DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 50


__ADS_3

Dua orang berusia paruh baya kini sudah duduk berdampingan disebuah sofa panjang yang terlihat sederhana namun mewah dan berkelas. Dihadapan para orang tua tersebut, sudah ada sepasang muda mudi yang juga duduk berdampingan dengan menundukkan kepalanya, menundukkan pandangnya. Hanya meja yang menjadi sekat diantara empat manusia berbeda generasi tersebut.


Dimeja yang terbilang tidak kecil itu pun sudah ada beberapa jamuan khas Negara Rusia dengan berbagai bentuk dan rupa.. Yang entah bagaimana rasanya. Namun sudah pasti, mereka-mereka yang tinggal disana pasti sudah sangat menyukai makanan-makanan apapun itu, asalkan berasal dari Negara itu sendiri.


Keadaan ruang tamu yang begitu besar itu masih lengang tanpa suara pembicaraan apapun. Memutuskan untuk menunggu beberapa pelayan yang ada disana selesai menyajikan jamuan untuk dua tamu sang pemilik rumah sebelum akhirnya mereka membuka sebuah pembicaraan yang menjurus kearah pribadi mereka.


"Jadi, namamu Lula?" tanya pria paruh baya yang sedari tadi diam. Kini, sebuah pembicaraan serius harus segera dimulai.


"Iya Om." jawab Lula dengan sedikit ragu. Ada ketakutan pada nada suara yang ia berikan.


"Saya sudah tahu tentang kamu dan orangtuamu. Ibumu sudah meninggalkan?"


"Iya Om. Apa Om mengenal Ayah saya?"


"Saya dan Ayahmu tidak saling mengenal. Tapi, saya mengetahuinya."


"Begitu ya Om."


"Jangan panggil saya Om." tanggap pria tersebut dengan cepat. Membuat Lula semakin menahan napas sembari mengeratkan tautan jemarinya yang dirasa mulai terasa panas dingin.


"Ada apa denganmu?" lirik sang Istri memandang tajam kepada suaminya disebelah. Hingga hanya terdengar helaan nafas dan kekehan ringan saja dari pria paruh baya tersebut.


"Panggil Saya Ayah. Saya adalah Ayahmu dan Ayahnya Bayu. Sebentar lagi, kamu akan menjadi istri Bayu. Berarti kamu adalah anakku." ucap sang Ayah dengan senyum hangat dan bersahabat.


Hal itu tentu membuat lega siapapun yang mendengarnya. Begitupula dengan Lula. Senyumnya sedikit demi sedikit mulai terbit seiring dengan sebuah pelukan hangat yang hadir dari Ibu Mertuanya.


"Sejak dulu, Ibu selalu mendamba anak perempuan." ucap sang Ibu yang terlihat sangat terharu ketika memeluk anak gadis tersebut.


"Terimakasih Bu sudah mau menerima Lula. Terimakasih Ayah." pungkas sang gadis sembari menunduk hormat.


"Jika Ayahmu tidak bisa menerima kesalahanmu, tidak apa. Biarkan saja dulu. Ayah yakin suatu saat nanti Beliau pasti bisa membuka hatinya kembali." pungkas sang Ayah memberikan nasihat yang bijak.


"Bayu juga merasa seperti itu Ayah. Sejak dulu, Lula begitu disayang sama Om Handoko. Jadi mungkin, ini cuma emosi sementara saja." ucap Bayu membenarkan ucapanya sang Ayah. Sedang gadis cantik itu hanya bisa mengangguk saja. Meski kenyataannya Handoko memang tengah dikuasai oleh emosi yang meledak-ledak, namun diusir begitu saja dari rumahnya juga membuatnya sangat tertekan.


"Kalian tinggal dirumah ini saja ya, jangan di Apartemen." pinta sang Ayah menatap kepada anak lelakinya yang kini hanya bisa menghela nafas.


"Maaf Ayah, tapi Apartemen Bayu tidak ada yang menempati. Jadi biarkan kami tinggal disana saja." ucap sang pemuda dengan senyum kecilnya. Mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Ibu akan sering-sering berkunjung ke Apartemen kalian. Lula juga harus rutin periksakan kandungannya ke Dokter. Nanti biar Ibu yang antar." ucap sang Ibu dengan senyum yang terus merekah sempurna. Membuat Lula merasa mendapatkan keluarga baru yang benar-benar menerima apa adanya.


