DIBALIK SENJA

DIBALIK SENJA
Ch. 48


__ADS_3

Hari ini Handoko sama sekali tidak keluar dari rumah. Bahkan dari kamar sekalipun. Sejak terungkapnya kebohongan Lula kemarin pagi, Handoko merasa sama sekali tidak selera untuk melakukan apapun. Namun, bukankah hidup tidak berhenti hanya samapi disitu? Masih ada satu anak gadisnya lagi yang harus ia perjuangkan hidupnya.


Satu-satunya harapan yang ia damba, satu-satunya pewaris tunggal seluruh kekayaan yang ia miliki. Semoga saja hanya ada kebahagiaan setelah ini.


Pria paruh baya itu kembali menatap sebuah bingkai foto sang istri. Berulang kali meminta maaf atas semua kesalahannya dalam menjaga anak-anak gadisnya. "Maafkan aku ya Amara."


Sesaat, ponsel yang berada diatas ranjang tersebut berdering terus menerus. Membuat lamunan sang Ayah memudar, berganti atensi kearah benda pipih tersebut.


Melihat sebuah nama dilayar ponselnya membuat jantung Handoko berdebar kencang. Sangat berharap ia tidak akan mendengar buruk lagi dari... "Hallo Firman. Ada apa?"


"Pak Handoko sibuk?" tanya Firman dari seberang sana. Berusaha membuat obrolan yang santai agar tidak ada yang merasa terganggu.


"Tidak. Katakan saja ada apa." ucap Handoko sembari duduk kembali di kursi balkon kamarnya. Bingkai foto sang istri pun masih ia pegang, sesekali ia pandang ketika berbicara dengan partner bisnisnya tersebut.


"Ini tentang Bara Pak."


"Ada apa dengan Bara?"


"Anak saya koma. Sempat sadar waktu itu, tapi....''


"Kenapa? Ada apa? Cepat katakan!" desak Handoko merasa cemas. Degupan jantungnya terus meningkat dengan pesat.


"Tapi Bara lupa ingatan Pak. Dia bahkan tidak mengenali saya sama sekali." isakan lirih begitu terdengar dengan jelas ditelinga Handoko.


"Kemudian, Bara kembali kritis dan sekarang koma. Entah apa yang harus saya lakukan disini Pak." ucap Firman terdengar sangat pasrah dan putus asa.


"Kamu harus tenang. Yakinkan diri kalau Bara akan baik-baik aja. Pasti dia segera sadar kembali. Pasti, semuanya akan ia ingat kembali. Lakukan yang terbaik untuk Bara, apapun itu!"


"Baik Pak. Terimakasih Pak."


"Jangan lupa kabari aku lagi Firman."


"Baik Pak."

__ADS_1


Maka, berakhir sudah obrolan ringan yang membuat jantung penuh dengan debar-debar kecemasan. Berfikir, haruskah Ayah dua anak tersebut memberikan informasi ini kepada anak gadisnya? Bagaimana jika reaksi yang diberikan oleh Luna diluar ekspetasinya?


"Nanti saja lah kalau Luna sudah pulang."


***


Sedang seorang gadis cantik dengan perut yang sudah terlihat membuncit itu kini tengah memeluk hangat seorang pemuda diatas ranjang besar disebuah apartemen mewah.


Apartemen yang telah dibeli oleh Bayu jauh-jauh hari sesaat setelah pemuda itu tahu jika gadis disebelahnya ini telah mengandung anaknya.


"Kak, kenapa harus jadi OB?" ucap sang gadis memecah keheningan siang ini di Apartemen mewah tersebut.


"Sejak dulu Ayah selalu minta aku buat merintis dari nol. Apapun itu. Kalau aku udah selesai study, semua fasilitas bakalan dicabut. Dan aku harus memulai dari awal buat dapatin itu semua. Tapi kamu tenang aja, pasti Ayah bakal bantu kita kalau ada kesulitan. Ayah cuma mau ngajarin aku jadi orang yang bertanggung jawab dengan kejadian hamilnya kamu."


Lula tersenyum kecil sembari menghela nafas panjang. Pikiran gadis itu mulai bercabang banyak disaat usia kehamilannya sudah mulai memasuki trimester pertama.


"Besok kita kerumah Ayah sama Ibu. Setelah itu kita ke Dokter. Kamu belum pernah ketemu sama Ayah dan Ibu. Dan kita juga harus memastikan yang terbaik untuk anak kita."


Ah, pemuda ini. Sungguh begitu jauh berbeda dari dirinya yang dulu. Semenjak ia mengenal dua wanita kembar 1 Tahun silam, kepribadiannya benar-benar berubah. Penuh tanggung jawab dan perhatian yang berlebih.


"Ayah sama Ibu sudah tahu kamu lewat foto. Mereka kenal sama Om Handoko meskipun Om Handoko nggak kenal sama Ayah dan Ibu." jelas Bayu membuat Lula mengangguk kecil. Sedikit luruh ketakutan dalam dirinya saat sang calon suami meminta untuk bertemu dengan orangtuanya.


"Suatu saat nanti, kita akan resmi menikah. Aku akan memberikan kamu status yang jelas." kembali sang pemuda berucap sebuah kata manis yang menggetarkan seluruh hati sang gadis. Merasa, betapa beruntungnya gadis itu karena sudah memiliki kekasih yang begitu menyayanginya begitu tulus. Setidaknya itulah yang Bayu perlihatkan pada Lula meskipun hatinya menolak semua yang ia lakukan.


