DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 33


__ADS_3

Masih berada di ruangan bernuansa serba putih, kedua sejoli masih dengan menahan napas mendengarkan seluruh ucapan seorang wanita yang duduk berhadapan dengan mereka.


Bagaimana saat wanita paruh baya itu menyuruh mereka untuk menjaga kandungan sang gadis, hingga menyarankan untuk terus berkunjung dalam jangka waktu satu bulan sekali. Namun, tidak ada satupun kata yang di dengar oleh Bayu maupun Lula.


Keduanya masih tak percaya hingga masih terdiam seribu bahasa. Masih mendengarkan sang wanita berucap ini dan itu, hingga akhirnya hilang sudah kesabaran Bayu. "Terimakasih." Pungkasnya memotong pembicaraan sang Dokter lalu keluar dari ruangan begitu saja.


"Bayu!" Pekik Lula melihat kepergian Bayu tanpa mengajak dirinya. Hingga sesaat kemudian ia pun beranjak meninggalkan ruangan dengan sang Dokter yang menatap heran kepada kedua manusia tersebut.


"Bayu, kenapa pergi gitu aja sih?" Keluh Lula. Kedua sejoli itu kini sudah berada diarea parkiran. Berdiri disisi motor sport Bayu yang masih terparkir rapi ditempatnya.


"Gue bingung Lula! Gue bingung! Kita masih sekolah, tapi Lo hamil gitu aja!" Kesal Bayu dengan nada suara yang naik beberapa oktaf. Bukan kesal pada Lula, melainkan pada dirinya sendiri. Bisa begitu bodoh dan ceroboh hingga akhirnya terbentuk benih cinta didalam rahim sang gadis.


"Gue hamil juga karena Lo Bay! Ini anak Lo!" Teriak Lula dengan perasaan yang campur aduk. Hatinya begitu kalut dan takut melihat reaksi Bayu tentang kehamilannya.


Gadis itu terduduk begitu saja, kakinya dirasa sangat lemas untuk menopang tubuhnya sendiri. Air mata sudah merembes keluar dari mata bulatnya. Mata yang selalu congkak dan angkuh menatap setiap orang yang ada dihadapannya, kini hanya terlihat tatapan sendu dan rapuh didalamnya.


Bayu ikut terduduk disebelah Lula yang semakin terisak, ia peluk gadis yang ia nodai tersebut dengan perasaan gamang. Entah apa yang akan ia dapatkan dari keluarganya nanti jika mengetahui bahwa putra kebanggaan keluarganya sudah menghamili anak orang lain.


Entah apa juga yang akan terjadi dengannya dan Luna. Yang pasti, gadis cantik yang juga disukai oleh sahabatnya itu tentu tidak akan sudi lagi bersamanya.


Lula memeluk Bayu dengan erat. Isaknya masih terdengar begitu nyata ditelinga sang pemuda. "Lo nggak bakalan ninggalin Gue kan Bay? Lo pasti bertanggung jawab kan Bay?" Ucap Lula dengan perasaan was-was dihatinya mendengar jawaban wakil ketua osis tersebut.


"Iya, Gue pasti bertanggung jawab. Tapi, kasih Gue waktu buat bilang sama keluarga Gue ya. Juga sama Ayah Lo."


Lula mengangguk saja mendengar permintaan sang pemuda yang menurutnya tidak berat. Asal pemuda itu mau bertanggung jawab, bagi Lula itu sudah lebih dari cukup. Gadis itupun tak sanggup membayangkan bagaimana murkanya seorang Handoko jika mengetahui ia sudah hamil saat masih berusia 16 Tahun.


***


Lomba yang dinanti-nanti sudah tiba. Luna dengan perasaan yang berdebar kembali meyakinkan hatinya dengan kuat agar bisa membawakan penampilan yang terbaik untuk seluruh penonton, juga sang Ayah yang benar-benar menyempatkan waktunya untuk hadir.


Merasa sangat senang dan bangga ketika Ayahnya mau datang melihatnya. Mengingat selama ini Handoko hanya terlihat sayang kepadanya, tak memungkiri ia juga bagai tak percaya jika Handoko ternyata mau hadir melihatnya tampil untuk membanggakan Sekolahnya.


"Luna, Lo harus semangat ya! Tunjukin sama Om Handoko kalau Lo adalah yang terbaik!" Ucap Bara dengan kepalan tangan yang ia tunjukkan kepada sang gadis.


Bara dan Bayu adalah ketua osis dan juga wakil ketua osis. Kedua pemuda itu akan menjadi pemimpin yang akan memimpin jalannya acara lomba hingga selesai. Namun hingga saat nama Luna hampir disebut oleh sang pembawa acara, pemuda yang bertahta dihati sang gadis justru tidak terlihat batang hidungnya.


"Lo cari Bayu?" Tanya Bara menatap mata bulat sang gadis yang terlihat kesana kemari mencari keberadaan seseorang. Gadis itu mengangguk dengan senyum gamang merajai wajahnya yang berkeringat.