Ternyata benar apa kata calon suaminya, tidak perlu memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Orang yang belum pernah ia temui sebelumnya ternyata bisa membawa kebahagiaan untuk dirinya dan juga anaknya.

__ADS_1


***


Setelah beberapa waktu lamanya berada dikediaman keluarga Wijaya tersebut, Lula dan Bayu akhirnya memutuskan untuk pergi kembali ke Apartemennya. Rencana yang ingin membawa sang Ibu hamil ke Dokter spesialis kandungan harus ditunda hingga esok hari karena sudah terlalu lelah setelah seharian penuh menghabiskan waktunya dirumah Ibu Mertua.


Kini, dua pasang muda mudi itu sudah berada didalam kamar. Usai membersihkan diri masing-masing, kemudian mengganjal perut yang terasa lapar kembali, kini baik Lula maupun Bayu sudah ada diatas ranjang besar. Saling memeluk erat sembari berbincang ringan tentang apa yang mereka lalui hari ini.


"Kamu suka ketemu Ayah sama Ibu?" tanya Bayu disela kegiatannya memeluk sang gadis.


"Suka Kak. Ternyata benar, mereka orang baik. Aku aja yang parnoan." tanggap Lula dengan tawa berderai diujung kalimatnya.


"Jadi, aku sudah bisa tenang ninggalin kamu kerja. Ada Ibu yang mau ngurus kamu disini."


"Iya Kak, akhirnya aku punya Ibu lagi. Suatu saat nanti, kita ke Jakarta ya Kak." pungkas sang gadis menatap sendu kepada lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Bayu yang mengerti akan ucapan kekasihnya itu hanya bisa mengangguk. "Saat nanti anak kita sudah lahir, kita coba bawa dia kerumah Ayah Handoko ya? Barangkali Ayahmu yang keras kepala itu bisa menerima cucunya dengan baik." ucap sang pemuda yang disambut dengan gelak tawa sang gadis.


"Semoga saja ya Kak. Semoga nanti, semua akan baik-baik saja."


"Kita juga harus menyiapkan semuanya untuk pernikahan kita bukan?" kerlingnya manja kepada gadis di pelukannya. Membuat gadis itu merasa malu dan salah tingkah.


"Kakak kapan mulai kerja?" tanya sang gadis mengalihkan topik pembicaraan agar tidak digoda oleh pemuda tersebut terus-menerus.


"Kak, nanti kalau anak kita perempuan, kita kasih nama siapa?" ucap Lula sembari menerawang, menatap langit-langit kamar dengan raut wajah berfikir. Membuat pemuda itu ikut berpikir dengan seksama.


"Pokoknya aku mau nama dia punya makna yang bagus." ucap Lula sekali lagi dengan sumringah.


"Kita pikir nanti ya. Kalau sekarang, pamali. Tunggu sampai usia dia 7 bulan, baru deh kita pikir nama-nama buat anak-anak kita." ucap Bayu menasihati.


Lula mengangguk. "Siapkan banyak nama untuk anak-anak kita ya Kak!" serunya dengan wajah yang merah merona.


"Siap, sayangku!"


Dipanggil sedemikian mesra, membuat Lula semakin ingin terbang ke angkasa. Mengambil sebuah boneka kemudian menutupi wajahnya yang merah merona. Membuat Bayu semakin gemas hingga terus meringsek pada sang gadis, bermaksud untuk meminta jatah untuk malam ini.


***


2 TAHUN KEMUDIAN ..


Seorang gadis dengan aksen poni mangkuk yang menutupi dahinya kini sudah berada di kantin sekolah. Hari ini adalah jadwalnya mengambil sebuah ijasah kelulusan SMA untuk ia serahkan kepada Ayahnya. Kemudian setelah itu, ia akan bebas kemanapun ia ingin pergi. Menghabiskan waktu untuk bersenang-senang sesaat. Menghilangkan penat dan beban yang ia pikul seorang diri sejak 2 tahun lamanya setelah kepergian keluarga dan orang tercintanya.


