DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 52


__ADS_3

Usai sudah perjalanan Luna dari Jakarta menuju Rusia. Gadis itu sudah sampai di Bandara ternama di Negara Rusia yang begitu terkenal.


Sudah mengirimkan pesan singkat kepada sang Ayah jika ia sudah sampai dan kini tengah menubggu sebuah taxi di Bandara.


Saat taxi yang ditunggu tak kunjung datang, Luna memanfaatkan waktu tersebut untuk duduk sembari merenggangkan otot-otot tubuhnya yang dirasa sangat kaku akibat terlalu lama duduk dibangku pesawat.


Kepalanya digelengkan kekanan dan kekiri hingga terdengar bunyi gemerutuk. Begitu melegakan untuk sang gadis itu sendiri. Sesekali, gadis itu menghela nafas panjang untuk menetralkan degub jantungnya.


Berada disatu Kota yang sama dengan pemuda yang ia cintai. Bukankah gadis itu bisa bertemu kapanpun dan dimanapun dengan istilah kebetulan?


Saat sedang bersantai melihat kesana kemari, gadis itu kemudian dikagetkan dengan sebuah suara yang memanggil namanya.


"Luna?"


Bukan. Bukan karena namanya yang disebut. Melainkan, suara itu. Suara lembut yang setiap malam dulu selalu menemani malam-malam sepinya.


Suara yang pernah ia benci sewaktu pemilik suara itu membawa pergi saudara kembarnya. "Bayu?'' ucap sang gadis dengan jantung yang terpacu lebih cepat dari sebelumnya.


Gadis itu berdiri, menatap pemuda dihadapan yang sama tercengangnya dengan dirinya sendiri. 2 tahun, atau mungkin lebih, tidak bertemu. Terakhir kali yang teringat oleh gadis itu adalah, kepergian sang pemuda bersama saudaranya debgan cara yang tidak terhormat.


"Kau disini? Dengan siapa?" tanya sang pemuda melihat pada sekeliling sang gadis. Masih belum siap jika harus bertemu Ayah mertuanya sendiri. Mengingat, bagaimana murkanya sang Ayah ketika terakhir kali mereka bertemu. Menjadi pemicu terpisahnya dua saudara kembar serta Ayah dan Anak tersebut.


"Aku sendiri. Kamu?" tanya Luna dengan dada yang semakin bergemuruh. Berharap, ada satu gadis yang sama sepertinya ikut bersama pemuda dihadapannya ini.


"Mau bertemu Lula?" tanya sang pemuda menebak isi hati sang gadis. Membuat gadis dihadapan itu mengangguk dengan pasti dan yakin.


"Ikuti aku." hela nafas panjang keluar dari bibir Bayu. Kemudian, pemuda itu membantu Luna untuk membawakan koper sang gadis. Barang bawaannya sendiri hanyalah sebuah tas ransel biasa yang ada dipunggungnya, maka pemuda itu memutuskan untuk membantu gadis yang dulu pernah ia cintai dengan hebatnya.


Ya, dulu. Sebelum cinta itu hilang dan berganti dengan cinta yang baru. Cinta yang hanya ia miliki untuk satu orang gadis saja. Gadis yang sudah menjadi seorang ibu dari anak jagoannya.


Luna masih membisu sembari mengikuti langkah tegap sang pemuda dihadapan. Ia pun tak bertanya mau kemana, serta ada keperluan apa pemuda itu berada di Bandara. Yang terpenting adalah, menyiapkan mental untuk bertemu saudara kembarnya sendiri. Takut jika ia ditolak mentah-mentah oleh Lula.


Sesaat kemudian, langkah kaki Luna membeku. Terhenti. Hanya bisa berdiam diri tak bergerak sama sekali. Sedang pemuda yang berjalan lebih dulu itu kini sudah menghampiri seorang gadis cantik berambut pirang sebatas bahunya. Menggendong seorang anak kecil tampan yang kini tengah merajuk kearah Bayu. Memanggil dengan sebutan, "Daddy Daddy, akhirnya Daddy pulang! Hore!" seru sang anak dengan riangnya. Kemudian, bocah kecil berambut hitam legam itu beralih pada gendongan Bayu.


