
Semalaman suntuk Luna sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Otaknya terus berpikir, terpusat pada pemuda yang kini benar-benar mengisi hatinya. Pemuda yang sudah pergi. Jauh dari dirinya. Hanya bisa berdoa untuk kebaikan sang pemuda seandainya memang takdir tidak mengijinkan mereka bersama.
Pagi ini, Luna kembali termangu di balkon kamarnya. Pandangannya kembali kosong, sama seperti hatinya saat ini. Memilih untuk berdiam diri dirumah daripada berada di Sekolah yang memang sama sekali tidak ada pelajaran apapun. Daripada menghabiskan waktu di Sekolah yang hanya akan tersita dengan kemesraan Leo dan Laras, lebih baik menenangkan diri dirumah bukan?
Dihadapan sang gadis, tergeletak ponsel yang selalu menjadi penghubung antara dirinya dan Bara. Menanti, berharap Bara akan mengirimkan pesan singkat lagi kepadanya seperti beberapa waktu yang lalu. Pesan yang selalu ia abaikan meski berulang kali dikirimkan, atau pesan yang hanya ia balas ala kadarnya.
Menghela nafas panjang, perlahan air mata yang tanpa tahu waktu untuk jatuh itu semakin berderai di pipi sang gadis. Selalu menghapusnya, namun aliran itu sudah terbentuk sejak awal hingga semakin ia menghapusnya, maka semakin itu pula air mata merembes keluar.
"Kenapa sesakit ini?" gumam sang gadis dalam isakan lirihnya. Saking tak mau didengar oleh siapapun jika ia sedang menangis, gadis itu sampai menggigit bibirnya sendiri agar suara isaknya tersamarkan.
Sesaat kemudian, Luna terhentak dengan suara Handoko yang samar-samar ia dengar. Cukup jauh rupanya karena ternyata Handoko tengah berada diruang tamu lantai utama. Gadis itu kemudian menghapus air matanya dan bergegas keluar kamar karena mendengar suara Handoko yang seperti orang mengamuk.
Ketika kepala gadis itu melongok kebawah melalui bibir tangga, mulutnya terbuka lebar. Dibawah ada Bayu yang sudah tersungkur dilantai dengan Lula disebelahnya yang terlihat menangis hingga tersedu-sedu.
Terlihat pula sang Ayah yang tengah mengamuk, menghancurkan semua barang-barang yang ada diruang tamu tersebut. Pecahan kaca berada dimana-mana, kursi dan meja sudah terbalik tak beraturan, sungguh rumah yang terlihat seperti korban perampokan karena begitu porak poranda.
Luna berlari menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, kemudian mulai mendekati sang Ayah yang terdiam diatas sofa yang masih berbentuk, tidak terbalik. "Ayah? Ada apa?" tanya sang gadis dengan lirih.
***
Pagi ini, seorang gadis dengan rambut yang terurai indah dipunggungnya tengah berdebar hebat. Menanti sesosok pemuda yang sebentar lagi akan berbicara apa adanya kepada sang Ayah.
Gadis itu sudah menghalau sang Ayah agar tidak pergi kekantor hari ini. Berusaha berbicara dan membujuk agar sang Ayah mau berada dirumah. Meski Handoko merasa ada yang tidak benar tengah terjadi kepada anak bungsunya, namun ia tetap mengalah.
Mengalihkan seluruh pekerjaan hari ini kepada orang kepercayaannya, Handoko akhirnya kembali memasuki rumahnya. Menunggu sang gadis diruang tamu, meski sudah tidak sabar namun pria paruh baya itu menahannya sekuat hati.
Hingga saatnya, terlihat seorang pemuda tampan datang seorang diri. Berhenti sejenak dihadapan Lula yang sudah menunggunya diteras rumah. Saling memandang, menguatkan satu sama lain. Ini adalah hal yang harus mereka hadapi dari perbuatan yang mereka perbuat.
Bayu sudah mengakui semuanya pada kedua orangtuanya. Meski sang orangtua marah besar kepadanya, namun Bayu adalah anak satu-satunya dari keluarga besar Adijaya hingga membuat orangtua tersebut mau tak mau harus tetap menerima sang anak dan juga calon istrinya.
__ADS_1
Hari ini, Bayu harus kembali mengakui. Mengakui perbuatannya kepada calon mertuanya yang pasti sudah akan marah besar sama seperti orangtuanya. Mungkin saja, jika Handoko benar-benar sudah tega, kepala Bayu pasti akan sudah hancur saking marahnya Handoko. Itulah hal yang selalu ada dipikiran Bayu hingga saat ini.
"Kita masuk." ajak Lula dengan suara yang pelan. Ia sendiri sangat takut menghadapi murkanya sang Ayah yang sejak kecil selalu berada dipihaknya saat apapun yang ia minta selalu diberikan. Wajahnya yang pucat, terlihat sangat sayu hari ini.
Bayu mengangguk, mengambil nafas dalam-dalam untuk meyakinkan hatinya jika ia pasti akan pulang masih dengan bernyawa.
