
Usai sudah semua kekacauan hari ini. Usai sudah semua kebohongan yang sempat di tutupi untuk menyembunyikan kesalahan diri. Setiap perbuatan, selalu ada tanggung jawab yang menyertainya. Maka, ketika sebuah kesalahan ada pada perbuatan, hanya bisa berpasrah akan apa yang terjadi kedepannya. Bukankah beberapa manusia tidak cukup hanya dengan diberi kata maaf?
Tidak ada perpisahan yang manis. Meski di ucap dengan kata yang baik sekalipun. Sama seperti senja. Namun, tetap akan ada perbedaan antara manusia dan senja itu sendiri.
Hanya senja yang tahu cara berpamitan dengan indah. Sedang manusia, ada kalanya berpamitan dengan cara meninggalkan sebuah rasa sakit. Namun, bukankah setiap senja selalu menjanjikan sesuatu yang baru?
Hari ini, Bayu bertekad mengakhiri semua kebohongan yang ia perbuat. Mengakui semua kesalahan yang ia lakukan. Mencari sebuah pembenaran tidaklah baik, namun bukankah mengakui sebuah kesalahan adalah sikap yang benar? Tidak semua manusia bisa mengakui sebuah kesalahan, tapi tidak semua manusia juga bisa menerima sebuah kebohongan.
Sama seperti Handoko. Ayah dari dua anak yang sudah di tinggal pergi oleh istrinya ini sangat-sangat membenci yang namanya kebohongan. Dalam bentuk rupa apapun. Bahkan, saat anak kesayangannya sendiri yang melakukan kebohongan itu, tetap tidak ada tempat untuk seorang pembohong.
Kebohongan yang memporak porandakan hati sang Ayah. Memporak porandakan keluarga yang sudah bertahun-tahun lamanya bersama. Memporak porandakan segalanya. Termasuk, hidup sang gadis itu sendiri. Berhenti Sekolah di usianya yang baru menginjak 17 Tahun, menjadi seorang Ibu di usinya yang masih 17 Tahun pula. Sungguh, perbuatan yang menyenangkan memang akan membawa kita pada jurang kematian itu sendiri. Bukankah tidak semua senang berakhir dengan kebahagiaan?
"Kita mau kemana Kak?" tanya sang gadis dengan tatapan mata yang sayu. Mata bulat gadis itu terlihat bengkak akibat menangis sejak pagi tadi. Sejak Ayahnya mengamuk dan mengatakan ini dan itu. Dan gadis itu tahu, semua rasa sakit yang ia rasakan hari ini adalah karena dirinya sendiri. Karena kebodohan yang ia lakukan sendiri.
Kini, Bayu dan Lula sudah berada didalam mobil sang pemuda. Di jok belakang sudah ada tas dan koper milik sang gadis, berisi semua baju-baju yang berada di dalam almari besarnya. Kini, semua itu harus ia bawa. Bukankah Handoko sudah melepaskannya bersama Bayu? Itu artinya, sudah tidak ada tempat untuk Lula dirumah besar tersebut. Rumah yang sejak ia masih kecil sudah menjadi saksi semua kenakalannya. Rumah yang menyimpan semua kenang bersama sang Ibu, sang Ayah, juga saudara kembarnya yang selalu ia sakiti.
"Kita ke Rusia."
"Rusia?"
"Orangtuaku ada disana. Kita akan bersama mereka. Aku akan bekerja di Perusahaan Ayahku. Memulai dari bawah, menjadi OB misalnya." jelas sang pemuda dengan sabar. Mulai hari ini, ia akan melupakan Luna. Melupakan gadis yang sudah ia sakiti hatinya, gadis yang tidak akan pernah menjadi miliknya.
Mulai hari juga, Bayu akan bertekad mencintai Lula. Belajar menerima semua yang ada pada gadis tersebut. Bukankah gadis disebelahnya ini adalah Ibu dari anaknya nanti?
"Baiklah. Aku tidur dulu ya Kak, nanti bangunkan kalau sudah sampai di Bandara." ucap sang gadis dengan suara yang parau.
Mengangguk sembari mengelus puncak kepala calon istrinya, Bayu kemudian melirik arloji dipergelangan tangan kanannya. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Baiklah, ia akan melakukan penerbangan ke Rusia malam ini juga.
"Selamat tinggal Luna, selamat tinggal Om Handoko, selamat tinggal kenangan. Semoga suatu saat nanti kalian bisa menerima kita kembali."
