
Kembali pada sosok pemuda yang masih terdiam diatas rooftop gedung tertinggi d sekolah tersebut. Sorot matanya memandang jauh ke depan. Suara berdenging terus mengoyak jiwa sadarnya hingga beberapa kali menghela nafas panjang. Baru kali ini, pemuda itu merasakan hal yang sangat membuat hatinya terguncang hebat.
Suara seorang pria paruh baya beberapa saat yang lalu kembali terdengar sayup-sayup di telinganya. "Ternyata kamu mencintai anaknya Pak Handoko?'
Ucapan sang Ayah yang sudah mengetahui isi hatinya, membuatnya merasa bersalah dan takut dalam waktu yang bersamaan.
"Pak Handoko bilang, Luna sakit dan mengigaukan namamu. Tadi dia menelepon." kembali suara tersebut terdengar begitu menyakitkan dan menyenangkan dalam waktu yang bersamaan pula.
"Akhirnya Papa tahu kenapa Pak Handoko kekeh ingin memindahkan Papa di kantor cabang." pungkas ucapan Firman untuk yang terakhir kalinya sebelum ia bergegas menuju kantornya.
Bara selalu menghembus nafas kesalnya ketika ucapan-ucapan Firman kembali terngiang di telinganya. Pagi tadi, Firman mengatakan jika Luna mengigaukan namanya adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi Bara karena itu artinya Luna selalu mengingatnya. Namun, jika Ayahnya sudah mengetahui yang sebenarnya, pasti pria paruh baya itu sangat kecewa.
Bara sangat takut jika Handoko berbuat yang lebih kepada keluarganya yang jelas-jelas berada dibawah naungan Handoko.
"Kenapa Gue bisa jatuh cinta gini sih sama Luna?" kesalnya dengan melayangkan tinju pada udara kosong. Dadanya selalu menghentak begitu dahsyat ketika mengingat satu gadis yang selalu membuatnya tergila-gila tersebut. Namun juga membuatnya kecewa ketika mengingat cinta sang gadis bukanlah untuk dirinya.
***
Terik matahari siang sudah terlihat begitu menyorot di seluruh penjuru sekolah dengan tinggi gedung mencapai 5 lantai tersebut Lula menghentakkan kakinya di setiap perjalanannya menuju atas rooftop yang pagi tadi dihuni oleh Bara seorang.
Namun kini, gadis itu bukan menemui Bara yang dulu sempat ia gandrungi. Siang ini, ia akan menemui seorang pemuda yang sebentar lagi akan menjadi Ayah dari bayi yang ia kandung.
"Kak Bayu!" teriaknya memanggil sang pemuda yang langsung berjalan menghampirinya. Gadis itu terlihat sangat tersengal setelah sampai dihadapan Bayu. Ia langsung memeluk sang pemuda dengan erat. "Gue kangen sama Lo." ucapnya dengan lirih.
"Iya, Gue juga kangen sama Lo." ucap Bayu mengusap punggung Lula yang masih terlihat naik turun mengatur nafasnya. Tentu saja ucapan tersebut tidak benar berasal dari hati sang pemuda. Semua tahu siapa sesungguhnya gadis yang merajai hatinya tersebut.
"Bayu, tadi malam Gue dengar Luna nangis dikamarnya. Nyebut-nyebut nama Lo." cerita Lula ketika teringat saat ia hendak memasuki kamarnya usai makan malam, gadis cantik tersebut mendengar sebuah isakan kecil dari dalam kamar sang kembaran.
Teringat ketika hatinya ikut sakit ketika mendengar Luna menyebut nama seorang pemuda yang sudah memenuhi relung hatinya.
Bayu tersentak ketika mendengar cerita sang gadis. Ia lepas rengkuhan pada gadis dihadapan, kemudian menatap pada netra sang gadis yang terlihat sudah berkaca-kaca.
"Kenapa Luna nyebut nama Gue?"
__ADS_1
Lula menggeleng lemah. "Gue nggak tahu." isakan kecilnya mulai terdengar lirih ditelinga Bayu yang masih terdiam.
"Lo nggak suka kan sama Luna?" tebak Lula menatap sayu pada Bayu. Isakannya adalah pertanda ketakutan jika sang pemuda yang ia damba akan berpaling darinya ketika mendengar Luna yang menyebut-nyebut namanya.
"Gue udah buat Lo hamil. Mana mungkin Gue bisa suka sama orang lain." tandas sang Wakil Ketua Osis tersebut.
"Tadi pagi Ayah cerita kalau Luna demam tinggi. Tapi..." isaknya tertahan, membuat Bayu menatapnya bingung.
"Tapi kenapa?"
"Tapi Luna nyebut-nyebut nama Bara waktu ngigau."
Kembali terhenyak untuk yang kesekian kalinya. Pemuda itu semakin meyakini jika memang bukan dirinya yang berada dihati sang gadis.
"Kak Bayu, kita harus segera bilang sama Ayah kalau Gue hamil. Ayah udah mulai curiga sama kondisi Gue tiap pagi."
"Sebentar lagi ujian. Kita bilang ke Ayah Lo selesai ujian ya. Mau nunggu?" pinta Bayu kepada sang gadis yang kini sudah memberikan jawaban mengangguk kepadanya.
"Tapi Lo beneran kan Kak? Nggak bohong?" harap Lula masih saja merasa takut dan cemas.
***
Waktu bergulir begitu cepat hingga dirasa sangat jahat untuk seseorang yang kini tengah berdiam diri didalam kamarnya. Menantikan detik demi detik berganti menit lalu berubah menjadi jam. 1 jam. 2 jam. 3 jam. Pemuda itu masih setia didalam kamarnya.
