
Luna terpaku menatap sang Ayah yang sedari tadi terdiam diruang tamu sembari menatap kearah pintu utama. Sorot mata pria paruh baya tersebut penuh kekhawatiran. Hari sudah menjelang malam, namun ia juga belum bertemu saudara kembarnya sejak pulang sekolah beberapa jam yang lalu. Mungkin itu adalah penyebab utamanya sang Ayah yang sedari tadi terdiam diruang tamu menatap pintu utama tak beranjak sedetik pun.
''Ayah? Lula belum pulang?'' Berjalan dengan pelan menghampiri sosok Ayahnya yang hanya menggeleng.
''Kemana sebenarnya Lula? Kenapa akhir-akhir ini sering sekali pulang hingga larut malam?''
''Aku nggak tahu Yah. Aku selalu ikut seni musik, jadi nggak tahu Lula kemana. Dia nggak ikut ekstra apapun disekolah.''
Tepat setelah Luna berucap, suara deru mobil terdengar memasuki pekarangan rumah mereka. Terlihat Lula sudah pulang dengan diantar oleh mobil seseorang yang tidak Handoko maupun Luna kenali.
''Darimana? Tanpa pamit?'' Tanya Handoko langsung pada pokok permasalahan. Lula melirik kearah Luna yang berdiri tak jauh dibelakang Handoko, bersedekap dada dengan santai seolah menanti apa yang akan ia katakan pada sang Ayah.
''Lula tadi diminta sama kakak kelas buat kasih tahu dia apa aja kesukaan Luna, dan apa yang nggak disuka sama Luna. Dia mau nembak Luna Yah, dan aku disuruh kasih tahu semuanya sampai selarut ini,. Maafin Lula Yah.'' Ucap Lula dengan menunduk. Luna terkesiap mendengar penuturan sang saudara yang sering membuat ulah tersebut, berteriak dalam hati menyebut semua sumpah serapah yang ia tujukan pada saudaranya.
Handoko berbalik menatap Luna yang kini sudah bersiaga memasang wajah datar dan dinginnya, ''Siapa lagi? Bara?''
''Kan Lula yang dimintai ini dan itu, kenapa tanya Luna?''
''Kamu yang disukai. Bukan Lula!''
''Luna nggak tahu Yah!'' Hentak Luna tak mau disalahkan. Luna menatap tajam kearah Lula yang kini tersenyum culas menatapnya. Kembali merasa menang karena Luna yang mendapatkan teguran.
''Lain kali, jangan mau ya Lula. Biarkan itu diurus sama yang bersangkutan. Kamu jangan ikut-ikutan,'' Pesan Handoko menatap kembali pada anak kesayangannya. Luna yang melihat itu hanya memutar bola matanya dengan kesal, ia kemudian berbalik untuk melangkah menuju kamarnya. Tak mau mendengar apapun yang Lula dan Handoko bicarakan lagi.
Ia melirik ponselnya diatas meja, kemudian mencari nomor Bara. Setelah itu, ia mengirimkan pesan kepada sang pemuda tampan, ''Kak, baru ketemuan sama Lula ya?''
__ADS_1
Tak ada jawaban hingga beberapa menit kedepan, membuat Luna tersenyum kecut. Apa mungkin Bara? Pikirnya dalam hati.
''Udahlah, besok aja tanyanya.'' Gumam Luna kemudian beranjak menuju ranjangnya, berbaring sembari menatap langit-langit kamarnya. Senyum kecutnya mengembang dengan tiba-tiba, teringat akan satu sosok yang selalu membelanya. Namun kini, ''Ibu, apa Ibu sudah bahagia disana?'' gumamnya tak mampu membendung air mata.
Aliran sungai kecil luruh dimata sang gadis, membuatnya sedikit terisak karena rindu yang tiba-tiba menyeruak didalam hatinya. ''Ibu, kenapa cepat sekali Ibu ninggalin Luna?''
Tersengal sudah kini nafas gadis kecil yang selalu dimarahi oleh Ayahnya tersebut. ''Ibu, Ayah belum berubah. Luna pikir, setelah kepergian Ibu, Ayah akan sayang juga sama Luna. Ternyata itu cuma haluan Luna.''
Terus meracau sembari menepuk-nepuk dadanya yang masih terasa sesak, ia dengar sebuah notifikasi pesan berbunyi dari ponselnya. Namun, tak sejengkal pun ia beranjak dari posisinya untuk menyentuh benda pipih tersebut. Ia masih kalut dengan emosi yang tidak pernah bisa ia salurkan pada siapapun. Bantalnya yang sudah basah karena terkena air mata, ia ambil kemudian ia tangkup kan diatas wajahnya. Berharap isakan yang ia rasakan tak terdengar semakin kencang.
Ingin meraung, menjerit, dan memukuli apa saja yang ada dihadapan agar emosi yang meletup-letup karena keadilan yang tidak pernah ia dapatkan selama ini, namun tidak. Luna tidak bisa melakukan itu semua, atau Ayahnya akan datang dan menegurnya dengan lebih keras dari yang sudah-sudah.