"Kak, menurut kamu nanti Ayah bakal mau nemuin aku lagi nggak ya?" ucap Lula dengan tiba-tiba. Sorot matanya menatap langit-langit kamar dengan raut wajah seolah menerawang sesuatu.


"Ayah Handoko?"


Gadis itu hanya mengangguk sembari berdehem dalam dekapan hangat sang pemuda.


"Kamu nggak usah terlalu mikirin hal yang berat-berat ya Lula. Kasian anak kita kalau kamu nanti stress. Aku yakin suatu saat nanti Ayah Handoko pasti bisa menerima kita. Luna juga pasti bakal nerima keponakannya." tanggap sang pemuda dengan yakin.


"Suatu saat nanti. Entah kapan."

__ADS_1


***


Jika saudara kembarnya tengah merangkai beberapa hal untuk kedepannya nanti, tidak dengan Luna. Gadis itu kini sudah berada di teras rumah yang sangat mewah dan megah. Rumah besar yang hanya diisi oleh 4 manusia. Mulai dari Handoko sebagai pemilik rumah, kemudian Luna sebagai anak satu-satunya kini, dan juga sopir serta pembantu. Namun, hanya ada suara angin saja diantara banyaknya manusia yang berada dirumah tersebut.


Usai memarahi Leo dihadapan Laras, gadis itu langsung beranjak pergi hingga memutuskan untuk pulang saja. Meski ia begitu tersakiti, namun hatinya tetap tidak tega untuk memaki seseorang yang sudah menyakitinya terlalu dalam. Dan hasil dari kemarahannya hanyalah sebuah teguran biasa bagi yang dimarahi oleh sang gadis. Saking tidak ada emosi didalamnya saat gadis itu marah.


Dan kini, gadis itu sudah berada dirumahnya. Mulai melangkahkan kakinya memasuki pintu utama. Berkali-kali gadis itu menghela nafas untuk menghilangkan debar didalam dadanya.


Sebuah pikiran konyol melintas di otaknya begitu saja. Ingin mengutarakannya kepada sang Ayah mumpung ia sudah lulus sekolah dan bisa berpindah tempat kemana saja. Namun, ia sangat takut jika reaksi yang diberikan oleh Handoko tidak sesuai dengan ekspetasinya.


Melirik sekilas kearah ruang tamu, disana ada sang Ayah yang hanya terdiam di atas sofa empuk yang kemarin baru saja ia balik-balik akibat emosi yang memuncak. Berpikir, mungkin sang Ayah benar-benar masih dirundung kesedihan akibat hal yang terjadi kepada anak gadisnya. Atau mungkin, Ayah dua anak itu menyesali perbuatannya?


Memutuskan untuk mengurungkan niatnya mengutarakan ide konyol yang ada dibenaknya, Luna menggelengkan kepalanya kemudian mulai beranjak meninggalkan lantai yang ia pijak kini. Hendak menaiki anak tangga dengan pelan, sesaat sebelum sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Luna! Kesini!" panggil Handoko sembari melambai-lambaikan tangannya. Membuat Luna menghela nafas kemudian kembali untuk memasuki ruang tamu.


Apa yang sempat ingin ia urungkan untuk diutarakan kini justru mulai muncul ke permukaan. Membuat hatinya semakin berdebar karena keinginan itu menjadi sangat kuat. "Ayah? Ada apa?" tanya sang gadis sembari menelan salivanya berkali-kali.


"Ayah mau memberitahu kabar Bara."


"Bara? Ada apa dengan Bara?" gadis itu langsung bereaksi cepat ketika nama Bara sudah terdengar di telinganya.


"Dia koma." pungkas Handoko dengan singkat. Masih enggan untuk menyampaikan bahwa pemuda itu sudah hilang ingatannya.


Terdiam, Luna hanya bisa menghela nafas sembari menunduk. Benar-benar tidak bisa berbuat apapun kecuali mendoakan yang terbaik untuk sang pemuda.


"Padahal Luna berencana meminta ijin sama Ayah untuk menyusul Bara ke Amerika. Luna mau sekolah aja disana."


Terhentak. Ucapan gadis lugu dihadapan Handoko benar-benar menghentak jiwa sang Ayah. Keinginan anak gadisnya sungguh tidak pernah ia pikirkan sama sekali. "Tapi Bara hilang ingatan Luna."


"Ayahnya saja tidak dia kenali."


Kini justru gadis cantik itu yang terhentak dengan cepat. Mulutnya terbuka lebar mendengar ucapan sang Ayah yang terbilang cukup mengejutkan dirinya. Tanpa aba-aba apapun ia harus kehilangan semuanya. Hal yang belum pemuda itu ketahui kini harus musnah bersamaan dengan orang yang memberinya sebuah rasa cinta yang belum pemuda itu rasakan.

__ADS_1


Hilang ingatan akan memusnahkan segalanya dari sang pemuda bukan? Jika Firman saja tidak dikenalinya, bagaimana dengan Luna? Bagaimana dengan rasa cinta mereka yang hanya diketahui oleh satu pihak saja? Secepat inikah takdir memisahkan mereka?


BERSAMBUNG...


__ADS_2