
Laras menggandeng tangan Luna menuju kantin sekolah untuk mengisi perutnya yang dirasa sudah kosong tak ada isi apapun untuk menjadi cadangan ketika lapar.
Menatap pada sekitar kelas sebelum menginjakkan kakinya menuju kantin. "Lo kenapa? Kok kayak maling gitu?" Cetus Luna merasa heran pada sang sahabat.
"Gue takut ketemu Leo. Tuh anak kalau ketemu Gue langsung jadi bucin banget. Eneg Gue lihatnya."
Luna tertawa ringan mendengar penuturan Laras. Baru kali ini ia melihat, seorang gadis yang dengan sadar menolak pemuda tampan. Pemuda yang notabene-nya adalah kapten basket, incaran para siswi-siswi manja disekolah terbesar ini.
"Luna, Lo udah tanyain sama kembaran Lo?"
"Tanpa apa?"
Mendudukkan bokong sintalnya di kursi kantin, Luna dan Laras kemudian saling menatap satu sama lain. "Soal Bayu."
Setiap mendengar nama sang pemuda disebut, bergetar sudah hati Luna.
"Sudah. Katanya..." Luna menggantungkan kalimatnya, membuat Laras menatapnya dengan mata memicing.
"Katanya apa?"
"Katanya Bayu cuma nanyain semua tentang Gue. Dia ngajak Lula pergi buat makan, ceritanya nyogok."
"What? Bayu suka sama Lo?" Luna mengangguk malu ketika mendengar pertanyaan sang gadis cantik dihadapan.
"Kalau nyari tahu semua tentang kita itu artinya emang suka kan Ras?" Tanya Luna dengan polosnya.
"Setahu Gue sih gitu."
"Lo suka juga sama Bayu?" Lanjut Laras mendekatkan wajahnya kearah Luna, takut jika perkataannya didengar oleh orang lain.
Luna hanya tersenyum malu sembari mengangguk kecil. Hanya dengan Laras lah Luna berani membuka apapun yang ia rasakan. Merasa, hanya sang sahabat lah yang bisa menjaga rahasianya, juga menjadi support sistemnya.
"Lo seriusan suka sama Bayu? Sejak kapan? Lo yakin Bayu juga suka sama Lo?" Cecar Laras masih tak menyangka dengan sang sahabat. Selama yang terlihat, Luna lebih sering menghabiskan waktunya dengan Bara dan juga dirinya.
"Gue juga nggak tahu sejak kapan."
"Kok bisa nggak tahu sih? Lo jatuh cinta beneran deh kayaknya."
Masih terus menatap raut wajah Luna yang dirasa Laras semakin memerah, menahan malu dan juga salah tingkah. "Kemarin, waktu diruang musik, Bayu cium Gue. Dan itu yang buat Gue yakin kalau dia suka sama Gue. Dia bahkan bilang kalau dia cinta sama Gue." Ucap Luna dengan lirih. Juga takut jika ucapannya didengar oleh orang lain.
__ADS_1
Laras membuka mulutnya dengan sempurna, matanya terbelalak lebar, ia menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak percaya dengan ucapan Luna. "Gue serius Laras! Lo kok geleng-geleng sih!" Kesal Luna yang melihat reaksi sang sahabat
"Lo dicium Bayu? Wah gila!" Pekik Laras dengan keras, membuat beberapa orang di kantin tersebut menatap kearahnya. Sesaat kemudian, gadis itu langsung menutup mulutnya karena kelepasan.
"Gila, Gue masih nggak percaya. Gue kira Bara yang bakal jadian sama Lo. Eh, malah Bayu." Celetuk Laras dengan polos.
"Kok Bara? Gue sama dia sahabatan doang kok."
"Bara perhatian banget sama Lo, rela antar jemput kalau dibolehin sama Ayah Lo. Disekolah juga selalu nyamperin Lo ke kelas. Ngajarin main piano, masih banyak lah pokoknya perhatian Bara."
Luna mengangguk dengan gamang, "Ya gimana lagi kalau Gue suka nya sama Bayu."
"Jalani aja, kalau Bayu minta buat pacaran, Lo mau?"
Kali ini, gadis cantik itu menggeleng lemah sembari menunduk. "Gue nggak dikasih izin buat pacaran. Nunggu lulus sekolah dulu katanya. Gue juga nggak tahu gimana cara ngomong ke Bayu kalau misal dia benar-benar minta Gue buat jadi pacarnya."
"Wah, bapak Lo keras juga ternyata. Nggak bisa diganggu gugat banget."
"Maka dari itu, Gue juga bingung. Ini pertama kalinya Gue jatuh cinta Ras."
