
Handoko menghela nafas panjang diatas ranjangnya. Malam sudah menyapa dan rutinitas makan malam sudah berlalu bersama anak dan istrinya. Kini, hanya ada dirinya dan juga sang istri didalam kamar sebesar ruang tamu tersebut. Anak-anaknya sudah kembali kekamar masing-masing.
''Amara, bagaimana kalau Luna mengalah dulu untuk Lula?''
Amara yang semula tengah sibuk membersihkan wajahnya dengan kapas langsung menoleh, menatap sang suami yang memandangnya dengan sorot mata penuh keraguan. Kedua tangannya menyatu dengan sempurna membentuk sebuah kepalan dan hembusan nafas terdengar meluncur begitu saja.
''Mengalah untuk apa Mas?''
''Mengalah untuk...pergi ke Sekolah menaiki bis, atau angkutan umum misalnya.''
''Apa?'' Amara membulatkan mata indahnya. Menatap Handoko yang semakin terlihat takut akan tatapan tajamnya. Meski pria paruh baya itu terlalu tegas dan kejam untuk anak-anaknya, namun tidak jika sudah berhadapan dengan wanita yang ia cintai selama berpuluh-puluh tahun lamanya.
''Untuk apa naik bis kalau kita memiliki mobil?''
''Apa kamu tidak dengar Lula bilang apa tadi siang?''
"Tidak harus dengan membuat Luna pergi menaiki bis!" hentak Amara seperti ingin marah namun ia tahan. Tak mau bila anak-anak gadisnya mendengar kemudian merasa sedih akibat pertengkaran orangtua-nya.
"Amara, kalau aku membelikan Lula mobil dan menyewa sopir lagi, itu malah membuat pengeluaran kita semakin banyak."
"Ya sudah, jangan dikabulkan apa yang menjadi permintaan Lula. Biarkan dia dan Luna bersama saat berangkat sekolah. Kamu selalu memanjakan Lula Mas, membuat dia semakin merasa disanjung dan dipuja. Membuat dia merasa apapun yang ia inginkan selalu dikabulkan. Kamu membuatnya begitu manja dan tidak bisa diatur."
Handoko menghembus nafasnya kesal, berbicara dengan Amara sama halnya berbicara dengan Luna. Sama-sama memiliki pemikiran tersendiri.
"Kalau kamu terus menerus memanjakan Lula, semakin dia dewasa pasti dia akan semakin meminta yang lebih dari ini. Luna itu saudara kandungnya Mas, tidak seharusnya dia membenci Luna." keluh Amara menatap kesal pada Handoko. Merasa bahwa sang suami terlalu memanjakan anak gadisnya yang terakhir keluar dari rahim sang ibu.
"Lula anakku,..."
"Luna juga anakmu." sela Amara semakin marah.
"Ya sudah, kamu bicara saja sama Lula besok. Aku mau tidur."
Maka, terpejamlah mata lelah seorang pria paruh baya bernama Handoko tersebut. Tak mau berdebat lebih banyak lagi dengan sang istri tentang anak-anak mereka. Semakin tahu kemana arah perdebatan mereka yang pasti tidak akan ada ujungnya.
***
Pagi ini Lula keluar dari kamarnya dengan senyum mengembang sempurna. Raut wajahnya begitu ceria ketika ia menuruni anak tangga satu-persatu, menatap kearah meja makan yang sudah dihuni oleh kedua orangtua-nya dan juga saudara kembarnya.
Senyumnya meredup ketika melihat Luna yang berdandan dengan rapi, sangat cantik dengan aksen poni yang menjuntai menutupi sebelah jidatnya. Hari ini rupanya poni tersebut dimiringkan oleh sang pemilik, membuat pemilik poni mangkuk itu semakin terlihat cantik dan berseri.
"Ayah, aku sudah dibelikan mobil?" tanya Lula menduduki kursinya sembari menatap lekat kearah Ayahnya. Tatapan penuh harap.
__ADS_1
"Belum."
"Kenapa belum? Aku mau mobil sendiri." Lula menatap kecewa kearah sang Ayah yang sudah selesai menghabiskan sarapan paginya. Sedang Amara hanya terdiam menatap anak dan suaminya. Sesekali menatap Luna disebelahnya dengan rasa iba karena harus ,enerima semua keegoisan Ayah dan saudaranya.
"Pasti Ibu ya?" tebak Lula menatap Amara. Ia tahu, sang Ayah akan selalu mengabulkan permintaannya jika tidak dihalangi oleh Amara.
"Lula, apa masalahnya kalau kamu sama Luna satu mobil Nak?" tanya Amara dengan lembut. Lula menghembuskan nafasnya kesal, ia tatap Luna sembari berpikir. Yang ditatap malah dengan santainya menghabiskan sarapan paginya, sesekali pandang mereka bertemu dalam satu garis lurus.
"Luna itu selalu telat kalau pulang. Pacaran dulu sama Bara." celetuk Lula tanpa berdosa. Sedang Luna terperanjat kaget mendengar ocehan saudara kembarnya, sesaat ia menghentikan aktifitasnya mengunyah makanan. Namun beberapa detik kemudian, ia melanjutkan aktifitasnya yang tertunda sejenak. Masih dengan gaya santainya.
Handoko dan Amara saling tatap, kemudian beralih menatap Luna yang masih setia dengan nasi goreng favoritnya. "Kamu punya pacar?" tanya Handoko langsung pada inti masalah yang diciptakan oleh Lula.
"Enggak."
"Tapi Lula bilang, kamu pacaran? Siapa Bara?"
"Ayah percaya sama Lula?"
"Tentu."
"Jadi Ayah nggak percaya sama aku?"
