DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 42


__ADS_3

Memasukkan seluruh baju-baju dan semua perlengkapan yang ia butuhkan, Bara kemudian menutup koper yang sudah penuh berisi baju-baju tersebut. Meraih ponselnya kemudian mengirim sebuah pesan singkat kepada seorang gadis yang teramat ia cintai. Sungguh, Bara benar-benar merasa ini bukanlah dirinya yang telah jatuh cinta. Merasa selama ini ia tidak pernah merasakan yang namanya cinta pada wanita manapun. Namun ketika dengan Luna, ia sampai tidak mengenali siapa dirinya saat ini.


Begitu banyak perubahan yang terjadi padanya semenjak ia mengenal sang gadis.


Pemuda itu tersenyum kecil, menulis beberapa kata di ponselnya.


[Aku berangkat ya Luna. Jaga diri baik-baik. Maafin semua kesalahan Gue. Semoga, kita bisa bertemu dititik terbaik menurut takdir.]


Usai mengirimkan pesan kepada sang gadis, Bara kemudian merebahkan dirinya diatas ranjang besar yang sebentar lagi akan ia tinggal hingga beberapa tahun ke depan. Menatap langit-langit kamarnya sembari berfikir.


Biarlah jika Luna masih terus menyangkal perasaannya sendiri, lambat laun setelah kepergiannya Bara yakin jika gadis itu pasti akan menyadarinya. Biarlah jika hari terakhirnya disini tidak didampingi oleh gadis yang ia cintai. Biarlah semua berjalan dengan sendirinya, berlalu dengan semestinya, dan berakhir dengan seharusnya. Bara akan menerima apapun itu asal sang gadis bahagia dengan dunianya. Meski di hati terdalamnya, Bara selalu mengharap bahwa gadis itu akan selalu menanti pertemuan mereka selanjutnya.


"Bara! Ayo berangkat!" ucap Firman dari ambang pintu kamar sang pemuda.


Mendengar suara tersebut, Bara kemudian beranjak dari tidurnya. Meraih kopernya kemudian berjalan sembari menghela nafas panjang. "Mobil kita dirawat siapa nanti Pa?" tanya Bara sembari berusaha menutupi kegalauan hatinya, sembari menutup pintu kamarnya dengan pelan.


"Dirawat Pamanmu. Dia balik dari Australia. Anaknya justru mau kuliah disini." pungkas Firman sembari terus melangkah menuruni anak tangga. Namun sesaat kemudian, pria paruh baya itu menghentikan langkahnya. Membuat Bara yang berada dibelakangnya juga itu menghentikan langkah kakinya.


"Apa kamu mau berada disini? Papa bisa menitipkanmu pada Pamanmu." ucap Firman mencoba menawari hal yang menurutnya baik. Barangkali anaknya berat meninggalkan semua yang sudah ada di Kota besar ini. Namun, Bara justru menggeleng pelan. Dalam hati sang pemuda juga ingin membuktikan bahwa cinta sejati itu benar adanya.


"Enggak Pa. Kita ke Amerika saja. Ayo." ucap Bara kemudian berjalan mendahului sang Ayah.


Meraih kunci mobilnya kemudian berjalan menuju mobil yang sudah terparkir dihalaman rumahnya. Memasukkan seluruh barang-barang ke bagasi mobil. Kali ini, Bara dan Firman tidak membawa barang banyak karena sebelum ini barang-barangnya sudah lebih dulu dikirim jauh-jauh hari dengan sebuah ekspedisi.


"Ayo" ucap Firman memasuki kendaraan bersama dengan Bara. Sang sopir segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Pak, lebih cepat sedikit. Jam terbang pesawat sudah hampir tiba.'' ucap Firman yang duduk dibelakang sopir. Sang anak duduk disebelah sopir sembari terus memandang keluar jendela.

__ADS_1


" Baik Pak." pungkas sang sopir kemudian menaikkan kecepatan mobilnya.


Jalanan sangat lengang, hingga membuat Sopir berani menambah kecepatan agar cepat sampai ditempat tujuan tanpa terlambat sedikitpun. Namun sialnya, takdir membuat garis yang begitu menyakitkan untuk keluarga Firman hingga sebuah mobil truk box berukuran besar melintang disebuah belokan tajam hingga membuat sang sopir kaget karena dari kejauhan tidak terlihat apa-apa.


Mencoba menghindar, namun tidak bisa akibat jarak yang terlalu dekat hingga mobilnyang dikendarai oleh keluarga Firman tersebut menghantam bodi truk yang melintang akibat ban bocor lalu oleng dan akhirnya menghambat perjalanan siapa saja yang melintas. Bodohnya beberapa orang disana sama sekali tidak memberikan tanda bahwa ada truk box besad yang melintang dan menghadang jalan.


Usai menghantam bodi truk box tersebut, mobil mewah itu terbalik beberapa kali karena sopir sempat memutar kemudi stir hingga ban berdecit terbelok beberapa senti.


Lalu, setelah mobil terbalik, tak ada suara apapun yang terdengar dari dalam mobil. Membuat beberapa orang yang berada disana mengira jika penumpang didalam mobil tersebut pasti terluka parah bahkan mungkin bisa saja meninggal.


***


Seluruh siswa atau siswi kini sudah tidak lagi menjalani pelajaran apapun. Semua lengang, jam kosong pun selalu ada. Karena Ujian Nasional sudah selesai, tinggal menunggu surat kelulusan bagi senior kelas 3 dan junior kelas 1 serta kelas 2.