"Pagi Om." sapa Bayu menatap pada sang Ayah dari gadis yang ia berikan benih. Sedikit terkejut karena ternyata, kehadirannya sudah ditunggu oleh pria paruh baya tersebut.
"Langsung saja. Maksud dan tujuan kamu datang kemari ada apa?" tanya Handoko menatap dua manusia dihadapannya yang masih saja menunduk dengan dada yang terlihat kembang kempis.
"Lula? Ini tujuan kamu menyuruh Ayah ada dirumah? Untuk bertemu dengan pemuda ini? Siapa namamu?"
"Bayu Om."
"Katakan!"
"Om, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya....Saya..."
"Om, saat ini Lula tengah mengandung anak saya." ucap Bayu dengan cepat. Tidak tergagu seperti awal-awal ia berbicara.
Saling menatap bingung, Lula dan Bayu sama-sama mendongak ketika tidak asa reaksi apapun dari Handoko.
"Berdirilah Bayu." ucap Handoko yang sudah berdiri lebih dulu. Meski bingung, namun Bayu tetap menuruti apa yang Handoko ucapkan.
"Brengsek!" maki Handoko kemudian melayangkan bogem mentahnya kearah sang pemuda tampan dihadapan yang langsung tersungkur begitu saja diatas lantai.
"Bayu!" pekik sang gadis sembari berlari menghampiri Bayu kemudian bersimpuh disebelah sang pemuda. Air mata sudah berderai dipipi mulusnya. Melihat darah yang mengalir dari sudut bibir sang pemuda membuatnya begitu takut untuk menghadap sang Ayah.
"Hah! Sialan! Kalian berdua brengsek!" ucap Handoko dengan mata melotot dan memerah. Ia raih meja dihadapan kemudian membalikannya hingga meja itu terpelanting menjauh dari pria yang tengah sakit hatinya tersebut.
__ADS_1
Kemudian, Handoko menendang sofa-sofa yang tadi ditempati oleh Bayu dan Lula. Membalikkan sofa mahal tersebut hanya dalam satu tendangan saja.
Tentu hal itu membuat Lula semakin takut hingga ia memilih untuk tetap berada disebelah Bayu.
Hingga kemudian, aksi mengacaunya Handoko terhenti ketika sebuah suara pelan terdengar. "Ayah? Ada apa?"
Handoko menoleh, pun dengan Bayu dan Luna. Dua manusia itu masih terduduk lemas diatas lantai.
"Luna! Kamu tahu? Saudaramu itu gila! Berani-beraninya dia menjalin hubungan dengan Bayu dibelakang Ayah!" cerita Handoko dengan emosi yang masih menggebu-gebu. Luna menatap kedua orang yang duduk diatas lantai.
"Berani-beraninya dia membohongi Ayah Luna! Dia berani melanggar semua aturan Ayah! Dan sekarang, dia hamil! Dia hamil!" mengambil vas bunga diatas meja kemudian melemparkannya kesembarang arah, sembari berteriak kencang.
Luna terhentak untuk sesaat. Hatinya berdebar kala mendengar saudaranya tengah mengandung. Menatap sang gadis yang menangis tersedu-sedu, ingin rasanya Luna memeluk saudara sedarahnya tersebut. Namun...entahlah. Mengingat semua yang terjadi benar-benar membuat hati Luna mati rasa kepada saudara kembarnya.
Kemudian, pemuda itu. Pemuda yang kini menatapnya dengan sorot mata yang selalu sama sejak mereka menjalin kedekatan. Membuatnya merasa muak, sangat muak. Mengalihkan pandangnya kearah Handoko yang kini terduduk disofa.
"Ayah, tolong jangan banting barang-barang lagi. Kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin." pinta sang anak dengan suara yang lembut. Mengelus punggung sang Ayah agar emosi didalam hati dapat mereda.
"Ayah gagal Luna! Ayah gagal mendidik anak Ayah!"
"Bukan Ayah yang gagal. Tapi Lula. Dia yang gagal menjaga dirinya sendiri."
Handoko mengangguk. "Padahal kamu tahu betapa Ayah menjaga kalian, betapa Ayah lebih memihak Lula daripada kamu, betapa Ayah selalu mengutamakan adikmu itu dari pada kamu. Tapi dia, dengan semaunya membohongi Ayah. Memberikan noda besar diwajah Ayah! Membuat Ayah malu!" ucap Handoko di sela isak tangisnya. Menyadari sebuah kesalahan yang terjadi saat menyayangi antara Luna dan Lula.
Luna hanya bisa terdiam. Mengusap punggung sang Ayah terus menerus. Karena hanya itu yang bisa Luna berikan, yang bisa Luna lakukan. Memberi saran ini itu pun rasanya akan percuma jika yang diberi adalah sang Ayah.
"Lula, kamu pergi bersama Bayu. Ayah tidak mau mengurus dirimu lagi." ucap Handoko dengan tiba-tiba. Menghentak hati siapapun yang mendengarnya.
"Ayah melepas Lula?"
__ADS_1
"Ayah yakin?"
BERSAMBUNG...