DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch 44


__ADS_3

Setelah berlari dengan tergesa-gesa akibat berita dadakan yang ia dengar, Luna kini berdiri didepan gerbang utama dengan jantung berdegup kencang.


Menunggu sang Ayah yang berkata akan menjemputnya, ingin segera mengetahui kabar dari pemuda yang sudah ia yakini menempati hati kosongnya selama ini.


Masih menunggu dengan sabar, hingga tak lama kemudian datanglah mobil mewah berwarna hitam pekat tersebut. Tak butuh waktu lama, Luna langsung beranjak memasuki mobil tersebut. Tak perlu menunggu Lula, karena gadis itu tidak mengikuti pelajaran apapun di Sekolah alias membolos. Wajar saja karena memang tidak akan ada pembahasan apapun di Sekolah usai Ujian Nasional berlangsung.


"Ayah, gimana keadaan Bara sama Ayahnya?" tanya Luna dengan tak sabaran. Hendak mengurungkan niatnya bertanya karena melihat Handoko yang terdiam seribu bahasa, namun hati sungguh tidak bisa dibohongi. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi pemuda yang selalu ia anggap sahabatnya tersebut tanpa ingin tahu lebih jauh mengenai hatinya sendiri.


"Firman baik-baik saja." tanggap Handoko dengan singkat. Bermaksud, tidak akan memberitahu tentang Bara kepada anak sulungnya. Namun, bukankah itu sangat tidak mungkin? Karena kini, gadis itu sudah berucap pelan...


"Gimana sama keadaan Bara?"


Helaan nafas muncul dari bibir Handoko, membuat Luna menahan nafas untuk sejenak. Helaan itu, sungguh bukan helaan nafas atas leganya sebuah hati.


"Bara kritis. Hari ini juga dia pergi ke Luar Negeri untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Peralatan medis di Luar Negeri sudah terjamin lebih canggih daripada di sini, itu sebabnya Bara dibawa kesana."


"Separah itu Bara sampai harus dilarikan ke Luar Negeri?" gumam Luna dengan lirih. Mata bulatnya sudah berkaca-kaca meski ia sudah berusaha keras menahannya agar tidak tumpah dihadapan Handoko. Sungguh, hati gadis itu begitu sakit mendengar berita Bara yang besar kemungkinan tidak akan tertolong.


Hanya bisa menunduk sembari meremat jemarinya, hati yang semula ia yakini sudah digenggam oleh Bayu kini justru berpaling pada pemuda lain. Pemuda yang kini tengah memperjuangkan hidupnya. Bagaimana jika pemuda itu menyerah dalam perjuangannya? Lalu, bagaimana kabar hatinya yang sudah terlalu terlambat dalam mengakui perasaannya? Mungkinkah baik-baik saja hingga ia berhasil menemukan pengganti sang Ketua Osis tersebut?


"Kamu mencintai Bara?" pertanyaan sederhana, namun begitu menghentak hati sang gadis hingga ia tergagu, tak bisa berkata-kata. Bukankah percuma ketika ia mengakui sebuah cinta namun pemuda ysng ia cinta sudah tidak ada?


"Ayah pastikan Bara baik-baik saja. Teruslah berjuang disini Luna. Teruslah menjadi siswi teladan di SMA Labschool. Setelah kamu lulus Sekolah, kamu boleh menyusul Bara ke Amerika." pungkas Handoko dengan tegas dan yakin. Meski ia sendiri tidak yakin, akankah Bara kembali ke Amerika?


"Kamu harus mengerti, semua Ayah lakukan demi kebaikanmu. Kamu dan Lula masih kecil, belum sepantasnya mendapatkan cinta yang bisa membutakan. Memang terkesan mengekang, tapi percayalah ini yang terbaik buat kalian."


"Kamu harus percaya dengan yang namanya cinta sejati. Sejauh apapun mereka terpisah, pasti akan bertemu dan bersatu kembali. Percayalah pada Ayah." Handoko terus mengoceh kepada anak sulungnya tanpa mengetahui bahwa dirumah, anak bungsunya tengah menunggu kedatangannya. Membawa kabar yang pasti sangat membuat pria paruh baya itu terpukul.


"Tapi, Bara pasti akan selamat kan Ayah?" ucap Luna memastikan kondisi sang pemuda. Semua ucapan Ayahnya benar-benar membuat air mata tak bisa terbendung lagi. Bagaimana saat Handoko mengatakan bahwa takdir cinta sejati pasti selalu ada dan tidak akan salah tempat. Sama halnya dengan apa yang pernah Bara ucapkan kepadanya beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Dokter bilang, dia mengalami gegar otak. Andai kata dia selamat pun, besar kemungkinannya Bara akan kehilangan ingatannya."


Semakin sakit lah hati sang gadis mendengar penuturan sang Ayah. Sudah terlambat merasakan, terlambat pula mengungkapkan, kini ia harus terima jika pemuda yang benar-benar ia cintai harus melupakannya tanpa pemuda itu tahu bagaimana perasaannya?


Mobil mewah milik Handoko mulai memasuki pekarangan rumah, hingga mau tak mau Luna segera menghapus air matanya yang terus berderai akibat tak tahu menahu soal kondisi Bara mulai detik ini hingga beberapa tahun ke depan.


Nomor Bara yang biasa memberinya sebuah pesan singkat kini tidak bisa lagi dihubungi. Selalu tidak aktif setiap gadis itu melakukan panggilan.


