
Amara berjalan mendekati suaminya yang kini tengah bersandar dikursi kerjanya. Menatap sebuah layar komputer dengan fokus dan seperti tak mau diganggu. Saat Amara melintas, Handoko melihat sekilas karena mencium aroma yang begitu membuainya.
''Tumben keruang kerja Ma, ada apa?'' tanya Handoko masih terus menatap layar komputernya. Sedang Amara kini duduk disebuah sofa yang tak jauh dari tempat Handoko mengerjakan pekerjaan kantornya.
''Mas, sejak kamu bertengkar dengan Luna, anak itu jadi pendiam sekali.'' keluh Amara membicarakan apa yang membuatnya merasa terbebani. Mendengar itu, Handoko mengalihkan atensinya dari layar komputer menjadi kearah sang istri yang juga tengah menatapnya dengan resah.
''Bukannya sejak dulu anak itu pendiam Ma? Lalu nanti tiba-tiba membuat ulah. Bolos lah, atau pulang terlambat lah, atau apalagi entahlah. Aku pusing.''
''Mas, pendiamnya Luna dulu dan sekarang itu beda sekali loh. Kalau dulu dia masih mau membantah, kalau sekarang dia iya aja apa yang kamu bilang, atau apapun yang Lula katakan selalu di-iyakan sama Luna.''
''Amara, kalau Luna tidak membantah itu malah bagus. Lebih bagus lagi kalau kamu kasih tahu dia supaya jangan membolos lagi. Biaya sekolah mahal.'' Handoko kembali menarik kursinya mendekat pada layar komputer. Mengetik ini dan itu dikeyboardnya hingga bunyi kemertiik terdengar nyaring diruangan sunyi tersebut.
''Tapi Mas, apa nggak keterlaluan kalau Luna terus menerus berangkat naik bis? Sedang Lula malah naik mobil rumah.''
''Itu hukuman karena Luna sudah berani bolos sekolah demi pacaran sama kakak kelasnya.''
''Hukuman darimana? Sesaat sebelum Luna bolos kan Ayah sudah minta dia buat berangkat naik bis.''
Handoko diam tak bersuara, pandangannya masih menatap layar komputer dengan seksama. Begitupun jari-jemarinya pun ikut diam tak bergerak. ''Mas, tolong jangan keterlaluan sama Luna. Dia anak kamu juga Mas.''
''Ma, Luna itu anak pertama kita. Mental dia harus kuat sejak kecil. Kalau nanti kita sudah nggak ada, dia bisa jagain adiknya tanpa kesusahan. Warisan ini nantinya juga akan jatuh ketangan dia kok.''
''Kalau Luna ditempa seperti ini, kenapa Lula enggak Mas? Dia dan Luna cuma beda 3 jam aja kok lahirnya. Kamu itu terlalu memanjakan Lula.''
Kemudian Amara melirik jam dinding yang berada tepat diatas kepala Handoko, menempel pada dinding disana. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam waktu setempat. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tersebut beranjak dari ruang kerja Handoko tanpa berbicara apapun lagi. Tak mau juga menunggu apapun ucapan Handoko kepadanya.
Berjalan menuju kamar sang anak yang terletak dilantai atas, Amara kemudian membuka perlahan pintu kamar Luna yang selalu tidak pernah dikunci.
Dibalkon, terlihat gadis kecil berambut panjang yang digelung hingga menampilkan leher jenjangnya itu tengah berdiri menadahkan kepala keatas langit.
__ADS_1
''Luna, kok belum tidur?'' tanya Amara berjalan mendekati sang anak kemudian mengelus lembut kepala anak gadisnya.
''Belum ngantuk Bu,'' ucap Luna tetap tak mengalihkan pandangnya dari langit hitam diatas sana.
''Kamu mikirin apa? Banyak tugas ya?'' Kini Luna berhenti menatap langit kemudian menghela nafas sejenak. Ia alihkan pandangannya kearah depan, lurus menuju dinding rumah tetangga-nya.
''Kenapa Ayah lebih sayang sama Lula ya Bu? Padahal kan, aku juga anak Ayah sama Ibu.''
Amara tersenyum kecil kemudian terus membelai rambut sang anak dengan lembut.
''Ayah sayang juga kok sama Luna.''
''Tapi,..'' sejenak Luna berhenti berucap dan menghela nafas panjang. Kemudian ia menatap sang Ibu sembari tersenyum lesu. ''Bu, aku ngantuk. Mau tidur.'' ucap Luna kemudian.
''Loh, nggak jadi ngomong apa tadi?''
