
''Luna!'' teriak Laras menyambut kedatangan Luna dengan gembira. Gadis itu melambai kearah bis sekolah yang membawa sahabatnya menuju tempat yang kini ia pijak.
Lalu, keluarlah Luna dari bis sekolah berwarna kuning tersebut. Gadis itu melihat Bara juga melambai kearahnya sembari tersenyum. Pemuda itu berdiri dibelakang Laras sedikit jauh, takut jika Laras akan memarahinya seperti waktu ia menemani Luna membolos beberapa hari yang lalu.
Laras yang memiliki sifat begitu penasaran selalu mengorek informasi ini dan itu dari Luna, Hingga ia mengetahui bahwa Luna membolos dan ia berpikir bahwa sahabatnya itu membolos akibat Bara yang mengajaknya. Sama sekali tak mengetahui kejadian yang sebenarnya, dimana justru Bara membolos hanya demi menemani Luna dipantai indah yang asri beberapa waktu lalu.
''Lo udah lama disini?'' tanya Luna menggandeng Laras, mengajak gadis itu untuk berjalan menuju kelasnya yang berada dilantai tiga.
''Belum kok, Gue juga baru datang.'' jawab Laras sekenanya saja, membuat Luna mengangguk paham. Sudah tahu kebiasaan sang sahabat jika baru datang ke Sekolah, yaitu menunggu dirinya datang hingga akhirnya bisa berjalan bersama menuju kelas.
''Makin hari, Lo makin dekat ya sama Kak Bara.'' celetuk Laras menggoda sang sahabat. Ya, gadis itu sudah menobatkan Luna menjadi sahabatnya.
''Kata siapa?''
''Kata Gue barusan.''
Tiba-tiba, Bara datang menghadang langkah kedua gadis cantik tersebut. Membuat Laras semakin gencar menggoda Luna yang terlihat salah tingkah tersebut. ''Mau ke kantin nggak?'' tawar sang pemuda dengan senyum manisnya. Senyum yang selalu menjadi candu bagi Luna sejak beberapa hari yang lalu.
''Gue udah sarapan sih, kayaknya Luna aja deh.'' ucap Laras, ia ingin memberi ruang pada sahabatnya itu agar semakin dekat dengan most wanted kesayangan para siswi dan guru tersebut.
''Gue juga udah sarapan kok.'' pungkas Luna merasa canggung berhadapan dengan Bara seorang diri. Tiba-tiba saja, Bara langsung menggandeng tangan sang gadis kemudian menariknya sembari berucap, ''Kalau gitu, ikut nongkrong aja sebelum masuk kelas.''
Luna yang tak mau seorang diri lantas menarik tangan Laras agar ikut menemaninya. Tak mau mati kutu di kantin karena ia tahu pasti akan ada dua teman Bara yang berada dalam satu meja bersamanya.
***
''Kok kayaknya Gue lihat-lihat, Lo malah dekati Lula sih Bay? Taruhannya kan Luna, bukan Lula.'' ucap Leo sembari menyeruput kopi hangatnya. Kedua pemuda itu tengah menunggu Bara disebuah meja khusus untuk mereka bertiga dikantin Sekolah. Kebiasaan trio tampan tersebut jika bel masuk belum berbunyi maka akan menghabiskan waktunya ditempat ini. Atau di rooftop atap gedung yang tinggi diatas.
''Teknik marketing.'' jawab Bayu dengan raut wajah misterius.
Tepat setelah pemuda tampan itu selesai berucap, datanglah Bara bersama dua wanita cantik yang salah satunya sudah menjadi bahan gosip antara Bayu dan Leo beberapa saat yang lalu.
''Hai, Gue bawa cewek-cewek cantik.'' ucap Bara sembari duduk dibangkunya. Begitu pula Luna dan Laras.
__ADS_1
''Hai Lun, hai Ras. Kalian sudah sarapan?'' tanya Leo membuka obrolan ringan dengan dua juniornya. Tidak banyak yang tahu bagaimana busuknya ketiga laki-laki dihadapan dua gadis cantik tersebut. Hingga beberapa dari mereka menatap iri kepada Luna dan Laras yang bisa dekat dengan most wanted Sekolah tersebut.
''Sudah,'' jawab Luna mewakili Laras yang mengangguk.
''Cobain bakso racikan Gue.'' ucap Bayu menyodorkan satu buah bakso yang ditusuk garpu olehnya kearah mulut Luna. Membuat orang yang berada dimeja itu terdiam menatap Bayu dan Luna.
Tanpa banyak bertanya, Luna langsung melahap bakso yang tersodor didepan bibir manisnya tersebut, kemudian mengunyahnya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. ''Enak kan pasti? Kepala Lo goyang-goyang berarti enak.'' ucap Bayu menatap Luna dengan tatapan yang sulit diartikan.