Menghembus nafas panjang berulang-ulang, meyakinkan dirinya untuk terus berpikir positif kedepannya. Menghindari seseorang yang sangat ia cintai sungguh sangat menyiksa batinnya. Sejak ia diberitahu oleh Firman beberapa hari yang lalu mengenai kondisi Luna yang sakit hingga mengigaukan namanya, pemuda itu masih belum berani menemui sang gadis. Baik disekolah, ataupun luar sekolah.
Menghentak kaki beberapa kali, Bara kemudian memutuskan untuk meraih kunci mobilnya kemudian beranjak meninggalkan kamar.
Pagi ini sangatlah terik hingga Bara merasakan sekujur tubuhnya panas hingga beberapa kali mengibaskan tangan didepan wajahnya. Entah panas karena cuaca diluar, atau panas karena sebentar lagi akan menemui seseorang yang jelas-jelas tidak pernah menyukainya.
Mobil berwarna putih dengan merk KIA EV6 tersebut melandai halus dihadapan rumah megah yang penghuninya hanya ada beberapa saja.
Memantapkan kembali hatinya untuk berani menghadapi apapun yang akan terjadi di kemudian waktu, maka dengan cepat pemuda itu membuka pintu mobil lalu beranjak menuju pintu utama.
__ADS_1
Langkah penuh percaya dirinya seketika hilang ketika baru saja ia menutup pintu mobil kemudian menghadap kearah pintu utama.
Disana, di pintu utama rumah besar bak istana tersebut sudah berdiri seorang pria paruh baya. Menatapnya dengan tajam tanpa senyum sedikitpun terlukis diwajahnya.
"Om." sapa Bara hendak mencium punggung tangan orang tua tersebut. Bara mengira hanya sebuah tolakan mentah-mentah yang akan ia dapatkan. Namun kenyataan justru berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan. Pria paruh baya dihadapannya ini justru memberikan tangannya yang hendak dicium oleh Bara.
"Kamu mau menemui Luna?" tanya Handoko kepada pemuda tampan dihadapan. Pertanyaan itu jelas membuat Bara terhenyak. Seharusnya, ia senang karena tidak perlu menjelaskan apapun kepada Handoko tentang maksud dan tujuannya berada dihadapan pria paruh baya itu saat ini. Namun, hatinya justru merasa sangat tegang.
"Apa boleh Om?" tanya Bara menatap penuh harap pada Ayah dari gadis yang ia cintai.
Handoko mengangguk. "Saya panggilkan Luna. Masuklah." pungkas Handoko kembali membuat Bara tertegun. Semudah itu?
***
Luna berdecak kesal untuk yang kesekian kalinya. Beberapa hari ini ia tiba-tiba dilanda demam yang sangat tinggi usai menangisi Bayu pada malam hari. Hingga saat ini pun, yang menjadi penyebab jatuh sakitnya Luna justru tidak pernah memberi kabar apapun pada gadis cantik tersebut.
"Bayu! Lo kemana sih! Katanya cinta sama Gue! Kenapa ngilang!" teriaknya dengan begitu kesal hingga melempar apapun yang berada diatas ranjangnya. Rasa kesalnya kepada Bayu yang langsung menghilang dengan tiba-tiba begitu besar. Pun dengan rasa kecewanya pada pemuda tersebut.
Bantal, guling, lalu selimut justru yang mencari sasaran empuk dari amukan gadis yang baru saja sembuh dari sakitnya tersebut. "Gue sakit, kenapa Lo nggak kasih kabar apapun sama Gue?" sedihnya menatap nanar pada barang-barang yang berserakan diatas lantai kamarnya.
Tubuhnya merosot begitu saja, bersandar pada dinding kamar yang dirasa sangat dingin tersebut.
Dengan tiba-tiba, pintu kamar Luna terbuka lalu menampakkan sesosok pria paruh baya yang terhentak kaget melihat isi kamarnya.
"Ayah?" pekik Luna dengan dada berdebar. Kamarnya yang seperti kapal pecah diketahui oleh Handoko. Bukan itu yang membuatnya merasa takut, gadis itu justru berpikir pasti sang Ayah akan memberikan pertanyaan ini dan itu kepadanya. Apa alasan utama penyebab terjadinya kehancuran didalam kamarnya tersebut.
Namun nyatanya, pria paruh baya itu justru hanya terdiam menatap bantal dan teman-temannya tergeletak diatas lantai. Kemudian, menatap Luna dengan gelengan kepala kecil. "Kamu dicari Bara. Dia diruang tamu. Sana pergi." ucap Handoko dengan tegas. Tanpa berani bertanya apapun, Luna langsung beranjak meninggalkan Handoko yang masih mematung diambang pintu kamarnya.
Menatap kepergian Luna dengan nanar. "Pasti Luna sudah jatuh cinta pada Bara." justru Ayah beranak 2 tersebut malah menyangka bahwa Luna telah tergila-gila pada Bara.
BERSAMBUNG...
Hai Guys! Jadi di Novel ini adalah cerita bersambung tentang hubungan asmara antara duo kembar dan duo sahabat yang rumit. Jadi Author ingin memberitahu kalian kalau kisah asmara antara Laras dan Leo hadir dalam judul Novel yang berbeda! Jangan lupa dibaca ya! Cari aja "Mengejar Cinta Cewek Galak"
__ADS_1
Thankyou! Lope sebanyak-banyaknya buat kalian! Janganlupa follow IG Author ya! ----> @nanagradr_