Bagaimana akan aktif jika ponsel sang pemuda saja sudah tak berbentuk lagi ketika kecelakaan terjadi. Membuat Bara sudah tidak bisa menghubungi siapapun jika nanti ia sudah tersadar dari masa kritisnya.


***


Lula menatap kedatangan Handoko dan Luna yang terkesan penuh beban. Terlebih, ia melihat mata Luna yang sembab dengan pipi yang masih basah. Juga, Handoko yang berkali-kali menghembus nafas kasar lalu mengusap wajahnya berulang kali.


"Ayah, ada apa?" tanya Lula sembari berjalan mendekati Handoko yang masih terduduk disofa ruang tamu. Sedang saudara kembarnya itu sudah pergi menghambur menuju kamarnya dilantai atas.


"Bara kecelakaan bersama Ayahnya." jelas Handoko dengan singkat. Hari ini begitu melelahkan baginya.


"Kritis. Bara kritis. Entah, bisa tertolong atau tidak."


Antara senang dan sedih saat Lula mendengar berita ini. Senang karena Luna akan kehilangan sahabatnya dan pasti gadis itu akan terpuruk berhari-hari. Juga sedih karena Bara pergi secara mendadak. Apapun itu, yang namanya kehilangan pasti akan terasa menyakitkan bukan?


"Ayah keatas dulu ya." pamit Handoko kemudian beranjak meninggalkan Lula yang hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Gadis yang semula ingin memberitahu sesuatu kepada sang Ayah mengurungkan niatnya, menunda keinginannya hingga esok hari tiba. Biarlah, ia justru semakin takut memberitahu semua yang terjadi padanya kepada sang Ayah. Takut murkanya sang Ayah melebihi apa yang ia bayangkan selama ini.


***


Handoko menaiki anak tangga demi anak tangga menuju lantai 2 dirumahnya. Mengetuk pelan pintu kamar Luna, kemudian membukanya. Menatap sang gadis yang terduduk dibalkon kamarnya. Menatap kedepan, pada udara kosong. Pandangan mata gadis itu begitu kosong, membuat Handoko menghela nafas berkali-kali.


Sepertinya, akhir-akhir ini Handoko sering sekali menghela nafas entah karena apapun itu. "Luna." panggil sang Ayah dengan lembut. Ia ikut duduk disebelah sang anak yang masih mengenakan seragam SMA-nya tersebut.

__ADS_1


"Maafkan Ayah."


Luna menoleh sesaat, sedikit terhentak dengan ucapan sang Ayah disebelahnya. "Maksud Ayah apa? Kenapa minta maaf?" tanya sang gadis. Tak terlihat lagi ada air mata dipelupuk mata sang gadis kecil, hanya terlihat mata yang bengkak dan hidung yang masih merah berair.


"Ayah menjagamu, menjauhkanmu dari pemuda yang mencintaimu. Tapi, keputusan Ayah justru membuat dia berada diambang kematian."


"Ini bukan salah Ayah. Semua sudah takdir. Luna pun tidak menyalahkan Ayah. Luna tahu ini yang terbaik buat Luna meski harus mengorbankan keluarga Bara. Ayah benar, kalau Luna terus-terusan bersama dengan orang yang Luna cintai, Luna akan terjerumus kedalam hal-hal yang tidak baik."


"Apa Bara pernah berbuat yang tidak baik kepadamu?"


Menggeleng kecil sembari terkekeh. "Bara selalu menjaga Luna. Itu yang Bara lakuin semenjak dia mengenal Luna."


Handoko mengangguk paham. Sangat mengenal keluarga Firman dalam dan luar, membuatnya merasa yakin jika Firman tidak akan gagal dalam mendidik anaknya.


"Sekarang kamu mengertikan kenapa Ayah meminta Firman membawa Bara ke Amerika?"


"Iya Ayah, Luna mengerti."


Handoko tersenyum dalam kacaunya hati, "Ayah sudah berjanji pada Ibumu akan menjaga kamu dan Lula dari para lelaki hingga kalian lulus Sekolah. Hingga usia kalian matang dan cukup umur untuk mengenal yang namanya cinta." jelas Handoko menatap penuh sayang kepada anak gadisnya. Teringat, bagaimana saat ia berjuang mati-matian mendapatkan hidup yang layak diusianya yang masih belia karena sudah dilepas oleh orangtuanya sendiri. Akibat kebodohannya yang mencoba-coba seorang gadis manis yang kini menjadi Ibu dari duo kembar tersebut.


"Iya Ayah, Luna mengerti. Terimakasih ya Ayah, sudah mau berubah sama Luna." ucap sang gadis dengan rasa tulusnya. Merasa bersyukur mengenai perubahan sikap Handoko kepadanya.


"Ayah akan melakukan apapun untukmu dan Lula. Sekarang, istirahatlah. Kamu pasti lelah." ucap Handoko sembari mengelus puncak kepala Luna dengan lembut. Kini, hanya ada dua pria yang selalu menyentuh puncak kepala sang gadis. Bara dan juga sang Ayah.


"Ayah, dimana Bara dirawat?" tanya Luna untuk yang terakhir kalinya.


"Ayah tidak tahu. Tapi, Ayah pastikan Bara akan baik-baik saja."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


JANGAN LUPA FOLLOW IG AUTHOR : nagradr_


__ADS_2