DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 46


__ADS_3

Sudah mengakui semua perbuatannya kepada Ayah dari anak yang ia hamili, Bayu justru mendapatkan sebuah bogem mentah hingga merobekkan sudut bibirnya. Melemparkannya hingga terjatuh ke atas lantai karena tidak siap menerima sebuah pukulan yang telak diwajahnya.


Siapapun tidak menyangka jika kemurkaan seorang Ayah yang begitu menyayangi anak gadisnya akan begitu menyeramkan seperti ini. Atau mungkin, ini belum seberapa menyeramkan dibandingkan dengan orang lain yang memiliki tempramen hingga diluar batas.


Rumah yang selalu di jaga dan di bersihkan, sudah tak berbentuk lagi keadaannya. Bangunan megah tersebut sudah porak poranda isinya. Meja yang terbalik beserta sofa-sofa mahal, foto pajangan yang ada di dinding sudah hancur berserakan beserta kacanya.


Vas-vas bunga dari yang kecil maupun yang besar juga sudah hancur tak bersisa. Tak berbentuk. Semua barang-barang Handoko yang berada di sekitarnya sudah tak luput dari kemurkaannya karena merasa di bohongi dan di khianati oleh anak gadisnya sendiri. Gadis kecil itu, gadis belia itu, sungguh sangat pintar dalam membohonginya. Atau mungkin, Ayah dari dua anak itu sendiri yang terlalu bodoh untuk mengetahui semuanya?


Sepenuh hati menjaga dan mengasihi anak gadis bungsunya, berharap dia lah anak yang bisa membanggakannya suatu hari nanti. Justru, saat ini tengah hamil di luar nikah tanpa ia tahu jika tidak ada yang berbicara kepadanya seperti sekarang.


"Saya melepasmu. Sekarang, kamu bebas. Ikutlah dengan lelaki yang sudah menghamilimu. Rawat anakmu dengan baik. Lupakan semua tentang keluargamu." ucap seorang Ayah yang hatinya sudah benar-benar patah. Benar-benar hancur. Sebuah kabar hamilnya seorang anak tanpa ada ikatan pernikahan bukanlah kabar yang bisa di normalisasikan.


Luna menghela nafas panjang. Bukan ini yang ia harapkan dari keluarganya. Namun, mungkin ini yang diharapkan dari saudara kandungnya tersebut. Menatap air mata Handoko yang meluncur di pipinya sungguh membuat hati Luna seperti disayat-sayat oleh pisau tajam.


Sudah kehilangan cintanya, kini ia harus kehilangan keluarganya. Benar jika selama ini dua gadis kembar itu tidak pernah akur, namun Luna bukanlah Lula yang sama sekali tidak peduli pada kebahagiaan orang disekitarnya.


Melihat Handoko beranjak meninggalkan ruang tamu yang sudah seperti kapal pecah tersebut, Luna hanya bisa terdiam. Tidak akan memberikan saran apapun kepada sang Ayah karena ia tahu, sakit hatinya tidak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh Ayahnya.


"Senang bisa hancurin keluarga Lo sendiri?" tanya Luna dengan dada yang kembang kempis. Hatinya berdebar memang saat mengetahui jika Bayu adalah Ayah dari anak yang dikandung oleh saudara kandungnya. Ayah dari calon keponakannya nanti.

__ADS_1


Lula terhentak dengan semua ucapan Handoko, dan sekarang dihentak pula dengan pertanyaan sederhana dari saudaranya. Begitu banyak penyesalan, namun semua apa guna jika saat ini tidak ada lagi dia dalam keluarga besar Handoko?


Merasa sudah tidak ada lagi harapan untuk ia meminta maaf dan menjalani kehidupan yang baik bersama Ayahnya lagi seperti dulu. Banyak sekali harapan yang Lula harapkan dari sang Ayah. Salah satunya adalah mampu menerima anak yang ia kandung dengan baik. Menikahkannya dengan pemuda yang kini ada didekapannya. Juga menjalani kehidupan yang baik, yang sehat, yang indah bersama anak dan cucunya. Namun semua hanya harapan semata. Karena kenyataannya Handoko sama sekali tidak mengharapkannya lagi.


"Luna, sebelum Gue dan Lula pergi, Gue mau bilang satu hal." ucap Bayu dengan suara lembutnya. Benar jika ia akan membawa Lula untuk ikut orangtua nya yang berada di Luar Negeri. Ia sudah lulus SMA, sedang untuk Lula tidak mungkin melanjutkan Sekolah dalam keadaan yang tengah mengandung, bukan? Sudah memikirkan hal ini jika Ayah dari gadis yang ia dekap tidak memberikan restu.