Dihadapan gadis itu, sudah ada sang sahabat yang selalu ada untuknya dalam suka maupun duka. Sahabat yang ia temukan di Sekolah tercinta ini. Sahabat yang tahu bagaimana lika liku perjalanan hidupnya selama mengemban ilmu di Sekolah ini selama 3 Tahun lamanya.

__ADS_1


"Jadi, Lo mau kemana setelah ini? Kuliah? Atau langsung kerja? Nyusul Ayah Lo?" tanya sang sahabat kepada gadis tersebut.


Luna hanya mengendikkan bahunya dengan enteng. "Belum ada tujuan. Mungkin, Gue disuruh ke Rusia lagi kayak tahun kemarin sama Ayah."


"Jadi ngurus perusahaan disana?"


"Jadi, Ayah tetap disini. Tahun kemarin Gue cuma 3 hari di Rusia, nggak betah soalnya dingin banget."


"Kalau sekarang harus Lo betah-betahin deh Lun. Mana bisa Lo nolak.'' Luna mengangguk saja mendengar penuturan sang sahabat, membenarkan ucapannya.


" Mungkin disana Lo bakal ketemu sama gebetan baru." goda Laras dengan alis yang naik turun.


"Mana ada, cinta Gue udah habis sama orang lama." pungkas sang gadis dengan santainya. Selama ini, tidak pernah ada lelaki yang ia biarkan masuk kedalam hatinya. Hanya satu nama yang selalu terukir dihatinya. Dan entah akan sampai kapan nama itu terus terukir disana meski orangnya pun tidak ada.


"Jadi, Lo nggak nyusul Bara?'' tanya Laras menatap iba kepada sahabatnya.


Ah, nama itu lagi. Nama yang tidak pernah ia sebut dimanapun dan kapanpun. Nama yang tidak pernah ia cari tahu bagaimana kabar dan kondisinya beberapa sejak 2 tahun silam. Nama yang selalu dan ingin ia lupakan, namun tetap saja terus terngiang bahkan hingga kini.


" Gue nggak pernah tahu kabar dia gimana sekarang.'' pungkas Luna dengan pandangan yang kosong.


"Setiap kali Ayah mau bicara soal Bara, Gue selalu nolak. Gue berusaha buat menjauh dari semua tentang Bara. Apapun itu. Meski kenyataannya hati Gue benar-benar udah dibawa pergi sama dia,"


Luruh juga akhirnya, air mata yang sedari tadi ia bendung saat pertama kali mendengar nama Bara terucap.


"Maafin Gue udah bikin Lo ingat lagi sama Bara." ucap Laras dengan rasa menyesal. Namun, Luna justru menggelengkan kepalanya. Memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja. Meski kenyataannya air mata terus menetes tanpa henti, membuat gadis itu sama sekali tidak bisa berkata apa-apa.


Hingga beberapa saat lamanya, Laras masih setia menunggu Luna menghabiskan air matanya hari ini. Karena, tidak akan ada air mata lagi setelah ini. "Lo harus buka lembaran baru setelah ini. Tanpa Bara. Tanpa masa lalu yang menyakitkan." ucap Laras dengan tegas. Memegang tangan sang sahabat dengan erat.


"Gue yakin Lo bisa."


"Gue juga yakin kalau Gue bisa." pungkas Luna dengan senyumnya yang sejak dulu tidak pernah berubah.


"Kita pulang yuk!" ajak sang gadis kemudian berdiri, beranjak meninggalkan meja dengan bergandengan tangan bersama sahabatnya.


Memulai obrolan ringan sembari berjalan santai menuju gerbang utama, menutup lembar kisah kelam yang akan ia tinggalkan demi mencari kebahagiaan dimasa mendatang. Yakin, jika apapun yang ia lepaskan dengan ikhlas, pasti akan membuatnya jauh lebih bahagia dikemudian hari.


Jika Laras akan melanjutkan hidup bersama Leo, Luna tentu akan melanjutkan hidup dengan perjalanan yang lebih panjang lagi di Negara yang berbeda. Mencari pengalaman hidup yang akan memberikan pelajaran-pelajaran berharga nantinya.


Benar apa yang diucap oleh Laras, ia harus melanjutkan hidup dengan membuka lembaran kertas yang baru. Tidak mungkin membawa lembar masa lalu untuk masa depan. Itu tidak akan membuahkan hasil yang maksimal.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2