Laras terdiam, menghentikan aktifitasnya dari mencicipi makanan ringan yang baru saja datang diantar oleh penjaga kantin.
Semua yang diperbincangkan oleh Luna dan juga Laras, tak luput dari pendengaran seorang pemuda tampan, sang ketua osis. Dadanya begitu bergemuruh ketika mendengar pengakuan cinta dari gadis pujaannya untuk pemuda lain. Pemuda yang ia tahu dengan jelas hanya mempermainkan sang gadis melalui taruhan yang sempat ia lakoni.
'Sialan!' Batinnya dengan kesal sembari mengepalkan tangannya disisi tubuh kanan dan kiri.
***
Yang diperbincangkan oleh dua gadis cantik itu kini tengah mengeluarkan asap cerutu ke udara tinggi. Angannya menerawang ke atas langit yang luas terbentang dihadapannya.
Disebelah sang pemuda tersebut, ada seorang pemuda lain yang hanya terdiam menikmati kopi dingin miliknya. Menatap dengan bingung kearah Bayu yang sedari tadi seperti berfikir keras namun tak ada suara apapun yang keluar dari mulut sang lelaki.
"Lo kenapa sih?" Tanya Leo ingin segera tahu, apa isi dari pikiran Bayu saat ini.
"Gue lihat-lihat, kayaknya beban Lo banyak banget."
"Gue bingung." Ucap Bayu pada akhirnya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Gue jatuh cinta kali ya sama Luna?"
Leo menyemburkan kopi yang ingin ia teguk kearah sembarang. Sangat kaget mendengar penuturan sang sahabat yang dirasanya sangat ambigu.
"Untung aja nggak kena Gue!" Kesal Bayu kemudian sedikit menjauhkan kursinya dari kapten basket tersebut.
"Lo nggak lagi mabuk kan Bay? Luna? Bukannya Lula yang selalu Lo bawa kesana kemari?"
"Iya, tempo hari Gue coba dekati Luna. Diruang musik, Gue berdua aja sama dia. Terus, Gue inisiatif buat cium bibir dia."
"Terus Lo ditampar? Bikin otak Lo geser?"
Bayu menatap Leo dengan sinis, "Gue kayak ketagihan gitu sama bibirnya Luna. Hati Gue berdebar banget. Beda kalau Gue pas sama Lula kayak biasa aja."
Leo mengangguk setuju, membenarkan ucapan Bayu tentang rasa seseorang yang tengah jatuh cinta.
"Fix! Lo beneran jatuh cinta sama Luna! Mampus Lo!" Ucap Leo dengan terkekeh, kemudian meneguk kopinya sembari membalas tatapan Bayu yang tajam menatapnya.
"Gue jatuh cinta sama Luna?" Ulang Bayu.
"Iya! Lo jatuh cinta! Lo jatuh cinta sama target Lo sendiri! Hahaha mampus Lo!" Ejek Leo terus menerus kepada Bayu. Membuat Bayu merasa diambang batas kebingungan. Ia garuk-garuk kepalanya yang sangat terasa pusing.
"Gila, pusing banget Gue!" Keluhnya membuang puntung rokok yang masih tersisa banyak tersebut.
Bara yang baru saja ingin menghampiri kedua sahabatnya itu mengurungkan niatnya untuk mengutarakan apa yang ingin ia bicarakan kepada Bayu.
Akhirnya, pemuda yang cintanya bertepuk sebelah tangan itu hanya terdiam dibelakang Bayu dan Leo. Menyenderkan tubuhnya didinding dingin yang masih dekat dengan tangga menuju rooftop gedung sekolah.
"Bayu dan Luna saling mencintai." Gumamnya menatap nanar kearah Bayu dan Leo yang berada jauh dihadapannya.
"Terus, buat apa Gue masih bertahan?" Kekehnya dengan lemah, penuh kepiluan.
Baru kali ini ia merasakan sakit karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Selama mengenal perempuan, tak pernah sekalipun Bara memberikan cinta dan hatinya untuk pasangannya. Karena tujuan ia mempunyai kekasih bukan untuk berbagi keluh kesah dan suka duka bersama. Namun hanya untuk kesenangan dari tantangan yang selalu ia lakukan bersama dua pemuda yang kini tengah bercengkrama dengan akrab tersebut.
Tangan kekar Bara merogoh kantong celananya. Mengeluarkan sebuah kalung indah dengan liontin bunga sebagai hiasannya.
"Luna, Gue cinta sama Lo." Gumamnya menatap pili pada kalung yang ia genggam.
BERSAMBUNG...
__ADS_1