"Luna! Sini!" panggil sang pemuda dengan senyum hangatnya. Membuat aliran darah Luna semakin cepat rasanya. Mata gadis itu masih terpaku pada bocah kecil digendongan Bayu. Bocah menggemaskan dengan bola mata yang terlihat cokelat terang tersebut.


"Luna?" lirih seorang gadis disebelah Bayu. Dialah Lula. Saudara kembarnya yang sudah 2 Tahun lebih tidak ia jumpai, tidak ia tahu dimana keberadaannya, dan tidak ia tahu bagaimana kabarnya.

__ADS_1


"Lula?" panggil Luna merasa tak percaya. Gadis dihadapannya ini tidak berubah. Masih sama persis seperti yang ia temui terakhir kali. Hanya saja, warna rambut gadis itu yang berubah. Mungkin benar apa yang dikatakan Handoko jika gadis itu pasti bahagia bersama Bayu.


Luna semakin membeku ketika dengan tiba-tiba Lula memeluknya dengan erat. Serta, isakan kecil terdengar begitu memilukan ditelinga sang gadis. Sesaat, gadis itu hanya bisa terdiam sembari memeluk kembali gadis kembarannya yang sudah lama tak ia jumpai.


"Dengan siapa Kau kemari?" tanya Lula melepas pelukan eratnya, kemudian menghapus sisa-sisa air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.


"Aku sendiri. Ayah ada di Jakarta." ucap Luna memberikan penjelasannya kepada sang gadis.


"Luna, apa Kau kemari ada sebuah urusan? Liburan? Atau apa?" tanya Lula dengan berbagai pertanyaan. Mengingat, saudara kembarnya itu pasti sudah lulus sekolah dan saatnya untuk melanjutkan studynya ke jenjang yang lebih tinggi lagi.


Luna melihat Lula yang begitu berbeda. Ada sorot kehangatan dimatanya. Tidak seperti Lula pada saat mereka masih bersama. Mungkin karena gadis itu sudah menjadi seorang Ibu?


"Ayah memintaku untuk mengurus perusahaannya yang ada disini. Jadi, aku memutuskan untuk menetap disini. Sesekali aku akan berkunjung kembali ke Indonesia." pungkas sang gadis kemudian kembali menatap seorang bocah kecil digendongan Bayu.


"Dia anakmu?" tanya Luna kepada saudaranya.


Mengangguk kecil sembari tersenyum. "Dia keponakanmu. Cucu Ayah.''


Senyum Luna mengembang sempurna ketika saudaranya itu mengatakan bahwa bocah kecil itu adalah keponakannya. "Siapa namanya? Dia tampan sekali."


"Ballu namanya. Ballu, panggil dia Aunty. Dia adalah Auntymu. Aunty Luna." ucap Lula kepada jagoan kecilnya.


"Kamu tampan sekali." puji sang gadis mencubit pelan pipi keponakannya yang terlihat begitu chubby.


"Luna, ikutlah kami kerumah."


"Kau punya rumah disini? Apa kau bahagia disini Lula?" tanya Luna dengan rasa penasarannya. Melirik sebentar kearah Bayu yang kini hanya mengendikkan bahunya. Kemudian, pemuda itu terlihat beranjak menuju sebuah mobil sembari menggeret koper milik Luna.


"Ya, Ayah dan Ibu Bayu meninggal 1 Tahun yang lalu. Mereka sangat baik Luna. Meninggalkan rumah mereka untuk ditempati kami." jelas Lula kemudian menggandeng saudaranya untuk mengikuti langkah sang suami dihadapan.


"Berisitirahatlah sejenak dirumahku. Kau pasti tinggal di Apartemen kan?"


"Tentu saja."


"Kalau kau mau, tinggalah dirumahku. Bayu pasti tidak akan keberatan."


