DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 25


__ADS_3

Jika Bara menatap kesal pada kedatangan Bayu, maka tidak dengan Luna yang langsung berbinar indah menatap sang pujaan hatinya.


"Kak, kenapa baru datang?" Ucap Luna kemudian beranjak dari kursi piano. Berdiri saja, tanpa menghampiri sang kakak kelas.


Bara yang mendengar ucapan Luna menatap nanar, begitu segan gadis itu kepada Bayu namun tidak kepadanya. Selalu memanggil nama tanpa embel-embel 'Kak' didepan namanya, sungguh jauh berbeda dengan apa yang baru saja Luna sebut untuk Bayu.


"Iya, tadi Leo manggil sebentar." Jawab Bayu kemudian tersenyum kearah Luna. Ia datangi sang gadis kemudian mengelus lembut puncak kepala gadis polos tersebut. Membuat aliran darah Bara mendidih melihatnya.


Bukankah, itu yang selalu Bara harapkan dari hubungannya dengan Luna? Mencium, membelai, juga mengelus apapun yang ada di diri Luna?


"Jadi mau belajar apa hari ini?" Tanya Bayu dengan suara yang sangat lembut dan juga perhatian kepada Luna.


"Kalian pacaran?" Ucap Bara menengahi obrolan hangat antara Luna dan Bayu. Ia harus memastikan semuanya benar-benar jelas sebelum ia menjatuhkan hatinya terlalu dalam.


"Enggak kok." Ucap Luna dengan jelas. Meskipun harapannya bersama Bayu sangat besar dikemudian hari. Namun, melihat tatap Bara kepadanya, sungguh membuat hatinya takut akan sesuatu.


"Kalau Om Handoko kasih izin buat Luna boleh pacaran, pasti Gue sama Luna sudah pacaran. Kita saling mencintai. Iyakan?" Tatap Bayu kepada Luna diakhir kalimatnya. Membuat Luna mengangguk dengan senyum tipis diwajahnya.


"Lo cinta sama Bayu?" Tanya Bara sembari beranjak meninggalkan kursi piano. Menatap pada Luna dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh sang gadis


Sedang yang ditatap hanya terdiam tanpa menjawab, hatinya bergemuruh dengan hebat. Ingin menjawab dengan lugas dan tenang, namun tatapan Bara begitu menguncinya hingga tak bisa berkata-kata. Bahkan untuk menganggukkan kepalanya saja terasa berat.


"Gue duluan." Ucap Bara kemudian meninggalkan ruangan musik. Menyisakan Bayu dan Luna saja.


"Kamu kenapa? Kok diam?" Tanya Bayu membelai lembut pipi sang gadis yang terlihat masih diam tak bersuara.


"Ya sudah, kamu masuk kelas dulu. Nanti latihan kalau sudah pulang sekolah." Masih dengan intonasi yang sangat lembut.


Mengangguk kecil, Luna kemudian beranjak meninggalkan Bayu diruang musik. Masih bingung memikirkan tentang hatinya yang selalu bingung untuk menjawab pertanyaan Bara beberapa saat yang lalu.


"Kenapa Gue jadi gini sih?" Gumamnya terus berjalan menuju kelas.


"Gue baru pertama kali jatuh cinta. Tapi kenapa gini banget ya rasanya, nano-namo banget!"


***


Usai mengikuti pelajaran utama, Lula bergegas menuju tempat dimana Bayu sering menghabiskan waktu istirahatnya dengan tenang.

__ADS_1


Menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa, kemudian menemukan seorang pemuda yang memang benar berada ditempat yang ia tuju saat ini.


"Kak Bayu!" Hentak Lula membuat Bayu berjingkat kaget. Gadis itu langsung duduk disamping sang pemuda.


"Kenapa?" Tanya Bayu tak mengerti dengan kedatangan Lula yang terkesan sangat kesal kepadanya.


"Jangan dekat-dekat sama Luna! Kak Bayu kan bilang kalau dia cuma target buat ngalahin Bara! Kenapa malah kayak pacaran beneran sih? Lagian, bukannya Luna sudah ngaku kalau dia cinta sama Kak Bayu? Berarti sudah menang dong?" Cecar Lula penuh dengan tekanan emosi. Membuat Bayu menghela nafas panjang.


"Kamu cemburu?"


"Ya jelas aku cemburu! Kak Bayu tuh lembut banget sama Luna!" Bayu terkekeh kecil mendengar penuturan sang gadis yang sudah ia cicipi bagian tubuh terdalamnya.


"Nggak usah cemburu. Itu kan cuma akting." Ucap Bayu dengan senyum kecil menghiasi bibirnya. Merasa gamang dengan ucapannya sendiri.