Luna langsung menghentikan gerakan kepalanya kemudian mengangguk sembari tersenyum. ''Iya, enak.''
''Kak, kok Lo tahu sih kalau makanan enak cewek bakal goyangin kepala?'' tanya Laras penasaran. Baginya, pemuda wakil ketua osis itu terlalu misterius. Tatapannya selalu menyimpan sejuta makna yang tidak banyak orang tahu apa maksud dari tatapan tersebut. Begitu dalam, hingga menghujam sampai relung terdalam.
''Ceweknya Bayu banyak, jadi dia hafal.'' celetuk Bara dengan sedikit kesal. Membuat Bayu dan Leo sama-sama terkekeh. Mereka tahu Bara sudah kalah start dari Bayu untuk mendekati Luna.
''Gue gabung ya!'' pekik seorang gadis yang tiba-tiba saja hadir diantara lima manusia tersebut. Gadis menyebalkan bagi Luna itu langsung menarik kursi dan menaruhnya disamping Leo, yang itu berarti gadis itu berada diantara Laras juga.
''Lula! Lo ngapain disini? Lo tuh nggak diajak!'' pekik Laras dengan kesal. Dadanya langsung kembang kempis menatap Lula disebelahnya. Matanya sampai mendelik membuat Leo terkekeh puas.
''Siapa yang ngajak Lo? Nggak ada tuh.''
''Lo ada masalah apa sih sama Gue?'' kesal Lula karena terus diganggu oleh Laras.
''Banyak banget.'' kedua tangan Laras merentang saat berucap, memperagakan betapa besar dan banyaknya masalahnya dengan Lula.
''Lo anak siapa sih? Ngeselin banget.''
''Ya Gue anak orang lah. Mana mungkin Gue anak monyet bisa sekolah disini.''
''Gue nggak peduli. Lo pasti anak orang miskin kan? Setiap hari Lo berangkat pake angkot.'' ucap Lula mulai menjadi, ''Setidaknya Gue nggak mempengaruhi orang lain buat benci sama orang yang nggak Gue suka.'' sindir Laras dengan menatap sinis pada Lula.
Tak mau sahabatnya terus beradu mulut dengan saudaranya, Luna langsung berdiri dan menyeret Laras untuk pergi dari sana. ''Kita masuk kelas aja.''
''Sana Lo pergi.'' usir Lula sembari berteriak karena kepergian Luna dan Laras yang semakin menjauh.
__ADS_1
Bara menatap kesal kearah Lula sembari menghempaskan garpunya diatas meja, membuat beberapa orang menoleh kearahnya. ''Lo ganggu banget. Lo nggak usah sok asik,'' ucap Bara kemudian beranjak meninggalkan kantin Sekolah.
''Nggak usah dimasukin hati.'' ucap Bayu tersenyum manis kearah Lula, membuat gadis menyebalkan versi Luna tersebut tersenyum sangat manis.
***
Handoko merogoh ponselnya didalam saku yang terasa bergetar, panas terik menerpa wajah dan tubuh gagah sang Ayah beranak dua tersebut. Siang ini dia tengah berada disebuah lapangan untuk melihat proyek barunya yang sebentar lagi akan ia garap bersama para pebisnis besar lainnya.
''Ya? Saya sendiri.''
''Apa? Dimana istri saya sekarang?''
''Baiklah, saya kesana.''
Handoko mengelap keringatnya dengan lengan tangan yang terbalut kemeja panjang, ia berjalan tergesa-gesa meninggalkan lapangan dan beberapa karyawannya yang terlihat bingung,
Sebelum menjalankan mobilnya, Handoko kembali merogoh ponselnya kemudian mencari nomor telephone anak gadisnya.
''Lula? Kamu sudah pulang sekolah?''
''Luna?''
''Astaga anak itu!'' Handoko memegang kepalanya dengan memejamkan matanya sejenak.
''Kamu datang ke Rumah Sakit Mukti Abadi, sekarang!''
Setelah berucap, Handoko melajukan mobilnya menuju Sekolah Labschool untuk melihat anak gadis sulungnya yang menjadi tersangka akibat ulah Lula yang terus menerus memberi berita bohong pada Ayahnya.
Sesampainya di Sekolah tersebut, terlihat Luna tengah berdiriĀ bersama satu orang gadis dan juga satu orang pemuda. Maka, dengan cepat pria paruh baya berkacamata itu keluar dari mobil dan menghampiri anak gadisnya dengan kesal.
''Ibumu kecelakaan! Kamu malah asik pacaran disini? Dasar anak tidak berguna kamu!'' bentak Handoko dengan menggebu-gebu, membuat Luna tertegun dan terpaku untuk beberapa saat lamanya..
BERSAMBUNG...
__ADS_1