Maka, semakin ia menangis, semakin itu pula ia ingin cepat terlelap. Matanya dirasa sangat berat hingga ia tak mampu lagi menahan untuk terus terbuka. ''Ibu, bantu aku.''
***
''Gue mau ngomong sama Lo.'' ucap Bayu kemudian menggunakan dagunya, ia memberi kode untuk berjalan menuju rooftoop diatap gedung sekolah. Bara yang memang tak ingin terlalu menjauh dari dua sahabatnya itu langsung bergegas mengikuti. Meski dalam hati ia ingin sekali menemui seorang gadis yang sudah dua hari terakhir tak ia temui dalam obrolanĀ singkat sekalipun.
''Sebenarnya Lo kenapa kayak menghindar gitu? Lo marah karena Gue taruhan sama Lo?' Ucap Bayu sesaat setelah mereka bertiga sampai ditempat yang selalu mereka pakai untuk berkumpul dan menentukan target.
''Jangan kayak gitu Bara, kita udah sahabatan dari SMP. Apa Lo lupa? Apa iya cuma karena Luna Lo jadi menjauh sama kita?'' Celetuk Leo yang sedari tadi hanya diam saja, dan kini ucapannya tersebut benar membuat Bara bereaksi. ''Gue tanya sama Bayu, kenapa taruhan ini terus Lo jalani padahal Gue udah mundur dari taruhan ini?''
Bayu terkesiap mendengar ucapan Bara, begitu pula dengan Leo. ''Lo tahu darimana?''
''Gue tahu semuanya. Gue juga tahu Lo manfaatin Lula buat dekati Luna, dengan iming-iming mobil. Iyakan? Kenapa sih Lo terobsesi banget buat dekati Luna?'' Bara meringsek mendekati Bayu, membuat Leo langsung bereaksi untuk mencegah keduanya terlibat dalam pertengkaran.
__ADS_1
''Jangan bersitegang. Kita bicara baik-baik, ini belum jam pulang.'' Ucap Leo mengingatkan kedua sahabatnya. Membuat Bara langsung berhenti melangkah, kemudian duduk disebuah sofa yang selalu ia pakai. Tak mau menatap dua sahabatnya.
''Gue udah bilang sama Lo berdua, buat nggak lanjutin taruhan ini. Gue kenal sama orangtua Luna. Orangtua Gue bisa terancam kalau Om Handoko tahu anaknya Gue buat mainan.'' Ucap Bara dengan dada yang kembang kempis.
''Ini hal yang paling Gue nggak suka, Bayu. Lo selalu maksa apa yang jadi kehendak Lo,''
Bayu terkesiap untuk yang kedua kalinya, ''Tapi gara-gara Luna Lo menjauh dari kita Ra. Lo selalu dekati dia, Lo jarang kekantin dan milih buat lihat Luna latihan nyanyi. Atau, Lo selalu pulang lebih dulu cuma buat nganterin Luna sampai depan rumahnya. Lo nggak pernah ketempat ini lagi. Lo berubah sejak kenal Luna.''
Bara terbangun dari duduknya kemudian menatap tajam kearah Bayu, ''Udah saatnya Gue berubah. Demi mendapatkan apa yang Gue mau.'' Ucapnya dengan datar dan dingin, serta tatapan tajamnya terus tertuju pada Bayu. Ia kemudian melangkah menuruni anak tangga dengan cepat, meninggalkan Leo dan Bayu yang masih terdiam disana tanpa suara. Hanya tatapan nanar melepas kepergian sang sahabat yang dirasa sudah berubah.
***
Luna terhenyak ketika mendapati Bara sudah berdiri dihadapannya dengan senyum hangat yang selalu terbayang diingatannya. ''Bara? Lo ngapain?''
Senyum hangat dibibir pemuda tampan tersebut luntur, berganti dengan senyum gemas hingga telunjuknya menyentil dahi gadis cantik yang tertutupi rambut lebat yang sering disebut poni mangkuk.
''Panggil Gue kak Bara!'' Luna meringis kecil sembari mengusap keningnya, ''Iya Iya kak Bara.''
''Mata Lo sembab kenapa?'' Tanya Bara menatap mata Luna dengan memiringkan kepalanya sedikit.
''Nangis tadi malam, kangen Ibu.''
''Samperin aja kemakamnya,'' Luna mengangguk sembari tersenyum mendengar usulan pemuda tampan dihadapan. ''Oh iya kak, kemarin ajak Lula pergi ya sampai malam?''
''Lo belum lihat balasan Gue ya?'' Luna menggeleng pelan ,sangat berharap jawaban yang diberikan Bara adalah kata YA.
__ADS_1
''Gue kemarin rapat osis, habis itu pulang. Nggak kemana-mana,''
BERSAMBUNG...