"Kenapa jadi Kak Bayu yang ajari Luna main musik? Kan tadinya sudah Bara?"


"Ya kan biar Gue deket sama Luna."


"Tetap aja Gue nggak suka ya kalau Kak Bayu dekat-dekat banget sama Luna. Cepat akhiri aktingnya." Masih dengan wajah yang cemberut karena benar-benar membuat hatinya takut akan kehilangan sang pemuda idaman.


"Iya, nanti kalau waktunya sudah tepat ya."


Sedang yang dipeluk justru sangat tertekan dengan keadaannya yang seperti ini. Seperti terjebak dalam permainannya sendiri.


Melihat Bara yang sudah kalak telak dengannya ternyata tak membuat hatinya begitu bahagia.


Ia justru juga merasa sangat kehilangan sang sahabat.


***


Usai menyelesaikan acara belajarnya, Lula beranjak meninggalkan kamar indahnya menuju ruang kerja sang Ayah.


Mengetuk pintu dengan perlahan, gadis itu kemudian membuka daun pintu ketika sudah terdengar suara sang Ayah yang mengijinkannya untuk masuk.


"Lula? Ada apa? Tumben sekali?" Ucap Handoko kemudian menutup laptop dihadapan. Ia hampiri anak gadisnya dan ia ajak untuk duduk dibangku santai yang terletak di balkon ruang kerja.


"Ayah, kenapa Ayah kasih ijin buat Luna ikut lomba?" Ucap Lula langsung pada inti permasalahan.

__ADS_1


"Kenapa memangnya? Kalau dia menang, itu prestasi yang membanggakan." Handoko menatap Lula dengan heran, juga merasa curiga dengan anak bungsunya.


"Lula? Kenapa diam?" Guncang Handoko pada tubuh sang gadis yang terdiam saja sembari menunduk resah.


Sedang Lula, memutar otak dengan cepat agar sang Ayah tak merasa curiga dengannya. "Luna dekat sama Bayu dan Bara. Setiap hari, mereka yang mengajari Luna bermain musik. Bukannya tidak menutup kemungkinan dia bakalan suka sama kakak kelas itu Yah?"


Handoko menghela nafas panjang. Sudah menduga apa yang Lula ingin katakan pasti mengenai hubungan yang sudah ia larang sejak awal dengan tegas.


"Baiklah, terimakasih ya kamu sudah bilang sama Ayah. Terimakasih kamu sudah mau melindungi saudaramu itu."


"Ya, meskipun aku tahu Luna emang nggak pernah suka sama aku." Ucapnya dengan bernada.


"Nggak apa, nanti dia juga bakalan tahu kalau kamu emang mau melindungi kakakmu itu."


Lula mengangguk sembari tersenyum kecil, "Ya sudah Yah, Lula balik ke kamar ya."


"Selamat beristirahat."


Setelah mengecup puncak kepala sang anak, Handoko kemudian membiarkan Lula kembali ke kamarnya sembari kembali menghela nafasnya dengan resah.


Sedang Lula, tersenyum licik ketika berhasil menghasut sang Ayah untuk membuat Luna menghentikan niatnya mengikuti lomba. Ia tersenyum sangat puas sembari memasuki kamarnya.


Merebahkan tubuhnya diatas ranjang masih dengan senyum yang lebar diwajahnya. "Akhirnya, Bayu ku tidak akan terbagi." Ucapnya dengan riang.


***


Selesai sarapan pagi, Handoko kembali membuka suara untuk menyelesaikan keresahannya akibat ucapan anak gadisnya semalam.


Namun, belum sempat berucap, ia digagalkan fokus oleh cara Lula menyantap sarapan paginya.


Menelan berbagai makanan dengan porsi yang sangat banyak, sungguh bukan Lula seperti biasanya yang hanya makan beberapa suap saja.


"Lula, katanya kamu tidak enak makan akhir-akhir ini?" Tanya Handoko menyatukan kedua tangannya untuk menopang dagunya.


"Nafsu makanku bertambah Yah. Nggak tahu kenapa, lapar terus rasanya."


"Kamu makin gemuk ya sekarang. Ternyata, Ayah benar-benar sibuk sampai tidak memperhatikan anak-anak Ayah."

__ADS_1


Luna masih diam tak ikut menimpali ucapan sang Ayah. Ia hanya menatap Lula yang dengan rakusnya menyantap semua menu sarapan yang tersedia dimeja makan. Ikut menelan ludah ketika melihat saudaranya menelan semua makanan, perutnya dirasa sudah kenyang lebih dulu sebelum ia menikmati sarapan paginya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2