DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 24


__ADS_3

Hari-hari mendekati lomba yang akan diikuti oleh Luna semakin dekat. Tak ada waktu bagi Luna untuk bersantai-santai dalam melatih kemampuan yang akan ia tunjukkan dihari lomba mendatang.


Pagi ini, setelah menyelesaikan sarapan paginya, Luna bermaksud untuk meminta ijin mengikuti lomba yang ia gemari.


"Ayah, aku mau minta ijin buat ikut lomba musik antar kota dan Sekolah. Boleh kan?"


"Kenapa harus meminta ijin?" Ucap Handoko sembari meletakkan sendok dan garpunya diatas piring kosong yang kotor.


"Mendekati lomba, pasti aku sibuk banget latihan berbagai alat musik. Juga, latihan buat lomba. Jadi, aku mau minta ijin sama Ayah."


"Boleh saja. Asal tidak mengganggu belajarmu dihari mendatang. Dan tetap, jaga jarak dengan siapapun."


Lula hanya terdiam saja mendengarkan percakapan antara sang kembaran dengan Ayah tunggalnya. Akhir-akhir ini ia merasa kalah dengan Luna, merasa perhatian Handoko sekarang berkurang kepadanya.


Apalagi jika Luna berhasil memenangkan lomba pada akhirnya nanti, pasti Handoko akan lebih bangga lagi dengan Luna. Sementara ia akan dikucilkan karena tidak memiliki prestasi apapun di Sekolah.


"Lula, kamu diet?" Tanya Handoko membuyarkan lamunan sang gadis.


Menatap nasi goreng yang masih utuh dihadapannya, Lula kemudian menggeleng lemah. "Aku nggak enak makan akhir-akhir ini. Mungkin, karena nggak enak badan." Ucapnya dengan suara parau.


"Kenapa tidak istirahat dulu sampai benar-benar sembuh?"


Ucapan Handoko tersebut justru membuat Lula semakin menggeleng. "Tidak Yah, aku baik-baik aja kok."


Tentu saja, mana mau dia berpisah dengan Bayu barang sedetik saja. Berpisah saat pulang sekolah hingga melewati malam dan kembali lagi ke pagi saja rasanya seperti setahun lamanya.


"Ya sudah, kalian berangkat sekarang. Ayah libur hari ini." Ucap Handoko yang langsung dipatuhi oleh kedua anak gadisnya.


***


"Luna, ini formulir pendaftaran lomba. Lo masih ada waktu buat latihan. Dan Gue, akan ajari Lo semua alat musik yang mau Lo coba." Ucap Bayu ketika baru saja Luna dan Lula keluar dari Limousine termahal di Negeri tersebut.


"Terimakasih ya Kak." Ucap Luna dengan tersenyum manis, mengambil satu lembar formulir yang diberikan Bayu kepadanya. Melihat senyuman manis sang gadis, membuat Bayu ikut tersenyum hangat dibuatnya.


Lula yang menyaksikan adegan antara Luna dan Bayu tersebut merasa panas. Ia hentakkan kakinya dengan sangat kesal, bibirnya begitu maju dengan cemberutnya.


"Lula, Lo nggak mau ikut lomba?" Ucap Bayu menatap pada Lula, yang ditatap hanya melirik kemudian beranjak meninggalkan begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dari sang kakak kelas yang berhasil merebut seluruh hidupnya tersebut.

__ADS_1


"Maafin Lula, dia emang begitu." Ucap Luna dengan polosnya. Sedang pemuda tampan itu hanya mengangguk kecil sembari tersenyum tipis.


Ia ajak sang gadis untuk melangkah memasuki gerbang utama menuju kelas yang disinggahi oleh Luna.


"Kak, Gue mau bilang sesuatu sama Lo." Ucap Luna menghentikan langkahnya dengan gontai. Ia tatap sang pemuda dihadapan dengan malu-malu.


"Soal apa?"


"Kemarin.."


"Udah nggak usah dibahas. Kita jalani aja kedepannya gimana. Gue tau kok Lo nggak dibolehin pacaran kan sama Ayah Lo?"


Luna mengangguk, membenarkan ucapan sang pemuda yang benar adanya. Merasa lega karena ternyata, perasaan yang ia rasakan saat ini ada balasannya.


"Lo nggak usah takut, Gue bakal selalu ada buat Lo." Ucap Bayu membelai pelan pipi Luna.


"Sekarang, Lo taruh tas Lo terus kita latihan. Masih ada waktu sebelum bel berbunyi. Gue tunggu diruang musik ya." Ucap Bayu terus membelai pipi Luna dengan lembut.