''Enggak, Luna ngantuk. Ibu keluar ya, Ibu juga cepetan tidur. Jangan begadang.'' pinta Luna masih terus tersenyum. Mulai merasa bahwa sang Ibu sungguh jauh berbeda dengan Ayahnya. Ia masih bisa merasakan kehangatan kasih sayang Ibunya yang sedari kecil menyayanginya.
''Iya Bu.''
***
Usai keluar dari kamar Luna, Amara menatap pintu kamar yang tertutup rapat tepat diseberang kamar Luna. Kamar dengan daun pintu yang tertutup rapat itu adalah kamar Lula.
Perlahan, Amara mendekati kamar tersebut kemudan membukanya dengan sangat pelan. Takut mengganggu jika seandainya Lula sudah tertidur.
Namun ternyata, anak gadisnya itu masih terjaga dengan memegang ponselnya. Senyum dibibirnya selalu terukir, begitupula tawanya yang sesekali berderai. Amara memperhatikan tingkah sang anak hingga ia sendiri bisa melihat ada seorang pemuda yang terlihat dilayar ponsel sang gadis. Rupanya, anak keduanya tersebut tengah melakukan panggilan video call dengan seorang pemuda.
''Lula.'' panggilnya sembari berjalan mendekati sang gadis. Lula yang tak mengetahui datangnya Amara langsung mematikan sambungan video kemudian tersenyum kikuk kearah sang Ibu.
__ADS_1
''Ada apa Bu?'' tanya Lula dengan gugup ''Kamu belum tidur? Siapa yang menelponmu hingga larut malam?''
''Teman Bu.''
''Harus ada batasnya ya. Ini sudah jam 9 malam, waktunya tidur.'' Lula mengangguk tanpa menjawab, ia gigit bibir bawahnya agar semakin tak terlihat gugup.
''Ibu keluar ya, kamu segera tidur.'' ucap Amara mengelus puncak kepala sang anak. ''Iya Bu.''
Amara tersenyum kecil kemudian beranjak meninggalkan ruangan. Ia tutup pintu dengan perlahan kemudian berjalan menuruni anak tangga menuju kamarnya sendiri. Ia menghembuskan nafasnya dengan pelan, berbicara dengan suaminya agar berlaku adil kepada anak-anaknya tidaklah mudah. Tidak lantas membuat suaminya tersebut langsung tunduk dan menurut.
Amara pun hanya bisa berbicara, namun tidak bisa melakukan apapun. Ia tidak mau dibenci oleh Lula ataupun Luna. Merasa tak bisa menjadi Ibu yang baik karena sudah membuat anak-anaknya tidak pernah akur sama sekali. Padahal itu jelas bukan hanya kesalahannya, namun juga sang suami pula.
***
Seperti biasa, sarapan pagi hanya diisi oleh 4 manusia berbeda generasi tersebut. Keempatnya pun sama-sama membisu tak berucap apapun, membuat ruangan begitu sunyi dengan suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring masing-masing.
Usai menghabiskan sarapannya, Lula kemudian berucap, ''Luna, kalau Lo mau bareng sama Gue naik mobil boleh kok. Mumpung Gue baik nih.''
''Nggak perlu.'' jawab Luna tanpa menatap Lula sama sekali. Tentu baginya, gadis menyebalkan itu hanya mencari muka saja dihadapan sang Ayah.
''Luna. Lula itu sudah baik nawarin kamu. Kenapa kamu seperti itu?'' ucap Handoko merasa kesal.
Tanpa berucap apapun, Luna beranjak meninggalkan ruang makan untuk memulai mencari bis atau taxi yang bisa ia naiki menuju Sekolah yang jaraknya lumayan jauh.
''Lihat tuh Luna, sama sekali nggak punya sopan santun.'' ucap Handoko menatap Amara masih dengan tatapan yang kesal.
Sedang Amara hanya melengos saja, karena baginya, Luna menjadi seperti itu akibat ulah sang suami sendiri.
Lula tersenyum kecil menatap kepergian Luna yang semakin menghilang dari pandangannya. Dalam hatinya bertekad, jika ia tidak bisa menjadi yang terbaik di Sekolah, maka ia bisa menjadi yang terbaik dirumah. Bukankah rumah tepat untuk berpulang dan melepas lelah? Maka Lula tidak akan memberikan tempat itu untuk Luna.
__ADS_1
'Teruslah mengejar prestasi di Sekolah Lun, dengan begitu aku akan terus mengejar hati Ayah agar semakin membencimu.''
BERSAMBUNG...