"Tidak."
Hanya saja selama ini, ia belum mendapatkan permintaan yang aneh-aneh dari sang Ibu, hanya demi saudara kandungnya yang menyebalkan tersebut.
"Luna nggak pacaran sama siapapun. Luna baru masuk Sekolah, mana berani dekati Kakak kelas." ucap sang gadis menjelaskan.
"Hari ini kamu naik bis! Lula nggak mau nungguin kamu lama pacaran." putus Handoko membuat Luna memasang wajah datar sedatar-datarnya.
"Mas! Kenapa begitu?" ucap Amara mendelik tajam pada suaminya dihadapan.
"Ibu, kenapa bela Luna terus? Lula nggak mau telat pulang dan istirahat cuma buat nungguin Luna pacaran doang ya." Lula berucap sembari menatap Amara dengan kesal.
Luna menghempaskan garpu dan sendoknya kemudian menatap Lula dengan tajam, "Lo tuh kayak anak kecil tau nggak! Selalu memanipulasi cerita yang nggak nyata, cuma buat mengabulkan apa yang Lo minta1 ****!" bentaknya pada saudara kembarnya. Ia kemudian beranjak mengambil tas punggungnya dan berlari keluar dari rumah besar tersebut.
Rumah yang ia sendiri tidak tahu apa fungsi sebenarnya rumah tersebut.
Lula tersenyum menang melihat Luna yang berulang kali bisa ia kalahkan dengan mudah. Meski pada awalnya ia terlonjak kaget karena Luna membentaknya, namun tak apa. Ia sudah cukup senang karena sudah tidak satu mobil dengan sang gadis yang menyaingi kecantikannya.
"Lula! Kalau sampai besok kamu nggak mau satu mobil lagi sama Luna, lebih baik kamu nggak usah sekolah!" putus Amara dengan kesal, ia pergi meninggalkan ruang tamu dengan menghentakkan kakinya menuju kamarnya sendiri. Sebelum ibu dua anak tersebut pergi, ia tatap sang suami dengan sangat tajam. Merasa tak suka jika apa yang ia inginkan dibantah oleh sang suami.
__ADS_1
"Ayah, kenapa Ibu membela Luna sampai seperti itu? Apa Ibu nggak sayang sama aku?" ucap Lula menundukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.
Handoko menghela nafas kemudian mengelus kepala Lula dengan lembut. "Jangan dipikirkan. Sekarang makanlah, dan berangkat sekolah. Belajar yang rajin."
***
Laras termangu didepan pagar utama, dimana para siswa dan siswi datang berbondong-bondong memasuki Sekolah dengan diantar kendaraan yang berbeda-beda.
Gadis dengan rambut hitam legam sebahu itu memicingkan matanya ketika mobil yang ia kagumi kemarin siang hadir dihadapannya. Keluarlah gadis yang tidak ia sukai yang langsung disambut dua sahabatnya.
"Lula! Dimana Luna?" tanyanya mendekati sang gadis yang ingin segera menjadi most wanted disekolah tersebut.
"Gue nggak tahu. Dia baik bis." pungkas Lula merasa tak peduli, ia kemudian pergi bersama dua sahabatnya dengan tertawa-tawa seperti menertawakan dirinya.
"Gue nggak punya nomornya Luna pun, dimana ya dia." gumamnya merasa kurang jika tak ada sang teman disebelahnya. Menghela nafas sejenak, Laras kemudian pergi memasuki kelasnya karena bel masuk akan berbunyi sebentar lagi.
***
Sedang ditempat yang jauh dari Sekolah, Luna berdiam diri disebuah gazebo dibibir pantai. Pantai yang selalu menjadi favoritnya saat semua rasa telah memenuhi relung batinnya. Pantai yang jarang dikunjungi banyak orang, padahal pantai tersebut sangat indah dan bersih.
Menghela nafas sejenak, ia lirik arloji ditangannya yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Itu artinya, pagar utama Sekolah tercintanya sudah tutup dan pelajaran sudah dimulai. Sejak ia di titah untuk berangkat menaiki bis, sejak itu juga ia memutuskan untuk tidak mengikuti pelajaran apapun.
Bukan gadis cantik itu merasa malu karena berangkat menggunakan bis, ia hanya ingin menenangkan semua perasaan yang melanda hatinya. Perasaan yang mudah dikalahkan oleh siapapun.
"Lo bolos?"
Sebuah suara bass yang indah mendengung sempurna ditelinganya. Gadis itu menoleh, membuat rambut-rambut yang tidak ia kuncir melambai-lambai kesana kemari.
"Bara?" celetuknya menatap sang pemuda yang menyapanya. Pemuda itu mengangguk kemudian duduk disebelahnya, mengikuti gaya Luna yang menggantungkan separuh kakinya di udara. Gazebo yang berbentuk seperti rumah panggung tersebut memang didesain cukup baik dengan aksen tangga kecil diujung gazebo.
"Gue kakak kelas Lo, panggil Gue Kak Bara." ucap sang pemuda sembari menyentil pelan dahi Luna.
"Iya maaf," pungkas Luna tak mau berdebat. Isi otaknya sudah berdebat lebih dulu sebelum Bara datang, membuatnya malas berpikir ini dan itu.
"Kenapa Lo bolos?" tanya Bara menatap lekat pada Luna.
"Pengen aja." Luna mengalihkan pandangannya, menatap hamparan pantai yang ada dihadapan.
"Lo sendiri kenapa bolos?" lanjut Luna mengalihkan pandangnya kepada Bara.
"Baru sekali ini aja bolos. Karena lihat Lo disini, makanya Gue samperin."
__ADS_1
BERSAMBUNG...