"Katakan." ucap Luna dengan raut wajah datar. Menatap sang pemuda pun rasanya sudah enggan. Gadis itu sudah tidak peduli lagi dengan pemuda dihadapannya tersebut.


"Leo, Gue, dan Bara udah jadiin Lo target taruhan. Selama ini, Gue dan Bara dekati Lo karena sebuah taruhan. Itu kenyataan yang harus Lo tahu sebelum Lo menjatuhkan hati Lo buat pemuda lain."


Kenyataan yang sungguh menghentak seluruh organ syaraf sang gadis. Pemuda dihadapan itu tahu jika Luna sudah terjatuh pada hati Bara. Itu sebabnya, ia harus memberitahu yang sesungguhnya agar gadis itu tidak salah memilih jalan. Sungguh, jika ditanya mengenai hatinya sendiri, sudah yakin Bayu akan menjawab satu nama gadis yang benar bertahta dihatinya saat ini. Yaitu, Luna. Namun, bukankah sebuah perbuatan selalu ada pertanggungjawaban? Dan Bayu harus melakukan itu pada Lula meski hatinya bukan milik sang gadis.


Air mata langsung jatuh berderai ketika ia sudah menutup pintu kamarnya. "Jadi ini yang Lo bilang kalau Gue harus maafin Lo, Ra?" gumam sang gadis di tengah isaknya. Hatinya sangat hancur dalam waktu yang bersamaan.


Entah hal mana yang ia tangisi kali ini, semuanya dirasa begitu sakit. Semuanya, cinta dan keluarga. Ternyata memang tidak pernah berpihak kepadanya. Seluruh tubuh gadis itu lemas, hingga ia terjerembab diatas lantai. Terduduk, bersandar pada pintu yang tertutup rapat.


"Gue benci sama Lo. Tapi, Gue udah terlanjur jatuh cinta sama Lo." terus bermonolog dengan dirinya sendiri, sembari sesekali menghapus air mata yang ada di pelupuk matanya.


Tidak akan melempar barang-barang seperti Handoko di Ruang Tamu beberapa saat yang lalu. Tubuhnya terlalu lemah untuk melakukan itu semua.

__ADS_1


Entahlah, hidup seperti apa yang ia jalani saat ini. Entah harus mempercayai setiap ucapan cinta yang keluar dari bibir Bara atau tidak. Semua sangat sulit untuknya.


***


Merebahkan diri diatas peraduan ranjang besar nan mewah. Berkali-kali menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya. Sesekali terdengar isakan berat dari bibir yang mulai memudar dari warna kemerahan tersebut. Kemudian, tangannya merambat keatas meja disisi ranjang. Meraih sebuah foto yang terbingkai dengan indah, sejak menikah hingga sekarang foto itu masih selalu ada diatas meja tersebut.


"Aku gagal Amara." ucapnya menatap foto mendiang istrinya yang terlihat begitu cantik dengan balutan gaun pernikahan berwarna putih tersebut.


"Kamu memintaku untuk menjaga anak-anak kita. Tapi, aku gagal melakukan itu. Aku gagal." terus mengusap air mata yang selalu keluar setiap kali ia menghapusnya, sesekali nafas juga tersengal hebat setiap ia berucap.


"Maafkan aku Amara. Tolong jangan membenciku. Aku juga hancur melihat anak kita begitu terjerumus begitu jauh."


"Aku juga bingung harus berbuat apa. Satu-satunya jalan supaya anak kita tidak merasa terkekang adalah membebaskannya."


"Iyakan? Anak kita pasti terkekang kan? Itu sebabnya anak kita sampai berbuat yang tidak-tidak."


"Maafkan aku ya Amara. Aku memang bodoh dalam mendidik anak-anak kita. Aku kira, sifat yang keras adalah sifat yang baik dalam mendidik seorang anak. Ternyata aku salah. Dan kamu benar. Sebuah kelembutan lah yang seharusnya kita tanamkan kepada anak-anak kita." terus bermonolog dengan air mata yang tiada berhenti. Entah sudah berapa kali Handoko mencoba menghapus air mata tersebut, tetap terasa sia-sia.


"Sekarang, Lula pasti akan lebih bahagia dengan pilihannya. Maafkan aku tidak bisa mempertahankan anak kita. Mungkin suatu saat nanti, semua akan kembali baik-baik saja."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2