***
Pagi ini Luna memutuskan untuk pergi ke Sekolah. Beberapa lagi, pengumuman kelulusan akan segera diberitahukan. Berjaga-jaga jika ada pemberitahuan lain yang akan diberikan oleh sang guru. Juga, karena Luna diminta oleh sang Ayah untuk memberitahukan kepada peninggi Sekolah jika saudara kembarnya itu akan dipindah sekolah ke Luar Negeri.
Tentu itu hanya akal-akalan Handoko saja untuk menutupi semua aib yang sudah terjadi akibat perbuatan Lula. Jika tidak begitu, maka tercoreng sudah wajah Handoko sebagai pemilik perusahaan ternama di Negeri tersebut.
Menghela nafas panjang, setiap ia memasuki gerbang utama, otaknya selalu berputar dengan cepat. Potongan-potongan kejadian yang selama 1 Tahun belakangan ini terjadi selalu terputar secara berurutan di ingatannya.
Tak mau mengingat, juga tak mau merasakan denyut rasa sakit dihatinya, Luna memilih untuk terus melanjutkan langkah kakinya menuju kelasnya dilantai 3. Sebentar lagi, ia tidak akan kerepotan menaiki anak tangga dengan cepat agar tidak terlambat masuk kelas. Karena kelas 8 SMA Labschool kini sudah diganti menjadi lantai paling bawah sendiri. Padahal sebelumnya, lantai paling bawah adalah lantai dimana kelas Bara dan kawan-kawannya berada.
Ah, pemuda itu lagi. Pemuda yang selalu bisa menghangatkan hatinya hanya dengan seutas senyuman kecil di bibirnya. Pemuda yang selalu senang mengacak-acak poninya, mengelus puncak kepalanya. Betapa gadis itu sangat merindukan sang pemuda. Meski di dalam kerinduan itu ada sepucuk rasa kecewa yang ia rasa.
Melewati sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka lebar, membuat Luna menghentikan langkahnya untuk sesaat. Rasa rindunya dengan sang pemuda kini membawa langkah kaki sang gadis memasuki sebuah ruangan yang sudah menjadi saksi bisu kedekatannya dengan dua pemuda sekaligus. Menjadi saksi bisu akan perjuangannya dalam berlatih alat musik dan menyanyi hingga mengantarkannya kepada gelar "Juara 1" dan membawa sebuah piala emas berkilauan.
__ADS_1
Berhenti melangkah, menatap sebuah benda besar berwarna putih mengkilap. Kemudian, ia dudukkan bokong sintalnya dihadapan barang besar tersebut. Menekan tuts-tuts dengan perlahan. Membuat rasa dihatinya kembali mencuat dengan berbagai perasaan yang melanda. Sedih, rindu, senang, kecewa, semua bercampur menjadi satu. Meski ia mencoba pendekatan dengan dua pemuda sekaligus, namun tetap saja hanya ada 1 pemuda yang berhasil memenangkan hatinya. Pemuda yang entah bagaimana kondisinya saat ini.
Mengalunkan sebuah intro lagu, mata gadis itu kemudian terpejam sembari menyanyikan lagu yang tengah viral tersebut. Lagu yang benar-benar menggambarkan isi hatinya saat ini.
Sampai saat ini tak terpikir olehku
Aku pernah beri rasa pada orang sepertimu
Seandainya sejak awal tak ku yakinkan diriku
Tutur kata yang sempurna, tak sebaik yang kukira
Takkan ku terima cinta sesaatmu
Bagaimana dengan aku terlanjur mencintaimu?
Yang datang beri harapan, lalu pergi dan menghilang
Tak terpikirkan olehmu, hatiku hancur kar'namu
Tanpa sedikit alasan, pergi tanpa berpamitan
Takkan ku terima cinta sesaatmu
Seandainya sejak awal tak ku yakinkan diriku
Tutur kata yang sempurna, tak sebaik yang kukira
Takkan ku terima cinta sesaatmu
Bagaimana dengan aku terlanjur mencintaimu?
Yang datang beri harapan, lalu pergi dan menghilang
Tak terpikirkan olehmu, hatiku hancur kar'namu
Tanpa sedikit alasan, pergi tanpa berpamitan
Tak akan ku terima cinta sesaatmu
Sial-sialnya ku bertemu dengan cinta semu
Tertipu tutur dan caramu
__ADS_1
Seolah cintai ku
Puas kau curangi aku?
Bagaimana dengan aku terlanjur mencintaimu?