"Dia ada dibelakang. Lo nggak usah mikir yang aneh-aneh, dia nanti juga bakal nemuin Lo kok. Yang penting Lo harus nunjukin yang terbaik! Oke?" Ucap Bara masih dengan kepalan tangan yang membuat Luna ikut merasakan semangat membara


Semakin membara lagi ketika sang pembawa acara sudah terdengar menyebutkan sebuah nama yang membawa langkah kaki mungil sang gadis melangkah menuju panggung besar dengan sorot lampu terang menyinari setiap langkahnya berjalan. Sesaat, ia merasa seperti seorang artis besar yang diikuti lensa kamera kemanapun ia pergi.

__ADS_1


Mengenakan dress panjang berwarna ungu muda dengan aksen renda-renda berbentuk meliuk. Kemudian lengan tangannya yang panjang tersebut terbuat dari kain transparan hingga terlihatlah kulit mulus dari lengan sang gadis. Sepatu high heels yang dikenakan sang gadis dengan warna rose gold berbentuk runcing itu pun juga menjadi sorotan utama bahkan dengan kaki jenjang yang terlihat mengkilap tersebut. Sungguh sempurna Luna dimata Bara dan juga semua penonton yang akan menyaksikan lomba besar tersebut.


Meraih sebuah microphone yang diserahkan oleh sang pembawa acara, Luna kemudian memberikan kata sambutan yang sudah ia pelajari sesaat setiap ia selesai berlatih piano.


"Suatu kebanggan tersendiri bagi Luna bisa berada dipanggung yang besar dan megah ini untuk membawakan sebuah penampilan epik untuk sebuah lomba yang diselenggarakan oleh pihak sekolah dan juga pihak-pihak terkait. Maka, ijinkan Luna untuk menyanyikan sebuah lagu yang Luna persembahkan untuk Ayah Luna, juga untuk kalian semua." Pungkas menutup sebuah pembukaan acara dirinya.


Melangkah pasti menuju sebuah piano yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri beberapa saat yang lalu. Jemari lentik mulai menekan tuts-tuts piano dibarengi dengan sebuah suara halus nan merdu terdengar dari bibir merah alami sang gadis.


Tidak ada iringan musik band yang mengiri pentas seni Luna kali ini. Gadis itu khusus membawakan sebuah lagu dengan alat musik piano yang sudah ia pelajari beberapa bulan lamanya.


Suara riuh tepuk tangan terdengar begitu antusias ketika Luna dengan lugas menyanyikan sebuah lagu mellow dengan epik. Suara yang halus dan merdu begitu menghanyutkan siapapun yang mendengarnya.


Membawakan sebuah lagu dari penyanyi artis terkenal bernama Vierra tersebut, membuat hati Bayu terenyuh dengan mendengar lirik demi lirik yang diucapkan oleh Luna. Melihat dan mendengar dari kejauhan, seakan gadis itu tengah bercerita apa yang ia rasakan hingga benar-benar membuatnya merasa bersalah. Hatinya berdenyut dengan hebat ketika lagu semakin lama dibawakan oleh sang gadis.


Dirimu


Tak pernah menyadari


Semua


Yang telah kau miliki


Kau buang aku tinggalkan diriku


Aku kan bertahan


Meski takkan mungkin


Menerjang kisahnya


Walau perih walau perih


Salahkah


Aku terlalu cinta


Berharap


Semua kan kembali


Kau buang aku tinggalkan diriku

__ADS_1


Kau hancurkan aku


Seakan ku tak pernah ada


Aku kan bertahan


Meski takkan mungkin


Menerjang kisahnya


Walau perih walau perih


Aku kan bertahan


Meski takkan mungkin


Menerjang kisahnya


Walau perih


Aku kan bertahan


Meski takkan mungkin


Menerjang kisahnya


Walau perih walau perih walau perih


Walau perih..


Tersenyum begitu manis ketika ia mengakhiri lagu yang ia bawakan siang hari ini. Menatap seluruh penonton yang bertepuk tangan dengan keras sembari memandang bangga kepadanya, sungguh membuat hati Luna menghangat dan berbinar senang. Seperti tak sia-sia ia berlatih selama ini dan juga bertekad untuk mengikuti lomba meski Ayahnya sudah melarangnya.


Membungkukkan badannya memberi salam perpisahan, sebentar lagi akan ada peserta lain yang akan menampilkan keterampilannya dalam bermain alat musik dan bernyanyi menggantikan Luna diatas panggung.


Gadis itu melangkah menuju tempat dimana Bara sudah menunggunya. Ada seorang gadis disebelah sang pemuda yang langsung berteriak riang sembari melompat-lompat menyambut kedatangannya.


"Luna! Sumpah, Lo keren banget! Maaf ya Gue telat, tapi Gue udah lihat Lo nyanyi tadi!" Pekik Laras sembari memeluk Luna dengan erat. Ia turut bangga melihat sang sahabat mampu membawakan sebuah lagu dengan diiringi piano bmitu berhasil membuat seluruh penonton terkesima.


"Gue bangga sama Lo!" Ucap Bara dengan senyum haru, ia peluk sang gadis dengan tiba-tiba dan sangat erat. Menyalurkan seluruh perasaan yang ada pada hatinya kepada sang gadis.


"Gue cinta sama Lo. Sampai kapanpun.".

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2