi, Handoko mencekal lengan sang Dokter. "Apa Bara bisa selamat?"
"Kita doakan yang terbaik. Andai kata Bara bisa selamat, kemungkinan besar dia akan mengalami hilang ingatan."
Handoko mengangguk kembali, kemudian melepaskan Helky agar segera mengurus semua yang diperlukan untuk rujukan Bara ke Luar Negeri yang sama sekali tidak Handoko ketahui dimana tempatnya.
"Firman, lakukan yang terbaik untuk anakmu. Jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku. Pergilah. Aku yang akan mengurus urusan sopirmu disini." ucap Handoko dengan tenang.
"Terimakasih Pak! Terimakasih!" ucap Firman sembari mengecup punggung tangan Handoko berulang kali.
"Tugasmu hanya pergi, jangan pikirkan biaya apapun. Aku yang menanggung." itu adalah bentuk rasa bersalahnya Handoko kepada rekan bisnisnya. Meski bukan ia yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi, namun bukankah ia yang meminta Firman untuk pergi?
"Aku harus menjemput anak-anakku. Aku pergi dulu ya?" pamit sang pemilik perusahaan.
"Iya Pak. Terimakasih Pak."
__ADS_1
"Ingat, lakukan yang terbaik untuk Bara. Apapun itu. Kabari aku jika semua sudah selesai."
"Dan, Firman!" kembali menghadap pada rekan bisnisnya yang kebingungan karena dengan tiba-tiba Handoko memeluknya untuk sesaat.
"Maafkan aku yang harus membuatmu pergi dari Kota ini dan menyebabkan semuanya terjadi."
"Pak, ini bukan salah Bapak." bela Firman menggelengkan kepalanya.
"Kamu tahu Firman betapa aku sangat menyayangi anak-anakku. Aku hanya melindungi mereka dari cinta yang belum seharusnya mereka rasakan diusia mereka yang masih kecil. Belia sekali. Jika memang takdir mengijinkan Bara dan Luna bersama, aku yakin mereka pasti akan bertemu lagi."
"Semoga Pak. Semiga saja Bara kembali, tanpa kekurangan apapun itu." ucap Firman dengan terisak pula.
"Aku pergi dulu." pamit Handoko untuk yang terakhir kalinya.
Berjalan dengan tegak menuju mobilnya, sesekali terdengar helaan nafas panjang dari bibir yang terlihat semakin gelap tersebut.
Meraih ponselnya sembari berjalan, Handoko kemudian mencari sebuah nomor yang ia yakini harus mengetahui masalah ini.
"Luna, Bara dan Ayahnya mengalami kecelakaan pagi tadi."
***
Sedang gadis yang diberitahu secara mendadak tersebut kini malah terkulai lemas diatas lantai kantin. Membuat Laras terpekik kemudian beranjak menghampiri sahabatnya.
"Luna! Lo kenapa?" tanya Laras dengan perasaan yang panik dan khawatir.
"Bara kecelakaan Ras! Bara kecelakaan!" ucap Luna menjelaskan apa yang ia dengar dari sang Ayah.
Belum sempat Laras kembali berucap, bel pulang sudah berbunyi nyaring memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya.
Begitupula Luna, ia langsung bergegas meninggalkan Laras begitu saja. Berlari menuju kelasnya dilantai atas, kemudian kembali menghubungi sang Ayah.
"Ayah, jemput aku kan?"
"Iya,."
Mengangguk meski tahu Handoko tidak dapat melihatnya. Gadis itu berlari terbirit-birit hingga hampir saja menubruk tubuh seorang gadis yang sangat ia kenal. "Aduh Laras! Maaf ya! Gue pulang dulu." ucapnya dengan tergesa-gesa. Laras hanya bisa mengangguk kemudian menatap lirih kepergian Luna yang sangat terburu-buru tersebut.
"Semoga Bara baik-baik aja." gumamnya dengan doa yang penuh harap.
BERSAMBUNG...
__ADS_1