Luna menggeleng dengan yakin dan cepat. "Lebih baik aku tinggal di Apartemen saja Lula. Kalian sudah berkeluarga, jadi aku tidak boleh menganggu kalian. Aku beristirahat sebentar saja ya sebelum aku ke Apartemen." pungkas sang gadis.

__ADS_1


"Baiklah,"


"Aku pastikan, aku akan sering berkunjung kerumahmu setelah ini." ucap Luna tersenyum senang.


"Tentu saja kau harus sering kerumahku. Aku sendirian dirumah jika Bayu sudah pergi bekerja."


"Aku tidak bisa membawa Ayah kesini dan bertemu denganmu. Maafkan aku." pungkas Luna dengan pandangan yang sedih. Seharusnya, sang Ayah akan bahagia jika bertemu bocah tampan yang kini ada di gendongan Ayahnya tersebut.


"Aku tahu, pasti Ayah masih belum bisa menerima kan?" ucap Lula dengan senyum gamangnya. Hatinya juga terasa sakit ketika mengetahui bahwa sang Ayah masih menyimpan perihnya disana. Harapan untuk segera bertemu sang Ayah pupus sudah. Tak mungkin menemui seseorang yang benar-benar masih membenci kita bukan?


"Bayu selalu bilang, suatu saat nanti Ayah pasti akan menerima kami kembali. Meskipun entah kapan saatnya itu akan tiba.''


"Aku pastikan sebentar lagi kalian akan bertemu dengan Ayah." ucap Luna dengan yakin. Hingga beberapa saat lamanya, dua gadis kembar itu masih terus saja berbincang sembari berjalan mengikuti langkah kaki Bayu dihadapan.


Sesekali, Luna menyapu pandang ke seluruh penjuru tempat.


Tempat parkir mobil saat ini begitu penuh dan padat. Terlihat begitu ramai sekali. Hingga saatnya, bola mata gadis itu melebar sempurna ketika ia menangkap siluet seorang pemuda yang begitu ia kenali.


Langkahnya terhenti dan terpaku ditempatnya. Tak jauh dihadapannya, seorang pemuda yang benar-benar masih terpatri dihatinya kini tengah berjalan santai bersama seorang gadis cantik disebelahnya. Pemuda itu terlihat begitu tampan, sama sekali tak ada perubahan apapun pada dirinya, juga pada wajah tampannya.


Yang membuat Luna terpaku adalah, pemuda itu menoleh kearahnya kemudian tersenyum sembari menganggukkan kepalanya sekali. Sorot mata yang sama-sama terpaut dalam satu garis lurus membuat aliran darah sang gadis terasa cepat dan kaki dirasa melemah.


Melihat Luna yang terdiam, terpaku tak bergerak dari tempatnya, Lula berusaha menyadarkan saudara kembarnya tersebut. "Luna! Lihat apa?" tanya sang gadis.


Karena tak mendapatkan jawaban apapun, Lula mengikuti arah pandang saudara kembarnya tersebut. Terlihat, seorang pemuda yang kini sudah memasuki mobil mewahnya bersama seorang gadis.


Dua gadis kembar itu hanya bisa bergumam lirih. "Bara...."


TAMAT!!!


Hai! Novel Dibalik Senja SEASON 1 sudah berakhir! Beberapa hari lagi akan tayang Dibalik Senja SEASON 2 !! Jangan lupa baca ya !! Akan ada banyak keseruan dari perjalanan cinta Bara dan Luna !!


Yang mau baca cerita Leo dan Laras bisa mampir di Novel Author yang berjudul MENGEJAR CINTA CEWEK GALAK ya!!


Jangan lupa follow Instagram Author : nagradr_


Akan ada banyak visual dari Novel-Novel Author yang sudah tayang!!!

__ADS_1


Terimakasih banyak buat yang sudah baca dari episode 1 hingga episode terakhir ini!! Love sekebon mawar buat kalian semua!!!


Nantikan Dibalik Senja SEASON 2 PERJALANAN CINTA LUNA DAN BARA hanya di NOVELTOON!!!!


__ADS_2