Dengan mengangguk malu-malu, Luna membiarkan sang pujaan hati berlalu dari hadapannya. Ia langsung tersenyum dengan lebar kemudian melompat-lompat dengan riang. Hatinya sungguh berdebar ketika tangan kekar Bayu membelai lembut pipi gembul-nya.


Perlakuan Bayu yang dirasa sangat lembut kepadanya sungguh membuat hati berdebar-debar.


"Laras! Ngagetin aja sih Lo!" Kesalnya menatap cemberut kearah Luna.


"Lo kenapa sih?"


"Bayu mau ngajarin Gue main musik!" Pekik Luna tersenyum kembali.


"Tadi Bara nyari Lo, mau ngajarin alat musik juga. Gila ya Lo, diberondong dua manusia tampan." Ucap Laras sembari melipat tangan didepan dada. Ia kemudian mengajak sang sahabat untuk berlalu menuju kelasnya.


"Itu formulir apaan?"


"Buat lomba." Luna memperlihatkan formulir yang sedari tadi ia pegang sejak diberikan oleh Bayu kepadanya. Tak menaruhnya di dalam tas.


"Nggak lama lagi dong lombanya. Gila banget, ternyata udah lama Gue sekolah disini." Ucap Laras tertawa ringan. Luna pun ikut tertawa dan mengangguk.


Memasuki kelas dengan riang, mata bulat Luna menyapu pandang. Mencari satu sosok yang membuat hatinya mengganjal saat melihat ekspresi cemberut sang kembaran ketika ia bersama Bayu.

__ADS_1


"Lo cari siapa?" Tanya Laras kemudian mendudukkan bokongnya diatas bangku sekolah.


"Lula kemana? Lo lihat nggak?"


"Enggak, kan Gue juga baru datang."


"Ya sudah, Gue ke ruang musik ya. Mumpung belum bel. Nanti kalau Lo ketemu Bara lagi, bilangin aja Gue setiap ada waktu kosong pasti keruang musik." Pesannya menepuk pundak Laras. Sang sahabat hanya mengangguk saja mendengarkan pesan-pesan Luna.


Gadis itu merasa kasihan pada Bara, melihat betapa perhatiannya Bara pada Luna membuat gadis itu mempunyai kesimpulan jika sang ketua osis pasti menyimpan rasa kepada sahabat cantiknya itu.


***


Melangkah menuju pintu utama ruang musik yang sangat besar tersebut. Pandang kembali menyapu kesana kemari, namun ia tak menemukan siapapun disana.


"Dimana Bayu? Katanya nunggu disini? Apa Gue kelamaan ya sampai Bayu jadi bosan nungguin Gue?" Gumamnya bermonolog dengan dirinya sendiri. Sesaat kemudian, ia terkekeh dengan sendirinya membayangkan raut wajah Bayu yang kesal karena menunggunya terlalu lama.


"Gue latihan sendiri aja deh." Ucapnya dengan senyum gamang.


"Lo latihan lagi?" Ucap seseorang diambang pintu ruang musik. Menatapnya dengan senyum hangat yang selalu menjadi candu bagi Luna.


"Bara! Syukur Lo disini. Ajarin Gue ya!" Ucap Luna dengan senang.


"Iya, tadi Gue cari Lo. Kata Laras Lo disini."


"Iya, tadi Bayu mau ajarin Gue. Tapi ternyata dia nggak datang."


Bara tersenyum kecil mendengarnya, "Bayu sibuk. Gue aja yang ajari Lo."


"Lo mau belajar alat musik apa? Piano sudah bisa?"


"Gue masih mau belajar piano aja deh. Kayaknya waktu lomba nanti, Gue mau pakai piano aja."


"Oke, ayo kita mulai."


Bara mengambil posisi duduk disebelah Luna yang sudah siap di kursi pianonya. Menekan tuts-tuts piano seperti biasa sembari melatih Luna agar mengikuti apa yang ia katakan dan arahkan. Mengajari para junior bermain alat musik memang bukan hal yang pertama bagi sang ketua osis dan juga walinya.


Memang sebenarnya tidak ada dalam aturan, seorang ketua osis maupun sang wakil untuk mengajari seseorang bermain ini dan itu. Ini hanya inisiatif seorang pria untuk menjadi lebih dekat dengan pujaan hatinya.

__ADS_1


"Gue yang mau ajari Luna, kenapa Lo yang ada disini?" Ucap Bayu menatap datar pada Bara dan juga Luna dari kejauhan.


BERSAMBUNG...


__ADS_2