Yang datang beri harapan, lalu pergi dan menghilang
Tak terpikirkan olehmu, hatiku hancur kar'namu
Tanpa sedikit alasan, pergi tanpa berpamitan
Takkan ku terima cinta sesaatmu
Lagu yang seharusnya dinyanyikan dengan beat penuh emosi kini menjadi sangat indah saat dinyanyikan dengan sebuah kelembutan. Ada hati yang begitu tergores dalam setiap lirik lagu yang gadis itu ucapkan.
Benar. Gadis yang kini sudah menjatuhkan hatinya kepada Bara justru merasa ragu setelah kemarin mendengar semua kenyataan dari bibir Bayu. Ragu, apakah rasa yang diberikan oleh Bara benar adanya bahwa itu adalah cinta? Atau, hanya karena Bara menargetkan dirinya? Menjadikannya taruhan semata?
"Gila! Lo keren banget!" pekik Laras sembari bertepuk tangan dengan kencang.
Menoleh, sedikit menghapus air mata yang meleleh di pelupuk matanya. Luna kemudian tersenyum senang ketika mendapati sahabatnya tiba-tiba datang. Namun, ketika melihat pemuda dibelakang sang gadis, senyum itu luruh seketika. Ingatannya kembali pada ucapan-ucapan Bayu kemarin saat berada dirumahnya. Bagaimana saat pemuda itu mengatakan jika Leo lah penyebab taruhan itu ada. Penyebab ia dipermainkan oleh 2 pemuda sekaligus.
"Kenapa Lo nangis?" tanya Laras dengan perasaan yang sedih. Menghapus air mata di pipi sang gadis dengan perlahan. Berfikir, pasti gadis itu merindukan Bara yang entah bagaimana sekarang keadaannya. Laras pun tidak tahu menahu soal keadaan mantan Ketua Osis tersebut.
Luna berdiri dari duduknya, kemudian menatap kearah pemuda dibelakang Laras dengan tajam. "Leo, kenapa Lo jahat banget sama Gue?"
Yang ditanya tentu saja kebingungan. Tidak tahu pasal apa yang telah ia perbuat hingga membuat gadis dihadapan itu murka kepadanya.
"Emangnya Gue ngapain?"
"Lo yang suruh Bayu sama Bara buat jadiin Gue taruhan kan? Sejahat itu Lo sama Gue? Gue punya salah apa sih sama Lo? Apa Lo pikir mempermainkan hati itu sebuah permainan yang menyenangkan?" cecar sang gadis dengan air mata yang semakin merembes keluar.
Dua manusia dihadapannya mematung. Yang lelaki tak menyangka jika taruhan iseng yang ia lakukan justru membawa petaka bagi seorang gadis cantik tersebut.
Sedang yang wanita mematung karena tak percaya dengan semua kebohongan yang Leo lakukan. Menatap sang pemuda dengan lirih, berpikir apakah Leo mendekatinya juga karena sebuah taruhan?
"Luna, Gue minta maaf!" ucap Leo dengan tegas. Cepat meringsek kearah sang gadis untuk menjelaskan lebih detail lagi.
"Luna, Lo harus tahu. Gue emang buat taruhan itu antara Bayu dan Bara. Tapi, setelah Bara tahu kalau Lo anaknya Om Handoko, Bara memutuskan untuk mundur Lun. Dan Gue menyetujui itu dengan menjadikan Bayu sebagai pemenangnya. Tapi, Bayu nekat buat terus melanjutkan taruhan ini meskipun Bara tidak menyanggupinya. Sampai akhirnya, sahabat-sahabat Gue benar-benar jatuh cinta sama Lo."
Luna sedikit terhentak, meski hatinya terus merasakan sakit yang luar biasa. "Persetan dengan cinta! Gue nggak pernah nyangka ternyata Lo dan dua temen Lo itu benar-benar rendahan! Menjual hati dan diri demi sebuah taruhan murahan!" ucap sang gadis kemudian berlalu meninggalkan Leo dan Laras didalam ruang musik. Sudah cukup sakit yang ia rasakan.
Sedang selepas kepergian Luna, Laras kini menatap tajam kepada pemuda yang sudah menempati tahta tertinggi didalam hatinya tersebut.
__ADS_1
"Apa Gue juga jadi target taruhan Lo?" tanya sang gadis dengan lirih. Takut, jika jawaban pemuda itu akan menyakiti hatinya.
BERSAMBUNG...