Luna dan Laras kini tengah mengobrol ringan dengan di kantin Sekolah. Menyeruput minuman dingin milik masing-masing, Luna kemudian berucap, "Bara sudah berangkat ya?" tanyanya kepada sang sahabat yang hanya mengangguk lesu.


"Lo ziarah ke makam Ibu?"


Mengangguk sekali lagi, Luna dengan tiba-tiba memegang dadanya yang terasa sesak dan sakit. "Kenapa sih perpisahan selalu menyakitkan."


Linangan air mata turun perlahan dari pelupuk mata sang gadis. Mencoba menyembunyikan dengan mengusap cepat, namun susulan air mata itu terus turun hingga Luna membiarkannya begitu saja. Hanya ada mereka disana, kantin begitu lengang dan sepi. Entah kemana para siswa dan siswi yang biasa berhura-hura menghabiskan uangnya di kantin tersebut.


Laras hanya bisa mengelus pundak Luna dengan sabar, ia pun tak pernah merasakan yang namanya perpisahan dengan orang terkasih. Dengan orang yang ia sayang. Namun, bukankah gadis itu... "Bukannya Lo nggak ada rasa sama Bara? Kenapa sampai seperti Lo nangis?"


Gadis itu menggeleng pelan, tak mampu berucap apapun selain terisak sembari menunduk. Tak mengerti pula, apa yang terjadi pada hatinya beberapa bulan ini.


"Luna, tenang dulu dong. Ayo, ambil nafas dalam-dalam." ucap Laras kembali mengelus pundak bahkan punggung sahabatnya. Melihat Luna yang terus terisak dengan nafas yang tersengal membuatnya bisa ikut merasakan betapa sakitnya perpisahan yang dialami oleh Luna.

__ADS_1


"Gue nggak tahu Ras, kenapa sama diri Gue ini." pungkas Luna, masih dengan nafas yang tersengal dan terisak hebat. Semakin ia hapus air matanya dan berniat untuk menghentikan tangisnya, maka semakin banyak pula air mata yang dengan tiba-tiba keluar. Hatinya benar-benar berdenyut hebat. Tiap denyutan itu terasa, tiap itu pula air mata turun mengalir membasahi pipinya. Perpisahan macam apa ini?


"Luna, harusnya kalau Lo nggak ada rasa apapun sama Bara dan menganggap Bara hanya sebagai teman, Lo nggak perlu sesedih inikan? Ayo Lun, akui perasan Lo sendiri. Sebelum terlambat. Setidaknya, kalau Lo beneran cinta sama Bara, dia akan tetap disini meski orangtuanya di Amerika. Gue yakin Bara akan berubah pikiran kalau tahu Lo juga cinta sama dia." ucap Laras memberikan saran yang menurutnya itu adalah yang terbaik untuk sang sahabat.


Namun, gadis yang terisak itu malah menggeleng lemah. "Gimana sama Ayah Ras? Ayah selalu melarang anak-anaknya pacaran sebelum masuk kuliah."


"Bara pasti bisa mengerti itu Lun. Ayo, Lo harus bilang sama Bara. Lupain Bayu! Dia bukan orang yang ada dihati Lo. Lo cuma salah mengartikan perasaan Lo sendiri."


"Bara berangkat ke Amerika pagi tadi. Dia pamit sama Gue lewat pesan singkat." ucap Luna dengan gelengan kepala. Isaknya masih terdengar begitu memilukan.


"Kenapa Gue bisa bodoh kayak gini sih Ras!" ucap Luna dengan kesal. Kesal dengan dirinya sendiri yang begitu bodoh tidak bisa menyadari apa yang ia rasakan kepada lawan jenisnya.


"Gue sangat ngerti. Ini adalah jatuh cinta yang sangat rumit. Dan Lo baru ngalamin ini pertama kali, wajar kalau Lo masih labil."


Gadis yang masih terisak itu mulai berniat menghentikan tangisnya. Mengatur nafasnya sedemikian rupa agar isaknya mulai berhenti dan ia bisa bernafas dengan lega. Sebuah rasa sakit yang tidak pernah bisa ia obati selain dengan kehadiran Bara disisinya.


"Gue nggak pernah merasakan apapun kepada siapapun." pungkas Luna dengan terkekeh ringan diakhir kalimatnya. Membuat Laras mengangguk paham. Menjadi pendengar yang baik saat sahabatnya bercerita membuatnya begitu banyak memahami keadaan sang gadis yang kini berada disebelahnya.


Luna memulas senyum kecil, kemudian merogoh ponselnya yang dirasa bergetar dalam sakunya. Menatap nama yang tertera dilayar ponselnya, gadis itu menatap kearah Laras dengan bingung.


"Siapa?" tanya Laras tanpa bersuara.


"Ayah." usai menjawab pertanyaan Laras, Luna kemudian menekan dial hijau di ponselnya yang terus bergetar dalam genggamannya. Mendekatkan telephone ke telinganya kemudian berucap, "Hallo Ayah. Ada apa?"


Bertanya dengan degup jantung yang tak berirama. Karena, tak biasanya sang Ayah menghubunginya pada jam Sekolah seperti ini.


"Luna, Bara dan Ayahnya kecelakaan saat hendak berangkat ke Bandara tadi pagi." pungkas sang Ayah membuat tubuh gadis itu melemah seketika. Tak mampu menopang diri yang teramat raput. Hingga dengan tiba-tiba gadis itu merosot dan terjatuh keatas lantai.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2